
Darius kini berada di depan pintu apartemen yang di maksudkan oleh Daisya, dengan di antar lelaki asing yang memapah tubuhnya. Pemuda itu menekan bel berkali kali namun tak ada sahutan maupun pintu terbuka. Akhirnya dia memutuskan untuk menekan bel pintu di apartemen yang ada di sebelahnya. Mungkin kedua pemilik apartemen itu berhubungan dekat sebab di sana hanya ada dua pintu kamar.
"Maaf anda siapa ?" tanya seseorang yang baru saja membuka pintu, yakni Deasy.
"Maaf nek, nama saya Yudha. Saya menemukan tuan Darius pingsan karena mabuk. Apa anda mengenalnya ?" tanyanya sambil mendongakkan kepala Darius yang menunduk agar Deasy dapat melihat wajahnya.
"Lah, cucu ku !!" pekik Deasy terkejut saat tau bahwa lelaki yang sempat di pandang sebelah mata olehnya ternyata adalah cucunya sendiri.
"Mari nak, tolong bawa masuk ke dalam." lanjutnya mempersilahkan Yudha untuk masuk. Dia meminta Yudha untuk membawa Darius ke dalam kamar Raina. Sebab dia enggan untuk mengantar cucunya itu ke apartemen sebelah.
Setelah mengucapkan terimakasih, Deasy mengajak Yudha untuk minum terlebih dahulu namun pemuda itu menolak dan memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah lewat tengah malam.
"Saya permisi pulang ya, nek." ucapnya sembari menyalami tangan Deasy dengan sopan.
"Iya, sekali lagi terimakasih ya. Kalau ada waktu mampir lah kemari agar cucu ku tidak kuper." jawab Deasy di iringi tawa renyah.
(kurang pergaulan)
"Baik nek, kalau begitu sampai jumpa di lain waktu." Yudha segera pamit dan pergi dari apartemen.
Deasy mendengus kasar. Kedua cucu laki-lakinya sungguh ber-manner. Yang satu mesum, ya satunya lagi mabuk-mabukan." gerutunya sambil mengunci pintu.
"Jika saja anak tampan tadi itu cucu ku, pasti aku akan senang sekali. Sepertinya dia anak yang baik." lanjutnya seraya masuk ke dalam kamar untuk menemani Darius tidur.
Pukul 3 pagi
Getaran dari ponsel Raina membuat si empunya merasa terganggu. Dengan mata yang masih terpejam dia meraba meja nakas untuk mengambil ponselnya.
Kemudian dia mengerjap untuk melihat siapa gerangan yang menelponnya di tengah malam seperti ini.
Dan, seketika kedua matanya terbelalak saat tau siapa yang telah menghubunginya.
Dia lalu melirik ke arah Divta yang masih terlelap dengan begitu nyenyak seraya memeluk guling yang di jadikan pembatas antara mereka berdua.
Dia lalu mengangkat telepon tersebut.
"Bagaimana ?" tanya seseorang di seberang sana.
Lagi-lagi Raina melirik Divta seraya berbisik,
"Ita." dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa di dengar oleh orang yang menelponnya.
Setelah mendapat jawaban dari Raina, orang misterius itu, pun bergegas mematikan sambungan telepon.
"Pilihan ku memang yang paling tepat." ucap orang tersebut seraya tersenyum licik.
"Bagaimana mungkin tidak tepat ?
karena akulah yang merekomendasikannya." sahut orang lain yang sedang berada di pelukannya.
Sementara Raina, dia menghela nafas dalam. Dia lalu merubah posisi menjadi miring dan menyingkirkan guling yang menjadi pembatas.
Dia mendekatkan tubuhnya pada Divta dan menggenggam tangan pemuda itu, kemudian dia letakkan di atas pipinya.
"Seperti inikah rasanya jauh cinta ?" gumamnya dalam hati.
"Maaf.. dan terimakasih. Kamu telah menyembuhkan ku dan membawa ku keluar dari keterpurukan." dia mengangkat setengah tubuhnya dan mendaratkan kecupan hangat di pipi Divta.
"Believe me, I'm into you." bisiknya. Setelah itu dia memilih untuk kembali tidur karena hari masih terlalu pagi.
(Percayalah, aku mencintai mu.)
Aku juga mencintai mu.
Divta membuka kedua matanya beberapa menit setelah di rasa Raina sudah terlelap.
Tangannya yang masih berada di pipi Raina, pun menggunakan ibu jarinya itu untuk mengusap lembut di sana.
Lalu dia tarik tangannya dan beralih memeluk gadis itu.
**
Darius mengerjapkan kedua mata saat sinar matahari menerpa wajahnya. Dia melihat ada tangan yang melingkar di tubuhnya.
Seketika bayangan Raina muncul di pikirannya.
"Amanda.." dia mengusap punggung tangan wanita yang di kiranya adalah Raina.
Namun, tiba-tiba dia terhenyak saat merasa ada sesuatu yang janggal dengan kulit tangan tersebut.
"Kok keriput ?" gumamnya lalu meliriknya. Dan alangkah terkejutnya dia saat tau itu milik orang yang sudah tua.
Kemudian, dengan perlahan dia menoleh ke belakang.
"Aaaaaaakh !!" teriaknya terkejut melihat sesosok wanita tua sedang memeluknya. Membuat wanita itu terkejut dan langsung terbangun.
Sedangkan Darius, dia buru-buru beranjak dari tempat tidur dan pergi dari sana.
"Siapa kau ?!!!" pekik Darius sambil meraih vas bunga dan bersiap untuk melempar.
"Dasar cucu tidak tau diri. Kau mau membunuh nenek mu, iya ?!" sentak Deasy.
"Eh, nenek. Kenapa di sini ?" Darius yang baru menyadari itu, pun bergegas meletakkan kembali vas bunga ke tempat asalnya
dan segera meminta maaf karena mengira neneknya adalah penjahat.
"Jelaskan, kenapa semalam kamu mabuk-mabukan ?!" cetus Deasy menatap Darius dengan tatapan menyelidik.
Darius mendadak lesu mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh sang nenek.
Dia jadi teringat, saat Arumi memberitahunya bahwa Divta tengah tidur bersama seorang gadis di kamar kantor.
Dia sudah bisa menebak jika gadis itu adalah Raina.
Karena Divta pernah berkata padanya kalau adiknya itu sudah berpacaran dengan Raina.
"Kenapa aku selalu kalah dari Divta, nek ?" ucapnya tertunduk lesu.
Seketika Deasy merasa iba melihat ekspresi Darius yang nampak sedih.
Dia menepuk kasur agar pemuda itu duduk di dekatnya.
"Kalah dalam hal apa nak ? bukankah kamu jauh lebih sukses, lebih mandiri dan lebih berhasil. Jadi harusnya kau mengajari adikmu, nak." ucapnya sambil mengusap lembut punggung Darius.
Darius menggelengkan kepalanya pelan. Bukan itu yang di maksudkan olehnya. Melainkan perihal seorang gadis.
Tapi bagaimana memberitahukannya ke nenek, begitu pikirnya.
Dia takut akan di tertawakan oleh wanita tua itu karena tidak bisa mendapatkan hati seorang gadis.
"Lalu kenapa, nak ?" tanya Deasy.
"Um aku harap nenek tidak menertawai ku." ucap Darius dan di angguki oleh Deasy.
"Kenapa ya nek, setiap aku menyukai seorang gadis, pasti gadis itu lebih dulu menyukai Divta." lanjutnya dengan raut wajah memelas. Dan seketika itu juga, Deasy tertawa terbahak-bahak, membuat Darius merasa kesal dan jengkel.
"Itu artinya kau kurang menarik." Deasy tertawa lagi.
Dia memang mengakui penampilan Divta dan Darius sangat berbeda.
Jika Divta memilih style casual sebagai pilihannya, lain halnya dengan Darius.
Cucu pertamanya itu lebih memilih style formal kemana pun pemuda itu pergi. Tak peduli kantor, mall, ke pesta atau bahkan sekedar jalan-jalan.
"Maksud nenek aku kurang menarik bagaimana lagi ?" tanya Darius sedikit ketus. Padahal, dia sudah berusaha untuk berpenampilan menarik agar para gadis kepincut dan terpesona dengannya.
"Sebentar nek, aku mau mencuci wajah ku dulu." imbuhnya sambil lalu menuju ke pintu kamar mandi.
Perlahan, tawa Deasy lenyap dan hanya tersisa senyuman geli.
"Lihat saja dirimu. Bahkan mau pergi ke kamar mandi pun pakai dasi." dia kembali tertawa karena tidak sanggup menahannya.
"Nenek..." rengek Darius mencebikan bibirnya kesal kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Deasy terkekeh,
"Apa dia tidak sadar kalau dia sedang berada di kamar perempuan ?" ucapnya pada diri sendiri.
-->