Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Keberangkatan Divta



Tibalah hari saat di mana Divta dan Kairo pergi ke luar kota untuk melakukan pertemuan yang sempat tertunda pekan lalu. Sungguh Divta merasa berat hati meninggalkan Raina. Rasanya dia ingin sekali membawa gadisnya ikut pergi bersamanya, namun karena kondisinya yang tidak memungkinkan, membuat Divta terpaksa menitipkan Raina dengan Rumania dan Dealova.


Divta duduk di tepi tempat tidur di samping Raina sambil memeluk gadis itu. Rasanya dia enggan sekali untuk melepas pelukan dan beranjak dari sana. Padahal, Raina sudah berkali-kali berusaha untuk membuat Divta melepaskannya, tetapi pemuda itu selalu menggelengkan kepala dan menolak.


Setelah kurang lebih 15 menit berpelukan, akhirnya Divta merenggangkan dan menjauhkan tubuhnya dari Raina, kemudian beralih menciuminya. Cukup lama dia melakukan itu, sampai-sampai orang yang menunggu mereka di luar merasa kesal dan terus menerus menggerutu.


"Mereka itu sedang apa sih ? menebar benih atau menengok bibit yang sudah tumbuh ?" cetus Kairo kesal. Pasalnya, penerbangan hanya tinggal 20 menit lagi. Sementara perjalanan menuju ke bandara membutuhkan waktu lebih dari 15 menit.


Haish, sudah lebih dari setengah jam Divta dan Raina berada di dalam kamar yang terkunci. Mungkin mereka sedang anu ?


Oh gosh, kenapa otaknya berkelana ke arah sana. Tapi siapa yang tidak berfikir demikian, jika sepasang kekasih berduaan di dalam kamar dalam waktu yang lama?


Dealova memicingkan mata hingga dahinya berkerut. Mulutnya menganga sambil menatap Kairo yang terlihat kesal.


Sontak saja Kairo tertawa karena wajah polosnya nampak begitu menggelitik di perut pemuda itu.


"Menebar benih ? menengok benih ? maksudnya ?" tanyanya.


Kairo terbahak. Ternyata pertanyaan sederhana itu mampu menghilangkan ke dongkolan hatinya karena Divta. Ingin rasanya dia mencubit kedua pipi Dealova yang berwarna merah muda itu saking gemasnya.


Ah, gadis polos seperti dia, nampaknya tidak bisa di ajak bercanda tentang hal hal yang menyangkut anu. Sudahlah, Kairo juga takut dosa. Jadi, pemuda itu tidak lagi membahasnya dan lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Karena sepertinya, mengobrol dengan gadis itu tidaklah buruk.


Sedangkan kedua orang yang berada di dalam kamar, mereka masih betah berlama-lama menyatukan bibir. Namun, hanya Divta lah yang terlihat begitu antusias dan bersemangat melakukannya, lagi, lagi dan lagi. Hingga membuat Raina kewalahan untuk mengimbanginya. Sesekali gadis itu mendorong dada Divta agar menyudahinya, tetapi Divta hanya memberi jeda tidak lebih dari dua detik.


Apa-apaan dia ini. Aku tidak tahan lagi.


Raina menghujani dada Divta dengan pukulan. Tapi masih saja Divta tidak mau melepaskannya.


Aku tidak punya pilihan lain.


Akhirnya Raina menggigit bibir Divta. Barulah pemuda itu melepaskannya.


"Sayang, kenapa menggigit ku." rengek Divta menyeka bibirnya yang mengeluarkan darah akibat gigitan Raina.


Raina yang masih tersengal, pun tak menanggapi rengekan Divta. Jika saja dia tidak buta, dia pasti sudah beranjak pergi dan meninggalkan lelaki yang tak pernah merasa puas itu. Tapi sayangnya...


"Sudahlah sana pergi." ucapnya mengusir Divta sambil membuang muka ke arah lain.


"Kok ngambek ?" Divta meraup sisi wajah Raina agar menghadapnya.


"Aku cuma tidak ingin pergi jauh dari kamu. Aku pasti akan sangat merindukan mu." ucapnya ingin mencium Raina lagi.


"Jauhkan wajah mu dari ku." tukas Raina menghalau wajah Divta menggunakan telapak tangannya.


"Sayang..." Divta merengek manja. Kenapa Raina terlihat acuh dan tidak mencegahnya pergi. Apa gadis itu tidak merindukannya ? atau malah senang karena tidak ada dirinya ?


"Kamu senang kalau jauh dari ku ? atau jangan-jangan kamu mau ketemu sama si brengs*k Yudha itu di belakang ku ?!" tuduh Divta sambil memegang kedua bahu Raina dan mengguncangnya beberapa kali.


Kedua mata Raina memicing tajam. Raut wajahnya nampak suram dan nafasnya memburu. Mendengar nama Yudha di sebut, membuat telinganya terasa panas. Ingin marah, hingga tangannya mengepal kuat.


Divta yang menyadari itu, pun merasa kelabakan. Sepertinya dia salah bicara. Secepatnya dia memeluk gadis itu dan segera meminta maaf. Sungguh dia tidak bermaksud mencurigai atau menuduh Raina. Dia hanya kelepasan saja karena Raina mengusirnya tadi. Divta berusaha menjelaskan agar Raina tidak merajuk. Bisa gawat kalau gadisnya marah. Yang ada, dia tidak akan bisa fokus bekerja nanti


"Aku janji tidak akan menyebut namanya lagi." ucap Divta memohon.


Raina mendengus kecil, dia lalu membalas pelukan Divta dan menenggelamkan wajahnya di leher pemuda itu. Menghirup aroma parfumnya yang menenangkan. Hingga keinginan untuk mencium pun tak bisa ia tahan.


Divta tersenyum lega bercampur riang. Dia pun mendongakkan wajahnya agar Raina lebih leluasa menelusuri lehernya.


"Bagaimana kalau aku tidak usah pergi saja." ucapnya sambil memejamkan mata karena menikmati ciuman Raina yang terasa begitu lembut.


Seketika Raina melepas pelukan, dan mendorong Divta. Sepertinya, parfum pemuda itu memiliki daya tarik sehingga membuatnya terbuai oleh aromanya.


"Sudah sana." ucapnya mengusir sebab dia tidak ingin menjadi penghalang bagi Divta untuk bekerja.


"Tuh kan di usir lagi..."


"Cepat pergi atau aku pulang dan tidak akan tinggal disini lagi !" ancam Raina.


Setelah celotehan unfaedah yang Divta lontarkan, akhirnya Raina berhasil membujuk pemuda itu agar segera pergi. Bukan maksud untuk mengusir atau senang karena kepergian Divta, tetapi dia merasa tidak enak hati dengan Kairo dan Dealova yang menunggu di luar. Jika di pikir-pikir, sudah hampir satu jam dia dan Divta di dalam kamar. Dia takut, orang yang berada di luar akan berfikir yang tidak-tidak terhadapnya dan juga Divta.


**


"Ini semua salah mu !" sungut Kairo dengan raut wajah jengah.


"Kenapa kau tidak mengingatkan aku ?!" tuduh Divta melempar kesalahan pada Kairo.


"Kau bilang aku tidak mengingatkan mu ? cek ponselmu dan lihat berapa ratus kali aku menelpon mu agar kau cepat keluar karena pesawat kita akan berangkat !" ujar Kairo menyalahkan Divta. Karena kelakuan sahabatnya itu lah saat ini mereka berada di pesawat kelas ekonomi. Sangat sempit dan membuatnya gerah.


"Cih." desis Divta yang merasa lelah karena terus berdebat dengan Kairo. Dia pun membuang muka dan menghadap ke jendela, menatap awan putih yang berada tepat di depan matanya.


Di lain tempat, Yudha yang mengetahui Divta pergi ke luar kota selama dua hari, pun melompat girang. Itu artinya, dia bisa menemui Raina tanpa harus berhadapan dengan pemuda sangar itu. Tidak di pungkiri jika dirinya memang takut dan tak punya nyali untuk bertemu Divta. Karena selain kaya dan memiliki tahta, Divta juga memiliki karakter yang sulit untuk di hadapi dan yang pasti, bukan tandingannya.


"Baiklah, tidak peduli meskipun Raina sedang mengandung anak orang lain. Aku bisa menerimanya kok, aku akan menganggap anak itu sebagai anak ku juga." ujar Yudha semangat dan penuh keyakinan.


Berharap sesuatu yang tidak mungkin, membuat mu semakin terlihat seperti orang bodoh.