Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Masuk rumah sakit



“Kenapa kau pergi tanpa memberi ku kabar ? bahkan aku tidak bisa menghubungi mu.” cetus Divta seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Pemuda itu menyuarakan kekesalannya yang selama beberapa tahun belakangan ini dia pendam. Dia ingin marah melampiaskan, tapi dia tidak sedang sendiri. Kalau di paksakan, orang-orang pasti akan mengira bahwa dirinya gila.


Arumi mengerucutkan bibirnya, dia kembali memeluk lengan Divta dan menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu.


“Maafkan aku ya, aku hanya ingin fokus mengejar cita-cita ku tanpa ada yang menggangu konsentrasi ku.” jawab Arumi dengan mimik wajah manja. Arumi memang selalu menggunakan ekspresi seperti itu setiap kali Divta marah padanya, dan biasanya pemuda itu akan selalu luluh dan melupakan kekesalan dan beralih memanjakannya.


Divta menepis tangan Arumi dari lengannya, dulu dia memang cinta mati pada kekasihnya itu, tetapi sejak Arumi pergi meninggalkannya, rasa kecewa pun membuat perasaan cintanya perlahan memudar hingga akhirnya dia bertemu dengan Raina si asisten jadi-jadiannya itu.


“Jadi kau pikir aku pengganggu ? aku perusuh, begitu maksudmu ?” cetus Divta tidak terima.


“Bukan begitu maksud ku sayang.” ucap Arumi menyanggah tuduhan Divta. Dia sama sekali tidak bermaksud menganggap Divta sebagai seorang pengganggu.


“Aku hanya ingin fokus belajar saja agar aku bisa dengan cepat menyelesaikan study ku dan kembali padamu. Kau tau kan, kalau ayah ku itu sangat ingin aku menjadi designer terkenal.” imbuh Arumi. Dia mulai merasa takut melihat ekspresi wajah Divta yang nampak marah terhadapnya, dia pun meraih tangan Divta dan menggenggamnya dengan erat, namun lagi-lagi Divta menepis tangannya bahkan kali ini dengan kasar.


“Itu bukan alasan. Aku juga pernah kuliah di luar negeri tapi aku selalu meluangkan waktu untuk menghubungi mu. Aku juga sibuk dan sangat sibuk tetapi aku tidak pernah melupakan mu.” Divta beranjak dari kursi dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.


“Aku masih ada banyak pekerjaan. Permisi.” dia berlalu pergi, mengabaikan Arumi yang berteriak-teriak memanggil namanya. Dia tidak peduli tentang pendapat para pengunjung lain yang menyebut dirinya pria tak bertanggung jawab sebab hanya dirinya dan Tuhan-lah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Sial sial sial !!” umpat Arumi menarik rambutnya frustasi.


“Aku tidak akan mengizinkanmu pergi dari ku Divta. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku dan aku akan pastikan itu.” Arumi beranjak dari kursinya dan pergi dari restoran itu.


3 hari kemudian


“Kalau begitu pertemuan hari ini sampai disini dulu ya, aku akan membahas lebih detailnya dengan kalian nanti di pertemuan berikutnya.” ucap Divta mengakhiri meeting antar dewan direksi yang sempat tertunda beberapa waktu lalu.


“Baik pak, kalau begitu kami mohon undur diri.” salah satu dewan direksi berpamitan mewakili rekan-rekannya yang lain, kemudian mereka pun beranjak dari kursi dan meninggalkan ruangan meeting.


“Tuan, apa ada hal lain yang ingin anda bicarakan dengan saya ?” tanya Raina seraya menatap tangannya yang tiba-tiba saja di tahan oleh Divta. Tangan pemuda itu terasa begitu panas saat menyentuh permukaan kulitnya, membuat dirinya merasa sedikit khawatir. Dia lalu memperhatikan wajah Divta yang perlahan memucat.


“Tuan, apa anda sakit ?” dia meyentuh dahi Divta dengan telapak tangannya. Dan benar saja, suhu tubuh pemuda itu sangat tinggi.


“Bawa aku pulang.” suara Divta terdengar begitu lemah, sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri. Beruntung Raina buru-buru menangkapnya, jika tidak, mungkin Divta akan tersungkur ke lantai yang terbuat dari marmer berwarna abu-abu itu.


“Tuan !!” pekik Raina merasa panik, dia memeluk Divta dengan begitu erat. Meskipun Divta sudah menggunakan pakaian berlapis tetapi dia masih bisa merasakan hangat tubuh dari pemuda itu. Dia pun berteriak meminta bantuan, tapi sayang suaranya terbuang sia-sia karena ruangan tersebut di lengkapi dengan alat kedap suara sehingga tidak seorangpun yang berlalu lalang di luar mendengar teriakannya.


Kemudian Raina menyandarkan tubuh Divta di kursi sementara dirinya keluar untuk mencari pertolongan.


Seketika para karyawan yang mendengarnya pun terkejut. Tiga orang pria bergegas masuk ke dalam ruangan dimana Divta tak sadarkan diri, kemudian mereka membopong tubuh Divta dan membawanya ke rumah sakit.


Selama di perjalanan, Raina tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Divta. Dia mengusap dahi Divta sebab keringat yang mengucur deras.


“Maaf tuan Raihan, sebaiknya jas tuan Divta di buka saja supaya kadar keringatnya berkurang.” ucap seorang sopir yang tak sengaja melihat Raina menyeka keringat di dahi Divta melalui kaca spion yang ada di atas kepalanya.


Raina pun menuruti usulan dari pak sopir, dia bergegas membuka jas Divta dan kini pemuda itu hanya mengenakan kemeja yang nampak basah kuyup.


“Oh gosh, kenapa bisa seperti ini ? padahal tadi pagi dia terlihat baik-baik saja. Tapi setelah meeting tiba-tiba saja dia jatuh pingsan. Ada apa sebenarnya ?” gumamnya merasa bingung dengan kondisi Divta yang berubah drastis.


Sesampainya di rumah sakit, Divta segera di bawa ke ruang UGD dan dengan penanganan dokter khusus yang biasa merawat keluarga Divta ketika sedang sakit. Dokter itu bernama Dino. Dokter muda yang tampan dan terkenal akan kecerdasan dan menjadikannya sebagai seorang dokter muda yang hebat berprestasi.


"Dokter, tolong selamatkan tuan saya." cecar Raina dengan penuh rasa panik yang menggebu di relung hatinya. Meskipun terkadang dia kesal dan risih dengan sikap dan perilaku Divta, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia sangat mengkhawatirkannya. Bukan karena dia suka atau cinta, melainkan karena dia takut kehilangan pekerjaannya yang berharga.


"Baik, saya pasti akan berusaha semampu dan sebisa saya." jawab Dino. Kemudian dia menutup pintu ruang UGD karena dia akan segera memberikan penanganan pada Divta.


"Ya Allah, tolong sembuhkan tuan Divta." Raina mengucap doa dalam hatinya dengan tulus.


Setelah hampir 10 menit, akhirnya dokter Dino pun keluar dari ruang dimana Divta di tangani tadi.


"Bagaimana keadaan tuan Divta, Dok ?" tanya Raina bergegas bangun dari kursi dan mencengkram lengan Dino, dia sangat mengharapkan kabar baik dari dokter muda itu.


Dino tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa pada Divta, kemudian dia mengatakan bahwa Divta baik-baik saja. Hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup. Dino juga menyarankan agar Divta jangan dulu bekerja selama kurang lebih satu Minggu, dan selama masa pemulihan, Divta tidak di perbolehkan stres atau pun banyak pikiran.


"Jadi intinya, tuan Divta harus rileks begitu ?" tanya Raina menanyakan inti dari penjelasan yang Dino lontarkan. Pasalnya ucapan Dino sangat berbelit-belit menurutnya.


"Ya hahaha, begitu maksud saya. Layani tuan Divta dengan baik ya, kalau bisa kau carikan dia kekasih agar stresnya hilang." sahut Dino sambil tertawa kecil.


"Mana bisa seperti itu ? memang apa hubungannya pacar dengan kesehatannya ?" protes Raina kesal dengan saran Dino.


"Haha saya hanya bercanda. Ya sudah saya permisi karena masih ada pasien yang harus saya tangani." Dino pamit undur diri dari hadapan Raina.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗