Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Meminta maaf



Rumania yang baru keluar dari kamar mandi langsung kembali ke dapur sebab dia belum sempat membuatkan salad buah tadi. Saat dia sedang membuka pintu lemari pendingin, tiba-tiba telinganya menangkap sebuah isak tangis seorang perempuan.


"Nona !" pekiknya yang langsung bergegas menuju ke ruang TV.


Entah kenapa otaknya langsung berpusat pada Raina ketika benar suara tangisan itu.


Dan, alangkah terkejutnya dia saat melihat Raina sedang di peluk oleh Darius sambil menangis tersedu-sedu.


"Nona !" dia berlari menghampiri Raina.


"Kenapa anda menangis Nona, apa yang terjadi ?" tanyanya dengan mimik wajah panik.


Darius menatap Rumania dengan tatapan tajam dan mematikan.


"Kau dibayar untuk menjaga Raina, kan ? tapi kenapa kau membiarkan orang asing masuk dan membawanya pergi ?!!" teriaknya penuh emosi, membuat Rumania gemetar ketakutan.


"M-- maafkan saya tuan, ta-- tadi saya sedang berada di kamar mandi, itu sebabnya sa- saya tidak tahu kalau orang asing membawa Nona pergi." jawab Rumania menunduk takut.


"Jangan marahi Rumania, kak. Dia tidak tahu apapun." ujar Raina membela art-nya yang memang tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi padanya. Karena dia juga tidak menyangka jika yang datang adalah Yudha.


Kemudian, dia menyuruh Rumania untuk kembali ke kamarnya, sebab jika di lihat dari kondisinya, Darius tidak akan membiarkan Rumania begitu saja.


Suara bel pintu berbunyi, Darius segera beranjak dari sofa untuk membukanya.


"Kau !" serunya ketika melihat kedatangan Dealova.


"Kau dari mana saja, hah ? kenapa pergi meninggalkan Raina sendiri ?!" bentaknya sambil menunjuk wajah Dealova.


Matanya melotot tajam layaknya mata elang yang sedang mengawasi mangsanya.


Dealova mengerutkan dahinya. Bukankah ada Rumania ? kenapa pemuda itu bilang meninggalkan Raina sendiri ? begitu pikirnya.


Tangannya yang sedang memegang jantung belanjaan, pun mengabaikan ucapan Darius. Dealova memilih untuk menerobos tubuh pemuda itu dan bergegas masuk.


"Sebaiknya kau pergi karena tidak ada gunanya kau di sini." sentak Darius yang membuat langkah Dealova seketika terhenti. Dia menjatuhkan hanging belanjanya dan berbalik badan menghampiri Darius.


Plak !!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Darius.


"Kau pikir kau siapa bisa mengusir ku, hah ?!!" teriaknya penuh emosi.


"Aku keluar karena Raina minta di belikan susu ! lagipula ada bibi yang menjaganya !!" lanjutnya lagi. Terlihat jelas jika gadis itu benar-benar emosi. Urat lehernya menegang, kedua matanya menajam serta nafasnya memburu.


Dia kesal mendengar ucapan Darius yang menuduhnya tidak bisa menjaga Raina dengan baik. Padahal dia sudah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Menjaga, melayani dan membantu Raina dalam segala hal yang tidak bisa di lakukan gadis itu.


Tapi, apa ? dia malah di bentak dan di marahi oleh orang yang sudah di anggapnya sebagai kakak. Sungguh, dia seperti tidak mengenali sosok Darius lagi.


"Asal kau tau saja tadi Raina ...


"Kakak STOP !!" teriak Raina kesal.


"Kenapa kau memarahi semua orang ?!!" tangisanya semakin menjadi-jadi tatkala dia mendengar Darius membentak Dealova.


"Aku yang bodoh disini. Jadi berhenti menyalahkan orang lain !" sentaknya kemudian. Dia beranjak beranjak dari sofa dan perlahan melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Dia sempat menabrak meja hingga membuat Darius dan Dealova berlomba untuk membantu.


"De, bawa aku ke kamar." pinta Raina secara halus menolak Darius.


Dealova menatap Darius dengan tatapan yang sulit di artikan. Lalu dia menuntun Raina masuk ke dalam kamar.


"Maafkan aku ya, De. Karena aku, kau di bentak kak Iyus." ucap Raina merasa bersalah.


"Memangnya, apa yang terjadi padamu saat aku pergi ?" tanya Dealova penasaran.


Raina menyeka air matanya, dan menceritakan apa yang terjadi. Mulai dari Rumania yang di muncul ketika dia panggil, sampai Darius yang menolongnya dari Yudha.


Hal itu, sontak saja membuat Dealova tercengang mendengarnya. Dia tidak tau apakah ini termasuk kesalahannya atau Rumania. Tapi yang pasti, insiden yang menimpa Raina adalah karena kepergiannya.


"Maafkan aku ya, harusnya aku tidak pergi tadi. Kau pasti ketakutan." tutur Dealova yang juga merasa bersalah.


Raina menggelengkan kepalanya. Dia lalu memeluk Dealova dan menangis di pelukan temannya itu. Dia benar-benar takut Yudha akan datang lagi mencarinya. Karena berdasarkan watak, Yudha adalah tipe orang yang tidak mudah menyerah. Pemuda itu akan berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak peduli walau harus melalui cara yang kotor sekalipun.


"Tenanglah, aku akan menyewa security untuk berjaga di depan pintu, ya." ucap Dealova mengusap punggung Raina dengan lembut. Berharap bisa membuat gadis itu tenang dan berhenti menangis.


"Oh iya, apa kau masih ingin minum susu ? aku sudah membelinya untuk mu. Kau tau kan, aku sampai di marahi kak Iyus karena membeli itu." ucapnya.


Raina melepas pelukan,


"Maafkan aku ya, ayo kita keluar. Aku akan memarahinya balik. Beraninya dia membentak mu." dia beranjak mengajak Dealova keluar.


Di luar, terlihat Darius masih duduk di sofa dengan tertunduk lesu. Memijat pelipisnya sambil menyangga tubuhnya dengan satu tangan yang bertumpu di atas lututnya.


"Bagaimana caranya aku bisa melupakan dia ?" gumamnya merasa frustasi menghadapi gadis yang faktanya adalah kekasih dari adiknya sendiri.


"Melupakan siapa ?" tanya Raina yang mendengar gumaman Darius.


Dia dan Dealova berjalan menghampiri pemuda yang nampak lesu tak berdaya. Wajahmu muram dan bersemangat.


Kau, Raina. Kau lah yang ingin di lupakan kak Iyus. Bagaimana mungkin jadi tidak menyadari itu ? atau jangan-jangan kau yang pura-pura tidak tau ? Haah rasanya aku ingin seperti dirimu, Rain. Di sukai banyak lelaki tampan dan gagah.


ucap Dealova dalam hati sambil menatap nanar gadis yang sedang di tuntunnya.


Darius mendongakkan wajahnya,


"Oh, aku hanya sedang berfikir, bagaimana caranya melupakan gadis yang ternyata sudah punya pacar." jawabnya seraya tersenyum getir. Meskipun dia tau Raina tidak bisa melihat senyuman yang dia tunjukkan untuknya.


"Oh, aku salah beri tau caranya. Tapi sekarang kakak harus minta maaf dulu dengan Dea karena tadi kakak sudah membentaknya." ujar Raina lalu duduk di sebelah Darius.


"Maafkan aku ya, De. Tadi aku cuma panik saja karena Raina hampir di cilik." ucap Darius meminta maaf dengan tulus kepada Dealova yang duduk di samping Raina. Dia sadar sikapnya tadi sudah berlebihan dan sangat keterlaluan. Tapi, dia melakukan itu hanya karena dia khawatir dan takut atas apa yang menimpa Raina tadi.


Dealova menyunggingkan senyumnya, sambil mengangguk cepat. Walau hatinya masih terasa nyeri mengingat Darius membentaknya, tetapi dia sudah memaafkannya sebab itu memang hanya sebuah kesalahpahaman saja.


Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗