Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Iklan celana dalam



Hari yang menyebalkan bagi Raina belum berakhir sampai di situ saja. Setelah Divta pergi dari ruangan, ponsel Raina bergetar dan menunjukkan nama Malik sedang melakukan panggilan. Dengan malas Raina menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya,


"Halo." sapa Raina enggan.


"Halo Rain, apa benar kau sedang sakit hingga kau berniat untuk mengundurkan diri ? yang benar saja Rai, kau baru saja akan naik jabatan menjadi supervisor." ucap Malik di seberang sana, lelaki itu berucap panjang lebar mengenai pesan yang dikirim oleh Raina pada Malik beberapa menit lalu perihal dirinya yang ingin mengundurkan diri.


"Maaf pak, saya harus kembali ke kampung halaman saya hari ini, penyakit saya kambuh pak."


Maaf pak, saya bohong.


"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Rain, kau sakit apa sih ? aku akan tunjukkan rumah sakit terbaik di sini, atau kalau masih kurang aku bisa mengantar mu ke rumah sakit di luar negeri untuk mengobati penyakit mu." suara Malik terdengar begitu panik dan khawatir, sedari tadi dia terus mencoba menghubungi Raina namun gadis itu tak mengangkatnya sebab masih ada Divta di ruangannya.


"Tidak perlu pak, di kampung ku ada pengobatan tradisional yang bisa menyembuhkan penyakit ku ini."


"Tapi dimana kampung mu Rain ? izinkan aku mengantar mu."


"Uhuk uhuk tidak perlu pak, maaf saya harus pergi dulu. Besok adik saya akan mengantar surat pengunduran diri saya." Raina segera menutup panggilan agar Malik tak terlalu banyak bertanya, karena kalau dia terus meladeni lelaki itu pasti waktu yang di butuhkan tidak cukup satu atau dua jam.


"Aku tau cara ku ini tidak sopan dan terkesan tidak tau diri, tapi aku tidak punya pilihan lain. Raihan membutuhkan biaya lebih untuk kuliahnya, jadi aku harus mendapatkan uang lebih banyak lagi." gumam Raina merasa bersalah.


Sementara orang yang baru saja menghubungi Raina, dia nampak kesal dan frustasi. Pasalnya, jika Raina mengundurkan diri maka tidak ada lagi orang yang membuatnya semangat bekerja.


"Rain, kenapa kau tega sekali ? pergi tiba-tiba seperti ini bahkan tanpa pamit dulu padaku, dan kau juga tidak mau memberitahu ku kemana kau akan pergi." curhat Malik sambil menatap layar ponselnya yang menampakkan foto Raina sedang makan. Foto itu dia ambil beberapa Minggu lalu secara diam-diam.


Keesokan harinya pukul 3 pagi


Raina masih terlelap di bawah selimut tebalnya yang berwarna putih dan seketika tidur nyenyaknya terganggu tatkala ponselnya berdering. Dengan mata yang masih terpejam, tangannya terulur mencari dimana letak ponselnya.


"Halo." sapa Raina tanpa melihat siapa orang yang menggangu tidurnya.


"Ke apartemen ku sekarang !" seru seseorang di seberang sana tanpa basa-basi, membuat Raina terkesiap dan langsung beranjak duduk.


Raina menjauhkan ponsel dari daun telinganya untuk mengecek apakah benar yang menelpon adalah bos barunya ?


Ah gawat, ternyata benar. Divta memintanya untuk segera datang ke apartemen.


Kemudian dia melirik jam weker yang bertengger di atas meja nakasnya,


"Hah jam 3 pagi ?" pekiknya terkejut.


"Hey cepat ke apartemen ku !!" teriak Divta.


"Ah iya iya tuan, saya akan segera ke apartemen anda sekarang juga." ucap Raina dengan suaranya yang di buat seperti pria macho. Lalu dia memutus sambungan telepon dan segera beranjak dari tempat tidurnya, dengan cepat dia bersiap untuk pergi ke apartemen bosnya.


Setelah kurang lebih 20 menit Raina sudah rapi dengan penampilannya yang manly dan siap berperan sebagai Raihan, yang tak lain ialah nama adiknya sendiri.


Alasannya mengambil nama Raihan adalah, agar dia lebih mudah mengenali dirinya ketika menjadi pria, karena nama Raina dan Raihan sangatlah mirip.


Di apartemen Divta


Tak lama, suara bel apartemennya berbunyi, dengan langkah malas dia beranjak dari sofa dan segera membuka pintu sebab dia sudah tau bahwa yang datang adalah Raihan, asistennya.


"Kenapa lama sekali sih ?" decaknya kesal.


Raina membalikkan tubuhnya dan seketika kedua matanya membulat sempurna, dia sangat terkejut ketika melihat Divta seperti seorang pria yang sedang mengiklankan celana dalam merk buaya.


"A-apa yang dia lakukan ? kenapa dia cuma pakai celana kolor saja ? Aaah lagi-lagi mataku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat." batin Raina menjerit sambil matanya melihat ke arah lain.


"Kenapa bengong ? cepat masuk !!" decak Divta. Pemuda itu sungguh tidak menyadari kegugupan Raina yang sempat melihat tubuhnya yang super atletis, karena yang dia tau Raina adalah Raihan, seorang lelaki yang juga memiliki tubuh yang sama dengannya.


Raina melangkahkan kakinya perlahan mengikuti Divta yang berjalan di depannya.


"Dasar mesum." gerutunya.


"Cepat pijit kepala ku." perintah Divta saat setelah dia merebahkan tubuhnya di sofa malas, dia menengadahkan kepala serta memejamkan matanya sambil menunggu Raina memijit pelipisnya karena kepalanya terasa sangat pusing.


Raina tersentak kaget mendengar penuturan yang baru saja Divta lontarkan. Seumur hidupnya dia belum menyentuh kulit pria lain kecuali Raihan, bahkan dulu saat pacarnya menegang tangannya Raina langsung menampar wajah lelaki itu. Tapi sekarang ? dia di minta untuk memijat kepala pria yang begitu asing baginya, yang baru satu hari dia kenal bahkan saat ini pria itu hanya memakai kolor saja ?


Oh my God, tolong kuatkan hati hamba demi gaji 5x lipat.


begitu ucapnya dalam hati.


"Raihan ! aku meminta mu untuk memijat kepala ku ! bukan malah bengong sambil berdiri !" sentak Divta tidak sabar.


"Baik tuan." jawab Raina berusaha tetap tenang untuk menutupi rasa gugupnya yang semakin membuncah memenuhi rongga dadanya. Perlahan dia mendekat dan kedua tangannya terulur menyentuh pelipis Divta.


*Bahkan aku baru menyentuh pelipisnya, tapi keringat di dahi ku sudah mengucur deras*.


"Kau kan laki-laki, kenapa tangan mu halus sekali ? cih." desis Divta.


Namun tidak bisa dia pungkiri jika pijatan Raina membuatnya merasa lebih baik, hingga dia pun terlelap.


"Tuan ?" Raina memanggil Divta dengan pelan, namun tidak ada sahutan dari si empunya nama, dan dapat dia pastikan bahwa tuannya itu sudah tertidur.


Raina menghembuskan nafas lega, dia memilih duduk di sofa seberang Divta untuk sejenak mengistirahatkan matanya yang sebenarnya masih mengantuk, tapi sepertinya dia tidak akan bisa tidur karena pemandangan yang ada di hadapannya saat ini sangat sayang untuk di lewatkan.


"Eh kenapa aku jadi tertular mesum begini sih ?" decak Raina mengutuk dirinya sendiri.


Bagaimana tidak ? selama 25 tahun hidup di dunia ini dia belum pernah melihat tubuh se-seksi Divta, se-kekar Divta dan se-hot Divta, bahkan di perut lelaki itu ada 8 kotak, persis lah seperti bintang iklan celana dalam merk buaya yang ada di mall.


Raina menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, waktu menunjukkan pukul setengah 5 pagi. Kalau di rumah, biasanya pada waktu seperti ini dia akan memasak makanan untuk sarapan, tapi berhubung dia berada di apartemen Divta, dia memilih untuk main ponsel saja karena Divta bilang, sarapan akan ada yang mengantar.


__


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗