
Daisya bersenandung ria sambil menyiram tanaman yang ada di halaman rumah Raihan.
Dia terlihat begitu antusias saat menyanyikan lagu My first love by Nikka Costa.
Lirik demi lirik dia nyanyikan dengan penuh semangat.
Sambil membayangkan wajah Raihan ketika tidak sengaja dia melihat pemuda itu sedang terlelap.
"Haaah, aku ingin kuliah di sini saja bersama Raihan." gumamnya lalu meletakkan gembor ke tempat semula.
Kemudian dia masuk ke dalam rumah dan menghubungi ayahnya, Bintang Andromeda atau yang biasa di sapa Andro, untuk meminta agar dia di pindahkan ke universitas yang ada di Indonesia saja, tepatnya di tempat dimana Raihan menimba ilmu.
"Papa kemana sih ? setiap telepon pasti tidak pernah di angkat. Apa aku sudah tidak di anggap anak ?" decak Daisya menggerutu kesal karena sudah 3x dirinya menghubungi Andro tetapi tidak ada jawaban.
"Daisya !" pekik Raihan.
"Ehh ?" Daisya terhenyak hingga tidak sengaja dia menjatuhkan ponselnya.
"Bahkan berjalan pun tidak bersuara. Kamu itu manusia atau jin ?" cetusnya sambil mengelus dada dan bergegas mengambil ponselnya yang terjatuh.
Raihan memunggungi Daisya,
"Kenapa kamu pakai baju ku ?! dan kenapa kamu tidak pakai celana ?" serunya dengan kedua pipi yang merona.
"Enak saja. Aku ini pakai celana, lihatlah !" Daisya menyingkap kaosnya dan menampakkan celana pendek berwarna hitam yang tertutup oleh kaos Raihan karena ukuran kaos tersebut begitu besar dan panjang di tubuhnya.
"Ini lihat !" Daisya menghampiri Raihan dan berdiri di hadapan pemuda itu.
"Iya iya, sudah jangan di angkat lagi." Raihan menurunkan kaos yang di pakai Daisya.
Anak ini, kenapa selalu berpakaian seperti itu sih ? mata ku jadi tidak suci lagi kan ! decakan itu bersumber dari hati Raihan yang mengumpat Daisya karena selalu mengenakan pakaian serba mini.
"Aku pinjam kaos mu karena aku lupa me-laundry semua baju-baju ku." ucap Daisya sambil berjalan menuju meja makan untuk menyiapkan sarapan yang sudah di belinya tadi.
"Kalau pinjam itu bilang dulu. Bukannya di pakai dulu baru bilang." gerutu Raihan mengikuti Daisya.
"Aku sudah bilang tadi. Dan kamu juga sudah mengizinkannya." protes Daisya.
"Mana ada ? aku tidak merasa mengiyakan." sanggah Raihan yang memang tidak tau kapan Daisya meminjam baju padanya.
"Tadi saat kamu tidur."
Flashback
Daisya yang baru selesai mandi, seketika tersentak saat tak mendapati satu pakaian pun di dalam lemarinya.
Dia merasa bingung dan kesal. Bagaimana mungkin dia bisa lupa mengirim pakaian kotornya ke laundry ?
Kemudian dia berfikir untuk meminjam baju saja pada Raihan.
Dengan masih memakai handuk putih yang melingkar di tubuhnya, dia melangkahkan kakinya ke kamar pemuda yang sudah hampir 2 bulan ini tinggal bersamanya.
"Rai ?" dia memanggil sambil mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban walau sudah berkali-kali dia mengetuknya.
"Ya sudah aku masuk." perlahan Daisya membuka pintu,
dan di lihatnya Raihan masih terlelap dengan tampannya.
"Oh my future boyfriend, meskipun perut mu tidak ada kotaknya, tapi kalau lagi begitu kamu seksi sekali." gumam Daisya mengagumi Raihan yang terlelap dengan bertelanjang dada.
"Aku pinjam kaos mu ya ? karena baju ku kotor semua." ucap Daisya sembari mengguncang tubuh Raihan.
Raihan mengerjap dan membuka matanya.
Di lihatnya Daisya begitu cantik dan menggoda.
Dia pun memiringkan tubuhnya dan memeluk guling dengan sangat erat.
"Iya sayang.." gumamnya lalu memejamkan lagi matanya sambil tersenyum.
"Ehh, dia panggil aku apa tadi ? sayang ?" Daisya menepuk kedua pipinya untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.
"Ya ampun, aku senang sekali.
Kenapa tadi aku tidak membawa ponsel untuk merekam suaranya dan menjadikannya nada dering di ponsel ku." ucapnya penuh penyesalan.
"Sudah sudah, ini bukan waktunya untuk menyesal. Aku kedinginan dan butuh baju sekarang."
Kemudian dia menghampiri Raihan lagi.
"Aku pinjam kaos mu yang berwarna hitam yang sayang." bisiknya di telinga Raihan, lalu dia mendaratkan satu kecupan di pipi pemuda itu.
"I am crush on you." bisik Daisya lagi kemudian bergegas pergi.
(aku menyukai mu)
Back to reality
Seketika Raihan menyilang kedua tangan di dadanya sebab dia merasa malu akan cerita Daisya yang masuk ke kamarnya saat dia masih tertidur tadi.
"Kenapa kamu masuk ke kamar ku tanpa izin ?" tanyanya mengintimidasi.
"Jadi aku harus bagaimana ? aku sudah memanggil dan mengetuk pintu mu ribuan kali tapi kamu tidak bangun bangun." jawab Daisya dengan santainya.
Sebenarnya dia juga sudah merona juga mengingat kejadian pagi tadi.
Tapi dia menundukkan wajahnya agar tidak terlihat. Dia juga tidak mengatakan bahwa Raihan memanggilnya 'sayang'.
Juga tidak menceritakan perihal dirinya yang mencium Raihan.
"Ya tunggu aku bangun dong." pungkas Raihan memrotes.
Dia merasa benar-benar tidak suci lagi karena tubuhnya sudah di lihat oleh gadis yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengannya.
"Jadi kamu tega membiarkan aku mati kedinginan karena tidak pakai baju, iya ?" tuduh Daisya dengan nada ketus.
"Lagipula aku sudah permisi, dan kamu juga sudah menjawab ku." lanjut Daisya.
"Mana ada orang sedang tidur menjawab orang lain." sanggah Raihan lagi sambil menuangkan susu cair ke dalam gelasnya.
"Kamu bilang iya sayang, begitu." Daisya mengikuti cara bicara Raihan tadi. Dan seketika membuat wajah Raihan semakin merah. Pemuda itu ingat bahwa dirinya melihat Daisya.
Astaga, keceplosan.
Daisya menutup mulutnya.
Jadi yang ku lihat tadi benar ? Daisya berdiri di hadapan ku hanya mengenakan handuk ? astaga.
"A- aku tidak jadi makan, karena harus menyiapkan persentasi." Raihan yang merasa sangat malu, pun beranjak dari kursi makan dan ingin kembali ke kamarnya.
"Eeeh tunggu !" seru Daisya masih tangan Raihan dan menggenggamnya.
"Makan dulu." perintahnya, namun Raihan menolak dengan alasan ada tugas kuliah.
"Jangan alasan. Selama ini aku yang membantumu mengerjakan. Tidak sampai 10 menit saja sudah selesai, kan ?" imbuhnya lalu memaksa Raihan untuk duduk.
Kemudian dia membuka mangkuk sterofoam berisi bubur ayam dan dia pindahkan ke piring Raihan.
"Cepat di makan." titahnya, namun Raihan malah diam sambil menatap piring tersebut.
Daisya mendengus kecil. Dia pun berinisiatif untuk menyuapi pemuda itu.
"Buka mulut mu."
"Aku bisa makan sendiri." Raihan tersadar dan segera merebut sendok dari tangan Daisya.
Berlama-lama dengan gadis ini membuat ku tidak bisa hidup dengan tenang. Aku harus membuatnya cepat cepat pergi dari sini demi kesejahteraan hidup ku.
"Pelan-pelan saja, atau akan tersedak kamu nanti." ucap Daisya penuh peringatan.
"Oh iya, aku berencana untuk pindah kuliah di universitas yang sama dengan mu."
Seketika Raihan tersedak dan terbatuk-batuk mendengar penuturan yang Daisya lontarkan. Baru saja dia berfikir ingin membuat Daisya pergi dari hidupnya, sekarang gadis itu malah berkata ingin pindah di universitas yang sama dengannya ?
"Sudah ku bilang pelan-pelan, kan ? lihat diri mu yang bodoh ini langsung tersedak." seru Daisya panik dan bergegas menuang air putih dalam gelas untuk dia berikan pada Raihan.
"Tidak perlu takut bubur mu aku minta karena aku sudah sarapan tadi." lanjutnya sambil memijat tengkuk pemuda itu, berharap bisa mengurangi rasa sakit di tenggorokannya.
Aku tersedak bukan karena takut kamu minta makanan ku. Tapi karena kamu memutuskan untuk pindah kesini ! umpat Raihan dalam hatinya.
Ooh jadi Daisya ingin pindah kuliah ? gimana nih ? 🤔
Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗