Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Berenang



Divta keluar dari toilet dan kembali ke tempat mejanya untuk melanjutkan pekerjaan. Sesaat kemudian, Raina datang dengan membawakan secangkir kopi untuk Divta.


"Silahkan tuan." ucapnya meletakkan cangkir tersebut ke atas meja.


Divta menganggukkan kepalanya sekali,


"Terimakasih. Nanti kita ada meeting, kan ?" tanyanya tanpa menoleh.


"Iya tuan, di hotel luxury jam 1 dengan pak Andre l." jawab Raina.


"Good, setelah meeting temani aku berenang. Aku sudah mem-booking roof top disana untuk kita berdua. Asal kau tau saja ya, berenang sambil melihat pemandangan dari lantai teratas itu benar-benar waaaah. Apalagi kalau ada wanita cantik yang melayaninya. Aaah jadi pingin." tutur Divta senyum-senyum sendiri.


"Baik tuan." sahut Raina acuh lalu kembali ke meja kerjanya.


Beberapa jam kemudian


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah waktunya Divta dan Raina untuk pergi menemui client yang sudah membuat janji temu guna membicarakan hal penting perihal penayangan film Bollywood.


"Cepat Rai, kau ini lama sekali ! Seperti perempuan saja." celetuk Divta merasa jengah menunggu Raina yang masih sibuk membereskan meja kerjanya.


"Iya tuan, sebentar lagi." sahut Raina.


Divta mendengus kasar, lalu dia menyandarkan tubuhnya di dinding serta kedua tangannya menyilang di atas perut.


"Rempong sekali dia." gumamnya.


Setelah selesai membereskan meja kerja, Raina dan Divta pun pergi meninggalkan area kantor menuju hotel luxury dimana meeting di adakan. Selama di perjalanan, Raina lebih memilih diam dan mendengarkan suara Divta yang asyik bersenandung menyanyikan lagu cinta dengan santainya tanpa mempedulikan orang di sekitar.


"Lumayan sih." gumam Raina dalam hati sambil menikmati senandung lagu yang Divta nyanyikan tersebut. Baginya, suara Divta terdengar begitu merdu hingga tanpa sadar matanya mulai mengerjap karena mengantuk dan beberapa menit kemudian dia terlelap.


Ninabobok.jpg


Divta melirik Raina melalui ekor matanya, sejenak dia memperhatikan gadis itu saat tertidur. Pikirannya pun mulai berkecamuk mengingat benda yang ada di toilet di ruangannya tadi. Dia ingin memastikan tentang kecurigaannya, tapi bagaimana ? tidak mungkinkan dia harus bertanya ? Akhirnya dia memilih untuk diam, mungkin saja itu bukan milik Raina.


Sesampainya di area hotel, Divta segera memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia. Setelah dia mematikan mesin mobil, Divtq memiringkan tubuhnya untuk memperhatikan Raina yang terlihat masih begitu nyenyak dalam tidurnya. Kemudian, dia mengguncang tubuh Raina agar segera bangun.


"Rai..." ucapnya sedikit menaikan volume suaranya hingga membuat Raina terhenyak dan terbangun.


"Iya tuan, kita sudah sampai ? ah, maaf saya ketiduran." pekiknya terkejut. Dia merasa bersalah karena dengan lancangnya dia terlelap dan membiarkan bosnya menyetir tanpa menemaninya mengobrol.


"Iya, ayo turun." jawab Divta sambil membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil dan di ikuti oleh Raina. Setelah itu, mereka melangkahkan kaki ke arah lift untuk menuju ke lantai teratas.


Dengan posisi terdepan Divta berjalan menaiki tangga, membuat Raina mengerutkan dahi bingung, namun dia tetap diam karena tidak berani bertanya meski sebenarnya dia sangat ingin bertanya.


"Loh,, tuan." akhirnya Raina menyuarakan kebingungannya. Pasalnya mereka menuju ke roof top dimana ada kolam renang mewah di sana. Tapi bukankah mereka akan bertemu dengan client ? lalu dimana client nya ? atau tidak jadikah ?


"Aku sudah memundurkan jadwal. Hari ini aku sedang malas bekerja. Aku ingin santai santai saja." ucap Divta menjawab rasa bingung dan penasaran yang Raina rasakan.


Tanpa aba-aba lagi, Divta segera menanggalkan pakaiannya. Sontak saja Raina mendelik kaget kemudian memutar tubuhnya memunggungi Divta.


"Dasar tidak tau malu, bisa-bisanya dia membuka baju di depan ku. Sial !" umpat Raina menggerutu kesal dengan tingkah Divta yang menurutnya seperti orang idiot.


"Rai, gantungkan pakaian ku di sana." Divta melempar pakaiannya ke tubuh Raina, setelah itu dia menceburkan diri ke kolam renang yang kedalamannya mencapai hampir dua meter.


"Sialan sialan sialan." umpat Raina lagi. Rasanya dia begitu kesal dengan sikap Divta hari ini.


"Rai, ambilkan aku minuman." seru Divta memerintah Raina yang bahkan belum sempat mendaratkan bokongnya di kursi malas. Ekspresi kesal terlihat begitu jelas di wajah Raina, namun dia tidak bisa membantah sebab itu adalah pekerjaannya.


Raina meraih gelas berisi jus mangga yang ada di atas meja dekat kursi malas tempat dia hendak duduk tadi, kemudian memberikannya kepada Divta.


"Silahkan tuan." ucapnya sambil tersenyum palsu.


"Rai, kau ini di ajak berenang bukannya masuk ke dalam air malah duduk disana saja." celetuk Divta setelah meneguk jus yang sebelumnya sudah di sediakan oleh pihak hotel.


"Maaf tuan saya ... aaah." ucapan Raina terputus, dan dia berteriak saat Divta menarik tangannya hingga dia terjatuh ke dalam kolam.


"Tolong...!!" teriak Raina begitu keras. Dia bersusah payah untuk muncul ke permukaan, namun usahanya sia-sia sebab dia tidak bisa berenang.


Ya Tuhan, apakah aku akan mati disini ?


Tolong jangan dulu, aku masih harus menjaga adik ku.


Sedangkan Divta, dia tidak mendengar teriakan Raina karena dia tertawa begitu keras, dan dia juga belum menyadari jika Raina tenggelam karena tidak bisa berenang.


"Dasar aneh kau Raihan, hahaha."


Eh, kemana Raihan ? kenapa belum muncul ? dia bisa berenang, kan ?


Divta mulai panik. Dia lalu masuk ke dalam air untuk mencari Raina. Dan saat dia mendapatkan tubuh asistennya itu terbaring di dasar kolam, dia pun mendelik takut. Dengan cepat dia mengangkat tubuh Raina dan membawanya ke permukaan.


"Rai, bangun Rai !!" seru Divta seraya menepuk kedua pipi Raina, namun tidak ada tanda-tanda jika dia akan sadar. Hal itu pun membuat Divta semakin di landa kepanikan.


Divta segera melakukan pertolongan pertama yakni dengan CPR. Dia menekan dada Raina dengan kedua telapak tangannya yang saling tindih.


"Eh !!" pekik Divta terkejut, dia pun menarik tangannya kembali.


"A-apa ini ? kenapa empuk sekali ?" ucapnya seraya memperhatikan dada Raina. Kemudian, meski ragu, perlahan tangannya kembali menyentuh dada Raina.


"Astaga !!" lagi lagi dia terkejut.


"Maafkan aku Rai, aku harus memastikannya." imbuh Divta. Tangannya yang gemetar mulai menekan dada kanan dan kiri Raina. Sungguh dia tidak punya cara lain lagi untuk membuktikan kebenarannya.


"Bodoh !! jelas-jelas rambutnya panjang dan ..." Divta menoleh ke arah kolam, di sana menampakkan adanya sebuah wig yang mengapung di permukaan kolam.


"Wig nya terlepas." lalu dia menarik kumis palsu yang masih terpasang dengan rapi.


"Ya Tuhan !!" seketika kedua mata Divta membulat lebar. Dia terkejut bukan main melihat wajah asli Raina yang selama ini di kenalnya sebagai Raihan.


Tanpa pikir panjang, Divta menekan dada Raina. Tidak peduli jika dia sebut mesum atau cabul, yang terkejut sekarang adalah asistennya itu bisa selamat.


"Sial." umpatnya kasar saat CPR tidak memberikan reaksi apapun pada Raina. Kemudian dia memutuskan untuk memberikan nafas buatan.


Sekali, dua kali tiga kali, barulah Raina menunjukkan tanda-tanda bahwa dia akan sadar. Gadis itu terbatuk-batuk dan mulutnya mengeluarkan begitu banyak air.


"Amanda, kau tidak apa-apa kan ?" tanya Divta merasa lega.


Raina menganggukkan kepala dengan lemas, beberapa detik kemudian dia pun tak sadarkan diri.


**


Di waktu yang sama, Raihan (adik Raina) sedang mengendarai sepeda motor untuk menuju ke kampusnya. Hari ini dia terlihat begitu tergesa-gesa ingin memburu waktu karena jam kuliahnya tiba-tiba saja di majukan. Saat ini, dia nampak begitu kesal menatap traffic light merah yang terasa sangat lama berganti warna hijau.


"Shit, itu lampu kenapa lama sekali sih." desis Raihan menggenggam erat stir motornya.


Dua menit kemudian traffic merah berganti hijau. Dengan kecepatan lebih pemuda itu melajukan motornya agar cepat sampai kampus. Namun naas, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang menyerempet dirinya sehingga dia oleng dan akhirnya terjatuh.


"Aaah." pekiknya merasakan sakit di bagian siku dan lengannya yang nampak terluka dan mengeluarkan darah.


Pejalan kaki yang melihat Raihan terjatuh pun berlari ingin membantunya, bahkan tak sedikit juga pengendara motor yang sengaja berhenti untuk menghalang mobil yang hendak melintas.


Sementara pengemudi mobil yang tidak baru saja menyerempet motor Raihan pun bergegas menepikan kendaraannya dan turun untuk melihat keadaan Raihan.


"Abang, maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja." ucapnya ngerasa bersalah. Bahkan dia menangis karena takut akan di laporkan ke pihak yang berwajib.


"Pak, tolong bawa dia ke mobil saya. Saya akan membawanya ke rumah sakit." imbuhnya.


"Iya neng." sahut para pejalan kaki dan langsung bergerak menggiring tubuh Raihan yang nampak terluka.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗