
Warning !!
Mengandung tema dan muatan dewasa. Bagi pembaca yang belum cukup umur dan tidak nyaman dengan konten tersebut dianjurkan untuk tidak membacanya.
...Selamat membaca !...
...❤️❤️❤️...
Raina mengerutkan dahi. Dia terlihat makin bingung dengan keinginan Divta.
“Bukankah tadi kamu mau susu ? aku mau membuatkannya untuk mu.” jawab Raina dengan wajahnya yang polos.
Divta menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian dia memegang kedua pundak Raina yang langsung dilirik dengan sinis oleh si empunya.
“Bukan susu itu. Tapi aku mau minum susu mu.” tutur Divta sambil tersenyum manis nan menggoda.
Sontak saja kedua mata Raina mendelik tajam. Nafasnya mulai memburu dan tanpa sadar tangan kanannya terangkat dan langsung memberikan satu tamparan panas di pipi Divta.
“Kau pikir aku perempuan murahan seperti mereka yang mau kau bayar dan kau nikmati tubuhnya ? IYA ?!!” teriaknya penuh emosi. Dia tidak menyangka bahwa Divta adalah lelaki yang seperti itu. Dia berpikir, pemuda itu sudah berubah dan tidak akan melakukan hal hal mesum lagi. Tapi ternyata dia salah. Dugaannya benar-benar salah. Semua lelaki sama saja. Mengajaknya pacaran hanya untuk berbuat mesum saja.
“KENAPA DIAM ?!! apa kau pikir aku ini wanita yang bisa dengan mudahnya memberikan tubuh ku pada mu ?! kamu JAHAT !! TIDAK BERAKHLAK.” Raina memukul dada Divta berkali-kali.
“Lebih baik aku hidup miskin dari pada harus bekerja dengan mu dan menjadi budak nafsu mu !!” imbuh Raina masih dengan nada berteriak. Dia pun menepis kedua tangan Divta dari kedua pundaknya. Dia ingin pergi dari sana. Dia bersumpah tidak akan mau bertemu dengan Divta lagi seumur hidupnya. Dia lalu menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju pintu. Dia benar-benar tidak tahan berada di ruangan itu bersama pemuda busuk seperti Divta. Namun, saat tangannya meraih handle pintu dan ingin membukanya, tiba-tiba Divta memeluk lehernya dari belakang.
“Bukan itu maksud ku.” ucap Divta lirih sambil mengusap pipi Raina yang ternyata telah basah karena cairan bening yang baru saja mengalir melalui kedua matanya.
“Kamu jangan salah paham dulu.” imbuhnya yang tiba-tiba merasa takut melihat Raina begitu marah padanya. Padahal, dia tidak memiliki niat buruk terhadap kekasihnya itu.
“Lepas.” cetus Raina. Suaranya terdengar begitu dingin. Sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti ini. Namun kali ini Divta sudah sangat keterlaluan. Batu semalam mereka pacaran, tapi Divta sudah meminta tubuhnya.
“Tidak. Dengarkan dulu penjelasan ku.”
“Aku bilang LEPAS !!” suara Raina makin meninggi. Jika saja ruangan Divta tidak di lengkapi dengan alat kedap suara mungkin teriakan itu akan terdengar bahkan hingga ke lantai dasar. Telinga Divta pun sampai berdengung saking kerasnya Raina berteriak.
Divta melepas pelukan dari beralih mendorong pintu yang hendak di buka oleh Raina. Dia tidak akan mengizinkan gadis itu keluar sebelum dia memberikan penjelasan.
“Sayang, maksud ku bukan ...”
“Minggir !!” tukas Raina yang tidak ingin mendengar penjelasan dari Divta. Rasanya dia sudah sangat muak dengan lelaki mesum yang di otaknya hanya ada sek ssek s dan sek s.
“Aku mau pulang !!” / “Maksud ku bukan susu yang ada di dada mu !!” seru Raina dan Divta bersamaan.
Seketika ruangan itu menjadi hening. Raina tidak lagi berusaha menarik handle pintu, dan Divta tidak lagi mendorong pintu. Keduanya diam dan tenggelam dalam keheningan beberapa saat. Raina melepas handle dan seketika menundukkan kepalanya. Apakah dia benar-benar telah salah paham pada Divta? tapi tadi lelaki itu berkata ‘ingin minum susu mu’. Kalau bukan susu yang ini, lalu susu yang mana ? begitu pikirnya sambil menatap ke arah dadanya.
Divta menghela nafas dalam. Dia meraih satu tangan Raina dan membalikkan tubuh gadis itu kemudian merapatkannya ke pintu.
“Nah yang aku mau, susu yang ada di dalam tas mu itu. Bukan susu yang ini.” imbuh Divta seraya menunjuk dada Raina.
“Singkirkan tangan mu !” ujar Raina ketus. Dia pun membuang muka. Wajahnya kini merah padam karena menahan malu. Dia sudah salah menduga. Rasanya dia ingin sekali mencari cangkul untuk menggali lubang dan mengubur dirinya di dalam lubang itu. Dia tidak sanggup menanggung malu. Mau taruh dimana wajahnya sekarang ?
Divta tergelak melihat Raina yang nampak merona. Dia tau apa yang di rasakan gadisnya itu. Pasti sangat malu dan ingin menenggelamkan diri ke lautan terdalam hahaha, dia tertawa ngakak dalam hati.
“Makanya, kalau orang mau memberi penjelasan itu di dengarkan dulu. Jangan langsung marah-marah begitu.” dia mencubit kedua pipi Raina. Dia sangat gemas dengan gadis cuek yang selalu mengabaikannya itu.
“Sakit, ih.” Raina mengerucutkan bibirnya dan kembali membuang muka, sebab dia masih belum berani menatap wajah Divta.
“Jadi bagaimana ? apa kamu rela kalau susu mu aku yang minum ?” ucap Divta dengan nada menggoda.
“Terserah !!” Raina mendorong tubuh Divta dan melangkahkan kaki untuk kembali ke meja kerjanya. Namun, nasib baik sedang tak berpihak padanya. Kakinya terselip sehingga keseimbangannya hilang dan ...
“Aaah.” pekiknya terkejut.
Nyoot..
Raina terhenyak dan menundukkan kepala menatap ke arah dadanya.
“Apa yang kamu pegaaaang !!” teriaknya untuk yang ke sekian kalinya. Dia segera berdiri menegakkan tubuh dan berbalik badan hendak menyentak Divta yang sudah sangat kurang ajar. Tetapi, ketika tangannya sudah bersiap melayangkan pukulan, tiba-tiba Divta menahannya.
“Sayang, kenapa kamu galak sekali ? kalau aku tidak menahan mu, kamu pasti sudah jatuh tersungkur dan bibir mu yang manis ini pasti akan membentur sudut meja.” ucap Divta seraya mengusap bibir Raina. Dia ingin sekali tertawa melihat ekspresi marah kekasihnya itu. sangat lucu, dan menggemaskan.
Raina berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Divta.
“Tapi kenapa kamu memegang dada ku ?!” sentaknya emosi.
“Aku tidak sengaja sayang. Itu hanya gerakan reflex saja. Percayalah aku tidak ada niat untuk memegangnya.” jawab Divta apa adanya. Apa yang dia katakan memang lah kenyataan. Dia hanya berusaha menyelamatkan sang kekasih agar tidak terjatuh. Jika tangannya mendarat di salah satu dari dua benda kenyal milik Raina, itu bukanlah sesuatu yang dia sengaja. Tapi yang pasti, itu adalah keberuntungannya.
“Tidak sengaja apanya ? kamu tidak hanya memegangnya tapi juga ******* nya !” seru Raina makin kesal. Dia masih bisa merasakan bekas tekanan tangan Divta di dada kirinya.
Divta terkekeh lucu. Dia memang sempat menikmatinya tadi. Kalau kata orang, rezeki tidak boleh di tolak. Walaupun hanya sebentar, tapi tak apalah. Hitung-hitung yang baru saja terjadi itu adalah pemanasan.
“Ssssst. Sayang, kan sudah aku bilang. Aku tidak sengaja. Itu hanya gerakan reflex saja." Divta mendekatkan wajahnya dengan Raina. Dia benar-benar merasa gemas dan ingin sekali mengecup bibir gadis itu. Tapi sayang seribu sayang, telapak tangan Raina mendarat di wajahnya dan mendorongnya menjauh.
"Mesum !!" sungut Raina kembali ke mejanya, membuat Divta tersenyum lebar.
Eh kirain susu yang mana. Cie Raina malu 😂
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗