
Seketika Divta tersadar. Dia beranjak dari tubuh Raina dan mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan.
"Shit !!" umpat Divta kesal. Bagaimana mungkin dia bergairah pada asistennya yang juga berbatang ? tidak mungkin kan dia memiliki kelainan biseksual ? Oh gosh, sepertinya dia benar-benar harus memeriksakan dirinya ke dokter.
"Kau jangan berpikiran negatif. Dan jangan lupakan kalau kau sudah menandatangani kontak kerja 5 tahun untuk menjadi asisten ku. Kalau kau melanggar kontrak maka kau harus membayar denda 5 milyar." ucapnya sambil lalu.
"Sial !" umpat Raina frustasi.
Tiga jam kemudian
Suasana nampak canggung di rasakan oleh Divta dan Raina usai mereka bertengkar perihal denda 5 milyar yang beberapa jam lalu Divta lontarkan. Saat ini mereka berdua tengah duduk berhadap-hadapan di sofa ruang tamu dalam keheningan.
Tak satupun dari mereka berniat untuk memecah keheningan tersebut, membuat malam yang sunyi terasa begitu mencekam.
"Kau kenapa Rei ?" tanya Divta mengerutkan dahinya bingung ketika melihat Raina yang tiba-tiba mendesis seperti orang kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Perut saya sakit tuan." jawab Raina membungkukkan badannya menahan sakit yang teramat sangat.
Seperti melilit tapi mulas, yah pokonya sulit untuk di jelaskan, begitu pikirnya.
"Apa kau ingin buang air ?" celetuk Divta menatap Raina dengan tatapan curiga.
Dia sudah bersiap siaga untuk kabur dari sana dan menghindar dari racun yang mungkin akan Raina keluarkan sebentar lagi.
Raina menggelengkan kepalanya pelan,
"S-saya permisi tuan." pamitnya sambil beranjak dari sofa menuju ke kamarnya.
Sepertinya dia tau betul apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ini adalah pertengahan bulan, sudah waktunya dia untuk kedatangan tamu bulanannya.
"Astaga, aku berharap aku membawa persediaan pembalut." gumam Raina. Dia membuka lemari dan membongkar isi koper kecilnya, namun apa yang dia cari tak juga dia temukan. Dia pun mulai merasa gelisah. Rasa nyeri di perutnya semakin menjadi, sementara darah kotornya sudah mulai mengalir.
"Raihan ? ya ya, aku minta tolong dia saja untuk membelikan ku pembalut dan mengantarnya kesini. Sebab tidak mungkin aku keluar." Raina meraih ponsel yang sebelumnya terletak di atas tempat tidurnya, kemudian dia menghubungi Raihan.
"Haish kenapa dia tidak menjawab telepon ku." gerutu Raina kesal. Sudah 3x dia mencoba menghubungi sang adik namun tidak ada jawaban sama sekali. Dia semakin merasa gelisah, bingung dan panik. Di satu sisi tidak mungkin dia keluar dalam keadaan seperti itu, tapi di sisi lain dia sangat membutuhkan pembalut.
Suara ketukan pintu pun menyadarkan Raina dari kegelisahannya. Dia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Terlihat dia sedang berdiri di depan pintu kamarnya tersebut.
"Ada apa tuan ?" tanya Raina.
Kedua mata Divta menyipit,
"Wajah mu terlihat pucat, apa sakit mu semakin parah ?" tanyanya nampak khawatir.
Raina menggelengkan kepalanya,
"Tidak tuan, ini sudah agak mendingan kok." jawabnya bohong. Padahal, perutnya masih terasa begitu sakit seperti di cubit-cubit bagian dalamnya.
Terdengar helaan nafas lega dari Divta,
"Ada Daisya mencari mu." ucapnya.
"Baiklah, saya akan bersiap dulu." sahut Raina lalu menutup pintu.
"Sebegitu istimewanya kah adik ku ? ingin menemuinya saja sampai harus bersiap. Apa jangan-jangan dia sudah putus dengan Amanda ?" gumam Divta seraya tersenyum licik.
Sementara di dalam kamar, Raina sedang sibuk mencari celana tebal yang sekiranya tidak membuatnya tembus. Setelah itu dia pun menemui Daisya.
"Hai Raihan !!" pekik Daisya ketika Raina sudah keluar dari kamar. Dia beranjak dari sofa dan berlari mendekati Raina yang di anggapnya adalah seorang lelaki yang telah berhasil mencuri hatinya.
"Terimakasih banyak." sahut Raina menyunggingkan senyum palsunya. Dia menerima paper bag itu dengan senang hati sebab kebetulan cemilan yang di bawakan oleh Daisya adalah cemilan kesukaannya.
Daisya menganggukkan kepala dia terlihat begitu senang melihat Raina tersenyum padanya.
"Ayo kita duduk disana." Daisya menarik tangan Raina dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
"Maaf jika kantong belanja ku mengganggu pemandangan." ucap Daisya seraya menurunkan beberapa kantong berisikan barang barang kebutuhan.
"Pembalut." gumam Raina tanpa suara ketika melihat salah satu kantong belanja berwarna putih yang baru saja di letakkan ke atas lantai oleh Daisya. Benda yang saat ini sangat dia butuhkan, ternyata ada di hadapannya. Bukankah ini kesempatan baik ? begitu pikirnya.
Raina tersenyum licik, sepertinya dia mendapatkan sebuah ide agar dia bisa mendapatkan pembalut tanpa harus keluar dari apartemen.
"Nona Daisya, bolehkah aku minta tolong?" tanya Raina lagi lagi menyunggingkan senyuman manis namun palsu.
Daisya mengangguk cepat.
"Tentu saja. Katakan, hal apa yang harus aku lakukan untuk mu."
"Tolong buatkan aku jus mangga tanpa es." pinta Raina.
"Baiklah kau tunggu disini, aku akan membuatkannya untukmu." Daisya beranjak dari sofa menuju dapur.
Setelah di rasa Daisya sibuk membuatkan jus, Raina pun mendekati kantong belanja milik adik dari bosnya itu dan mengambil satu pack pembalut dari dalam sana. Kemudian dia berjalan cepat menuju ke kamarnya.
"Raihan." Divta yang baru keluar dari kamarnya pun di buat terheran-heran dengan tingkah Raina yang nampak tergesa-gesa, membuat si empunya nama palsu itu terkejut dan sontak menyembunyikan pembalut di balik tubuhnya.
"Iya tuan, maaf saya ingin buang air dulu. Saya sudah tidak tahan lagi." Raina cepat membuka pintu kamarnya, dengan berjalan mundur dia pun masuk ke dalam.
"Cih, jorok." desis Divta menuju ke ruang TV untuk menonton film action favoritnya.
15 menit kemudian
Raina sudah selesai membersihkan diri. Dia merasa sangat nyaman dan tenang setelah menggunakan pembalut. Dia tidak merasa gelisah ataupun panik lagi. Ternyata, kehadiran Daisya kali ini sangat berarti bagi dirinya.
"Aku harus cepat cepat keluar agar kakak beradik itu tidak menggedor-gedor pintu kamarku." sungutnya seraya mengerucutkan bibirnya kesal tatkala dia mengingat Divta dan Daisya yang mengetuk-ngetuk pintu karena dirinya tak kunjung keluar dari kamar.
"Ehh." pekiknya terkejut ketika melihat Daisya berdiri di depan pintu kamarnya sambil memegang gelas berisi jus mangga.
Daisya menyodorkan gelas tersebut kepada Raina,
"Ini aku buatkan yang spesial untuk mu." ucapnya. Raut wajahnya terlihat begitu antusias dan semangat, bahkan kedua pipinya merah merona seperti orang yang sedang di mabuk cinta.
Raina tersenyum hangat, meskipun dia tau Daisya menyukai sosok Raihan yang ada dalam dirinya, tapi dia akui bahwa Daisya memiliki wajah yang cantik dan imut seperti anak sekolah dasar meskipun usianya sudah 20 tahun. Dia lalu menerima gelas berisi jus dari tangan Daisya,
"Terima kasih banyak." jawabnya kemudian menyeruput sedikit jus mangga buatan Daisya.
"Khususnya untuk pembalut yang aku curi dari kantong belanja mu. Aku janji besok akan mengembalikannya padamu." ucapnya dalam hati.
"Manisnya pas." imbuhnya seraya mengusap pucuk kepala Daisya gemas. Dia merasa, gadis imut itu lebih cocok menjadi adiknya karena memang usia mereka terpaut 5 tahun.
"Benarkah ?" tanya Daisya dengan mata yang berbinar, dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Raina.
"Kalau begitu ayo kita duduk sambil menonton TV bersama kakak." Daisya merangkul lengan Raina dan mengajaknya ke ruang TV.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗