
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, hari ini dokter mengizinkan Raina untuk rawat jalan di rumah. Awalnya Divta menolak dan menginginkan Raina tetap di rumah sakit agar mendapat perawatan yang intensif dan cepat sembuh, tetapi gadis itu menolak dengan alasan tidak betah berlama-lama di rumah sakit. Akhirnya dengan berat hati Divta menuruti keinginan sang kekasih untuk membawanya pulang.
Divta membantu Raina berjalan dengan memapah tubuhnya, melangkahkan kaki perlahan menuju ke apartemen yang terletak di lantai paling atas.
Setelah sampai, Divta mengantar Raina ke kamar miliknya.
"Kenapa ke kamar mu ?" tanya Raina menahan kakinya saat sampai di depan pintu kamar Divta. Meskipun dia tidak bisa melihat, tetapi dia sudah sangat hafal di setiap sudut apartemen Divta.
Divta mendengus kecil. Padahal belum lama Raina tinggal di apartemennya, tapi kenapa gadis itu bisa tau kalau dia tidak di bawa ke kamarnya ?
"Kamu sedang sakit, jadi lebih baik tinggal di kamar ku saja." jawab Divta santai.
Namun Raina menolak dan memilih untuk tetap berada di kamarnya. Dan lagi, Divta hanya bisa menurutinya demi menyenangkan hati sang kekasih.
"Bolehkah aku tidur ? semalaman aku tidak bisa tidur karena kepala ku pusing." ucap Raina.
"Tapi ini masih terlalu pagi, sayang. Tidak baik tidur di waktu seperti ini." Divta duduk di tepi tempat tidur dan menyelipkan anak rambut Raina ke belakang telinga.
"Tapi aku ngantuk sekali."
Divta membuang nafas kasar. Sebenarnya dia juga mengantuk karena menemani Raina yang terus merengek tidak bisa tidur.
"Ya sudah kalau begitu." dia membantu menyusun bantal agar gadis itu merasa nyaman.
"Ingat, kamu harus tidur tengkurap." titahnya mengingatkan Raina yang hendak tidur terlentang.
"Ah iya ya." Raina merubah posisi tidurnya dan mulai memejamkan matanya.
Divta mengusap lembut pipi Raina. Dia tau, tidur dengan posisi tengkurap sangatlah tidak nyaman, bahkan tidak di anjurkan dalam agamanya. Tetapi, demi menjaga agar luka cepat sembuh, apa boleh buat. Raina harus mematuhi anjuran dokter.
Ponsel yang berada di dalam saku celana Divta bergetar. Pemuda itu bergegas merogoh dan mengambilnya.
Terdapat beberapa pesan masuk dari Dealova dan Darius. Kemudian dia membuka pesan itu satu persatu.
Dan isinya hampir sama, yakni mengumpat dirinya yang membawa pulang Raina tanpa memberi kabar.
Tak lama, suara denting bel terdengar.
Divta segera beranjak keluar untuk membukakan pintu. Bisa di pastikan jika yang datang adalah keluarganya. Namun, sepertinya dugaannya salah. Yang muncul di hadapannya malah seorang lelaki yang tidak dia kenal.
"Maaf anda siapa ?" tanyanya.
"Apakah nenek Deasy tinggal disini ? nama ku Yudha." jawabnya.
"Dia nenek ku tapi tidak tinggal disini. Ada apa mencarinya ?" Divta menyandarkan tubuhnya di ambang pintu seraya kedua tangannya menyilang di atas perut.
"Saya ingin mengundang nenek Deasy ke acara ulang tahun pernikahan kedua orang tua saya." sahut Yudha.
Saat Divta dan Yudha terlihat dalam pertanyaan dan jawaban yang tadi berkesudahan, tiba-tiba Deasy dan Dealova datang.
"Yudha ?" pekik Deasy saat dirinya melihat Yudha dari arah belakang. Dia bisa mengenali pemuda itu meskipun hanya dari punggungnya saja.
Yudha menoleh ke belakang,
"Nenek !" dia tersenyum dengan penuh kehangatan. Setelah Deasy berada di dekatnya, dia segera menyalami wanita tua itu dan mencium punggung tangannya.
"Apa kabar, nek ?" tanyanya.
"Aku baik, ayo masuklah." dia mengajak Yudha serta Dealova untuk masuk dan mengabaikan Divta yang tercengang dengan sikapnya yang seolah lebih mementingkan orang lain daripada cucunya sendiri.
"Dimana Raina ? aku ingin melihat keadaannya." ucap Dealova merangkul lengan Divta sambil berjalan setelah sebelumnya pemuda itu menutup pintu.
"Di kamar, lagi tidur. Oh iya, ini waktunya mengoles obat di punggungnya.
Apa kau mau membantu ku ?" pinta Divta.
Sebenarnya, dia bisa saja melakukannya sendiri. Tetapi, dia takut akan hilang kendali karena ketika di olesi obat, baju Raina harus di buka.
Sejenak Dealova berfikir.
Mungkin jika itu adalah lelaki lain, pasti akan melakukannya sendiri. Bukankah itu sebuah kesempatan untuk bisa menyentuh tubuh pacar ?
"Aku kagum padamu. Harusnya aku datang lebih dulu untuk mendapatkan mu. Tapi tenang saja, aku akan bersaing sehat dengan Raina." ucapnya sambil tertawa renyah.
"Yang mana kamarnya ?" lanjut Dealova.
"Sayangnya aku tidak memberi Raina pilihan untuk menyerah dan memberikan ku padamu." jawab Divta terkekeh seraya membawa Dealova ke kamar Raina.
"Kenapa pagi pagi begini kau suruh dia tidur ?" Dealova berjalan hendak membangunkan Raina, namun di cegah oleh Divta seraya jari telunjuk pemuda itu di letakkan di bibir untuk memberi isyarat agar Dealova tidak membuat kegaduhan.
"Semalaman kami tidak bisa tidur karena dia merasa kesakitan. Aku tidak tega kalau melihat dia ngantuk." ucap Divta setengah berbisik. Kemudian,
dia meraih sebuah kantong plastik berisi obat oles yang ada di atas meja rias Raina dan memberikannya kepada Dealova.
"Aku minta tolong ya, kau pelan-pelan saja mengolesnya." pesan Divta kemudian dia keluar dari hangat Raina.
Dealova mengangguk. Gadis itu duduk di tepi tempat tidur dan mulai menyingkap kaos yang di gunakan Raina dengan perlahan.
Namun, sepertinya Raina belum terlalu nyenyak sehingga dia terbangun dan terkejut.
"Tenanglah, ini aku Dea. Aku hanya di suruh Divta untuk mengoleskan obat di punggung mu." ucapnya.
"Ah, nona Dea. Maaf aku kaget saat tiba-tiba ada orang yang menyingkap pakaian ku." tutur Raina sambil tersenyum kikuk.
Dia merasa sangat canggung sebetulnya. Ingin sekali memanggil Divta agar menemaninya, tetapi tidak mungkin dia melakukan itu karena takut Dealova akan tersinggung.
"Tidak apa-apa. Kau mau tiduran saja atau duduk ?" tanya Dealova.
"A- aku duduk saja."
"Ya sudah, maaf kalau aku membuka baju mu."
Setelah mendapat persetujuan dari Raina, Dealova menyingkap pakaian yang menutupi punggung Raina. Dia merasa sangat ngilu melihat luka-luka itu, hingga wajahnya mengerut.
Dengan sangat hati-hati Dealova mengoles obat ke atas permukaan luka Raina. Dia seolah merasakan perih ketika Raina mendesis menahan sakit.
"Aku akan lebih pelan." ucapnya. Lalu dia mengajak Raina untuk bercerita agar perhatian gadis itu teralihkan.
"Jadi kau sekolah di GIS ?" pekik Dealova terkejut dan di angguki oleh Raina.
"Iya nona. Dulu kehidupan ku di sekolah sangat tidak menyenangkan. Aku sering di bully, dan tidak punya banyak teman."
"Aku juga sekolah di GIS.
Mungkin saat kau masih di SMP, aku sudah di SMA. Dulu aku juga sering melihat ada anak yang sering di bully seperti mu. Dia di paksa untuk memunguti daun kering yang sangat banyak. Lalu aku membantunya karena kasian." ucap Dealova.
"Ah, benarkah ? dulu juga ada yang membantuku memunguti daun kering. Saat itu aku tidak berani bertanya siapa namanya karena kelihatannya orang itu sangat galak."
"Oh iya ? apakah kau orang yang ku bantu saat itu ?" ujar Dealova menduga-duga.
Raina mengedikkan bahunya,
"Aku kurang paham. Yang pasti, saat itu ada teman laki-lakinya datang dan memanggilnya dengan sebutan Lolo' haha." dia tertawa dengan begitu hebohnya.
Dealova mengerutkan dahinya dalam,
"Kenapa kau tertawa ?" tanyanya heran.
"Ya, kata orangtua ku, Lolo' itu artinya bodoh." Raina kembali tertawa.
Dealova kesal. Dia lalu menoyor kepala Raina hingga gadis yang berada di depannya itu mengaduh,
"Aaaw ! kenapa kau menoyor kepala ku ?!" seru Raina merasa sedikit sakit karena membungkuk akibat dorongan dari Dealova.
"Asal kau tau saja, yang kau sebut bodoh itu aku !!" cetus Dealova kesal, namun sedetik kemudian dia terkekeh.
Kenapa dunia begitu sempit ? bocah yang dulu sering di bantu olehnya, ternyata sekarang menjadi pacarnya Divta.
"Ah, benarkah ? jadi kau kakak tingkat itu. Jujur aku sangat mengagumi mu. Selain cantik, kau juga baik meskipun wajahmu galak. Kalau dulu saja kau begitu cantik, apalagi sekarang ? Haaaah andai saja aku bisa melihat mu." Raina menyentuh kedua pipinya sambil membayangkan bagaimana rupa Dealova saat ini. Membuat si empunya merasa tersanjung.
"Tentu saja sekarang aku sangat cantik, dan aku akan membuat Divta berpaling pada ku." pungkas Dealova tersenyum licik.
Raina mencebikan bibirnya,
"Kenapa kau tidak dengan kak Darius saja sih ? dia kan jomblo." cetusnya.
"Cih, aku sukanya dengan Divta. Pokonya kita harus bersaing secara adil." ucap Dealova kemudian mereka tertawa bersama.
Oooh ternyata dulunya Raina dan Dealova satu sekolah yaa, berarti Divta juga dong yaaa hehe.
Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗