
Raina masuk ke kamar serta mengunci pintunya. Dia merasa sangat pengap dan kesulitan bernafas karena terlalu kencang mengaitkan korset yang di pakainya. Dia melepas kaos dan juga korset, setelah itu dia mengenakan kembali kaosnya.
Dia meletakkan korset itu di atas meja nakas sebelah kiri tempat tidurnya. Kemudian dia menghempaskan tubuhnya di ranjang berukuran 200x160cm berwarna putih dan beralaskan bad cover berwarna abu-abu.
"Sunyi sekali." Raina meraih ponsel yang sebelumnya dia letakkan di dekat bantal, lalu mencari lagu dari aplikasi online. Usai menemukan lagu favoritnya, dia menaruh ponsel di atas dadanya yang hanya di tutupi kaosnya yang berwarna hitam.
5 menit kemudian, suara ponsel Raina berganti dengan dering telepon. Dia pun mengangkat ponsel tersebut dan melihat siapa yang menelponnya,
"Tuan Dita ? bukankah dia sudah tidur ?" gumamnya, kemudian dia mengangkat panggilan itu.
"Apa kau yang menyelimuti ku ?" suara Divta langsung terdengar sebelum Raina sempat menyapanya terlebih dahulu.
"Iya tuan, ada apa ?" tanya Raina sambil mengerutkan dahi.
"Ke sini sekarang, pijat kepala ku." sahut Divta dengan suara dingin, usai dia mengucapkan kalimat itu pun sambungan telepon langsung terputus.
Raina mendengus kasar, baru lima menit lalu dia bernafas lega tanpa menggunakan korset, dan sekarang dia harus menggunakannya lagi ? haish, ini semua adalah kesalahan dirinya sendiri, begitu pikirnya.
Dia beranjak dari tempat tidur dan kembali mengenakan korset untuk meratakan dadanya yang lumayan besar, kemudian dia keluar dari kamarnya dan segera masuk ke kamar Divta.
Terlihat pemuda itu sedang duduk sambil menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang, wajahnya terlihat kesal dan merah padam, serta tubuhnya di penuhi keringat.
Dia menatap Raina dengan tatapan mengerikan seperti mata elang yang siap menerkam mangsanya. Namun sebisa mungkin Raina untuk tetap bersikap tenang.
"Kenapa tuan bangun ? bahkan baru 5 menit saya kembali ke kamar." tanya Raina sopan tanpa ekspresi dan pura-pura tidak tahu.
"Kau tidak dengar ucapan ku tadi ? aku tidak bisa tidur jika memakai baju, tapi kau malah menyelimuti aku ?!" sentak Divta melotot tajam. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
"Tunggulah disitu, aku mau mandi." imbuhnya, namun kali ini suaranya terdengar lebih pelan dan santai dari sebelumnya.
Raina menghela nafas berat, dia sungguh menyesal telah menyelimuti tuan mudanya itu. Kalau saja dia tahu Divta akan terbangun karena kegerahan, tentu dia tidak akan repot-repot menutupi tubuh telanjangnya.
"Dasar bodoh." gerutu Raina mengutuki kecerobohannya yang menyebabkan dirinya kesusahan sendiri.
Kurang dari setengah jam Divta keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, yang sebenarnya hanya menutupi bagian itunya saja sebab handuk yang di kenakannya kali ini sangat pendek. Sementara Raina yang melihat itu pun segera mengalihkan wajahnya hingga kini memunggungi Divta.
Ya Tuhan, dosa apa yang hamba lakukan di masa lalu hingga kau mengutuk hamba dengan berada di satu kamar bersama pria yang hampir tellanjang bulat ?
batin Raina menjerit pilu.
"Tuan, sebaiknya saya keluar dulu sambil menunggu Anda selesai berganti pakaian." ucapnya sambil beranjak dari kursi kerja Divta.
"Siapa yang menyuruh mu pergi ? lagipula aku hanya memakai celana saja jadi tidak akan lama." sahut Divta sembari mengenakan celana kolornya yang berwarna hitam.
Kemudian dia melempar handuk yang baru saja dia pakai ke keranjang tempat pakaian kotor.
Divta segera menuju tempat tidur dan merangkak naik ke atasnya, merebahkan tubuh dengan posisi di bagian dekat ujung agar memudahkan Raina memijat kepalanya.
Raina berjalan mendekat ke tempat tidur dan segera duduk di bagian tepi, dengan sopan dia menggeser sedikit kepala Divta dan mulai memijatnya.
"Jangan selimuti aku !" cetus Divta, membuat Raina sedikit terhenyak kaget.
Hei mata ku.. kenapa kalian selalu penasaran dengan bentuk tubuh tuan muda mu itu, hah ? menyebalkan.
gerutu Raina yang sedari tadi bersusah payah menahan dirinya untuk tidak melirik Divta yang begitu vullgar menurutnya. Meskipun wajahnya menghadap ke arah lain, namun sepertinya kedua matanya sulit untuk di ajak berkompromi. Buktinya, melalui ekor mata kirinya dia mulai memperhatikan tubuh Divta dari ujung kaki ke ujung kepala.
Tinggi, putih langsat, kekar, macho, tampan, mapan, keren, v line, enam kotak, dan ... perkasa.
Pikiran Raina mulai berfantasi ke dunia lain.
"Ah astaga." Raina tersadar dan segera menyentak kedua matanya yang diam-diam mengagumi bentuk tubuh Divta. Terlebih di bagian ...
Rainamesum.jpg
Sejenak dia memperhatikan wajah Divta. Bulu matanya yang mengayun, bentuk dagunya yang sangat cool, dan jakun nya....
"Eh kenapa tidak kelihatan ya ?" gumam Raina dalam hatinya sambil memastikan apakah Divta sudah tidur atau belum. Dia pun sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah tubuh Divta sebab dia penasaran ingin melihat jakun pemuda itu. Posisi Divta yang mengunakan bantal membuatnya tidak bisa melihat leher Divta dengan jelas. Namun sialnya, tangannya malah tergelincir sehingga dia tidak bisa menjaga keseimbangannya dan akhirnya dia terjatuh dengan posisi wajahnya berada di atas dada Divta.
"Apa yang kau lakukan !" pekik Divta terkejut dan tangannya reflek mendorong tubuh Raina. Tapi malang bukannya menjauh, Raina malah terjatuh lagi dengan posisi kepalanya menimpa barang berharga Divta.
"Mm- empuk sekali. Eh !!" pekik Raina terkejut saat sadar sedang berada dimana kepalanya. Dia pun segera beranjak berdiri dan membungkukkan tubuhnya berkali-kali sebelum Divta murka.
"Maafkan saya tuan, tadi saya mengantuk makanya kepala saya tidak sengaja terjatuh di atas dada Anda, kemudian anda mendorong saya sehingga saya kepala saya terjatuh di bagian anu Anda. Mohon ampuni hamba tuan." ucapnya terburu-buru sambil terus membungkukkan tubuhnya.
Divta menutupi wajah dengan telapak tangannya untuk sejenak meredam amarah yang siap meledak.
"Tenang Div, Raihan hanya tidak sengaja melakukannya. Lagipula dia lelaki, jadi tidak masalah jika barang mu sedikit di sentuh olehnya. Eh !! apakah itu termasuk di sentuh ? bukankah hanya kepalanya saja yang menimpa ? tenang, sabar dan tabahkanlah hatimu." gumam Divta tanpa suara.
"Tapi ini benar-benar kejadian yang memalukan." imbuhnya seraya menggelengkan kepalanya pelan. Dia lalu melihat Raina yang masih saja membungkukkan tubuhnya.
"Sudah tidak perlu membungkuk terus." cetusnya sambil beranjak dari tempat tidur. Rasa kantuknya tiba-tiba saja menghilang karena rasa keterkejutannya, pun dia memilih untuk duduk di kursi meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
"Kau tunggulah di situ sampai aku mengantuk." cetus Divta tanpa menoleh sebab dirinya sedang membuka laptop.
Sementara Raina yang sudah berada di dekat pintu pun mendengus kasar.
"Aku ingin istirahat !" serunya penuh emosi, dia bergegas menghampiri Divta dan menjambak rambut pemuda itu dengan begitu kuat hingga si empunya rambut berteriak kesakitan.
"Hei hei ! Kau hanya seorang babu, jadi berhentilah memikirkan hil yang mustahal." dengan terpaksa Raina menghentikan imajinasi liarnya. Akhirnya dia kembali ke tempat tidur Divta dan duduk di tepi sambil menyandarkan tubuhnya di headboard untuk menunggu Divta. Posisi sebelah kaki kanannya dia tekuk dan di letakkan di atas lutut kirinya, sementara kedua tangannya menyilang di atas perut.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗