Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Sesuatu yang mengejutkan



Raina yang masih berdiri di cermin pun di buat bingung dengan lehernya yang memiliki banyak tanda merah. Dia mendekatkan lagi dirinya ke cermin untuk melihat bekas gigitan nyamuk itu dengan jelas.


"Sepertinya selama ini aku tidak pernah di gigit nyamuk disini, tapi kenapa saat di gigit bisa sampai seperti ini sih ?" decak Raina menghembuskan nafas kasar. Bagaimana dia harus menghadapi hari esok jika di lehernya terdapat begitu banyak berkas gigitan nyamuk ? Dia bahkan tidak mempunyai makeup yang bisa dia gunakan untuk menutupi bekas gigitan itu.


Raina pun menanggalkan kaos untuk melepas korsetnya. Kemudian dia memakai lagi kaosnya, setelah itu dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih,


"Oh gosh, apa setelah ini akan ada pria yang mau menikahi ku ? Bahkan aku sudah tidur dengan bos ku sendiri. Meskipun tidak melakukan apa-apa tapi tetap saja kami sudah tidur bersama." ucapnya merutuki diri saat mengingat dimana Divta memeluk tubuhnya dengan begitu erat.


"Dan meskipun tidak ada yang melihat tapi tetap saja aku malu." Raina menghela nafas dalam, rasa kantuk pun menghampirinya. Setelah menguap beberapa kali, semenit kemudian kedua matanya pun terpejam dan mulai terlelap.


Pukul 5 pagi


Divta meraba-raba tempat tidurnya mencari gadis yang semalam dia tiduri.


"Sayang.." gumamnya. Dia bergegas bangun saat tak mendapati sosok yang dia cari.


"Kemana dia ?" Divta menggaruk kepalanya yang sedikit gatal karena berkeringat. Kemudian dia beranjak dari tempat tidur. Dia ingin mengecek kamar Raihan, siapa tau Amanda ada di sana. Begitu pikirnya.


Pintu kamar yang lagi lagi tidak di kunci membuat Divta dengan leluasa masuk ke kamar asistennya tersebut. Dan benar saja, di kamar itu dia melihat Amanda sedang terlelap dengan posisi terlentang. Divta tersenyum licik, sepertinya Raihan memang meninggalkan Amanda untuk dirinya. Terbukti dari cara berpakaian gadis itu yang tersingkap di bagian perutnya, begitupun dengan celananya sehingga nampak lah atas lututnya yang putih dan mulus.


Divta mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Raihan, apakah asistennya itu ada di kamar itu atau tidak. Setelah memastikan bahwa Raihan tidak ada, dia pun kembali tersenyum licik. Perlahan, Divta merangkak naik ke atas tempat tidur,


"Amanda, kenapa kau membuat ku begitu kecanduan." bisiknya di telinga Raina. Kemudian dia, melahap bibir gadis yang sedang tertidur pulas itu.


"Shit !!" umpat Divta ketika dia mulai bergairah.


"Aku janji, tidak akan merusak mu." bisiknya lagi, kemudian dia menggigit kecil bibir Raina, setelah itu dia beranjak dari tempat tidur dan kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi ke kantor.


Dua jam kemudian, Divta sudah nampak tampan dengan penampilannya yang formal. Kemeja abu-abu, dasi merah, jas dan celana hitam serta sepatu mahal yang terpasang di kedua kakinya.


"Ck, kurang ajar sekali Raihan. Punya asisten satu tapi tingkahnya sangat menyebalkan. Sebenarnya siapa sih bosnya ? Aku atau dia ?" decaknya kesal saat mengingat Raihan yang sudah dua kali pergi tanpa seizinnya.


"Tapi tidak apa-apa sih, asalkan dia meninggalkan Amanda disini." Divta terkekeh seraya menyisir rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan.


Suara ketukan pintu membuat kekehan Divta terhenti. Dia pun menyelesaikan kegiatan menyisirnya setelah itu dia membukakan pintu.


"Tuan, maaf saya bangun kesiangan. Saya tidak sengaja tuan. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi. Tolong jangan pecat saya tuan, saya sangat menyukai pekerjaan ini dan saya pastikan mulai besok saya akan membuat alarm pukul 4 pagi agar tidak lagi bangun kesiangan." celoteh Raina mengatupkan kedua tangannya untuk meminta maaf pada Divta yang nampak terkejut melihat penampilan asistennya itu.


"Kenapa kau memakai syal ?" tanya Divta menyipitkan matanya sembari menatap Raina heran.


"Saya hanya sedang ingin memakainya saja, tuan." jawab Raina.


"Ohh. Apa Amanda sudah pulang ?" tanya Divta lagi.


batin Raina berkecamuk. Namun dia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja mencari aman. Dia pun tidak tau kenapa tiba-tiba Divta bertanya tentang Amanda.


"Ya sudah, ayo kita sarapan di cafe dekat kantor." ujar Divta berjalan mendahului Raina.


"Bi, jangan lupa bersihkan kamar ku dan jangan sampai ada satu kotoran pun yang tertinggal." perintahnya pada Rumania yang terlihat sedang membereskan sisa-sisa minum semalam.


"Baik tuan." sahut Rumania.


Siang hari di kantor


Divta dan Raina sedang duduk di kursinya masing-masing. Mereka terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun di sebelah Divta, ada seorang wanita cantik nan seksi tengah bergelayut di leher pemuda itu seraya mencium wajahnya.


"Sherly, pergilah. Mulai saat ini kau tidak perlu datang ke kantor ku lagi." cetus Divta menepis tangan gadis yang di ketahui bernama Sherly itu dari lehernya. Sejak bertemu dengan Amanda, seleranya terhadap ciuman semangat dari berbagai wanita hilang begitu saja. Rasanya, dia selalu ingin berciuman dengan Amanda, dan selalu mendambakan gadis cantik itu.


"Kenapa seperti itu ? bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja ?" rengek Sherly kembali memeluk Divta.


"Selagi aku masih bersikap baik, cepat pergi dari sini. Jangan membuat ku kesal dan marah." sahut Divta dengan raut wajah dingin.


"Tapi kenapa ..."


"Kau hanyalah wanita luar yang ku bayar. Jadi jangan menganggap lebih dirimu, karena kau tidak berarti apa-apa bagiku." cetus Divta menyela ucapan Sherly yang terhenti begitu saja, membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya kesal bercampur sedih. Kemudian dia pergi dari ruangan besar nan mewah itu.


Setelah Sherly keluar, Divta beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri Raina yang nampak serius menekuni pekerjaannya. Divta kemudian duduk di meja kerja Raina, membuat si empunya terkejut bukan main,


"Ada yang bisa saya bantu tuan ?" tanya Raina dengan mimik wajahnya yang datar.


"Tolong buatkan aku kopi." perintah Divta.


"Baik tuan." Raina beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan menuju pantry guna membuatkan kopi untuk Divta.


Divta mendengus kecil, kemudian dia melangkahkan kakinya ke toilet karena dia ingin buang air.


"Eh, apa ini ?" pekik Divta terkejut melihat ada sebuah bungkusan kecil terletak di atas wastafel. Karena penasaran, dia pun membuka bungkusan tersebut.


Saat bungkusan itu terbuka, seketika kedua mata Divta membulat sempurna saking dia merasa terkejut.


"Tidak ada yang memakai toilet disini kecuali aku dan dia." Divta menarik sudut bibirnya yang tipis dan manis itu. Dia pun menatap pantulan wajahnya yang tersenyum manis di depan cermin.


"Welcome to my world."


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗