
Sekali, dua kali dan tiga kali Divta memberikan nafas buatan, barulah Raina menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar. Gadis itu terbatuk-batuk dan mulutnya mengeluarkan begitu banyak air.
"Amanda, kau tidak apa-apa kan ?" tanya Divta merasa lega.
Raina menganggukkan kepala dengan lemas, tapi beberapa detik kemudian dia kembali tak sadarkan diri, membuat Divta semakin panik dan khawatir. Dia lalu mengangkat tubuh Raina dan membawanya keluar dari roof top. Tetapi saat sudah sampai di tangga, tiba-tiba saja dia mengurungkan langkahnya. Dia baru sadar jika dirinya hanya memakai kolor. Lalu dia merebahkan tubuh Raina di atas kursi malas, setelah itu dia menghubungi pihak hotel agar mendatangkan dokter untuk memeriksakan keadaan Raina.
Sambil menunggu datang, Divta bergegas memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang atletis setelah sebelumnya dia meraih wig milik Raina dan kembali memakaikannya di kepala asistennya tersebut.
"Amanda, bertahanlah." dia memeluk tubuh gadis itu dengan ketakutan yang luar biasa.
Tak lama kemudian, terlihat seorang dokter dan pemilik hotel berlari tergopoh-gopoh menghampiri Divta dan Raina.
"Kenapa kalian lama sekali hah ?!" seru Divta kesal seraya memelototi kedua pria yang nampak terhenyak dengan seruan yang dia lontarkan.
"Maafkan saya pak." sahut dokter dan pemilik hotel bersamaan. Sebagai langkah awal, dokter tersebut memeriksa denyut nadi Raina, kemudian dia menyentuh atas perut gadis yang sedang tadi sadarkan diri itu untuk memeriksanya.
"Hei !! siapa yang mengizinkan mu menyentuhnya." sentak Divta menepis tangan dokter yang baru saya menyentuh baju basah Raina. Sikap Divta tentu membuat kedua pria paruh baya itu mengernyit heran.
Apakah pemuda ini kekasihnya ?
Mereka merasa begitu bingung dengan tingkah Divta yang seolah cemburu jika kekasihnya di sentuh oleh pria lain. Tapi masalahnya, apakah kekasih Divta seorang laki-laki ? jangan-jangan pemuda tampan itu homo. Oh gosh, sepertinya mereka punya gosip terbaru dan terpanas.
"Maaf tuan, denyut nadi lelaki ini normal, dan saya ingin memeriksakan lambungnya sebab saya pikir dia pingsan hanya karena perutnya kosong dan belum terisi makanan sejak pagi." tutur sang dokter.
"Oh, kalau hanya karena itu sebaiknya sekarang kalian pergi. Biar aku yang mengurusnya." ucap Divta mengusir secara terang-terangan. Dia lalu membopong tubuh Raina dan membawanya turun dari roof top.
Sementara dua pria yang masih tertinggal itu di buat menganga dengan sikap dan perilaku Divta terhadap Raina.
"Dok, apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan ?" tanya si pemilik hotel yang saat ini sedang memutar badan sambil memperhatikan Divta yang dengan romantisnya membopong Raina.
Dokter itu menganggukkan kepalanya,
"Iya pak, saya juga berfikir seperti itu." jawabnya. Kemudian mereka saling melempar pandangan dan mengedikkan bahu karena merasa geli. Divta yang terkenal tampan dan berwibawa ternyata seorang gay alias penyuka sesama jenis. Ya ampun, sepertinya dunia benar-benar sudah tua.
"Apa kita akan bungkam ?" tanya pemilik hotel.
Dokter itu pun mengangguk lagi. Setelah Divta tak terlihat, dia menoleh dan sejenak beradu pandang dengan pria yang ada di sebelahnya,
"Kau kan tau dia siapa, sebaiknya kau tidak usah mencari masalah. Karena selain dia pemilik stasiun TV, dia juga punya 30% saham di sini." ucapnya memperingatkan temannya tersebut.
Sementara Divta, dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke kamar yang memang sudah di belinya. Lalu dia membaringkan tubuh Raina di atas tempat tidur berukuran king size yang di alasi dengan bed cover berwarna putih. Dia terlihat bingung harus berbuat apa, dia tidak ingin Raina demam karena memakai pakaian basah, tapi tidak mungkin juga dia akan meminta orang lain untuk menggantikannya karena yang dia ingin, hanya dirinya saja lah yang boleh melihat tubuh Raina (nanti kalau sudah halal).
"Astaga, apa yang harus ku lakukan ?" gumamnya bingung. Setelah berpikir panjang kali lebar akhirnya dia memutuskan untuk memanggil pihak hotel agar menyiapkan seorang wanita untuk membantu Raina berganti pakaian. Sebab dia tidak punya pilihan lain lagi.
Divta menyambar gagang telepon yang ada di atas nakas untuk lalu menghubungi resepsionis.
"Halo, tolong ..." ucapan Divta terputus ketika Raina bergumam dan memanggil namanya.
"Am... Raihan, kau sudah sadar ?" ucapnya kemudian. Dia hampir saja menyebut nama Amanda di depan Raina, padahal dia berniat untuk berpura-pura tidak tahu kalau sebenarnya dia sudah mengetahui siapa Raina sebenarnya. Dia pun meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya kemudian menghampiri Raina.
"Ini di kamar hotel. Tadi kau pingsan karena tenggelam, itu sebabnya aku membawamu kemari dan baru saja aku ingin menggantikan pakaian mu yang basah itu." celetuk Divta menggoda Raina.
"Anda jangan macam-macam !!" sentak Raina mendelik sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan yang menyilang di sana.
"Hei, kenapa kau panik begitu ? lagipula apa yang bisa aku macam-macam kan padamu ? apa yang kau punya aku juga punya, kau berbatang dan aku juga. Lalu aku harus menikmati apa dari mu ?" ucap Divta tertawa mengejek.
"Seperti perempuan saja." imbuhnya terkekeh geli, padahal dia tau betul kenapa Raina bereaksi seperti itu.
Perkataan Divta tentu membuat Raina gelagapan. Bahkan dia tidak mampu menjawab ataupun menyanggah ucapan Divta yang mengatai dirinya seperti perempuan, karena faktanya dia memang seorang perempuan dan gadis perawan.
"Maafkan saya tuan, saya merusak kesenangan anda." tutur Raina mengganti topik pembicaraan. Namun bukan itu alasannya, dia memang merasa bersalah karena membuat rencana Divta yang ingin bersenang-senang malah berakhir dengan kekacauan.
"Aku sudah menelpon pihak hotel untuk menyiapkan baju, kau tunggu saja ya. Aku mau mandi dulu." ucap Divta sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Terdengar helaan nafas lega dari Raina sembari mengelus dada. Dia lalu beranjak dari tempat tidur untuk memeriksa wig dan juga kumisnya di depan kaca yang terpajang di dinding dekat lemari.
"Syukurlah, masih aman. Ku pikir penyamaran ku akan terbongkar karena tadi aku tenggelam di kolam." ucapnya sambil merapikan wig-nya.
"Apa yang terbongkar ?" tanya Divta tiba-tiba muncul dari balik pintu, membuat Raina terlonjak kaget hingga dia tak sengaja menjatuhkan botol parfum yang ada di atas meja.
"Eh maaf tuan, saya tidak sengaja menjatuhkannya." Raina segera membungkukkan tubuhnya untuk membereskan pecahan botol parfum yang baru saja dia jatuhkan.
"Sudah biarkan. Kau telpon saja OB untuk membersihkannya. Oh iya, itu kenapa lehermu merah merah begitu ?" tanya Divta pura-pura tidak tau. Padahal itu adalah perbuatannya sendiri, hanya saja dia ingin dengar apa jawaban Raina.
Sontak saja Raina menyentuh lehernya dan kembali berdiri,
"Oh ini karena di gigit nyamuk, tuan." jawabnya dengan mimik wajah polos tanpa dosa.
Divta terkekeh lagi,
"Ganas sekali ya nyamuknya. Apa nyamuk yang menggigit lehermu itu sebesar aku ? kenapa bekas merah begitu lebar ?" tanyanya lagi.
"Mana ada lah tuan." sahut Raina menggelengkan pelan kepalanya. Dia berfikir Divta melantur dalam berbicara.
Mana ada nyamuk sebesar dirinya ? dasar tidak waras.
sungutnya dalam hati.
"Haha. Ayo mandi bersama saja, biar tidak kelamaan kau menunggu ku." celetuk Divta kembali menggoda Raina lagi.
"Tidak tuan, terimakasih. Lebih baik saya menunggu saja dari pada harus mandi bersama Anda." cetus Raina.
Divta tergelak dan memilih untuk melanjutkan acara mandinya. Kali ini dia harus cepat karena dia tidak ingin Raina terlalu lama memakai baju yang basah.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗