
Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin, dan membakar semangat baru di hari yang baru.
Terlihat Daisya sedang mendorong kursi roda yang di duduki oleh Raihan menuju ke sebuah rumah yang nampak kecil dan kumuh dari luar. Awalnya Daisya merasa sedikit enggan untuk masuk, tapi demi sebuah tanggung jawab maka dia harus bertahan untuk itu.
"Waaah, benar ini rumah kamu ?" tanya Daisya merasa takjub setelah pintu gerbang kecil itu terbuka. Tanaman hias tersusun indah di setiap sudut rumah, harum wangi bunga yang semerbak pun mencuat ke indera penciuman Daisya.
"Kalau seperti ini, aku pasti betah tinggal disini. Selama apapun juga aku mau." imbuh Daisya. Gadis itu berjalan meninggalkan Raihan untuk sejenak melihat lebih dekat lagi tanaman-tanaman yang nampak begitu segar dan wangi. Tanaman yang belum pernah dia lihat di manapun, bahkan ketika di luar negeri sekalipun.
Daisya terlihat begitu antusias dan bersemangat untuk mengabadikan momen dirinya di taman mini buatan Raihan dan Raina tersebut. Berbagai pose dia ambil untuk menambah kesan cantik di fotonya.
Raihan yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan,
"Dasar bocah." gumamnya lalu mendorong kursi rodanya menuju pintu rumah dan bergegas membukanya.
"Wah, ini benar-benar cantik. Aku pasti akan memberikan foto ini pada Raihan agar dia suka padaku." ucap Daisya sembari menggeser dan mengecek foto-foto yang baru saja dia ambil.
"Eh sebentar sebentar, nama mereka sama sama Raihan. Kebetulan sekali sih, wajah mereka juga sedikit mirip, tapi tetap saja Raihan yang di apartemen itu lebih tampan dan lebih manis karena dia punya kumis tipis. Aaaaah jadi kangen..." Daisya memeluk ponselnya di dada seraya membayangkan jika yang ada di pelukannya adalah Raina (Raihan).
"Mau berapa lama lagi kamu memeluk ponsel ?" seru Raihan di depan pintu, dia ingin sekali masuk ke rumah namun tidak bisa karena di depan pintu ada dua buah tangga.
"Oh siap boss." sahut Daisya berlari menghampiri Raihan dan membantunya masuk ke dalam rumah.
"Waaah walaupun kecil tapi rumah mu ini bagus sekali. Eh itu pacar mu ?" tanya Daisya ketika kedua matanya menangkap sebuah foto yang besar terpajang di dinding ruang tamu.
"Dia kakak ku, namanya Raina." jawab Raihan yang juga menatap foto tersebut, tiba-tiba saja dia merasa rindu dengan sang kakak.
Daisya menganggukkan kepala kemudian melangkah untuk lebih dekat lagi.
"Kakak mu cantik sekali, aku sampai iri melihat wajahnya." ucapnya merasa kagum dengan Raina yang sedang tersenyum sembari memeluk Raihan.
"Oh iya, kamu mau ku buatkan sarapan ? kata kakak ku, masakan ku lumayan enak loh." Daisya kembali menghampiri Raihan dan duduk berjongkok seraya kedua tangannya bertumpu di atas lutut pemuda itu, dia menengadahkan wajahnya menatap Raihan yang menurutnya lumayan tampan.
"Kita tidak sedekat itu, jadi kamu tidak perlu duduk dengan posisi seperti ini." ucap Raihan merasa tidak enak hati melihat ada wanita yang duduk berlutut di hadapannya.
Daisya tersenyum hangat kemudian dia beranjak berdiri,
"Baiklah, jadi kamu mau ku buatkan sarapan atau tidak ?" tanyanya.
Raihan mengangguk pelan,
"Tolong buatkan aku roti panggang di oles selai coklat saja. Jangan lupa susu hangatnya juga ya." pintanya.
"Siap laksanakan." suaranya terdengar begitu lantang, setelah itu dia pun menuju ke dapur guna membuatkan sarapan pagi untuk Raihan.
"Eh kenapa kamu menuju ke kamar ku ?" teriak Raihan saat melihat Daisya ingin masuk ke dalam kamarnya.
Seketika Daisya menghentikan langkahnya dan berbalik badan,
"Oh salah ya ? lalu dimana dapurnya ?"
Raihan mendengus kecil, kemudian salah satu tangannya mengarah dan menunjuk sebuah ruangan kecil di balik lemari buku,
"Itu di sana." cetusnya.
Dasar sok tau. Raihan menggerutu pelan.
"Oh maaf aku tidak melihatnya." Daisya segera menuju ke arah yang di tunjuk oleh Raihan.
Di waktu yang sama, Divta baru saja membuka kedua matanya saat sinar matahari menerpa kulit wajahnya melalui sela-sela ventilasi jendela di kamarnya. Dia melihat ke arah sofa lebar tempat Raina tidur semalam, namun dia tidak mendapati asistennya di sana.
"Dia sedang mandi ?" gumamnya ketika dia mendengar suara percikan air shower dari dalam kamar mandi.
Sambil menunggu Raina selesai membersihkan diri, dia pun memilih untuk melanjutkan kembali tidurnya sebab waktu masih menunjukan pukul setengah 8 pagi.
Sementara Raina, dia sedang mengusap tubuhnya dengan body wash dengan harum aromaterapi yang begitu menenangkan. Rasanya dia ingin berlama-lama di kamar mandi sebab wangi dari sabun itu sangat merelaksasi pikiran dan juga tubuhnya.
Satu jam berlalu, Raina masih betah di kamar mandi, bahkan sekarang dia berendam di dalam bathtub yang terisi air dan busa yang menutupi seluruh tubuhnya. Ini adalah kali pertama dia berendam, sebab di rumahnya tidak ada bathtub, di apartemen Divta juga tidak ada. Jadi wajar saja kalau dia sedikit katrok atau ndeso, dan merasa rugi jika tidak mencobanya.
"Ya ampun, nikmat sekali berendam disini." gumamnya seraya menutup mata.
"Raihan, kenapa lama sekali mandinya ? cepatlah, gantian !! aku juga mau mandi !" teriak Divta dari luar kamar mandi sambil menggedor-gedor pintu, membuat Raina terhenyak dan dengan segera dia menyelesaikan ritual mandinya.
"Saya sedang handukan tuan !" sahut Raina buru-buru beranjak dari bathtub dan bergegas menyeka tubuhnya dengan handuk, setelah itu dia pun mengenakan pakaian yang sudah dia siapkan.
Divta mendengus kasar, bukan karena dia kesal terhadap Raina tapi karena pikiran mesumnya mulai berkelana membayangkan Raina yang sedang berpose di depan kaca sambil memakai baju.
"Shit !!" umpatnya kesal.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗