Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Reuni



Suara musik yang mengalun terdengar begitu kontras dengan suara gelak tawa dari tiga orang lelaki yang tengah mengadakan reuni di sebuah cafe yang jaraknya tak jauh dari lokasi perusahaan UNTV.


Ketiga lelaki itu tak lain ialah Divta, Kairo dan Nero. Wajah mereka terlihat sangat bercahaya di bawah pantulan sinar lampu yang meneranginya.


Ya selain karena efek lampu, aura wajah mereka memang nampak terang bagaikan lampu pijar.


Bagaimana tidak ? mereka tampan rupawan, menawan dan mapan. Siapapun tak bisa menolak pesona mereka.


Termasuk waitress yang baru saja mengantarkan minuman ke meja mereka. Wanita itu sampai tersungkur saking dia mengagumi sosok 3 lelaki tampan itu.


“Kau tidak apa-apakan ?” tanya Kairo yang terlihat sangat khawatir. Dia pun beranjak dari kursi untuk menbantunya.


“Ah i- ya kak. Saya baik-baik saja. Terimakasih.” jawabnya yang langsung bergegas pergi dari sana karena dia takut meninggoy jika terus menatap Kairo. Membuat ketiga lelaki itu tersenyum kikuk dan heran.


“Hai, kesini !!” seru Nero tiba-tiba sambil melambaikan tangannya ke arah pintu masuk. Sontak saja Divta dan Kairo bersama-sama menoleh ke arah dimana Nero menatap.


Divta memicingkan kedua matanya dan beralih menatap Nero dengan tatapan tajam. Bukankah tadi dia sudah berkata untuk jangan mengundang orang lain lagi ?


“Kenapa kau mengajaknya kemari ?” tanyanya dengan nada dingin yang seketika membekukan Kairo yang duduk di samping pemuda itu.


“Bukankah kita bersahabat ? tidak lengkap kalau tidak ada Rumi.” jawab Nero santai.


Dia pun menggeser kursi di sebelahnya dan mempersilahkan Arumi yang baru datang agar segera duduk.


“Kenapa ? apa kehadiran ku tidak di terima disini ?” tanya Arumi dengan mimik wajah yang melas.


Berharap bisa mendapat perhatian dari Divta. Tapi sayangnya, lelakinya itu malah menatapnya jijik. Sial, umpat Arumi mengepalkan tangannya di bawah meja.


Nero memegang pundak Arumi,


“Rumi, siapa yang tidak menerima kehadiran mu ? kami semua welcome padamu. Bukankah kau juga bagian dari kami ? iya kan Div, Kai ?” dia meminta pendapat pada kedua sahabatnya untuk memperbaiki mood Arumi.


“Iya, tentu saja.” sahut Kairo melirik Divta melalui ekor matanya.


Dia tidak tau harus berpihak pada siapa. Divta dan Arumi sama-sama sahabatnya. Tetapi setelah mendengar curhatan Divta tadi, dia jadi sedikit canggung jika harus mengobrol santai seperti dulu.


“Ya sudah lah, pesan minuman dulu untuk Rumi.” Nero mengangkat tangannya dan memanggil pelayan cafe.


___


Gelak tawa yang tadi menggelegar seketika lenyap setelah kedatangan Arumi.


Tiada lagi canda tawa di antara mereka kecuali Nero yang terus saja mengoceh tidak jelas. Menceritakan pengalamannya yang belum lama ini bercinta dengan seorang wanita cantik.


Dia juga bercerita tentang kehidupannya ketika di luar negeri.


“Hei, kenapa kalian tidak merespon ku ?” sentaknya kesal saat celotehannya tidak di tanggapi oleh Divta dan Kairo.


“Cerita menjijikan seperti itu harus ku respon bagaimana ?” jawab Divta ketus.


Pemuda itu memang merasa jijik mendengar cerita Nero yang katanya habis bercinta dengan wanita cantik.


Meskipun hati kecilnya sangat menginginkan hal itu tetapi dia tidak akan melakukannya sebelum dia dan Raina menikah nanti.


“Haish kau pernah hidup di luar negeri kan ? hal kecil seperti itu sudah tidak asing lagi. Bahkan aku pernah melakukannya dengan teman sekelas ku.” celetuk Nero dengan bangga.


Arumi mencubit paha Nero yang langsung membuat di empunya tersenyum menggoda,


"Kenapa Rumi, apa kau ingin sekarang ? aku tidak keberatan jika kita harus menyewa hotel dekat sini." ucapnya dengan nada yang sensual.


"Bermimpi lah sampai bulu ketiak mu lurus !" tukasnya dengan ketus.


Kairo menggelengkan kepalanya.


Dia tak habis pikir jika dia memiliki sahabat seperti Nero. Dia berpikir setelah pulang dari luar negeri, sahabatnya itu akan bertaubat. Tapi ternyata malah semakin parah.


“Cepat lagi kau taubat Nero. Jangan suka main wanita.” cetusnya lalu menyeruput jus mangga untuk mendinginkan hatinya yang sedikit kesal.


“Ck, kau ini. Tiidak asik sekali sih.” decak Nero.


“Oh iya, kau kenapa diam diam baek seperti ayam sayur ? biasanya kau akan bergelayut manja pada raja mu.” pungkasnya mencibir Arumi yang sedari tadi hanya diam sambil meneguk bir yang belum lama di antar oleh pelayan.


Arumi menggelengkan kepalanya pelan.


Dia terlihat lesu sembari terus memperhatikan Divta yang sejak dari kedatangannya tidak pernah menatapnya.


“Eh, sebentar aku ke toilet dulu.” pamitnya sambil beranjak dari kursi.


Tapi saat dia hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba saja dia tersandung sesuatu sehingga dia terhuyung dan jatuh ke pelukan Divta.


Arumi tersenyum menggoda meskipun Divta membalasnya dengan raut wajah datar.


“Mau sampai kapan kau seperti ini ?” aura pemuda itu nampak menyeramkan bahkan tatapan matanya begitu mematikan.


“Ah maaf maaf aku tidak sengaja.” Arumi pun bergegas bangun dari tubuh Divta dan cepat-cepat berlalu dari sana.


Sudut bibirnya terus menyunggingkan senyuman licik. Sungguh hatinya merasa puas saat ini.


Kairo dan Nero melempar pandangan ke arah Divta dan Arumi bergantian,


“Kau ini kenapa ketus sekali ?” tanya mereka bersamaan.


Divta berdecak kasar. Dia meraih gelas berisi capuccino dan segera meneguknya hingga habis.


“Kenapa ya ?” tanya dia lagi.


“Bisakah kau menjawab pertanyaan bukan dengan pertanyaan ?” ucap Nero ketus.


Sementara Kairo yang sudah tau letak akar permasalahan antara Divta dan Arumi, pun memilih diam.


Dia tidak mau ikut campur pada masalah internal seperti itu. Karena meskipun mereka bersahabat, bukan berarti dia bisa mencampuri segala urusan.


Divta memutar bola matanya malas.


Dia paling benci jika ditanya sesuatu yang berkaitan dengan masalah pribadinya. Kemudian dia beranjak dari kursi dan pamit untuk pulang. Reuni yang dipikirnya akan seru dan menyenangkan, malah berakhir membosankan karena kehadiran wanita yang membuatnya muak.


“Hei ! Divta kau mau kemana ?!” seru Nero memanggil. Namun panggilannya tak di indahkan oleh Divta. Membuatnya malu karena di lihat oleh pengunjung lain.


“Shit, how dare he ignore me !” umpatnya kesal seraya memasang raut wajah masam.


(Sialan, beraninya dia cuekin aku)


“Dia kenapa sih ?” desisnya kemudian pada Kairo, namun sahabatnya itu hanya mengangkat bahu acuh. Sontak saja hal itu membuatnya semakin kesal dan melampiaskan kekesalannya pada Kairo dengan memiting leher sahabatnya itu.


Jangan lupa tinggalkan sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗