Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Malam yang menyebalkan



Daisya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar seolah sedang berfikir hal menarik apa yang bisa dia lakukan, makan malam atau jalan-jalan ? tapi apapun rencananya, asalkan dia pergi bersama Raihan, pasti akan terasa sangat menyenangkan.


Daisya meraih ponsel yang sebelumnya ia letakkan di atas nakas. Lalu ia menarik bantal guna dijadikan sandaran punggungnya di headboard.


"Ah aku ingin mengajaknya jalan. Tapi dengan alasan apa, ya?" Daisya mulai berfikir keras seraya mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.


Setelah ia mendapat ide, Daisya kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi miring.


Dia mencoba menghubungi Raihan untuk mengajaknya keluar mencari makanan.


Sambungan telepon pun terhubung. Suara Raihan terdengar sangat merdu di telinga Daisya. Membuat gadis itu tersenyum ria hingga tubuhnya bergetar saking senangnya. Padahal bagi orang normal, suara pemuda itu terdengar serak dan lesu.


"Rai, keluar yuk." ucapnya mendayu-dayu, dengan harapan Raihan akan langsung mengiyakan ajakannya.


"Aku sudah mengantuk." jawab Raihan.


Mendengar hal itu, tentu saja membuat Daisya mengerucutkan bibirnya. Merasa kecewa sekaligus sedih.


"Aku lapar, dan aku ingin makan ketoprak di tempat yang kemarin kita makan bersama."


"..."


"Rai..."


"..."


"Ya sudah kalau begitu. Aku akan menahan lapar ku sampai besok. Aku tutup dulu ya. Selamat malam."


Daisya memutus sambungan telepon dan melempar ponselnya ke sudut tempat tidur. Kemudian Daisya meraih bantal untuk menutupi wajahnya dan berteriak sekuat yang ia bisa.


"Dasar cowok menyebalkan !!"


"Tapi kenapa aku sukaaaaa ?!!"


Daisya meraung sedih. Seumur hidupnya, baru kali ini ia di buat uring-uringan karena penolakan dari seorang lelaki. Sebelumnya, tidak ada seorangpun yang menolak ataupun mengabaikan dirinya. Itu karena Daisya cantik dan kaya. Tapi entah mengapa kecantikan dan kekayaan Daisya tidak berpengaruh apa-apa pada Raihan, selalu saja mengabaikan Daisya, dan terkesan acuh tak acuh terhadap putri konglomerat itu.


"Sudahlah, aku mau minum kopi saja di bawah."


Daisya beranjak dari tempat tidur dan menyambar cardigan rajut berwarna hitam yang menggantung di hanging wall.


Langkahnya terdengar gaduh karena ia menghentakkan kakinya. Ia lalu membuka pintu. Dan alangkah terkejutnya Daisya ketika ia mendapati seseorang yang tinggi, memakai celana jeans berwarna hitam dengan hoddie berwarna senada, tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Raihan !!"


Seketika raut wajah Daisya berubah ceria dan senyumannya mengembang lebar hingga menampilkan deretan giginya yang tertata rapi dan putih.


"Ayo cepat. Nanti tutup."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Raihan segera melangkahkan kakinya meninggalkan Daisya yang masih terpesona dengan kehadirannya.


"Katanya mengantuk, tapi malah dia tiba-tiba datang dengan penampilannya yang rapi seperti itu."


Daisya terkekeh pelan sambil menutupi mulutnya agar tak terdengar oleh Raihan. Rupanya, lelaki ini adalah tipe tipe cowok tsundere ya, begitu pikirnya. Dan dengan segera dia pun menyusul Raihan yang hendak masuk ke dalam lift.


"Kenapa kau pakai sandal jepit ?" tanya Raihan tanpa menoleh.


Apa dia punya mata batin ? bahkan dia tidak menatap ku dari tadi. Tapi dia tau kalau aku pakai sandal jepit.


"Kau juga pakai sandal jepit, kan ?" ujarnya saat melihat alas kaki Raihan yang ternyata sama seperti dirinya.


"Kau dan aku berbeda. Kau kan anak orang kaya, sedangkan aku bukan ?"


Daisya berdecak kasar. Sejak tau kalau dirinya adalah anak dari pemilik perusahaan televisi, Raihan selalu membanding-bandingkan diri seolah memperjelas bahwa status mereka berbeda. Padahal, baru beberapa jam lalu kakak mereka mengikat janji suci.


Seketika suasana hati Daisya memburuk. Semangatnya pun hilang sehingga dia sudah tidak berminat lagi untuk makan ketoprak. Ah, bukannya ketoprak hanya alasan agar bisa keluar berdua dengan Raihan ?


Baiklah, kalau begitu Daisya sudah tidak berminat lagi untuk keluar.


Suara denting pintu lift berbunyi. Menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai yang di tuju. Raihan melangkah keluar dan berjalan sendiri tanpa sadar bahwa Daisya masih berdiam diri di dalam lift. Hal itu justru membuat suasana hati Daisya semakin parah. Gadis itu menghentak-hentakan kakinya dengan keras hingga akhirnya Raihan menoleh. Namun, belum sempat Raihan berkata, pintu lift sudah tertutup kembali.


"Dasar menyebalkan !!" gerutu Daisya melangkah mundur, menyandarkan tubuhnya di dinding lift dan menangis dalam diam.


Sementara Raihan, dia berdecak bingung dengan sikap Daisya yang menurutnya aneh.


"Tadi mengajak keluar. Sekarang malah balik ke kamar." desah Raihan ketika dia melihat lift berhenti di lantai 35, dimana kamar mereka berada.


Ketika Daisya keluar dari dalam lift, dia mendapati Divta keluar dari kamarnya seorang diri.


"Kakak mau kemana ?" tanyanya sambil menghampiri.


Divta berjalan gontai. Wajahnya terlihat lesu dan tak bersemangat. Bahkan tubuhnya pun nampak lemas tak bertenaga.


"Apa kau bawa pembalut ?"


"Eh, pembalut ? untuk siapa ?" dahi Daisya berkerut dalam.


"Tentu saja untuk kakak ipar mu. Masa untuk ku." jawab Divta kesal.


Melihat wajah Divta yang semakin lesu, Daisya tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di seluruh lorong lantai tersebut.


"Jadi kakak terlihat kusut begini karena kak Raina datang bulan ?" Daisya kembali tertawa.


"Silahkan saja tertawa sesuka mu dan sepuas hatimu, kakak tidak peduli. Sekarang, tolong jawab pertanyaan kakak tadi." decak Divta semakin kesal.


"Biasanya aku haid tanggal 28 kak, dan ini masih tanggal 17. Itu berarti belum waktunya aku kedatangan tamu bulanan. Jadi aku tidak membawa pembalut."


"Ck, kau tinggal jawab tidak ada. Kenapa harus berpidato begitu." Divta pun berlalu pergi dengan bibir yang terus menggerutu meninggalkan Daisya yang masih tertawa.


Di waktu yang bersamaan Raina merasa tidak enak hati dengan Divta. Di saat malam pengantin, dirinya malah kedatangan tamu. Padahal tadi sudah hampir terjadi. Walau sebenarnya dia belum siap, tapi jika suami meminta, maka Raina harus memenuhinya. Karena itu adalah kewajiban Raina sebagai seorang istri.


Raina beranjak dari kursi untuk mengganti pakaian dalamnya yang dirasa sudah tidak nyaman dipakai sebab terdapat banyak noda darah. Bahkan noda tersebut sampai menembus ke celana luar. Dia lantas membuka koper yang tadi di bawakan oleh Daisya. Namun, dia nampak kebingungan ketika tak mendapati satupun pakaian bersih di sana.


"A- apa ini ?" Raina melebarkan sebuah pakaian yang menurutnya tidak layak pakai, transparan dan terbuka. Dia pun mengeluarkan semua isi koper tersebut, namun tak ada satupun pakaian yang bisa ia pakai. Semuanya sama, hanya berbeda warna saja.


"Daisya !!! sebenarnya kau memasukkan apa ke dalam koper ku ! kenapa isinya seperti ini sih ?!" Raina menjerit penuh penyesalan karena telah mempercayakan koper bawaannya pada Daisya. Jika saja kemarin dia menuruti kata hatinya, pasti tidak akan terjadi hal seperti sekarang ini.


"Semua ini pasti gara-gara Divta. Dasar kalian kakak beradik menyebalkan !!"


...***...


Tidak ada konflik untuk hari ini. Hanya ada rasa kesal dan kesal saja. Sama seperti suasana hati Xia yang lagi kesel 😎