Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Fakta tentang Raina



Darius pun keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Divta yang terlihat tersenyum penuh kemenangan. Meski hatinya merasa kesal, tapi setidaknya dia sudah tau siapa nama gadis itu. Amanda, ya Amanda, dia akan mengingat nama dan wajah cantiknya.


"Jika aku memang tercipta untuk mu, ku kan memiliki mu.. Jodoh pasti bertemu." dia bersenandung ria diiringi tawa yang membuat orang-orang disekitarnya menatap Darius dengan tatapan mencemooh.


Sedangkan Divta, dia tengah menikmati aroma parfum dari tubuh Raina yang begitu memabukkannya dan ingin sekali memilikinya.


"Amanda, aku ingin ..."


ucapan Divta terhenti begitu saat dirinya merasa tubuh Raina terhuyung dan perlahan ambruk. Beruntung Raina berada dalam pelukannya, jadi gadis itu pun terjatuh di bahunya.


Gantian_ya.jpg


"Amanda !!" pekik Divta terkejut ketika Raina jatuh tak sadarkan diri. Dia pun turun dari bangsal dan memindahkan Raina untuk berbaring disana.


"Kau kenapa Amanda ?" dia menepuk pelan pipi Raina, kemudian mengecek suhu tubuh gadis itu.


"Normal, tapi kenapa tiba-tiba pingsan ? apa dia belum makan ? tapi kan tadi sebelum meeting kami sudah sarapan dan dia makan banyak sekali." gumam Divta bingung. Lalu dia memutuskan untuk menghubungi Dino agar memeriksakan kondisi Raina.


5 menit kemudian


"Siapa yang mengizinkan mu menyentuh dadanya ?!" sentak Divta menepis tangan Dino yang hendak meletakkan stetoskop ke dada Raina untuk mengecek detak jantungnya.


Dino mengerutkan dahi seraya mencebikkan bibir. Merasa terkejut dan terheran-heran.


"Hei bodoh, aku hanya ingin memeriksanya saja. Bukan mau berbuat cabul !" cetus Dino tidak terima.


"Iya tapi jangan di dadanya !!" seru Divta panik memrotes sanggahan dari Dino.


Dino mulai kesal. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang melarang dirinya memeriksa detak jantung. Jika bukan melalui dadanya, lalu dia harus mengeceknya dari sebelah mana ? tidak mungkin kan dari bagian buahnya ? yang ada di akan di sebut sebagai dokter cabul.


Dino yang sudah meradang akhirnya menarik kerah baju Divta dan mencengkramnya dengan sangat kuat,


"Haruskah aku meletakan stetoskop ku di atas buah dadanya ?" ucapnya menahan emosi serta dengan tatapan penuh amarah.


"Kau jangan macam-macam ya !!" sentak Divta menepis tangan Dino dari kerah bajunya dan terjadilah adu jotos antara seorang dokter dan pasien. Kegaduhan pun tidak dapat di hindarkan. Beruntung ruangan tempat Divta di rawat itu terletak di lantai teratas dan hanya ada dua kamar di lantai tersebut yang secara kebetulan sedang kosong karena memang di peruntukan bagi keluarga Divta.


Holangkaya.com


Akibat gaduh yang Divta dan Dino ciptakan, pun membuat Raina tersadar dari pingsannya. Seketika kedua matanya mendelik kaget melihat perkelahian antara kedua pemuda di hadapannya itu. Dia pun beranjak dari bangsal dan berniat memisahkannya. Namun naas, dia terkena bogem mentah dari Divta yang seharusnya melayang di wajah Dino, tapi malah mendarat di pipi manisnya.


"Aakh." Raina terhempas hampir terjatuh. Tapi dengan sigapnya Dino menarik tangan Raina dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Jangan menyentuhnya !!" seru Divta merebut tubuh Raina dari dekapan Dino.


Divta pun berinisiatif untuk menghembuskan nafasnya berharap bisa meredakan rasa perih yang mungkin Raina rasakan. Tapi, sayang seribu sayang. Tindakan yang dia lakukan malah membuat Raina kembali tak sadarkan diri.


"Amanda !!" teriak Divta semakin panik. Dia lalu membopong tubuh Raina dan dibaringkan di atas bangsal.


"Ini semua gara-gara kau !" bentaknya pada Dino yang terdiam karena shock yang melanda.


"Kenapa kau diam ?! cepat periksa keadaannya !" imbuh Divta masih dengan nada membentak.


Dino sedikit terhenyak, dia bergegas menghampiri Raina dan mulai memeriksa detak jantungnya. Tidak peduli dengan Divta yang melarangnya, dia lebih memilih untuk mendorong Divta agar menjauh sebab dia harus cepat mengambil tindakan.


Divta yang di dorong berkali-kali akhirnya pasrah dan mengizinkan Dino (stetoskop) menyentuh dada Raina demi keselamatan gadis cantiknya tersebut.


"Bagaimana ?" cecar Divta tatkala Dino sudah selesai memeriksanya sembari dia menyingkirkan Dino agar menjauh dari Raina.


"Dia baik-baik saja kok, detak jantungnya normal. Aku rasa, dia pingsan itu karena dirimu." jawab Dino sambil melepaskan earpieces stetoskop dari telinga dan menggantungkannya di lehernya.


"Apa maksud dari perkataan mu itu, hah ?!" cetus Divta tidak terima di tuduh sebagai penyebab Raina tak sadarkan diri. Bukankah sedari tadi dia tidak melakukan kesalahan sekalipun ?


"Dia pingsan setelah kau memeluknya, dan aku yakin tadi kau juga memeluknya sebelum dia pingsan." tutur Dino memasukkan kedua tangannya di saku jas putih miliknya dan memilih untuk duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Darius.


Divta memicingkan matanya dan beralih menatap Raina,


Benarkah yang kau katakan dulu kalau kau belum pernah di sentuh oleh pria lain ?


batinnya bertanya-tanya. Seketika senyumannya mengembang lebar, dia teramat senang menemukan fakta tentang Raina yang ternyata belum pernah terjamah oleh lelaki selain dirinya. Meskipun hanya sebatas atas dada saja.


Amanda, aku semakin ingin memilikimu.


gumam Divta tak bersuara.


"Pergilah, biar aku yang mengurusnya." dia mengusir Dino secara terang-terangan, membuat orang yang di usir mendengus kasar. Ingin rasanya pemuda itu mendorong Divta hingga terjatuh dari lantai dimana kedua kakinya itu berpijak. Jika saja dia bukan anak dari orang yang memberinya gaji fantastis, pasti dia sudah melakukannya tanpa ragu. Tapi bo'ong hahaha. Tadi menunggu harus di usir dua kali, Dino pun langsung beranjak dari kursi dan bergegas pergi meninggalkan Divta dan Raina berdua.


Sementara Divta, dia menggeser kursi ke sisi bangsal tempat Raina di baringkan. Dia menggenggam jemari tangan Raina. Mengecupnya hingga berkali-kali, kemudian


dia letakkan di pipinya.


"Aku janji tidak akan membuatmu seperti ini lagi. Tapi aku janji. Aku akan membuatmu terbiasa dengan pelukan dan sentuhan tanganku bahkan, bibirku." tuturnya sambil tersenyum dan dia kembali mengecup punggung tangan Raina sepuas hatinya.


**


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗