
Raina keluar dari kamarnya sebab ini sudah waktunya untuk dia dan Divta untuk berangkat bekerja. Namun dia di kejutkan dengan dua orang yang berdiri di depan pintu kamarnya dan salah satu dari mereka sedang mengangkat tangan seperti sedang ingin mengetuk pintu.
"Rai, cepatlah kita sudah terlambat." seru Divta yang juga baru keluar dari kamarnya.
Dengan raut wajah datar Raina menggeser tubuhnya melewati dia orang di depannya yang tak lain ialah Darius dan Daisy.
"Permisi." ucapnya sambil lalu setelah itu dia dan Divta pergi keluar meninggalkan kakak beradik yang tercengang akan sikapnya.
"Tuh kan kak, Raihan marah padaku karena aku tidak sengaja menciumnya tadi." rengek Daisy sedih. Dia berjalan gontai menuju sofa kemudian merebahkan dirinya di sana sambil meringkuk galau.
Darius merasa sedih melihat Daisy, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya Daisy tidak hanya mencium Raina, tetapi juga menuduhnya memiliki hubungan dengan Divta, atau lebih tepatnya menuduh Raina gay. Siapa yang tidak marah dan kesal jika di tuduh seperti itu ? jika dirinya menjadi Raina pasti dia juga akan marah pada Daisy, bahkan sangat sangat marah dan akan memusuhi gadis itu.
"Sudahlah, nanti saja saat mereka pulang, kau baru minta maaf pada lelaki itu. Ayo ke apartemen kakak saja karena kamar di sini sudah di tempati semua." ucap Darius mengajak Daisy untuk tinggal di apartemennya yang berada tepat di sebelah apartemen Divta.
"Nanti kak, aku akan menunggu kakak dan Raihan pulang baru setelah itu aku akan ke apartemen mu. Aku akan membuatkan makan malam untuk Raihan agar dia mau memaafkan aku." jawab Daisy.
"Ya nanti jam 5 sore kita kesini lagi. Sekarang mandi dan sarapan saja dulu." ucap Darius mencoba untuk tetap sabar menghadapi Daisy yang sangat manja dan keras kepala itu.
Di kantor
Raina dan Divta terlihat sedang duduk di kursinya masing-masing. Mengerjakan tugas sambil sesekali menyeruput kopi (Divta) dan susu (Raina).
"Rai, kau kan terbilang sudah menjadi pria dewasa, kenapa masih minum susu ? seperti bayi saja." celetuk Divta sambil tersenyum mengejek Raina yang baru saja meletakkan gelas berisi susu putih ke atas mejanya.
"Susu itu baik untuk kesehatan tubuh kita tuan." sahut Raina sopan.
"Lebih baik dan sehat kalau meminumnya langsung dari sumbernya. haha." Divta tertawa heboh.
Raina mengerutkan dahi, yang ada di pikirannya saat ini adalah Divta mengajaknya ke sebuah tempat maksiat seperti bar atau diskotik atau rumah bordil yang menyediakan wanita-wanita malam yang rela memberikan tubuhnya demi uang.
Dia pun menggelengkan kepalanya kuat untuk mengusir pikiran mesumnya terhadap Divta. Tapi bagaimana dia tidak berfikir mesum ? bahkan pemuda itu pernah melakukanya tepat di depan matanya dengan seorang wanita.
"Hiiii. Aku jijik." gumam Raina mengedikkan bahunya geli.
"Apa kau mau ? nanti aku akan mengajak mu ke tempat terbaik yang menyediakan susu segar dan itu langsung dari sumbernya." imbuh Divta tersenyum menyeringai.
"Tidak perlu tuan, saya lebih suka susu yang yang sudah siap minum." jawab Raina.
"Haish, pokonya nanti kita akan kesana. Percayalah, susu itu juga siap untuk kita minum, dan kau juga bisa memilih susu mana yang kau sukai. Mau yang agak kecil, besar, yang montok atau yang woow semua ada. Aku yakin kau juga akan sangat suka saat memerahnya dan aku jamin kau akan ketagihan." sahut Divta lagi.
Saat Raina akan menyela ucapan Divta, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, membuat perhatian Divta maupun Raina teralihkan ke sumber suara.
"Permisi tuan, saya ingin bertanya apakah film yang Minggu lalu jadi di tayangkan atau tidak ? karena kata tuan Andro (ayah Divta), kami di minta untuk menanyakan kembali pada Anda." tanya seorang laki-laki yang tak lain ialah Malik, rekan kerja Raina dulu.
"Apa menurut mu film ini cocok untuk di bawah umur 17 tahun ?" tanya Divta tanpa menoleh. Suaranya terdengar begitu dingin yang menyeramkan.
"Maaf tuan, kalau menurut saya film ini lebih cocok untuk usia 18+." jawab Malik.
"Sudah tau kenapa masih bertanya !" seru Divta mendelik kesal. Dia berfikir,
kenapa HRD harus mempekerjakan karyawan yang idiot seperti Malik ? sudah jelas itu adalah film dewasa tapi kenapa atribut yang tertulis di peruntukkan untuk remaja ?
begitu pikirnya.
"Maafkan saya tuan, kalau begitu saya akan mengganti atribut dan menayangkan film tersebut di waktu malam." sahut Malik mulai gemetar takut, sebab ini adalah pertama kalinya dia bertemu Divta dan langsung mendapat ocehan pedas.
"Bodoh !!" Divta segera mengeluarkan DVD dari dalam laptopnya dan menghempas benda pipih berbentuk bulat tersebut tepat di hadapan Malik.
"Saya permisi tuan." Malik pamit undur diri dari ruangan itu setelah sebelumnya meraih DVD dari atas meja.
Raina yang sedari tadi melihat dan mendengar Malik di bentak pun hanya bisa menundukkan kepala agar mantan rekan kerjanya itu tidak melihat wajahnya. Sebab sampai sekarang dia masih takut jika teman-teman di kantornya mengenali dirinya walaupun dia sudah menyamar semaksimal mungkin.
Sepulang dari kantor, Divta dan Raina kembali ke apartemen. Sudah senang Raina menjumpai tempat tidurnya, namun seketika mood nya berubah karena Divta memanggilnya.
"Ada apa tuan ?" tanyanya.
"Bersiaplah, kita akan pergi ke tempat yang ku janjikan pagi tadi." jawab Divta sambil lalu.
"Eeeh eh tuan..." suara Raina terbuang sia-sia karena Divta telah masuk ke dalam kamarnya dan pintunya pun tertutup.
"Oh my, apa dia akan mengajak ku untuk minum susu langsung dari sumbernya ? haaaaah aku tidak bisa membayangkannya. Bagaimana mungkin aku ... aaaaah." Raina mengacak rambutnya frustasi, dia pun memilih masuk ke kamarnya untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang tidak terlalu lelah sambil berfikir bagaimana caranya agar dia bisa menghindar dari Divta yang ingin mengajaknya ke tempat maksiat.
Raina menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi kedua kaki menjuntai di lantai. Menatap langit-langit kamar sambil berfikir keras,
"Eh apa aku pura-pura sakit saja ya ?" dia bergumam ria. Tapi sepertinya ide konyolnya itu tidak berguna untuk menipu Divta, pasalnya semenit lalu dia terlihat segar bugar.
Raina mendengus kasar, dia sungguh tidak bisa membayangkan saat dia memerah susu, ah memikirkannya saja dia sudah bergidik ngeri, jijik, mual dan uweeeek. Apa kata dunia jika dia menyentuh milik orang lain yang sejenis dan berasal dari spesies yang sama seperti dirinya ?
"Aaaaaaaaaaaaaakh." teriak Raina dari hati.
Ya, hanya hatinya lah yang mampu berteriak, sebab jika mulutnya yang mengeluarkan suara pasti akan ketahuan lagi oleh Divta, dan mungkin pemuda itu akan curiga bahwa dirinya adalah seorang perempuan.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗