
Divta terlihat sedang duduk di atas tempat tidur sembari menyandarkan tubuhnya di headboard dengan posisi sebelah kaki di tekuk dan lututnya di jadikan tumpuan siku. Malam ini Divta terbangun dari tidurnya karena dia bermimpi sesuatu yang menurutnya begitu aneh.
"Haish benar-benar mimpi yang tidak masuk akal." gerutu Divta seraya beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya menuju ke kamar Raina untuk minta pijat di bagian kejaksaan.
Seperti biasanya, Divta selalu tanpa permisi masuk ke dalam kamar Raina yang secara kebetulan pintu kamar asistennya itu tidak terkunci. Dia lalu melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat tidur Raina.
"Apa-apaan dia ini, kenapa tidurnya seperti ini ?" gumam Divta heran melihat Raina tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh. Bahkan jika di perhatikan, sepertinya posisi tidurnya tengkurap.
"Memangnya dia bisa bernafas ?" imbuh Divta. Dia lalu duduk di tepi tempat tidur dan mulai mengguncang tubuh Raina.
"Rai bangun." ucapnya.
"Iiih berisik." cetus Raina dengan suara aslinya, membuat Divta tersentak hingga menjauhkan tubuhnya dari tempat tidur itu. Dia mengorek telinganya menggunakan jari telunjuk untuk memastikan apakah pendengarannya masih berfungsi dengan baik atau tidak.
Perlahan, Divta menarik selimut yang menutupi tubuh seseorang yang terlelap itu. Mulai terlihat di bagian kepala hingga ke leher. Seketika kedua mata Divta mendelik terkejut saat mendapati ada seorang wanita tertidur di atas ranjang asistennya. Dengan sekali tarikan, selimut yang menutupi tubuh itu tersingkap hingga membuat di empunya terbangun.
"Siapa kau ?!!" teriak Divta dan Raina bersamaan.
"Kau !!" pekik Divta. Dia benar-benar tidak menyangka jika ternyata asistennya menyembunyikan seorang wanita di apartemennya. Beberapa detik kemudian, wajah Divta yang semula menampakkan raut wajah terkejut, kini berubah lebih terkejut lagi.
Sementara Raina yang menyadari kemana arah kedua mata Divta melirik pun seketika menarik selimut untuk menutupi dadanya.
"Mesum !!!!!!" teriak Raina seraya melempar bantal ke wajah Divta
Divta pun menangkap bantal tersebut dan segera memalingkan wajahnya sebab dia merasa kikuk sendiri. Pasalnya, wanita yang saat ini duduk di atas tempat tidur hanya menggunakan kaos putih, dan parahnya lagi wanita itu tidak memakai bra.
"Ja-jangan salahkan aku. A-aku pikir kau adalah Raihan, tapi aku tidak menyangka jika ternyata asisten ku itu sangat lancang karena membawa pacar kesini tanpa seizin ku." ucap Divta sangat gugup. Bagaimana tidak ? ini adalah pertama kalinya dia melihat ada wanita cantik di dalam apartemennya. Bahkan dia mendapat rezeki nomplok karena melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia lihat secara nyata kecuali dalam mimpinya.
"Lagipula kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk ?" tanya Raina yang sejujurnya tidak kebutuhan jawaban, karena sudah menjadi kebiasaan pemuda itu yang tidak pernah mengetuk pintu jika ingin masuk ke kamarnya.
"Kau tanyakan saja pada Raihan. Satu hal yang harus kau tau, aku bukan orang mesum. Hanya saja mataku mendapati pemandangan yang indah, itu lah mengapa ..."
"Stooop !!" teriak Raina menyela ucapan Divta hingga terhenti begitu saja. Rasanya dia ingin sekali masuk ke dalam lubang sumur untuk menyembunyikan dirinya yang sudah tidak suci lagi. Dia merasa begitu malu karena tubuhnya sudah di lihat oleh Divta.
Oh God, kenapa aku teledor sekali ? selalu saja aku lupa mengunci pintu. Sudahlah, setidaknya penyamaran ku tidak terbongkar. Jadi aku masih aman.
ucap Raina dalam hatinya, seraya dia menghela nafas lega.
"Siapa nama mu ?" tanya Divta kembali menatap Raina yang terlihat sedang menundukkan wajahnya.
"Amanda." jawab Raina tanpa menoleh. Dia menjawab pertanyaan Divta dengan jujur sebab Amanda adalah nama belakangnya.
"Apa benar kau pacarnya Raihan ?"
tanya Divta lagi dan hanya di angguki oleh Raina sebagai jawaban.
"Lalu kemana dia ?" imbuhnya.
Kurang ajar sekali lelaki itu, sudah membawa wanita cantik tanpa izin dan sekarang dia pergi tanpa izin ku juga ? cih, lihat saja kau Rai, kau sendiri yang memberiku kesempatan untuk merebut Amanda dari mu.
Divta tersenyum menyeringai. Dengan bodohnya dia ingin mengejar Amanda yang sebenarnya adalah Raihan, yang tak lain ialah asistennya sendiri.
"Ada apa anda datang kesini ?" tanya Raina ketus. Tatapan matanya pun terlihat sinis dan penuh rasa ketidaksukaan. Di karenakan suasana hatinya kini sedang dongkol.
Sebenarnya dia tau betul apa tujuan Divta datang ke kamarnya, yakni minta pijit kepala karena terbangun di tengah malam.
"Aku ingin tidur dan biasanya setiap kali aku mau tidur, Raihan memijat kepala ku. Karena codot itu sedang pergi, jadi kau yang harus menggantikannya untuk memijat ku." jawabnya tersenyum penuh maksud yang terselubung.
Raina menghela nafas panjang. Dalam hatinya dia menggerutu kesal karena di bilang codot oleh Divta. Rasanya dia ingin sekali menendang bokong pemuda itu hingga tersungkur.
"Tidak mau. Aku ini pacarnya Raihan. Kalau dia melihat ku memijat kepala mu dalam keadaan dirimu yang hanya memakai ****** *****, dia pasti akan salah paham padaku." ucapnya berkilah untuk menghindar dari suruhan Divta.
"Sebaiknya kau lakukan apa yang aku minta, atau akan ku pecat codot itu nanti. Apa kau mau punya pacar kere ?" desak Divta tersenyum sinis namun manis.
Sialan, bagaimana mungkin dia mengancam ingin memecat ku ? tidak bisa, aku tidak boleh melepas tambang emas ini. Sudahlah, mengalah saja.
"Kembalilah dulu ke kamar mu." cetus Raina mengerucutkan bibirnya kesal.
"Untuk apa aku harus duluan ? ayo sama-sama ke kamar ku." Divta memajukan langkahnya hendak menarik tangan Raina.
"Stop !! aku mau memakai baju." sentak Raina mengulurkan tangannya menghalau Divta agar tidak melangkah maju.
"Baiklah baiklah, cepat. Aku ingin tidur." sahut Divta mengalah. Dia pun berbalik badan untuk kembali ke kamarnya.
"Rai, kau jangan dendam ya kalau Amanda berpaling padaku. Sebab aku lebih tampan dari mu. Lagian, suruh siapa kau meninggalkan Amanda hanya berdua dengan ku di sini." gumam Divta tersenyum licik.
Setelah kurang lebih 3 menit, pintu kamar Divta terbuka dan menampakkan tubuh langsing Raina yang masuk ke dalam ruangan bernuansa putih abu-abu itu.
"Tutup pintunya." tutur Divta meminta Raina untuk menutup pintu kamarnya agar ketika Raihan datang, momennya bersama Amanda tidak terganggu, begitu pikirnya. Dan dengan bodohnya Raina menurut saja.
"Bisakah Anda memakai baju ? aku tidak bisa melihat tubuh lelaki yang bertelanjang seperti Anda." ucap Raina masih berdiri di dekat pintu.
"Apa Raihan tidak memberitahu mu bahwa aku tidak bisa tidur kalau memakai baju ? sudahlah cepat kemari." Divta menepuk tepi tempat tidurnya, untuk memberi kode agar Raina duduk di dekatnya.
Raina menatap Divta dengan tatapan curiga. Meski baru beberapa hari dia tinggal bersama pemuda itu, tapi dia sudah cukup mengenal watak dan perilakunya.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu ? Raihan juga selalu duduk disini kalau mau memijat ku. Ingatlah kalau pacarmu itu asistenku, karena dia tidak ada disini, jadi kau yang harus menggantikannya." Divta bermonolog serta mendesak Raina agar melakukan gerakan cepat.
Iya sih, tapi kan sekarang aku Raina, bukan Raihan.
gerutunya, kemudian dia berjalan mendekat ke tempat tidur dimana Divta merebahkan diri. Dia tau niat buluk pemuda itu adalah untuk menggodanya, tapi dia tidak memperdulikannya karena memijat kepala Divta memanglah tugasnya saat dia menjadi Raihan. Jadi dia memilih untuk menurut saja, toh dia sudah terbiasa melihat 95% bagian tubuh Divta.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 dan votes sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗