Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Jadian



Tak terasa satu Minggu telah berlalu. Waktu yang di sarankan dokter untuk Divta beristirahat, pun telah usai. Hari ini dia kembali beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja, dia tidak lagi di dampingi oleh asisten Raihan, melainkan Raina.


Ya, mulai saat ini, Raina tidak lagi berperan sebagai Raihan. Dia sudah menampakkan wujudnya yang asli, yakni sebagai seorang wanita yang cantik dan menarik. Tentu hal itu membuat Divta semakin bersemangat dalam bekerja karena ada asisten cantik di sisinya yang akan selalu menemaninya kemanapun dia pergi.


"Manda, kenapa kamu pakai masker?" tanya Divta bingung saat melihat Raina menggunakan masker untuk menutupi sebagian wajah cantiknya.


"Tidak apa-apa tuan. Saya hanya malu saja." jawab Raina sambil merapihkan rambut poninya.


"Kamu takut ketahuan mantan rekan kerja mu ?" pertanyaan Divta membuat Raina tercengang.


"Kok.. Anda tau ?" Raina nampak gugup.


Divta sedikit memiringkan tubuhnya. Tangannya terulur untuk membantu Raina merapikan rambut poni yang menambah kesan cantik gadis itu.


"Kau seorang editor handal. Satu ruangan dengan Dion dan Virgie. Mereka adalah orang yang diam-diam menyukai mu bahkan sampai sekarang." Divta memutar bola matanya ke samping seraya bibirnya sedikit mengerucut saat berujar 'menyukaimu'.


"Benarkah ? kenapa saya tidak tau kalau mereka menyukai saya ?" tanya Raina.


"Raina Amanda, bisa tidak kamu jangan pakai bahasa yang formal dengan menyebut saya dan anda ? kan kita sudah pacaran." protes Divta merengut kesal.


"Eh ?"


Flashback sepuluh jam yang lalu ...


Divta mengajak Raina makan di restoran mewah yang ada di pusat kota. Restoran itu sangat recommended bagi orang-orang yang ingin memiliki moment terindah bersama kekasih seperti menyatakan cinta atau melamar. Karena pemandangan di resto tersebut begitu indah dan juga makanan disana sangatlah enak.


Divta telah me-reservasi roof top di restoran tersebut dengan konsep dinner candle light. Puluhan lilin terlihat menghiasi


ruang yang beratapkan langit malam dengan ribuan bintang yang bersinar terang serta bulan yang nampak tersenyum.


"Tuan, kenapa mata saya di tutup seperti ini ?" Raina merasa sedikit tidak nyaman karena kedua matanya di tutup oleh kain yang mengait di belakang kepalanya.


"Kamu akan tau sebentar lagi." Divta menuntun Raina agar duduk di kursi yang telah di sediakan. Jangan salah sangka. Bukan Divta menuntun tangan Raina, melainkan Raina menarik jas belakang yang di kenakan Divta sebagai petunjuk jalannya.


Ambyar.com


"Nah sudah sampai." Divta membuka kain yang menutupi kedua mata Raina.


Pandangan Raina masih buram. Tapi perlahan, cahaya lilin mulai menerangi penglihatannya, dan membuatnya takjub akan keindahan dari tempat itu. Dia sampai menutupi mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.


"Tuan, ini ... indah sekali." ucapnya sembari mengedarkan pandangannya ke arah langit yang berhiaskan ribuan bintang.


Divta tersenyum melihat kepolosan Raina. Hatinya merasa sangat senang karena usahanya untuk membuat Raina bahagia telah berhasil.


Kemudian dia berlutut di hadapan Raina.


"Raina Amanda, aku ingin menjadi kekasih mu. Aku tau ini terlalu cepat tapi aku sudah menyukai mu bahkan saat kamu masih menjadi Raihan." dia memberikan sebuah bucket bunga mawar berwarna putih yang di ikat sedemikian rupa indahnya.


Raina membulatkan matanya sempurna. Dia amat terkejut dengan apa yang di lihatnya saat ini. Divta, sedang menyatakan cinta padanya ? apakah ini mimpi ?


dia menepuk kedua pipinya berkali-kali untuk memastikannya.


Divta yang melihat itu pun beranjak berdiri dan meletakkan bunga di tangannya tersebut ke atas meja. Dia memegang tangan Raina dan menggenggamnya,


"Ini bukan mimpi." ucapnya seolah dia tau apa yang gadis itu pikirkan.


"Tenangkan hati mu. Ini aku Divta. Kamu tidak perlu takut. Aku berjanji akan menjaga mu dan tidak akan pernah menyakiti mu. Biasakan dirimu untuk menerima sentuhan dariku." imbuh Divta berusaha membuat Raina tenang.


"Aku menyukai mu Raina Amanda. Aku ingin kamu menjadi kekasih ku. Aku juga ingin kamu menjadi istri ku kelak."


Raina merendahkan pandangannya menatap kedua tangannya yang masih di genggam oleh Divta.


"Kenapa kamu diam ? apa itu artinya kamu menerima ku ?" tanya Divta. Dia meraup sisi wajah Raina sambil sebelah tangannya masih menggenggam tangan gadis itu.


"Percayalah, aku akan membuat mu bahagia dan nyaman saat bersama ku." Dia mengusap pipi Raina dengan lembut.


A-aku harus jawab apa ? astaga, jantung ku kenapa deg-degan seperti ini. Aduuuh, apa dia mendengar detak jantung yang sangat keras ini ? memalukan sekali.


Raina menggigit bibir bawahnya saking dia merasa gugup. Pipinya mulai memerah seperti tomat. Dan nafasnya pun semakin memburu karena menyeimbangi debaran jantungnya yang semakin kuat.


"Mau kah ?" tanya Divta lagi sambil sedikit membungkukkan tubuhnya karena tinggi badannya selisih kurang lebih 10cm.


Tanpa sadar, Raina menganggukkan kepalanya pelan. Dan hal itu pun membuat Divta tersenyum penuh semangat. Kemudian dia menangkup kedua sisi wajah Raina dan menciumi wajah gadis itu. Dari pipi, hidung, dagu, dahi dan terakhir bibir. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya sampai sampai dia mellumat bibir ranum Raina.


Membuat si empunya bibir kembali menegang dan berakhir tak sadarkan diri.


"Astaga, sayang !!" pekik Divta terkejut karena tiba-tiba Raina jatuh ke pelukannya. Dia pun merutuki kebodohannya yang tanpa sadar melakukan hal yang membuat Raina kembali terkena gangguan panik.


"Tidak masalah dinner romantis gagal, yang penting kami sudah pacaran. Yes !!" ucapnya di akhiri dengan teriakan di akhir kata. Sungguh ini adalah momen terindah yang pernah dia rasakan seumur hidupnya.


Back to reality


"Eh ?" Raina terlihat kebingungan dengan perkataan yang baru saja Divta lontarkan. Dia benar-benar lupa jika semalam dirinya telah menyetujui untuk menjadi kekasih dari bos-nya itu. Dia pun tersenyum kikuk seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Divta menghela nafas dalam. Dia paham dengan apa yang di rasakan Raina. Semalam tiba-tiba saja gadis itu pingsan karena tindakan bodohnya. Jadi tidak heran kalau Raina lupa.


Divta pun menarik tangan kekasihnya itu dan mengecup punggung tangannya.


"Sejak semalam kita sudah pacaran. Jadi mulai hari ini, kamu tidak perlu formal lagi terhadap ku."


Raina ingin sekali menepis tangan Divta, tapi sayang hati dan tubuhnya tidak sinkron.


Jadi dia mengangguk saja.


"Panggil aku sayang." perintah Divta.


Raina mengerutkan dahi. Baginya hal ini terlalu cepat baginya. Hatinya belum siap untuk menuruti apa yang Divta inginkan.


"Maaf, t-tapi saya..."


"Saya lagi ?" tukas Divta memicingkan kedua mata.


"Umm maksudnya, a-aku belum siap." jawab Raina gugup.


Divta tersenyum lebar. Dia mencubit hidung Raina karena gemas. Nikmatnya kalau punya pacar polos, begitu pikirnya.


"Ya sudah tapi kamu harus belajar dari sekarang. Kalau kamu mau pakai masker ini, aku akan lebih senang. Itu juga menguntungkan aku. Karena aku tidak mau membagi wajah cantik mu dengan orang lain." dia menarik tengkuk Raina dan mengecup dahi gadis itu.


"I love you." bisiknya. Kemudian Divta turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu untuk Raina.


Deg


Raina memegangi dadanya,


"Jantung ku." gumamnya.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗