Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Bertemu sahabat



“Gadis itu adalah Raina Amanda. Dia yang dulu bekerja sebagai editor handal di perusahaan Divta. Dan pernah bersekolah di GIS.” ucap seorang lelaki berpostur tubuh tinggi dan tampan.


Pemuda itu mengakhiri kalimatnya dengan senyum semirik penuh kepuasan.


Arumi mengerutkan dahinya.


“Bukankah Raina Amanda adalah gadis yang ...” dia menghentikan ucapannya agar lelaki yang berada di hadapannya itu melanjutkannya.


Sebab dia takut salah menduga.


Lelaki itu tertawa terbahak-bahak,


“Ya, kau benar. Raina yang pernah kita bully dulu, hahaha.”


Arumi menarik sebelah sudut bibirnya dan ikut tertawa puas.


Rupanya dunia begitu sempit. Orang yang dulu pernah di bully-nya habis-habisan ternyata ada di hadapannya.


Akhirnya dia punya alasan untuk membuat Raina mundur. Dan tentunya, Divta akan menjadi miliknya lagi.


“Kerja bagus. Ku beri kau tugas baru. Cari kontak Raina. Aku sudah tidak sabar ingin memberinya hadiah besar.” tuturnya dengan senyuman menyeringai.


Lelaki itu merapatkan tubuhnya dengan Arumi.


“Berikan dulu bayaran ku yang kemarin.” dia menciumi leher wanita itu dengan sensual.


Membuat Arumi merasa geli.


Kemudian mereka pergi dari sana untuk menuju ke ruangan yang lebih private yang tak memungkinkan orang lain mengganggu mereka.


**


Di kantor, Divta terlihat sibuk menyelesaikan pekerjaan tanpa di temani Raina karena gadis itu kelelahan setelah menemaninya lembur semalam.


Jadi dia menyuruh Raina untuk istirahat saja di apartemen. Ketika dia sedang fokus membaca dokumen, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar sehingga Divta sejenak menghentikan aktivitasnya.


Pintu pun terbuka, dan menampakkan sosok lelaki muda yang usianya sebaya dengan Divta.


“Hei, what’s up bro ?” sapa laki-laki tersebut yang langsung masuk tanpa seizin Divta dan duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa serta menyilang sebelah kaki di lututnya.


“Siapa yang mengizinkan mu masuk ?” tanya Divta kembali membaca dokumen di tangannya.


“Sombong sekali dirimu. Baru beberapa bulan aku tak kesini dan memberi kabar, kau langsung marah padaku.” sungut lelaki itu.


“Cut the crap, Kai. Ada perlu apa kau kesini ? aku sedang sibuk.” tutur Divta malas meladeni lelaki yang di kenalnya sejak di sekolah menengah pertama bernama Kairo atau yang akrab di sapa Kai itu.


(Berhenti omong kosong)


Divta memiliki 3 orang sahabat bernama Kairo, Nero dan Arumi (dulu).


Ya, dulu Divta dan Arumi pernah bersahabat ketika duduk di bangku SMP.


Namun, Arumi yang sejak pertama bertemu sudah menyukai Divta, pun gadis itu berusaha keras untuk mengejar.


Karena dukungan dari Kairo dan Nero, dengan terpaksa Divta menerima Arumi walau sebenarnya dia tidak suka.


"Kau jangan seperti itu dong. Sudah lama kita tidak kumpul bersama. Oh iya kau masih pacaran dengan Rumi ?” tanya Kairo mulai kepo.


Divta menggelengkan kepalanya. Kemudian dia menutup dokumen. Dia beranjak dari kursi dan menghampiri Kairo kemudian duduk di sampingnya.


“Aku sudah memutuskan hubunganku dengannya.” jawabnya dengan rat wajah santai.


Kairo terbelalak. Dia pun memutar tubuhnya menghadap Divta. Dia cukup terkejut mendengar penuturan yang sahabatnya lontarkan.


“Yang benar saja ? memangnya kenapa kau memutuskan hubunganmu dengan Rumi ?” Kairo yang masih tak percaya, pun menatap Divta dengan tajam.


“Aku tidak suka dengan wanita yang menghianati ku. Aku juga tidak suka dengan wanita yang membohongi ku.” jawab Divta dengan santai.


“Memangnya dia bohong tentang apa ?” tanya Kairo lagi.


“Selingkuh di belakang ku. Hahaha dari dulu dia selalu menggoda dan merayuku supaya jadi pacarnya. Giliran sudah pacaran, dia malah selingkuh. Cih, menjijikan.” tutur Divta.


Kairo menganggukkan kepala.


“Jadi sekarang kau sedang single dong ?” tanyanya menggoda.


“Tidak, aku sudah punya pengganti yang lebih baik, dan sangat baik.” Divta menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil menengadahkan kepalanya.


Membayangkan sikap lucu dan polos sang kekasih.


“Benarkah ? siapa ? bagaimana orangnya ? apa dia lebih cantik dari Arumi ?” kejar Kairo dengan pertanyaannya yang memaksa. Membuat otak Divta yang sedang travelling terganggu.


Divta tertawa renyah. Bagaimana mungkin Raina yang polos dan suci bisa di bandingkan dengan Arumi yang seorang jlang ? jalan sana sini dengan lelaki yang berbeda. Cih, so disgusting.


“Tentu saja. Tapi satu hal yang harus kau tau. Kau tidak akan bertemu dengannya.” Divta berkata dengan serius.


Kairo mendesis,


"Cih, kenapa memangnya ?"


“Karena aku takut akan kau rebut.” Divta tertawa terbahak-bahak sembari menyentak bahu Kairo.


Sudah cukup lama mereka tidak bertemu dan saling bercanda satu sama lain.


Sungguh dia sangat merindukan moment ketika mereka masih polos dulu.


“Haish kau ini pelit sekali. Lagipula sejak kapan aku menyukai sesuatu yang habis kau pakai ?” cibir Kairo menundukkan kepalanya untuk mengambil gelas air mineral kemudian meminumnya.


“Apa kau lupa kalau dulu kau pernah meminjam celana dalam ku ?” Divta memicingkan sebelah matanya, menatap Kairo dengan tatapan mengejek.


“Loh, bukankah kau bilang itu celana dalam mu yang baru ?” dahi Kairo berkerut dalam. Pikirannya membawa dirinya ke masa beberapa tahun lalu saat dirinya tercebur ke dalam kolam renang di rumah Divta.


“Iya memang baru.” sejenak Divta menghentikan ucapannya.


“Baru ku pakai dan belum ku cuci.” Divta tertawa dengan begitu hebohnya hingga tubuhnya membungkuk karena tidak kuat menahan sakit di perutnya.


Sementara Kairo, dia mengumpat kasar atas pengakuan yang baru saja Divta lontarkan perihal celana dalam yang ternyata bekas di pakai. Sialan, begitu umpatnya.


“Aku mendapat kabar kalau Nero sudah kembali ke tanah air. Baru semalam dia sampai.” ucap Kairo seraya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak kecil dan pipih berisi batangan rokok.


Dia pun menyodorkan barang yang mengandung nikotin itu pada Divta setelah dia mengeluarkan satu batang.


Namun Divta menolak karena dia bukan seorang perokok seperti sahabatnya itu.


“Benarkah ? kalau begitu ayo kita kumpul.” ajak Divta dengan penuh semangat, yang langsung di setujui oleh Kairo. Kemudian, mereka menghubungi Nero untuk menentukan jadwal pertemuan.


"Mau sekalian agak Arumi, tidak ?" tanya Kairo seraya mengetikkan jarinya di ponsel pintar miliknya.


Divta berdecak kasar.


Raut wajah yang sebelumnya ceria seketika berubah masam.


Jangankan untuk bertemu, mendengar namanya saja Divta sudah muak.


"Kalau sampai kau mengajaknya, lebih baik aku tidak ikut." cetusnya lebih peringatan.


"Cih, begitu saja ngambek. Kekanakan sekali." cibir Kairo.


Jangan lupa tinggalkan sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗