Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Anggur merah yang memabukkan



Ruangan yang sebelumnya nampak tenang kini berubah mencekam karena saat ini Divta, Raina dan Daisya sedang menonton film horor. Ya, sebelumnya Divta memang menonton film genre action, tapi kedatangan Daisya dan Raina lah yang membuat film itu terpaksa di ganti menjadi genre horor. Lebih tepatnya, karena Daisya yang memaksa.


"Rai, aku takut." Daisya merangkul lengan Raina. Posisi Raina yang berada di tengah pun menjadi ladang kesempatan bagi Daisya untuk bermanja pada lelaki (jadi-jadian) pujaannya tersebut.


"Iya tapi tolong jangan seperti ini." Raina berusaha menepis tangan Daisya dari lengannya. Dia merasa benar-benar risih dengan kelakuan adik dari Divta si Baginda raja. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di sebelah Divta sehingga pemuda itulah yang kini berada di posisi tengah.


"Sudah tau takut, kenapa masih di tonton juga." desis Divta menggerutu kesal pada Daisya yang kini bergelayut di lengannya yang kekar.


"Ya sudah kak, ganti saja drama Korea yang romantis." sahut Daisya yang saat ini sedang menyembunyikan wajahnya di lengan sang kakak. Dia sebenarnya tidak suka menonton film horor. Itu hanya alasannya saja agar dia bisa mendapatkan perhatian dari Raina.


Divta berdecak kasar, kemudian dia meraih remote yang ada di atas meja dan segera mengganti channel TV yang menayangkan khusus drama Korea. Karena kebetulan, dia juga penasaran dengan film tersebut.


"Sebentar-sebentar, aku lupa kalau aku harus mengerjakan tugas susulan yang diberikan dosen ku. Aku pulang dulu yah ke apartemen kak Dayus, sampai jumpa kak." pekik Daisya tergesa-gesa, dia beranjak dari sofa setelah sebelumnya dia mencium pipi Divta.


"Rai, aku akan kembali besok." imbuhnya sambil tersenyum manis. Kemudian dia menyambar kantong belanja miliknya dan bergegas pergi dari sana.


Divta menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia merasa amat lega karena tidak ada Daisya si perusuh lagi yang menggangu me time nya yang berharga.


"Rai, ambillah sebotol anggur yang ada di rak dapur. Jangan lupa bawa gelas untuk kita berdua." ucapnya pada Raina.


"Baik tuan." sahut Raina menuruti perintah Divta. Dia menuju ke dapur untuk mengambilkan sebotol anggur dan juga gelas.


"Ini tuan." Raina meletakkan apa yang dia bawa ke atas meja.


Divta meraih botol tersebut dan menuangkannya ke dalam gelas untuk dirinya dan juga Raina.


"Minumlah, ini sangat pas jika di nikmati saat malam. Apalagi sambil nonton film action seperti ini." tuturnya seraya memberikan segelas anggur pada Raina kemudian mengganti channel TV ke film action favoritnya.


Raina yang tidak tau bahwa itu adalah minuman beralkohol pun mengiyakan nya saja. Setelah mengucapkan terima kasih dia pun segera meneguk minuman memabukkan itu.


"Eh, kenapa enak sekali." gumamnya pelan, namun masih bisa terdengar oleh telinga Divta sehingga pemuda itu terkekeh di buatnya.


"Apa ini pertama kalinya kau minum anggur ?" tanya Divta.


Raina mengangguk mantap,


"Iya tuan, ini adalah pertama kali aku merasakan nikmatnya minum anggur. Terima kasih." jawabnya sambil meneguk kembali minuman itu hingga tandas.


"Minumlah sepuas mu, bukankah di rak masih ada banyak ?" Divta menuangkan lagi anggur itu ke dalam gelasnya dan juga Raina.


"Iya tuan, masih ada sekitar 5 atau 6 botol lagi." sahut Raina yang mulai mabuk.


Divta tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat Raina yang baru minum satu gelas saja sudah mabuk. Dia yakin jika asistennya itu tidak akan sanggup untuk minum lebih banyak lagi.


"Sayang, kenapa kau terlihat begitu cantik." gumam Divta melihat Raina yang sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa seraya menengadahkan kepalanya.


Divta yang terlihat sangat mabuk pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Raina. Di matanya, asistennya itu terlihat seperti seorang perempuan cantik nan menggoda, yakni Amanda. Dia lalu menarik tengkuk Raina dan mendekatkan wajahnya.


"Kenapa Anda memeluk saya tuan." ucap Raina meracau. Kondisi mereka yang mabuk membuat keduanya tidak menyadari jika suara Raina bukan lagi suara laki-laki. Melainkan, gadis itu mengeluarkan suara aslinya.


"Hei, kenapa kau memanggil ku tuan ? kau seperti asisten ku saja." Divta mendorong tubuh Raina hingga gadis itu kini terbaring di sofa. Dan dengan segera Divta menindihnya namun tak sepenuhnya.


"Ayolah Amanda, kau putuskan saja Raihan. Aku lebih tampan darinya. Bahkan dia hanya seorang asisten, dia tidak lebih kaya dari ku." imbuh Divta, dia lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Raina, hingga terjadilah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.


Keesokan harinya


Raina mengerjapkan kedua matanya saat tubuhnya terasa keram dan sulit di gerakkan. Dalam beberapa detik kedua mata indah itu terbuka dengan sempurna dan mulai mengenali tempat dimana saat ini dia berada.


"Ini kan kamar tuan Divta." gumamnya dalam hati.


"Astaga." pekiknya terkejut saat melihat lengan dan kaki Divta tengah berada di atas tubuhnya. Seperti biasa, pemuda itu hanya menggunakan celana kolor saja karena semalam ...


Raina sedikit mengembuskan nafas lega saat melihat semua bajunya masih lengkap. Sejenak dia memperhatikan wajah Divta dari jarak yang begitu dekat. Bulu mata pemuda itu terlihat tebal begitu pun dengan alisnya, hidung dan bibirnya nampak begitu menggoda jika terus di amati.


"Aku baru menyadari kalau selama ini dia memakai anting." gumamnya lagi ketika melihat sebuah benda bulat kecil berwarna hitam di ujung telinga Divta yang menambah kesan tampan bosnya itu.


Dia lalu menyingkirkan tangan dan kaki Divta dari tubuhnya dengan perlahan agar tidak membangunkan si empunya kamar. Sebab jika Divta terbangun dan menanyakan tentang keberadaannya, dia tidak punya alasan yang tepat untuk menjelaskan. Dia pun tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia terlelap bersama di kamar utama itu.


"Ya Tuhan, maafkan aku." dia merutuki kebodohannya. Dia sungguh tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam. Yang dia tau, dia hanya meminum minuman yang rasanya begitu enak.


Dia pun melangkah keluar dari kamar Divta dan berpindah ke kamarnya untuk melanjutkan tidur sebab waktu masih menunjukan pukul 3 pagi.


"Eh.. sebentar sebentar. Kenapa leherku seperti ini." pekiknya terkejut saat dia menanggalkan kaos karena hendak melepas korsetnya, dia melihat ada begitu banyak becak merah di bagian lehernya, bahkan bawah lehernya juga.


"Astaga, ke-kenapa bisa seperti ini. A-apakah disini ada nyamuk raksasa ? tapi kenapa hanya leher dan dada ku saja yang di digit ?"


dengan polosnya dia berpikir jika dia di gigit oleh nyamuk besar, yang faktanya nyamuk itu adalah Divta, bosnya.


Beberapa jam lalu


Setelah Divta puas menikmati bibir Raina, dia membawa gadis itu ke kamarnya agar lebih leluasa bergerak. Sesampainya di kamar, dia pun menanggalkan baju serta celana dan hanya menyisakan celana kolornya saja karena dia ingin melakukan lebih dari sekedar ciuman bibir.


"Amanda sayang, kenapa ini mu sulit sekali di buka." ucapnya berusaha membuka korset yang Raina kenakan. Namun karena korset Raina berlapis sehingga menyebabkan Divta kesulitan, akhirnya dia hanya mencium yang sekiranya bisa dia jangkau saja yakni leher dan bagian dada atas saja. Beberapa menit kemudian, dia pun tertidur karena tidak sanggup menahan kantuk.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗