
Divta dan Raina berjalan beriringan dari arah lobi menuju ke lift khusus presdir. Saat berjalan, semua mata tertuju pada mereka. Terutama kedua wanita cantik nan seksi yang bekerja di bagian resepsionis.
"Ya Allah, pak presdir membawa pacarnya ? atau asisten barunya ?" bisik salah seorang wanita pada rekan kerja yang berprofesi sama seperti dirinya.
"Mungkin itu asisten barunya. karena pak Raihan yang manis itu tidak terlihat bersamanya." jawabnya.
Sebenarnya, Divta ingin sekali menggandeng tangan Raina. Tapi dia takut jika nanti tiba-tiba Raina pingsan lagi. Jadi dia hanya bisa berserah diri dengan berjalan mendahului Raina.
Hari ini adalah tugasnya memantau kinerja para karyawan yang ada di bagian editing dan pemasaran. Dan yang pertama ingin mereka kunjungi adalah bagian pemasaran karena berada di lantai 11.
Di dalam lift, Divta hanya berdua dengan Raina. Dia pun menggunakan kesempatan itu untuk merangkul bahu Raina dan mengecup pucuk kepala gadis itu dengan mesra.
“J-jangan seperti ini di kantor. Nanti ada yang lihat.” Raina berusaha menjauhkan tubuhnya dari Divta.
“Jadi kalau kita di apartemen aku boleh seperti ini ?” ucap Divta menggoda Raina yang lagi-lagi tersipu malu karenanya. Dia pun segera melepas rangkulannya sebab dia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Dia telah berjanji untuk membuat Raina secara perlahan mau menerima sentuhannya.
“Bu –kan seperti itu.” Raina menundukkan wajahnya.
“Iya iya sayang. Aku tau kok. Kamu hanya belum terbiasa kan ?” Divta membungkukkan tubuhnya dan, cup. Dia mengecup bibir Raina yang tertutup masker..
“Ayo.” ucapnya setelah pintu lift terbuka. Dia melangkah keluar. Dia mengira Raina sudah berada di sampingnya. Tapi nyatanya, gadis itu masih membeku di dalam lift.
Divta yang menyadari hal itu pun sedikit tergelak. Dia membalikkan tubuhnya kembali ke dalam lift.
“Kenapa berdiam diri disini ? ayo, kita sudah sampai di lantai 11.” Divta menarik lengan kemeja Raina dan membawanya keluar. Dia ingin sekali tertawa melihat tingkah Raina yang seketika membeku tatkala dia mengecup bibirnya walaupun secara tidak langsung. Hal itu membuktikan bahwa gadis itu masih suci dan belum pernah tersentuh oleh lelaki manapun. Tapi dia kembali teringat akan penjelasan Kenan yang tak lain ialah orang suruhannya untuk menyelidiki masa lalu Raina. Sampai saat ini, orang itu masih belum mendapatkan informasi terkait hal yang menyebabkan kekasihnya terkena gangguan panik.
“Selamat pagi pak Divta.” sapa seorang manager pemasaran bernama Edo. Sontak saja semua karyawan yang berada di ruangan itu berdiri dan membungkukkan setengah tubuh mereka untuk menyapa sang big boss.
Divta menganggukkan kepala dengan sedikit menyunggingkan bibirnya.
“Bagaimana perkembangan disini ?” tanyanya sambil berjalan untuk memantau para karyawannya kini kembali duduk untuk kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing.
“Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik pak. Hari ini divisi kita kedatangan klien dari luar negeri untuk mempromosikan produk baru mereka.” ujar Edo memberikan informasi.
Dia menganggukkan kepalanya. Merasa bangga akan kerja keras Edo yang telah mengabdikan diri di perusahaannya selama lebih dari 10 tahun itu. Dia cukup mengapresiasikan segala macam bentuk usaha dari semua karyawannya.
“Bagus. Jika kerjasama kita berhasil, aku pastikan bonus kalian bulan ini akan ku tambah.” tuturnya yang langsung mendapatkan tepuk tangan dari para karyawan yang diam-diam menguping pembicaraannya dengan Edo.
“Oh iya, perkenalkan. Dia kekasih ku, Amanda.” dia memperkenalkan Raina dengan rasa bahagia yang tak terkira.
“Selamat pagi bu Amanda.” para karyawan menyapa Raina dengan begitu ramah. Sebagian dari wanita yang mengidam-idamkan Divta tentu merasa hari ini adalah hari patah hati sedunia. Pria tampan yang selama ini menjadi idolanya ternyata telah secara resmi memperkenalkan kekasihnya.
Raina mengangguk pelan. Dia mengutuk perbuatan Divta yang mengenalkan dirinya sebagai seorang kekasih. Lihat saja nanti, dia akan mencubit pinggang pria itu untuk memberinya pelajaran.
“So sweet ...” semua orang yang berada di lantai itu pun bersorak bergembira mendengar penyataan Divta. Bahkan orang-orang yang berada di ruangan lain pun turut bersuka cita akan kabar bahagia itu. bagaimana tidak ? selama ini Divta belum pernah mengenalkan seorang kekasih pada karyawannya. Meskipun banyak wanita cantik mengaku sebagai kekasih Divta, tapi orang yang bersangkutan tidak pernah mengakuinya. Ok, fix, wanita yang di perkirakan sangat cantik itu adalah kekasih big boss yang real.
“Sudah sudah, fokus kerja.” tukas Divta menarik tangan Raina dan berlalu dari sana. Dia ingin cepat-cepat ke lantai 15 dan menyelesaikan tugasnya untuk memantau para pekerja di bagia editing agar dia bisa bermanja-manja dengan sang kekasih.
“Kenapa kamu mengenalkan aku sebagai kekasih ?” ucap Raina dengan nada sedikit ketus. Dia menyilang kedua tangannya di atas perut seraya menyandarkan tubuhnya di sudut lift. Menunjukkan bahwa dirinya sedang kesal.
Divta tersenyum licik. Dia pun mendekatkan diri pada Raina dan sedikit merapatkan tubuh mereka. Mengangkat wajah gadis itu melalui dagunya.
“Apa kamu terkesan dengan caraku memperkenalkan mu tadi ?” godanya.
“Bisakah... kamu menjauh sedikit ? I-ini terlalu dekat.” Raina memalingkan wajahnya dan semakin merapatkan tubuhnya ke dinding. Meskipun hal itu sia-sia dan tak dapat menjauhkan diri dari Divta, tapi setidaknya dia telah berusaha.
“Sayang, aku ...”
Suara denting dari lift yang menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai 15, pun mengurungkan niat Divta yang ingin mengatakan sesuatu. Akhirnya dia pun menjauhkan tubuhnya dan kembali bersikap profesional sebagaimana yang diminta oleh Raina.
Raina menghela nafas lega. Namun, tubuhnya sedikit menegang saat mendapati Dion dan Virgie baru saja keluar dari lift yang berada di sebelah lift khusus presdir.
Dia memilih untuk mundur dan tetap berada di dalam lift. Rencananya dia ingin segera ke ruangan Divta saja agar tidak bertemu dengan dua pemuda yang katanya menyukai dirinya.
“Sayang, kenapa diam lagi ? ayo.” Divta menarik tangan Raina dan tak mengizinkan gadis itu untuk bersembunyi dari karyawannya. Sebenarnya dia sangat ingin menunjukkan wajah asli Raina pada 2 lelaki yang diketahui menyukai kekasihnya. Tapi, dia ingin gegabah, toh Raina sudah tidak berhubungan lagi dengan mereka.
“Selamat pagi pak.” sapa Malik yang bernafas tengengah-engah karena dia baru saja berlari untuk menyambut kedatangan boss besar di divisinya. Perlu diingat, bahwa Malik adalah orang terpenting di bagian editing. Yakni atasan Raina dulu yang juga menyukai Raina.
“Ya, pagi. Apa ada kendala selama proses editing ?” tanya Divta sembari mengamati salah satu pekerjanya yang bernama Virgie.
“Tidak ada pak. Semua berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Tetapi, sejak kita kehilangan satu karyawan berprestasi, pekerjaan jadi menumpuk karena kami belum mendapatkan pengganti seperti dirinya pak.” jawab Malik dengan sopan.
“Siapa ?” tanya Divta yang berpura-pura tidak tahu. Padahal karyawan yang maksudkan oleh Malik berada tepat di sampingnya.
“Namanya Raina, pak. Dia adalah karyawan yang paling saya andalkan dan yang paling kami kagumi, pak. Khususnya saya, hehe.” ucap Malik bercanda. Yang malah membuat Divta mengepalkan kedua tangannya menahan kesal. ternyata kekasihnya itu cukup populer sehingga di sukai banyak lelaki. Dia pun menggenggam erat tangan Raina. Berusaha untuk memadamkan api cemburu yang membakar hatinya.
Suka ? tinggalkan like dan beri votes nya yaaah. Oh iya kita kenalan dulu yuk, nama ku SULI XIA. Terserah kalian mau panggil Suli atau Xia. Asal jangan 'thor thor' yaa, gak enak bacanya wkwkwk.
Coba dong sebut nama ku di kolom komentar.
JUMLAH KOMENTAR \= JUMLAH CRAZY UPDATE 🤣
Aku tunggu yaa. See you next chapter 🥰