
Malik tersenyum tatkala Divta menanyakan siapa karyawan andalannya.
“Namanya Raina, pak. Dia adalah karyawan yang paling saya andalkan dan yang paling kami kagumi, pak. Khususnya saya, hehe.” jawab Malik bercanda yang malah membuat Divta mengepalkan kedua tangannya menahan kesal. Ternyata kekasihnya itu cukup populer sehingga di sukai banyak lelaki. Dia pun menggenggam erat tangan Raina. Berusaha untuk memadamkan api cemburu di hatinya.
Raina yang merasakan ketidaknyamanan Divta, pun berinisiatif membalas genggaman tangan pemuda itu. Berharap bisa menenangkan hati yang mungkin saja sedang membara.
“Jadi Raina adalah orang yang kau kagumi ?" tanya Divta dan di angguki oleh Malik seraya tersenyum simpul.
“Baik kalau begitu. Lupakan gadis itu mulai sekarang. Termasuk kalian, Dion dan Virgie. Berhenti mengagumi sesuatu yang tidak mungkin. Bekerjalah dengan giat. Jangan sampai membuat ku kesal.” imbuhnya kemudian berlalu begitu saja sembari menarik tangan Raina.
Malik, Dion dan Virgie seketika melongo mendengar penuturan yang Divta lontarkan. Sedangkan karyawan yang lain hanya bisa menatap ketiga lelaki bujang yang tengah kebingungan itu.
“Apa kalian menyinggung boss besar ?” tanya salah seorang rekan kerja yang sedari tadi ternganga sejak kedatangan Divta dan Raina.
Ketiga lelaki itu menggelengkan kepala bersamaan. Mereka juga tidak tau dimana letak kesalahan mereka sehingga Divta berubah ekspresi ketika Malik menyebut nama Raina. Ada hubungan apa gadis favorit mereka dengan bos besar ?
“Bai de wei, wanita yang di samping boss tadi siapa ?” tanya Virgie.
“Aku juga tidak tau. Mungkin itu asisten barunya. Atau mungkin kekasihnya.” jawab Malik sambil menatap punggung Divta dan Raina yang hendak memasuki lift.
“Tapi jika di lihat dari postur tubuh dan gaya rambutnya, gadis itu mirip seperti Rain.” sahut Dion yang diam-diam memperhatikan Raina sedari awal kedatangannya.
“Iya. Entah kenapa aku juga merasa bahwa yang tadi itu adalah Raina. Tapi aku tidak berani bertanya karena ada boss besar bersamanya.” karyawan lain ikut menimpali.
“Haish sudahlah. Terlepas itu Raina atau bukan, yang penting kalian ingat baik-baik perkataan boss tadi. Bekerjalah yang giat. Jangan sampai membuat beliau marah.” tukas Malik merasa tiba-tiba kepalanya berdenyut memikirkan prasangka dan praduga dari para bawahannya tentang Raina.
Di rumah Raihan
Setelah satu minggu Raihan duduk di kursi roda, kini pemuda itu sudah bisa berjalan meskipun menggunakan tongkat. Dan selama satu minggu pula Daisya menemani Raihan dengan tinggal bersama di rumah kecil nan sederhana itu.
Awalnya para warga sempat curiga dengan kehadiran Daisya dan mengira bahwa mereka adalah pasangan kumpul kebo, namun Daisya tak kehabisan akal untuk mengelabuhi para warga dengan mengaku sebagai kerabat jauh. Sehingga dia bisa hidup dengan tenang dan damai serta melakukan tanggung jawabnya terhadap Raihan.
Sebenarnya, Raihan sudah meminta Daisya untuk pergi saja sejak tiga hari lalu. Tetapi gadis itu tetap kekeuh ingin menemani Raihan sampai benar-benar pulih dan bisa kembali berjalan dengan normal.
Awalnya Raihan menolak, tetapi akhirnya pemuda itu luluh juga dengan rayuan yang Daisya lemparkan dengan mengatakan,
“Aku akan merasa sangat bersalah seumur hidupku jika kamu menolak ku untuk merawatmu sampai sembuh.” ujar Daisya saat itu sambil memasang raut wajah sedih dan memelas.
Hari ini, Raihan ingin masuk kuliah sebab sudah selama satu minggu dia absen. Dia pun di antarkan oleh Daisya menggunakan mobil.
“Aku bisa jalan sendiri, Sya.” protes Raihan saat Daisya ingin memapahnya.
“Kelas mu berada di lantai 2 kan ? aku akan mengantar kamu kesana. Sudahlah, kamu ini. Memangnya aku kurang apa sampai kamu menolak ku terus ?” sungut Daisya sedikit kesal. Pasalnya, hari ini dia sudah bersusah payah berdandan hanya agar tidak terlihat jelek di mata teman-teman Raihan. Dan agar tidak membuat pemuda itu malu karena dirinya. Tapi lagi-lagi Raihan menolaknya.
Raihan mendengus kasar dan menarik rambutnya frustasi. Bukan dia menolak karena Daisya kurang dalam hal fisik. Bisa di bilang gadis itu memiliki segalanya. Cantik, modis, anak orang kaya, dan cerdas. Justru dialah yang merasa insecure jika berada di dekat Daisya.
“Tapi kan aku sudah pakai kruk. Aku bisa menaiki tangga sendiri.”
“Menurutlah. Aku sudah rela bangun pagi dan berdandan secantik ini hanya demi dirimu.” bisiknya pelan.
Raihan mengerutkan dahinya bingung,
“Apa maksud mu ‘hanya demi diriku' ?” tanyanya. Menurutnya perkataan Daisya sangat ambigu.
Daisya mengerucutkan bibirnya sembari memicingkan kedua matanya menatap Raihan. Ingin sekali rasanya dia menggigit pipi pemuda itu hingga terluka. Ahh, tapi nanti aura gantengnya hilang hahaha, begitu kata hatinya.
“Sudahlah ayo.” dia menarik tangan Raihan dan meletakkannya di pundaknya. Kemudian dia memeluk pinggang pemuda itu dan mereka pun mulai melangkahkan kaki beriringan. Membuat para mahasiswa bersiul-siul ria menyaksikan adegan romantis yang sangat jarang terjadi di kampus mereka.
“Eh itu kan Raihan ? siapa gadis cantik di sebelahnya itu ?” tanya seorang mahasiswi yang tak lain ialah teman sekelas Raihan.
“Apa ?!” sentak mahasiswi lain yang terkejut saat melihat Raihan bersama Daisya.
“Siapa wanita jlang itu ? berani-beraninya dia merebut Raihan ku.” dia yang tidak terima melihat Raihan berduaan dengan Daisya, pun tergesa-gesa menghampiri keduanya.
“Dasar jlang ! Menjauh dari pacar ku !” dia menyentak pipi Daisya dengan begitu keras hingga menyita perhatian para mahasiswa lainnya.
“Grachella !!” seru Raihan emosi tatkala dirinya melihat Daisya di tampar oleh gadis bernama Grachella itu. Dia menyentuh dan mengusap pipi Daisya yang nampak merah akibat tamparan tersebut.
“Kau tidak apa-apa kan ?” tanyanya khawatir.
Wajah Daisya yang sebelumnya merona kini berubah merah padam. Dia lalu membalas apa yang dilakukan Grachella padanya. Satu tamparan panas yang membuat gadis itu terhempas ke rerumputan.
Raihan yang melihat itu pun tersentak kaget. Daisya, seorang gadis yang dikenalnya selama satu minggu ini sebagai gadis yang lemah lembut, ramah, tapi cerewet itu, ternyata memiliki kekuatan yang patut di acungi jempol.
“Berani sekali kau menampar ku, hah ?!” teriak Grachella berusaha beranjak bangun. Namun dengan ligatnya Daisya menjegal pergelangan kaki Grachella menggunakan kakinya yang jenjang sehingga gadis itu kembali terjatuh, membuat siapa pun yang melihatnya tertawa terbahak-bahak dan tak ada yang berniat membantu. Bahkan temannya yang tadi memberitahukan perihal Raihan dan Daisya pun hanya diam dan tidak berani membantu karena dia baru menyadari siapa gadis yang berada di samping Raihan itu.
“Aaauh.” pekik Grachella merintih menahan sakit di bokongnya karena terjatuh dua kali. Kedua tangannya pun mengepal. Emosinya makin meluap. Dia kemudian bangkit ingin menampar Daisya lagi. Namun, keinginannya belum terwujud karena seorang dosen tiba-tiba datang.
“Ada apa ini ribut-ribut ?” seru dosen tersebut sambil berjalan mendekat ke arah pusat kegaduhan.
“Eh nona Daisya.” sapanya dengan sopan.
Daisya melirik ke arah dosen,
“Tolong disiplin-kan mahasiswi Anda.” ucapnya dengan nada dingin nan membekukan. Dia lalu kembali memapah Raihan yang masih terbengong dan membawanya pergi dari sana.
^_^
Oke fix. Ada 7 orang sebut nama Suli Xia. Berarti 7 crazy update yaa. Coming soon. Kalo gitu Xia harus prepare dari sekarang nih. Makasih kakak² yang baik ❤️
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗