
Divta terbangun lebih dulu karena jam weker telah berbunyi yang menandakan jika sekarang sudah jam 6 pagi.
Dia lalu mematikan peringatan jam tersebut dan mengembalikannya ke tempat semula.
Saat dia hendak bangun, dia merasakan ada sesuatu di atas perutnya.
"Tangan ?" gumamnya melihat seseorang yang masih terlelap di sampingnya.
Senyumnya pun mengembang lebar.
"Jadi ini bukan mimpi ? kita benar-benar tidur bersama ?" dia mengusap lembut pipi Raina dan mendaratkan kecupan selamat pagi di hidung gadis itu.
"Good morning my lovely girl." Divta menyingkap pelan tangan Raina agar si empunya tidak terbangun.
"Ibu, aku merindukan mu." gumam Raina menenggelamkan wajahnya di dada Divta dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Ibu... jangan pergi." imbuhnya masih dalam keadaan lelap.
Divta menghela nafas dan sejenak menahannya, lalu dia hembuskan. Di peluk Raina saat bangun tidur pagi sungguh membuatnya sesak.
"Ini tidak baik untuk kesehatan." ucapnya sambil melepas pelukan Raina. Bukan dia tega, tetapi jika hal itu terus berlangsung, dia takut tidak bisa mengendalikan diri.
"Jam berapa ?" tanya Raina sambil masih memejamkan mata.
"Masih terlalu pagi. Tidurlah lagi." Divta mengecup dahi Raina dan langsung beranjak ke kamar mandi.
Sedangkan Raina yang masih mengantuk, pun melanjutkan tidurnya.
Satu jam kemudian
"Sayang, bangun." Divta mengguncang tubuh Raina dengan pelan.
Raina membuka mata dan di lihatnya Divta sedang duduk di tepi tempat tidur sudah dengan pakaian formal.
Aroma parfum yang menenangkan seketika mencuat ke indera penciumannya. Sejenak dia menikmati aroma tersebut seraya memejamkan matanya.
"Sudah? lebih terasa lagi kalau kamu mencium ku. Tapi kamu masih belum mandi. Dan bau mu membuat ku ingin tidur lagi.
Jadi sebaiknya kamu bangun dan cepatlah mandi. Atau kita akan ketinggalan pesawat nanti." ucap Divta sambil mengangkat tubuh Raina yang masih lesu menuju ke kamarnya.
"Aku bisa jalan sendiri." gumam Raina yang tak sesuai dengan tingkahnya yang malah kembali menutup mata saking dia merasa nyaman di pelukan Divta.
"Nenek, buka pintunya !" seru Divta.
Deasy yang masih menunggu Darius keluar dari kamar mandi, pun segera beranjak untuk membukakan pintu.
"Loh, Raina kenapa ?" tanyanya khawatir sambil menepikan anak rambut Raina ke kebelakang telinga.
"Dia masih ngantuk nek, biar aku celupkan dia ke bak mandi supaya cepat bangun." jawab Divta lalu meminta Deasy untuk menyingkir agar dirinya bisa masuk.
Deasy mengerutkan dahi dan bertanya-tanya, bukankah di kamar mandi tidak ada bathtub ? dan apa tadi Divta bilang, mau di celupkan ?
"Kau fikir Raina itu teh sehingga mau kau celupkan ? lagipula di kamar mandi tidak ada bathtub ataupun bak mandi."
Seketika Divta menghentikan langkahnya, namun bukan karena ucapan Deasy, melainkan karena dia mendengar ada suara percikan air di dalam ruangan yang biasa di gunakan Raina untuk membersihkan diri.
Dan saat Divta ingin menanyakan hal itu, tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan menampakkan tubuh Darius yang bertelanjang dada dan hanya menyisakan celana boxer selutut.
"Kau ?!" pekik keduanya bersamaan yang langsung membuat Raina terhenyak dan tersadar.
"Untuk apa kau berada di kamar pacar ku ?" ucap Divta dengan nada suara ketus.
Dia semakin mengeratkan pelukannya karena Raina menggeliat minta di turunkan.
Namun, dia tidak akan mengizinkan itu karena di hadapannya ada Darius yang secara terang-terangan ingin merebut Raina darinya.
Darius tersenyum getir.
Bukan karena pertanyaan yang Divta lontarkan, tetapi karena dia melihat bekas ciuman dan juga luka gigitan di leher Divta. Bisa di pastikan jika itu adalah perbuatan Raina.
Begini kah jalan hidupnya ? haruskah dia selalu kalah dengan sang adik dalam percintaan ?
"Awas kak, Raina mau mandi. Kami sudah hampir telat." tukas Divta tidak sabar.
Dengan berat hati, Darius keluar dan segera menyingkir untuk membiarkan Divta membawa masuk Raina.
"Kamu ini apa-apaan sih ? cepat turunkan aku !" cetus Raina menatap Divta dengan tatapan tajam.
Dia sungguh merasa tak enak hati pada Darius, terlebih lagi ada Deasy yang masih setia berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka sedari tadi.
"Apaan ? aku hanya bertanya kenapa kakak berada disini." Divta menurunkan Raina.
"Cepat bersiap atau kita akan terlambat." imbuhnya lalu meninggalkan Raina agar segera membersihkan diri dan mengejar Darius.
"Berhentilah mengharapkan Raina, kak." ucap Divta kepada Darius yang hendak keluar dari apartemennya.
Darius menghela nafasnya yang terasa begitu berat.
Sesak. Itulah yang dia rasakan saat.
Seumur hidupnya dia belum pernah berpacaran dengan gadis yang benar-benar dia sukai.
Sebab dia selalu kalah dengan Divta. Sedari dia remaja hingga dewasa seperti sekarang ini.
"Selagi janur kuning belum melengkung. Bahkan, meski sudah melengkung sekalipun, masih bisa di rebut." jawabnya kemudian membuka pintu.
"Jangan jadi pengecut." tukas Divta memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Tidak peduli jika aku harus mengalahkan mu, asalkan itu demi Raina, pasti akan aku lakukan." lanjutnya berbalik badan dan berjalan menuju ke kamarnya.
Lagi lagi Darius tersenyum getir,
"Harus seperti itukah ?" gumamnya lalu keluar serta tak lupa menutup pintu dan kembali ke apartemennya.
"Kenapa selalu begini sih ? salah ku apa sampai aku harus terus-menerus kalah dengan adik ku sendiri !!" teriak Darius saat sudah masuk ke dalam apartemen.
Dia menghempas kasar baju yang semalam dia pakai.
"Mau sampai kapan aku begini ? aku yang bodoh atau Divta yang telah pintar." Darius berjalan dengan gontai menuju ke kamarnya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin, dan mengingat perkataan sang nenek yang mengatakan bahwa dirinya tidak menarik.
"Setidak menarik itukah aku ?" ucapnya. D
ia membuka lemari pakaiannya, dan yang terlihat di sana hanya ada jas, celana dasar dan juga kemeja serta dalaman.
Tidak satupun dia temukan pakaian casual di sana.
"Apa aku harus merubah penampilan ku ?" gumamnya.
Di waktu yang bersamaan, ada seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan sedang duduk di kursi dekat kolam ikan. Sebelah kakinya bertumpu di lututnya sambil menyeruput secangkir kopi.
"Tuan, hari ini kita ada meeting dengan direktur dari perusahaan kosmetik di hotel grand Hyatt." ucap seorang perempuan cantik kisaran berusia 27 tahun.
"Batalkan saja. Aku ingin menemui wanita tua dan anak-anak nakal itu." jawabnya tanpa menoleh dan lanjut menyeruput kopi favoritnya.
"Baik tuan. Kalau begitu, silahkan anda sarapan terlebih dahulu karena ini sudah waktunya untuk anda minum obat."
Pria itu menghela nafas dalam. Rasanya dia enggan untuk beranjak dari sana. Tapi demi menjaga kesehatan tubuhnya, dengan terpaksa dia pun menuruti perkataan asistennya.
"Hubungi Dealova, dan suruh dia datang kesini. Bilang padanya bahwa kita akan bertemu dengan bocah cecunguk itu." perintahnya sambil lalu.
"Baik tuan."
Siapakah pria paruh baya itu ?
Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗
Epilog
"Iyus (panggilan sayang untuk Darius) kau kenapa, nak ?" tanyanya khawatir saat melihat raut wajah Darius berubah sendu setelah bertemu Divta dan Raina.
Namun, pemuda itu naskah pergi begitu saja tanpa menghiraukan pertanyaannya.
"Div, apa yang terjadi di antara kalian ?" tanyanya kemudian pada Divta yang berjalan menyusul Darius.
Tapi sialnya, pemuda itu juga mengabaikannya.
"Bocah sialan ! beraninya mereka mengabaikan aku. Ku sumpahi kalian makin sukses !!" umpat Deasy kesal.