Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Minum anggur



Usai membahas tentang Grachella, Daisya pun beranjak dari kursi dan kembali memapah Raihan untuk mengantarkan pemuda itu ke kelas. Karena jam sudah menunjukkan pukul 07:55 yang artinya 5 menit lagi waktu kuliah akan segera di mulai. Ketika menaiki tangga, semua orang yang hendak memakai jalan yang sama, pun terpaksa mempersilahkan kedua orang itu berjalan lebih dulu. Popularitas yang Raihan miliki memang tidak bisa di anggap remeh. Hampir semua mahasiswa dari berbagai jurusan mengenalnya. Selain cerdas, Raihan juga terkenal tampan dan ramah tamah serta pandai bergaul. Pemuda itu juga aktif di berbagai organisasi kampus. Jadi tidak heran jika ada banyak orang yang sungkan padanya.


“Sudah lah Sya, aku bisa jalan sendiri.” bisik Raihan yang merasa canggung karena di gosipi oleh teman-temannya. Bukan karena malu. Tetapi dia takut Daisya merasa tidak nyaman.


“Tidak apa-apa. Aku akan menemani kamu sampai kamu pulang kuliah. Lagipula, dosen tidak akan mengenali ku jika aku bukan mahasiswa dari kampus ini.” jawab Daisya yang tidak mau di bantah lagi. Ya, begitulah Daisya. Dia selalu bisa membuat Raihan diam seribu bahasa karena dia memang pandai berbicara.


Raihan tersenyum kikuk untuk membalas sapaan para teman-teman yang berbeda kelas dengannya. Dia tidak mampu berkata apa-apa saat mereka menyangka dirinya membawa kekasih. Yang dia khawatirkan hanya kenyamanan Daisya saja.


“Kenapa ? apa kamu malu karena membawa ku kesini ? atau karena kamu takut pacar mu akan cemburu ?” tanya Daisya tiba-tiba dan membuatnya sedikit terhenyak.


Bagaimana mungkin dia malu karena Daisya ? justru sedari tadi dia hanya memikirkan gadis itu. Dia juga khawatir Daisya akan malu karena jalan bersamanya. Lalu kenapa malah gadis itu yang merendah ?


“Harusnya aku yang berkata seperti itu. Aku takut kamu akan malu berada di dekat lelaki miskin seperti ku.” Jawabnya.


Daisya menghentikan langkahnya sehingga mau tak mau Raihan juga berhenti. Gadis itu sejenak berdiam diri kemudian mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Raihan yang berada di bahunya.


“Jangan pernah membeda-bedakan status. Itulah pesan terakhir ibuku.” jawabnya.


“Eh, m-maafkan aku. Aku tidak bermaksud ...”


“Tidak apa-apa. Kamu juga berhak tau. Ayo cepat. Atau kita akan terlambat nanti.” tukas Daisya menyela ucapan Raihan.


**


Setelah kesalahpahaman perihal susu tadi, kini Raina nampak canggung di hadapan Divta. Sedari tadi dia hanya diam dan tak mengeluarkan suara sedikitpun. Ketika ada perlu dia bahkan mengatakannya lewat pesan singkat dari ponselnya. Dia benar-benar kehilangan muka untuk sekedar membalas sapaan Divta sebab senyuman.


Pekerjaan telah Raina selesaikan sejak 20 menit yang lalu. Tapi dia masih saja duduk di kursi kerjanya sambil mengetik sesuatu yang tidak di kelas di laptopnya.


Sementara Divta, dia sudah terlebih dulu menyelesaikan pekerjaannya di banding Raina. Terlihat dia sedang duduk seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya. Kedua sikunya dia letakkan di atas lengan kursi. Sebelah tangannya memegang sebuah pena yang dia mainkan. Serta tatapannya terus mengarah pada Raina sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia tau kalau Raina hanya berpura-pura masih mengerjakan tugasnya. Hanya saja, dia memilih untuk diam dan menunggu. Kira-kira mau sampai kapan kekasihnya betah berlama-lama duduk di sana.


"Lucu sekali dia." gumamnya dalam hati. Dia beranjak dari kursi sebab terlintas sebuah ide konyol dalam otaknya. Dia berjalan menuju ke kamar tempat dirinya bisa beristirahat. Di dalam kamar tersebut, dia menyimpan beberapa botol anggur merah yang di belinya ketika dia jalan-jalan di luar negeri beberapa bulan lalu. Anggur tersebut di simpan di dalam lemari pendingin kecil yang terletak di sudut kamarnya. Dia pun mengambil satu botol.


"Hmm enaknya siang-siang begini minum anggur." ujarnya dengan sengaja mengeraskan suaranya agar Raina tertarik. Dia tau betul gadis polosnya itu menyukai minuman anggur. Bukan karena Raina suka mabuk-mabukan. Bahkan Raina tidak tau dan tidak menyadari jika anggur adalah jenis minuman beralkohol yang sangat mengangguk. Raina menjadi anggur, karena memang rasanya yang benar-benar nikmat.


"Anggur ? apa itu minuman yang waktu malam aku dan dia minum ? yang rasanya enak itu ? aaah aku mau...." bayangan air liur Raina mengalir melalui kedua sudut bibirnya. Dia memang beruntung selalu memiliki teman yang baik. Senantiasa menjaga dan melindunginya.


"Sudah sayang. Jangan bekerja terus." dia membungkukkan tubuhnya sehingga jarak yang di ciptakan antara dirinya dan Raina begitu dekat.


Raina diam. Dia menarik tubuhnya ke belakang dan memalingkan wajahnya.


Divta pun tak sanggup menahan tawa. Meskipun hanya kekehan kecil tapi itu sukses membuat Raina semakin malu. Dia menarik kursi kerja gadis itu.


"Ini untuk mu." dia memberikan gelas berisi anggur yang tadi di minumnya.


Sayang, maaf. Bukan maksud ku menyesatkan mu. Tapi aku tidak punya cara lain lagi.


Kata hati Divta berbicara demikian.


"Ini minumlah. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf mu karena telah menampar wajah ku. Lihatlah, ini masih memar dan sakit." Divta menyodorkan gelas di tangannya ke bibir Raina sambil sebelah tangannya mengusap pipinya yang memang masih menampakkan warna kemerahan akibat tamparan keras yang Raina berikan.


"Maaf." ucap Raina lirih. Dia merasa sangat bersalah dan ingin sekali mengusap pipi pemuda itu. Tapi dia takut melakukan inisiatif untuk menyentuhnya.


Divta tersenyum, dia lalu memegang pergelangan tangan Raina yang tertutup kain kemeja. kemudian mengajaknya untuk duduk di sofa. Diam-diam dia meraih remote kontrol untuk mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggunya dengan Raina.


"Iya sayang. Aku mengerti kekhawatiran mu. Aku yakin, semua gadis baik di dunia ini pasti akan melakukan hal yang sama dengan mu. Aku bangga padamu." Divta mengecup kilas dahi Raina, yang lagi membuat si empunya terkejut.


"Kenapa masih kaget saja kalau aku cium ?" tanya Divta sengaja.


Raina menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku masih belum terbiasa." jawabnya pelan sambil menundukkan kepala.


Aku sangat beruntung bertemu dengan mu, sayang.


"Ya sudah, ini minumlah." dia menempelkan tepi gelas berisi anggur tersebut ke bibir Raina kemudian menyuapinya. Dan dengan senang hati Raina meminumnya.


Kira² Divta mau ngapain ya ? 🤔


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya ya, terimakasih 🤗