
Dan disinilah Raina sekarang, duduk di atas tempat tidur menyandarkan tubuhnya di headboard, kedua kakinya dia luruskan sambil memijat kepala Divta yang bertumpu di atas pangkal pahanya.
Ya, pemandangan itu nampak begitu romantis bagi siapa saja yang melihatnya. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Divta berhasil memenuhi keinginannya untuk menumpukan kepala di atas pangkal paha Raina.
Beberapa menit lalu
"Untuk apa anda meminta saya untuk duduk dengan posisi seperti ini ?" tanya Raina bingung pada Divta yang menyuruhnya duduk dengan posisi meluruskan kedua kakinya.
Divta menyeringai penuh maksud, kemudian dia mengambil posisi untuk merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di atas pangkal paha gadis yang dia kenal sebagai Amanda, membuat si empunya terkejut hingga tersentak kaget.
"Apa yang anda lakukan ?" seru Raina berusaha mengangkat kepala Divta agar menjauh darinya, namun pemuda itu bergerak cepat untukmenahan kedua tangan Raina.
"Aku hanya mengambil posisi ternyaman agar aku bisa cepat tidur." jawab Divta santai.
"Tapi biasanya ..."
Sial, aku hampir saja keceplosan.
Raina menghentikan ucapannya saat dia hendak mengatakan bahwa biasanya Divta tidak pernah berbuat seperti itu saat dirinya menjadi Raihan. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah dan membiarkan Divta tertidur di atas pangkal paha yang tidak terjamah dengan celana pendeknya.
Back to reality
"Kapan kau tiba disini ? kenapa kau memakai baju dan celana Raihan ? jangan-jangan kau dan Raihan sudah ..."
Divta menghentikan ucapannya, dia mendongakkan wajahnya menatap Raina yang juga sedang menatapnya dengan tatapan mematikan.
"Kenapa tidak di lanjutkan ?" tanya Raina dingin. Raut wajahnya terlihat begitu menyeramkan serta auranya terasa begitu menegangkan bagi Divta.
"Bukan begitu, aku hanya curiga melihat mu tertidur di kamar Raihan dan memakai kaos milik Raihan bahkan kau tidak menggunakan bra sehingga buah ..." ucapan Divta seketika terhenti karena Raina membekap mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Watch your month !!" sentak Raina kesal. Wajah yang sebelumnya menyeramkan kini berubah merah padam karena menahan malu ketika Divta mengungkit kembali tentang kejadian beberapa menit yang lalu.
Dalam bekapan Raina, Divta menarik sudut bibirnya kemudian menyentuh punggung tangan Raina dan menjulurkan lidahnya sehingga mengenai telapak tangan Raina yang halus.
"Jorok !!" seru Raina lagi, dia menjauhkan tangannya dari mulut Divta dan segera menyeka telapak tangannya yang basah karena terkena air liur pemuda itu.
Divta menyeringai, rasanya dia puas sekali telah berhasil menggoda Raina. Dia berfikir, ada untungnya Raihan pergi tanpa pamit dan meninggalkan seorang wanita untuk bersamanya. Dia tidak peduli apapun, yang diinginkannya adalah dia akan mengajak Raihan bersaing secara sehat untuk mendapatkan hati Amanda.
Divtabodoh.jpg
Keesokan harinya
Divta terbangun pada pukul 05 pagi karena semalam dia sudah menyetel alarm di ponselnya, berharap Amanda (Raina) masih berada di kamarnya sambil memangku kepalanya. Tapi sayang seribu sayang, harapan tak sesuai dengan ekspetasi. Seseorang yang di inginkan ada ketika dia membuka mata, faktanya sudah tak berada di kamarnya lagi.
"Sial !!" Divta mengumpat kesal. Dia beranjak bangun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci wajahnya.
Setelah selesai dia melangkahkan kakinya ke kamar Raina, berharap masih ada Amanda di sana. Dia pun mengetuk pintu kamar itu, dan tak butuh waktu lama pintu tersebut terbuka.
"Ada apa tuan ? tumben sekali jam segini Anda sudah bangun ?" tanya Raina yang sudah berganti peran menjadi Raihan.
Semalam dia sempat terlelap sejenak karena memang dia masih sangat mengantuk, tapi beruntungnya pada pukul 3 pagi dia terbangun dan bergegas pindah ke kamarnya.
Cukup sekali dia menampakkan Raina di hadapan Divta, untuk hari ini dan seterusnya, Raihan lah yang harus ada.
"Adik saya butuh bantuan, itu sebabnya saya pergi. Maaf saya tidak meminta izin terlebih dahulu, karena saya takut mengganggu waktu tidur Anda." jawab Raina dengan raut wajah datar.
"Kau tak hanya tidak minta izin pergi, tapi kau juga tidak izin padaku telah membawa seorang gadis kesini." kedua mata Divta mendelik menatap Raina, tatapannya terlihat begitu mengintimidasi dan menuntut Raina agar menjawabnya dengan jujur dan apa adanya tanpa harus ada yang di tutup-tutupi.
"Maafkan saya tuan, semalam pacar saya bilang kalau dia rindu, itu sebabnya saya membawanya kesini. Maafkan saya tuan."
"Jadi kau menjadikan apartemen ku sebagai tempat pelampiasan rindu mu dengan pacar mu, iya ?!" sentak Divta berkacak pinggang seraya menunjuk wajah Raina dengan penuh kekesalan. Perlahan Divta memajukan langkahnya sehingga mau tak mau Raina memundurkan langkah.
"Maaf tuan, saya dan pacar saya tidak melakukan apapun. Setibanya dia disini kami hanya berpelukan setelah itu saya pergi." jawab Raina mulai takut. Namun sebisa mungkin dia menetralkan ekspresi wajahnya yang semula gugup menjadi datar kembali.
"Bohong !!" sentak Divta lagi.
Raina menggelengkan kepalanya pelan,
"Tidak tuan, saya berani bersumpah tidak melakukan hal mesum bersama pacar saya."
"Lalu kenapa dia memakai kaos mu dan tidak memakai bra ? kau pasti habis melakukan hubungan intim kan ?" seru Divta menuduh.
Seketika tubuh Raina menegang, kedua tangannya mengepal kuat serta rahangnya mengeras. Rasanya dia ingin sekali menampar wajah Divta sekaligus merontokkan semua gigi-giginya. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa berfikir hal mesum padanya ? kalaupun dia benar seorang lelaki, dia tidak akan melakukan itu sebelum menikah.
"Tolong jaga ucapan Anda tuan. Sama saja Anda merendahkan pacar saya. Dia masih suci, bahkan dia belum pernah berciuman. Saya tidak terima Anda berkata buruk tentang kami. Maaf, sebaiknya hari ini menjadi hari terakhir kita bertemu." Raina berbalik badan hendak membereskan semua barang-barangnya. Dia benar-benar tidak suka dengan sikap Divta yang merendahkan harga dirinya.
Divta terhenyak. Dia tidak sadar dengan apa yang baru saja dia katakan. Dia pun meraih tangan Raina dan menariknya untuk mencegah lelaki (jadi-jadian) itu pergi.
"Hei, kenapa kau jadi marah ? aku hanya bertanya saja." ucapnya.
"Lepaskan tangan saya." cetus Raina dingin.
"Tidak !! Kau ini laki-laki, masa begitu saja merajuk." Divta berusaha mempertahankan asistennya sebab dia sudah merasa nyaman dengan Raina. Hal yang paling dia utamakan ketika memilih seseorang untuk menjadi asistennya adalah kenyamanan. Itu sebabnya dia tidak akan membiarkan Raina pergi begitu saja. Dia akan melakukan apapun untuk mempertahankan Raina sekalipun dia tidak bisa mendapatkan Amanda, begitu pikirnya.
Divtabodoh².jpg
"Maaf tuan, saya tidak bisa bekerja dengan orang yang telah merendahkan saya maupun Amanda." Raina menepis tangan Divta dan mendorongnya.
Divta tak menyerah begitu saja, dia meraih kembali tangan Raina dan menariknya dengan kuat lalu dia menghempaskan Raina ke tempat tidur. Namun, Raina malah menarik tangannya juga hingga mereka berdua terhempas di atas tempat tidur dengan posisi Divta menindih tubuh Raina.
Dejavu.com
Sejenak mereka saling melempar pandangan. Kondisi ruangan yang sepi membuat Divta terbawa suasana dan kembali menegang. Perlahan, Divta mendekatkan wajahnya dengan Raina hingga mereka bisa merasakan deru hangat nafas dari keduanya.
"Apa yang akan Anda lakukan ?" tanya Raina.
Seketika Divta tersadar. Dia beranjak dari tubuh Raina dan mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan.
"Shit !!" umpat Divta kesal. Bagaimana mungkin dia bergairah pada asistennya yang juga berbatang ? tidak mungkin kan memiliki kelainan biseksual ? Oh gosh, sepertinya dia benar-benar harus memeriksakan dirinya ke dokter.
"Kau jangan berpikiran negatif. Dan jangan lupakan kalau kau sudah menandatangi kontak kerja 5 tahun untuk menjadi asisten ku. Kalau kau melanggar kontrak maka kau harus membayar denda 5 milyar." ucapnya sambil lalu.
"Sial !" umpat Raina frustasi.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗