
"Tentu saja kau yang harus menghisapnya !"
Brakkk !!
Kotak P3K tersebut tak sengaja Raihan jatuhkan karena lagi lagi Daisya mengatakan sesuatu yang mengejutkan dirinya.
"Kenapa kau membua...
"Kau sudah gila, ya !!" seru Raihan berbalik dan menunjuk wajah Daisya. Wajahnya menunjukkan adanya kemarahan yang memuncak. Bagaimana mungkin Daisya bisa dengan mudahnya meminta dirinya untuk melakukan itu ?
"Apa maksud mu ?" tanya Daisya takut.
"Kau tanya apa maksud ku ? kau tidak sadar dengan apa yang barusan kau katakan ? kau meminta ku melakukan hal yang tidak senonoh padamu ? semudah itu, iya ?! atau memang kau sudah terbiasa melakukan hal seperti itu saat kau di luar negeri ?!"
"..."
"Murahan !!"
Bergetar hati Daisya mendengar Raihan mengatai dirinya murahan. Serendah itukah dirinya di mata Raihan ? sehina itukah dirinya di benak pemuda itu ?
Daisya menundukkan kepala. Rasa nyeri di hatinya dan perasaannya membuat cairan bening seketika menggenang di pelupuk matanya dan terus menetes seolah mengalir tanpa henti. Punggungnya bergetar, menandakan bahwa dirinya sedang menangis tertahan.
Kenapa ? kenapa kau tega mengatakan sesuatu yang melukai hatiku ? apa salahku padamu. Dulu setiap kali jariku terluka kak Divta ataupun kak Dayus pasti akan menghisap darah di jari ku. Tapi kenapa Raihan malah menghina dan mengatai aku murahan?
Daisya menyeka pipinya yang basah menggunakan punggung tangan. Ia tak kuasa menahan sakit hati jika terus berada di satu ruangan bersama Raihan. Akhirnya, Daisya memutuskan untuk turun dari brankar dan berusaha pergi dari ruangan itu meski berujung ia harus tersungkur lagi.
Raihan yang menyaksikan itupun tersentak untuk yang kesekian kalinya. Dia bergegas menolong Daisya, namun gadis itu malah mendorongnya sambil menangis.
"Kau jangan bandel, ayo bangun !" Raihan mencoba memegang tangan Daisya, tapi gadis itu menepisnya lagi.
"Jangan menyentuh ku ! aku tidak butuh bantuan mu !" teriak Daisya histeris, yang justru membuat dadanya terasa sesak.
"Daisya tenang, kalau kau terus berteriak orang-orang pasti akan berdatangan." Raihan membekap mulut Daisya seraya matanya awas terhadap sekitar. Dia takut kalau kalau ada yang mendengar pertengkaran mereka, walau sebenarnya mustahil karena ruangan tersebut di lengkap alat kedap suara, tetapi tetap saja rasa was-was yang Raihan alami tak bisa ia hindarkan.
"Lepaaaaaaaaas, aku tidak butuh belas kasihan mu, aku tidak butuh bantua..."
Cup
Teriakan gadis itu serta merta terhenti ketika bibir Raihan mendarat di bibirnya. Pandangan mereka terkunci dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan Daisya bisa merasakan hangat nafas dari Raihan. Pikiran Daisya sejenak beristirahat dari memikirkan hal hal lain. Wajahnya nampak termangu merasakan lembutnya bibir Raihan. Jantung keduanya pun berdebar dengan begitu hebatnya hingga terdengar jelas.
Ini maksudnya bagaimana ?
Daisya bergumam dalam hati sambil menatap bola mata Raihan secara bergantian.
Cukup lama bibir mereka bersentuhan. Hingga timbul perasaan yang sebelumnya tidak pernah Raihan rasakan, serta timbul keinginan yang bahkan belum pernah terlintas di otaknya, dan pada akhirnya Raihan memberanikan diri untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar kecupan.
Seperti inikah rasanya ciuman ? lembut sekali, seperti permen kapas. Rasa anyir dari darah bercampur manis karena lipgloss yang Daisya oleskan di bibir tipisnya. Aku ingin terus seperti ini, tapi...
Raihan melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati, agar Daisya merasa nyaman.
Kenapa lama sekali ? memangnya seberapa banyak darah di bibirku ? Astaga, aku sudah tidak kuat...
Akhirnya Daisya mendorong Raihan karena nafasnya sudah mulai tersengal.
"Kau mau membunuh ku, ya ?" sentak Daisya dengan wajah tertekuk. Sisa sisa air mata yang masih menempel di pipinya serta ingusnya pun ia seka menggunakan jaket yang Raihan kenakan.
"Ih jorok !" seru Raihan merasa jijik dengan bekas ingus di jaketnya yang berwarna hitam.
"Bodo."
"Kau ..." Raihan mengepal tangan kanannya yang terangkat karena merasa gemas sekaligus kesal melihat tingkah Daisya. Berdasarkan komik yang pernah ia baca, perempuan kalau habis ciuman pasti pipinya memerah seperti tomat, tapi kenapa Daisya malah seakan mengejek dirinya ? Raihan yang tak mampu mengeluarkan kata-kata kini hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat. Sungguh, kesan ciuman pertamanya benar-benar di luar dugaan.
...***...
"Lihat itu filmnya bagus." Raina menunjuk benda persegi yang menempel di dinding di hadapan mereka.
"Tidak mau." jawab Divta yang masih asyik dengan kegiatan barunya bersama sang istri.
"Ish, lepaskan dulu." Raina menepis tangan Divta yang tidak mau berhenti bermain.
"Sayang..."
Divta merajuk layaknya anak kecil. Jika dibilang kesal, tentu ia kesal. Jika dibilang gemas, tentu sudah pasti. Sudah hampir seminggu mereka tidur di ruangan yang sama dan di atas tempat tidur yang sama, tapi bahkan mereka belum melakukan hal yang seharusnya di lakukan oleh pasangan suami istri. Menyedihkan.
Kenapa pula harus haid di malam pertama.
Lagi lagi Divta menggerutu kalimat tersebut.
"Aku capek. Sudah dong." sungut Raina menahan Divta.
"Capek ? memangnya kau ngapain ? kan cuma tidur-tiduran saja."
"Ck, aku lapar." decak Raina membenahi bajunya yang berantakan dan beranjak dari tempat tidur, meninggalkan Divta yang terus merengek manja seperti layaknya balita yang di tinggal ibunya.
Raina membuka pintu dan langsung menuju ke dapur. Di sana ia melihat sesosok tubuh tinggi dan sedikit gemuk, sedang menuang air panas dari dispenser ke dalam cangkir.
"Ayah ?" Raina menyapa dengan sopan.
Ya, sosok itu adalah Andro. Sejak kedatangan Adam tempo hari, sementara Raina dan Divta tinggal di rumah utama milik Bintang Andromeda yang letaknya cukup jauh dari keramaian. Untuk sampai ke rumah tersebut, setidaknya membutuhkan waktu 10 menit dari perumahan raya, itu pun jika di tempuh menggunakan kendaraan roda empat. Dan akses untuk menuju kesana pun harus melalui dua pintu gerbang yang masing-masing pintu di jaga oleh dua orang satpam.
"Rain, kau sudah bangun ?" tanya Andro dengan senyumannya yang hangat.
Ah, malu sekali aku. Ini bahkan sudah jam 10 dan hampir setengah 11.
Raina menengok jam klasik, terbuat dari kayu jati terbaik yang di terletak di sudut dinding antara dapur dan ruang keluarga.
Cih, ini semua karena Divta. Malunya....
Raina tersenyum kikuk.
"Maaf ayah, sebenarnya aku sudah bangun dari subuh tadi, tapi Divta tidak mengizinkan aku untuk keluar kamar. Padahal perut ku sudah sangat lapar." Jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya yang terlihat sedikit pucat. Dia berjalan menghampiri Andro dan memberikan sebuah tatakan cangkir yang sebelumnya ia sambar dari kitchen set, kepada mertuanya tersebut.
"Ah iya ayah sampai lupa. Terimakasih ya." ujar Andro menerima tatakan lalu mengusap lembut pucuk kepala Raina dengan penuh kasih sayang. Senyumnya begitu tulus dan menghangatkan.
Setelah Andro masuk ke dalam ruang kerjanya, Raina menuang susu kotak ke dalam gelas untuk dirinya dan juga Divta. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu di setiap paginya selalu meneguk segelas susu putih ataupun coklat untuk mengawali hari. Terkadang hal itu menjadi sebuah bahan ejekan bagi Divta untuk menjahilinya, "Dasar bayi besar" begitu ucap sang suami, dan Raina meresponnya dengan berkata,
"Nyatanya kau mau menikahi bayi besar seperti ku."
Raina terkekeh setiap kali mengingat itu. Padahal, bayi besar yang sebenarnya adalah Divta sendiri. Mau makan minta di suapi, mau mandi minta di temani, mau tidur minta di pijat-pijat dulu.
"Huh bayi teriak bayi." gumamnya lalu meneguk susu hingga habis tak tersisa dalam satu kali tegukan.
"Siapa yang bayi teriak bayi ?" suara pria dewasa yang tidak terlalu tinggi dan rendah mengagetkan Raina. Gadis itu paham betul siapa pemilik suara tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Divta.
Belum sempat Raina menoleh ke belakang, Divta sudah lebih dulu memeluk dan meletakkan dagu di bahunya. Dengan manisnya pria itu mendaratkan kecupan di pipi kanan Raina.
"Siapa bayinya ?" tanya Divta sekali lagi yang membuat Raina mendengus kecil.
"Malu ih !" decak Raina menepis tangan Divta dari perutnya. Bukan karena ia tak suka, tapi takut jika Andro atau ART melihat mereka.
"Kenapa malu ? kita kan sudah sah ? yang seharusnya malu itu author, sudah belajar berhari-hari tapi tetap saja revisi hahaha." ledek Divta diiringi tawa yang menghiasi rumah besar nan megah itu.
Author : Shit !