
"Sayang, akhirnya kamu ada bersama ku sekarang. Memang sudah seharusnya kamu berada disini, di sisiku." Yudha mengusap lembut pipi Raina yang masih tak sadarkan diri.
Untuk berjaga-jaga, Yudha mengunci pintu yang mengarah ke balkon. Takut takut Raina akan kabur dan melompat keluar dari lantai 2. Selain takut kehilangan, Yudha juga khawatir Raina akan terluka. Setelah mengunci pintu, tak lupa Yudha memasukkan kunci tersebut ke dalam saku celananya.
"Aku akan menyiapkan makan siang untuk mu." Yudha mendaratkan kecupan yang sangat dalam di pipi Raina, dan sedikit menjilatnya.
"Ah iya aku harus mengikat mu dulu."
Entah mendapat bisikan dari mana, saat melihat tali sepatu, Yudha langsung berniat untuk mengikat kedua tangan Raina di ujung headboard. "Maafkan aku sayang. Aku melakukan ini supaya nanti kamu tidak memberontak."
Sekali lagi Yudha mencium pipi Raina, bahkan kini ia menjilat bibir Raina. "Manis sekali." Dia tersenyum penuh kemenangan. Kemudian ia keluar kamar guna menyiapkan makan siang untuk dirinya dan juga Raina.
...***...
"Aku tidak mau tahu, kalian harus secepatnya menyelesaikan masalah tersebut, atau aku akan menurunkan jabatan kalian semua." seru Divta dengan wajah suram.
Suara ponsel yang terus menerus berdering membuat Divta terpaksa sejenak menunda rapatnya. Dia meraih ponsel tersebut dari atas meja dan dilihatnya Daisya yang menghubunginya.
Divta berdecak kasar.
Awas kau Dayday, kalau sampai kau bicara tidak penting, aku akan menjewer telinga mu.
Pemuda itu pun menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih tersebut ke daun telinganya.
"Kakak sedang rapat, Daisya." hardik Divta merasa geram dengan Daisya yang menurutnya sangat mengganggu pekerjaannya.
"Hiks.. kak Rain... hil lang..." suara Daisya terdengar begitu sendat di seberang sana, sebab ia mengatakannya sambil menangis terisak.
"Apa ?!! Bagaimana bisa kakak ipar mu bisa hilang !!" bentak Divta pada Daisya di telepon. Raut wajah yang memang sebelumnya suram kini nampak sangat menyeramkan dan membuat para karyawan yang berada di dalam merasa takut.
Hiks hiks hiks
"Aku tidak tau, kak. Tadi... kak Rain izin ke toilet, tapi sudah setengah jam tidak kembali juga."
"Aaaaargh !!!" Divta berteriak sambil melempar ponselnya ke sembarang arah. Wajahnya terlihat merah padam, matanya melotot seperti orang kesurupan. Tangannya pun mengepal lalu menyentak meja rapat hingga menimbulkan suara menggema di ruangan tersebut, dan tanpa basa basi, Divta keluar dari sana.
"Raina siapa ?" tanya salah satu karyawan bernama Rio kepada rekan kerjanya, Andra.
"Setahu ku, Raina adalah nama istri pak Divta. Ku dengar, dulu Raina pernah bekerja di sini." jawab Andra.
"Apa ? maksud anda Raina Amanda staff editor ?" seru Virgie yang terkejut mendengar nama gadis yang di nikahi Divta.
(Lihat eps. 1 untuk mengingat siapa Virgie)
"Sepertinya iya. Karena nama Raina di kantor ini hanya satu. Yang ku ingat dia adalah anak dari alm pak Rico." sahut Andra lagi.
Raina ? jadi ini alasan mu mengundurkan diri ? karena kau menikah dengan pak Divta, pemilik perusahaan ini ? Astaga, bodohnya aku yang selama ini masih mengharapkan mu, Rain.
Virgie memijat pelipisnya, merasa gundah dengan kenyataan yang baru saja ia terima.
...***...
"Sayang, kau kemana ?" gumam Divta frustasi. Ia yang masih berdiri di depan pintu ruangan, terlihat mondar mandir sambil berkacak pinggang, menandakan bahwa sedang merasa kebingungan yang berlebih. Rasa khawatir yang melanda membuatnya tak bisa berfikir jernih dan cenderung terkesan seperti orang bodoh.
"Sebaiknya aku hubungi dia dulu."
"Lah dimana ponsel ku ?" Divta meraba raba saku jas dan celananya mencari benda yang ia butuhkan, tanpa sadar jika beberapa detik lalu ia sudah membanting dan menyebabkan benda tersebut hancur berkeping-keping. "Jangan jangan tertinggal di dalam." dan dengan bodohnya Divta kembali ke ruang rapat untuk mencari ponselnya.
"Dimana ponsel ku ?" tanyanya pada karyawan yang terlihat sedang akan meninggalkan ruangan.
"Ini pak ?" Rio mengulurkan tangan kanannya yang terdapat serpihan serpihan bekas ponsel Divta.
"Astaga..... !!" Divta yang baru menyadari pun langsung menjambak rambutnya, merutuki kebodohannya yang teramat sangat.
Jika ponselnya hancur begitu, bagaimana aku bisa menghubungi Raina.
"Apa salah dan dosaku ?" Rio menatap rekan kerjanya bergantian dengan raut wajah yang membagongkan, sementara Andra dan yang lainnya hanya bisa mengangkat bahu.
"Sudah maklumi saja. Istrinya kan hilang dan belum diketahui dimana keberadaannya. Jadi wajar kalau dia marah-marah." sahut Andra.
...***...
Divta mengendarai mobilnya menuju ke kantor polisi. Dia ingin melaporkan tentang hilangnya sang istri. Karena biar bagaimanapun, Raina harus segera di temukan. "Sayang, kamu dimana ?" gumam Divta yang tanpa sadar meneteskan air mata. Dia takut Raina dalam bahaya. Dia takut kehilangan wanita yang sangat ia cinta dan baru satu minggu ia nikahi itu.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Divta bergumam menyebut nama Raina agar kembali, matanya juga awasi pinggiran jalan dengan harapan bisa menemukan Raina. Namun sayang, bahkan saat Divta hampir tiba di tempat tujuan, pemuda itu tak juga menemukan Raina.
Sesampainya di kantor polisi, Divta segera memarkirkan mobilnya tanpa pandang tempat. Bahkan dia tak memperdulikan teguran dari juru parkir yang memintanya untuk memarkir mobil pada tempatnya. "Pak tolong parkirkan mobil anda di sebelah sana." juru parkir itu menahan Divta sambil menunjuk ke area parkir.
"Aku sedang buru-buru asal kau tau ! istri ku hilang ! aku harus segera melapor supaya istri ku cepat di temukan !!" seru Divta emosi.
"Iya pak tapi -
"Diam !!" Divta yang sudah emosi pun tanpa sadar melayangkan tangan hendak menampar juru parkir tersebut, namun di urungkan karena mengingat perkataan Raina yang melarangnya melakukan kekerasan kecuali dalam keadaan bahaya.
"Aargh !!" Divta menuju ke udara dan bergegas lari menuju ruangan dimana orang-orang biasa melaporkan kasus. Dan syukurnya, ia bertemu dengan Randi yang tak lain adalah ayah dari Kairo, sahabatnya.
Divta berhambur memeluk Randi begitu erat. Ia merasa sangat ketakutan hingga tak mampu menyembunyikan cairan bening yang kini terus mengalir melalui kedua matanya. Bahkan tangisnya pecah begitu Randi membalas pelukannya.
"Nak, tenang. Apa yang terjadi?" Randi menepuk pelan punggung Divta berusaha menenangkan pemuda yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Dengan nafas yang mulai terasa sesak, Divta berusaha menjelaskan tentang hilangnya Raina di mall. Meski ia tak tau bagaimana kronologinya, tapi dari semua yang Divta katakan, Randi sudah bisa menyimpulkan bahwa ada kemungkinan besar Raina diculik.
"Tenanglah nak, kita pasti akan segera menemukan istrimu. Sebaiknya kita pergi ke sana sekarang. Karena di sana pasti ada petunjuk tentang siapa yang menculik istrimu."
Divta mengangguk cepat, dan mereka pun bergegas pergi ke tempat kejadian dimana Raina hilang.
...***...
Divta dan Randi kini tiba di mall. Orang pertama yang mereka temui adalah manager atau penanggung jawab pusat perbelanjaan tersebut, meminta izin untuk mengecek CCTV guna mencari petunjuk. Setelah mendapatkan izin, mereka pun bergegas menuju ke ruang pemantauan.
"Ada yang bisa saya bantu, pak ?" tanya seorang IT yang berjaga.
"Anak saya menghilang di mall ini, tepatnya di area toilet lantai 3. Ada kemungkinan bahwa dia di culik. Jadi tolong buka rekaman CCTV sekitar pukul 12.00" pinta Randi dengan raut wajahnya yang nampak khawatir.
"Baik pak."
Video pun di mulai di putar. Ketiga orang itu menatap layar tersebut dengan seksama. Dimulai dari Raina yang masuk ke dalam toilet dan ada seorang pria yang membuntutinya di belakang.
"Pasti dia yang menculik Raina !" seru Divta penuh amarah.
"Tenang, nak."
"Kurang ajar ! Siapa yang telah berani menculik istriku !" teriak Divta histeris saat melihat Raina di bekap hingga tak sadarkan diri.
"Sabar, Divta." Randi mencoba menenangkan Divta yang mulai tak terkendali. "Coba telusuri kemana pria itu membawa Raina." perintahnya.
Perasaan Divta saat ini benar-benar sangat ketakutan. Kekhawatiran akan adanya kemungkinan Raina di culik dan di lecehkan sungguh membuat hatinya berkecamuk. Jantungnya pun berpacu begitu cepat dan sangat tak beraturan. Ingin rasanya dia meluluhlantakkan seluruh barang-barang yang ada di sana untuk meluapkan emosinya.
Tidak, jangan. Itu tidak boleh terjadi. Aku mohon ya Allah, tolong lindungi istriku.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka menemukan titik terang. Mereka sudah mendapatkan nomor plat polisi dari mobil seseorang yang menculik Raina. Dengan begitu, tugas mereka selanjutnya adalah melacak siapa pemilik dari mobil tersebut.
.
.
.
(ノ`Д´)ノ彡┻━┻