Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Menyedihkan



Roda kehidupan selalu berputar. Ada kalanya orang berada di atas, kadang juga ada di bawah. Peristiwa hidup silih berganti, ada rasa bahagia, kecewa, senang, marah dan sedih. Semua itu pernah dirasakan setiap orang. Dalam menjalani kehidupan, terkadang mengalami kesedihan yang mendalam.


Rasa sedih itu bisa terjadi karena berbagai faktor. Bisa karena cinta, pekerjaan, keluarga, pertemanan, tetangga, ataupun dari diri sendiri. Saat sedang sedih, biasanya badan akan terasa malas untuk beraktivitas dan hanya bisa melontarkan kekesalan dan kekecewaan di dalam hati. Ada juga yang mau berbagi kesedihan melalui media sosial. Namun, tak sedikit juga orang yang melampiaskan kesedihannya dengan meneguk minuman keras. Berharap rasa sedih itu akan hilang seiring ketidaksadaran yang berlangsung.


Seperti halnya Darius. Entah kesedihan seperti apa yang di alaminya, sehingga dia yang sebelumnya tidak pernah mabuk-mabukan, kini telah menghabiskan hampir 3 botol minuman keras disebuah tempat yang juga sebelumnya tidak pernah ia datangi. Darius terlihat kacau, kalut dan frustasi. Namun tak seorang pun tau apa kira-kira penyebab yang membuatnya seperti itu.


Terkadang Darius meracau, menangis, tertawa dan berteriak. Menarik rambutnya sendiri seperti orang gila, dan terkadang menyentak meja bar dengan kepalan tangannya.


Tak jauh dari tempat Darius duduk, nampak seseorang sedang memperhatikan setiap gerak-gerik dari putra pertama pengusaha sukses tersebut. Dengan bibir tersenyum menyeringai, yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Yakni Darius yang sudah tak sadarkan diri karena efek dari alkohol yang memabukkan. Seseorang itu pun beranjak dari sofa dan menghampiri Darius.


"Cih, dasar bodoh." kemudian membawanya pergi ke sebuah tempat yang tak diketahui siapapun..


Keesokan harinya.


Pukul 3 pagi, Andro telah selesai dengan ritual ibadah malamnya. Dia beranjak dari ruangan khusus itu dan menuju ke dapur untuk menyeduh kopi latte favoritnya. Dia tau di jam jam sekarang ini ART-nya masih terlelap. Itu sebabnya dia turun tangan sendiri untuk membuat minuman yang setiap hari menemaninya dikala sibuk ataupun disaat luang.


"Ayaaah ?"


Seseorang dengan suaranya yang parau mengejutkannya, menyebabkan cangkir berisi kopi yang ia pegang terjatuh hingga pecah dan mengotori lantai marmer yang ia pijak. Ia lalu menoleh ke belakang, dan mendapati Darius sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sendu. Matanya begitu sayu dan tak berdaya.


"Ius ? kau kenapa nak ?" tanyanya sambil menghampiri Darius yang tubuhnya nampak lunglai.


"Kau mabuk ?!" pekiknya semakin terkejut ketika dia mencium bau alkohol dari tubuh putranya. Seketika dia naik pitam dan langsung melayangkan sebuah tamparan keras di pipi pemuda itu hingga terhuyung dan terjatuh menabrak sebuah guci hingga hancur berantakan.


"Apa yang kau lakukan, hah !! kenapa kau seperti ini ?!" sentak Andro dipenuhi emosi melihat kelakuan anaknya.


Darius tersenyum miris, merasakan perih di pipinya akibat tamparan dari sang ayah. Belum lagi pecahan guci itu melukai telapak tangannya serta-merta ia terluka. Ia lantas mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah menggunakan punggungnya. Sakit, perih, itulah yang dia rasakan sekarang.


"Siapa yang mengajari mu meminum minuman haram itu ?!" Andro menarik kerah kemeja batik Darius hingga tubuh si empunya sedikit tertarik keatas.


"Jawab ayah !!" bentaknya semakin keras lalu menyentak tubuh Darius.


Darius hanya diam, seraya bibirnya meringis menahan sakit.


Bukankah tadi aku masih di bar ? tapi kenapa sekarang ada di rumah ? tidak mungkinkan aku menyetir mobil sendiri sementara aku masih dalam keadaan loyo seperti ini ? lalu siapa yang membawaku pulang ?


"Jawab ayah ! siapa yang mengajarimu untuk mabuk-mabukan seperti ini ?!"


Teriakan Andro terdengar sangat menggelegar di seluruh ruangan, khususnya di area dapur dan kamar para art. Sontak saja seluruh penghuni kamar terkejut dan bergegas bangun untuk melihat apa yang terjadi di luar kamar mereka.


"Jawab ayah, Darius !!" sekali lagi, Andro melayangkan tamparan keras di wajah Darius.


"Aaaargh !!!" Andro begitu frustasi melihat keadaan putra sulungnya. Bagaimana mungkin ia bisa kecolongan begitu. Apakah selama ini dia kurang memperhatikannya sehingga bisa terjadi hal seperti ini ?


Akhirnya, Andro memilih untuk keluar, meninggalkan Darius yang basah kuyup akibat perbuatannya. Emosinya saat ini sudah benar-benar memuncak. Dia takut, jika terus berada di dekat anaknya maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dan berujung penyesalan.


"Ya Tuhan." desah Andro yang baru saja duduk di tepi tempat tidurnya, menyangga kepalanya dengan tangan yang bertumpu di kedua lututnya. Menyesali kebodohannya yang lepas tanggungjawab terhadap Darius. Andro menduga bahwa, putranya itu sudah dewasa dan tidak perlu diawasi lagi karena usianya sudah hampir mencapai kepala tiga. Tapi nyatanya, umur tidak menjamin kedewasaan.


Sementara itu, pak Sastro dan pak Min selaku security berusaha untuk membawa Darius ke kamarnya dan membantu untuk membersihkan serta mengobati luka di telapak tangan Darius. Sedangkan para Art mulai membersihkan rumah. Walaupun hari masih terlalu pagi, tapi karena sudah terlanjur bangun, mereka pun melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Toh, ada serpihan dari cangkir kaca dan guci yang berserakan di lantai sehingga harus mereka bersihkan.


...***...


Sudah dua hari dua malam Divta tak bisa tidur. Kemarin ia tak bisa tidur karena gugup akan menikah, dan sekarang dia tak bisa tidur karena harus seranjang dengan gadis kesayangannya namun tak bisa ia apa-apakan. Seharusnya sih bisa, tapi suasana hati Raina sedang tidak baik karena masih dalam masa haid dan itu di hari pertama. Divta mendengus kasar. Tubuh dan batinnya sangat tersiksa melihat Raina. Ia ingin sekali memeluknya, tapi takut Raina akan terbangun dan berkata:


Jangan peluk-peluk, perutku sedang sakit. (lagi)


Ya. Divta sudah mencoba untuk memeluk Raina beberapa kali, dan selalu saja Raina menolaknya dengan berkata demikian. Ingin dia menjerit untuk melampiaskan kesengsaraan nya, tapi ia tidak bisa karena takut mengganggu lelapnya sang istri.


Sempat berpikir untuk tidur di sofa saja agar gairahnya tidak bangkit dan tak menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar 'tidur bersama'. Tapi, sungguh Divta tak rela membiarkan Raina tidur sendiri. Atau lebih tepatnya karena dia tidak mau pisah dari Raina.


"Kau jahat sekali, sayang. Aku tidak hanya tak boleh memelukmu. Bahkan kau juga membelakangi ku, dan kau lebih memilih memeluk bantal daripada aku." gumamnya merana.


"Awas saja ya kau, bantal. Setelah ini aku akan membuang mu ke tempat sampah. Berani-beraninya kau merebut istriku di malam pertama kami !!" umpatnya Divta yang merasa cemburu terhadap benda mati yang empuk tersebut.


...(╥﹏╥)...


Kasian aa' Divta.