Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Aroma parfum



Di saat Divta dan kliennya sedang membahas kerjasama. Di sisi lain ada pasangan yang sedang di mabuk api asmara. Saling mencurahkan hasrat masing-masing dengan posisi yang berbeda-beda. Bagaimana pun itu, yang pasti mereka sangat menikmatinya. Desahan demi desahan menghiasi ruangan itu. Jika saja tidak di lengkapi dengan kedap suara, mungkin siapa saja yang melintas di depan pintunya, pasti akan mendengar suara mereka.


"Bisa berhenti dulu tidak ? aku sudah lelah." ucap di wanita dengan suaranya yang nampak lesu dan nafasnya yang tersengal.


"Rumi sayang, bahkan kita baru memulainya. Aku berencana melakukannya hingga esok pagi." jawab si pria.


Ya, wanita itu adalah Arumi Varasha. Wanita yang tak lain adalah mantan kekasih Divta. Dia sedang bersama seorang pria yang belum di ketahui identitasnya. Namun bisa di pastikan jika pria itu adalah orang yang terbilang dekat dengannya.


"Kau ini gila atau tidak waras. Sudah sana minggir." Arumi menepis tubuh pria itu dari atasnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.


"Aku tidak mau tau, pokonya kau harus bisa mendapatkan kontak si jlang itu." sungut Arumi.


"Iya sayang, kau tenang saja ya. Tapi bisakah kita melanjutkannya lagi ?"


Arumi menggelengkan kepalanya lalu memiringkan tubuhnya dan memunggungi pria itu.


"Aku benar-benar lelah." jawabnya, namun pria yang berada di belakangnya itu kembali menyerangnya.


"Kau cukup berbaring dan menikmatinya saja. Biar aku yang bergerak." akhirnya mereka melakukan itu lagi.


Kembali pada Divta.


"Baiklah, terimakasih atas kehadiran Anda. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik." ucap Divta beranjak berdiri dan menyalami klien. Saat dirinya hendak menyudahinya, tiba-tiba tangannya di tarik kembali.


"Bisakah kita minum terlebih dahulu." ucapnya dengan suara yang terdengar begitu lembut dan terkesan merayu.


"Maaf nona Sesha. Bisa tolong lepaskan tangan saya ?" pinta Divta menatap tangannya yang terus di genggam oleh klien wanitanya tersebut. Aura wajahnya nampak begitu seram, namun hal itu tidak berpengaruh pada wanita dewasa bernama Sesha.


"Ayo lah, anggap saja ini sebagai permulaan dari kerjasama kita." Sesha mulai bergelayut manja di lengan Divta yang langsung di sentak oleh pemuda itu hingga dirinya terhempas ke sofa.


"How dare you seduce me ? who do you think you are, huh ? ***** !!" seru Divta melotot seraya menunjuk wajah Sesha dengan tatapan jijik. Matanya menyiratkan bahwa dirinya sedang menahan emosi yang kuat. Raut wajahnya pun berubah merah padam.


Dia membuka map berisi lembaran kontrak kerjasama yang belum lama mereka tandatangani. Kemudian dia melemparnya ke wajah Sesha.


(Beraninya kau mengira ku ! jadi pikir kau siapa hah ? dasar jlang !!)


"Lain kali, baca baik-baik isi kontrak sebelum kau mendatanginya. Kau harus membayar denda sesuai nominal yang tertera di surat kontrak tersebut atas pelanggaran kontrak." imbuhnya kemudian pergi berlalu dari sana sebab dia sudah muak melihat wajah Sesha yang membuatnya jijik.


"Shit !!" umpat Sesha kesal. Dia pun membaca ulang persyaratan untuk mengajukan kerjasama,



Pihak kedua wanita dilarang menggoda pihak pertama. Atau jika hal itu terjadi, pihak pertama berhak membatalkan kontrak secara sepihak dan pihak kedua akan di denda sebesar 10M yang akan di berikan kepada pihak pertama.



"Sial ! baru kali ini aku melihat ada persyaratan kontrak seperti ini !! sial sial sial." teriak Sesha mengutuk kebodohannya yang tidak mau membaca isi surat kontrak tersebut. Padahal tadi Divta sudah memintanya untuk membaca. Tapi karena dirinya terlalu terpesona dengan pemuda itu, akhirnya dia tidak mengindahkannya.


**


Divta mengendarai mobilnya dengan perasaan emosi. Inilah yang paling tidak dia sukai jika bertemu dengan klien wanita tanpa di dampingi asisten. Tapi tidak mungkin juga dia membawa Raina ke sana.


"Apa aku harus mencari asisten baru untuk menemaniku di saat saat seperti ini ?" ucapnya pada diri sendiri. Dia lalu berfikir, mungkin nanti dia akan membicarakan hal ini pada Raina dan meminta persetujuan dari sang kekasih terlebih dahulu. Karena biar bagaimanapun, dirinya sudah tidak sendiri lagi. Ada Raina di sisinya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, kini Divta sampai di apartemen. Tubuhnya terasa sangat lelah setelah seharian bekerja. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa dan merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa serta menengadahkan kepalanya.


"Apa sayang ku sudah tidur ?" gumamnya pelan. Di benaknya terlintas ketika dia pulang dan di sambut dengan pelukan dari Raina. Di layani di sayang sayang, di cium dan ...


"Ah mantaphh." desahnya sambil memejamkan mata, dan membuat siapa saja yang mendengarnya merasa geli, khususnya Raina.


Ya, gadis itu baru saja keluar dari dapur setelah membuatkan makan malam untuk Divta.


Raina mendengar ada suara pintu terbuka,


"Itu pasti Divta." begitu ucapnya tadi. Dia ingin menyambut kepulangan pemuda itu, namun dia urungkan tatkala dia mendengar kekasihnya itu berkata, Ah.. mantaphh...


Bulu kuduknya seketika berdiri.


"Kesambet setan apa dia ? pulang pulang langsung mendesah begitu ?" gumamnya bergidik ngeri.


"Sayang... aku sudah pulang..." seru Divta masih dengan memejamkan matanya. Berharap Raina datang dan memberinya pelukan.


"Aku tau kamu sudah pulang." sahut Raina sambil berjalan lagi ke arah dapur untuk menyiapkan makanan.


"Eh ?" Divta memutar kepalanya. Menatap Raina dari belakang. Gadis itu mengenakan kaos hitam miliknya yang panjangnya hampir menutupi lututnya.


(Glek).. oh my, seksi sekali.


Rasanya dia begitu sulit menelan liurnya.


"Bukan bukan, ini bukan saatnya untuk mengagumi pacar. Perut ku ini sudah sangat lapar. Jadi sebaiknya aku makan dulu supaya aku punya tenaga untuk merayunya nanti." celotehnya seraya beranjak dari sofa. Dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia yakin kekasihnya itu pasti sedang menyiapkan makanan untuknya.


Dan benar saja. Terlihat di atas meja makan sudah tersedia satu porsi nasi goreng seafood yang menggugah selera. Divta bergegas duduk di kursi meja makan tersebut dan meraih sendok. Namun, tiba-tiba saja Raina menyentak punggung tangannya.


"Kenapa aku di pukul sayang ?" tanyanya heran.


"Cuci dulu tangan mu !" cetus Raina dengan wajah juteknya yang membuat Divta mengerucutkan bibir.


"Galak sekali sih kamu. Aku kan baru pulang. Masa di sambut dengan wajah yang di tekuk begitu." sungut Divta meletakkan kembali sendok yang tadi dia raih.


Tidak ada penjelasan, begitu ? Haish, masa bodoh dia mau jalan dengan siapapun aku tidak peduli.


Wajah Raina makin terlihat kecut di mata Divta. Gadis itu menghentakkan kakinya sebanyak dua kali. Kemudian dia berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya. Mood-nya malam ini benar-benar hancur lebur setelah mencium bau aroma parfum wanita sejak kedatangan Divta.


"Dia kenapa ? kok cemberut begitu sih ?" desis Divta heran melihat sikap Raina yang mengabaikannya sedari awal kepulangannya.


Ah ada yang cembokur 😂


Tapi yang pasti, jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗


^^^Salam hangat^^^


^^^Su Lixia^^^