
Pagi adalah waktu yang istimewa bagi manusia. Karena pada saat itu, segala aktivitas kita dimulai. Manusia menjalankan apa yang telah direncanakan, serta mewujudkan apa yang diharapkan.
Waktu pagi haruslah kita isi dengan energi yang positif. Karena dari energi positif ini akan mendatangkan hal-hal yang positif pula.
Namun tak sedikit dari kita yang enggan bertemu pagi. Malas untuk bangun dan memulai hari. Masih ingin rebahan, dan tak ingin mandi.
Hal tersebut adalah energi negatif yang harus segera dihilangkan. Karena jika dimanjakan akan membuat hari kita menjadi berantakan. Tak ingin begitu bukan?
Daisya berdecak kecil,
"Sudahlah Rai jangan pidato di pagi hari seperti ini." dia menarik lagi selimut untuk menutupi tubuhnya. Langit masih belum menampakkan sinar cahaya matahari. Lalu untuk apa bangun ? begitu pikirnya.
Raihan mendengus kasar, lalu dia menyingkap selimut yang menutupi tubuh Daisya kemudian melipatnya.
"Kalau kamu tidak mau bangun, aku akan kebelakang untuk mengambil air dan menyiram mu." ucapnya penuh peringatan.
Daisya mengerucutkan bibirnya dan bergegas duduk. Dia tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalau Raihan benar-benar melakukan apa yang di katakan tadi, yakni menyiram dirinya ? oh my, sudah pasti kasur dan bantal basah. Dan yang terpenting bajunya pun akan basah, dan kalau sudah basah, maka dalamannya pasti akan terlihat. Ouuh, malu...
"Iya iya aku bangun." dia turun dari tempat tidur dan langsung keluar dari kamar untuk menuju ke kamar mandi. Dia paling tidak bisa jika sudah bangun dari tidur, tidak langsung mandi. Karena dia tidak suka ada aroma-aroma tidak sedap bersumber darinya. Apalagi, dia sekarang tinggal bersama laki-laki yang di sukainya. Jadi dia harus menjaga tubuhnya agar tetap harum semerbak wangi bunga.
Raihan menggeleng pelan. Melihat tingkah Daisya yang kekanak-kanakan itu membuatnya tak bisa menahan senyumnya.
"Ah, kakak sedang apa ya ?" gumamnya.
Dia selalu teringat akan Raina dan selalu berusaha untuk menghubungi kakaknya itu setiap hari. Tapi terkadang Raina tidak menjawab teleponnya. Mungkin karena sibuk bekerja, begitu pikirnya.
Satu jam kemudian, Daisya keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat segar dan cantik alami. Handuk kecil menggulung di rambutnya yang basah serta bathrobe putih masih membalut di tubuhnya yang putih bersih. Saat dia hendak mencari baju untuk di kenakan, tiba-tiba suara ponselnya berdering. Menandakan jika ada seseorang yang menghubunginya. Daisya lalu meraih benda pipih tersebut dan menempelkannya di daun telinganya.
"Iya kak Div ?" jawabnya pada seseorang yang menelponnya, yakni Divta.
"Kau itu dimana ? apa luka teman mu belum sembuh ? kenapa tidak pulang ? dan kenapa meminta papa untuk memindahkan kuliahmu ?" seru Divta di seberang sana dengan suaranya yang tegas.
Daisya tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya seakan Divta sedang berada di hadapannya.
"Aku masih berada di rumah teman ku kak. Dia masih dalam masa pemulihan. Kau tau lah, kalau tulang patah itu proses penyembuhannya lumayan lama." ucapnya berbohong pada Divta.
"Aku mau minta pindah karena aku takut kuliah di luar kak. Kau tau kan, budaya luar negeri itu tidak baik untuk ku. Kemarin saja temanku mengajak ku untuk one night stand." lanjutnya berbohong lagi.
"Apa ?!" teriak Divta kaget.
"Tapi kau menolaknya kan ? kau tidak melakukannya kan ? awas saja kalau sampai aku tau kau berbuat hal kotor seperti itu, akan ku gantung kau di pohon beringin !!" hardiknya seraya mengancam.
Daisya tertawa tanpa suara. Dia berharap semoga Divta mendukung keinginannya yang ingin kuliah di universitas yang sama dengan Raihan. Dia yakin, alasannya itu mampu membuat Divta membujuk sang ayah yang tidak mengizinkannya untuk pindah kuliah.
"Tidak kak. Untuk saat ini aku masih bisa menahan diri untuk tidak tergoda. Tapi aku tidak tau kalau besok dan besoknya bagaimana. Kau tau sendiri, disana tidak ada keluarga yang bisa mengawasi ku." ucap Daisya pura pura sedih.
"Baguslah. Kau tenang saja, aku akan mempekerjakan dua bodyguard untuk menjagamu di sana."
#unexpected.answer
Daisya bernafas jengah.
Terdengar suara hembusan nafas kasar dari Divta. Sepertinya pemuda itu merasa terbebani dengan perkataan Daisya yang tidak ingin lagi kuliah di luar negeri.
"Baiklah, nanti kakak akan bicara lagi sama papa." ucapnya menyerah.
"Yesss ! thank you so much my handsome brother." Daisya memberikan sebuah kecupan manis di ponselnya untuk mewakilinya mencium Divta.
"I love you." imbuhnya dengan penuh ceria.
"Ya ya. Ingat pesan kakak, kalau teman mu sudah sembuh, cepatlah kembali ke rumah utama." tutur Divta langsung mematikan sambungan telepon tanpa mendengar celotehan Daisya yang menggombali dirinya.
"Dasar gadis nakal. Beraninya dia membohongiku. Kau pikir aku tidak tau kalau kau tinggal bersama Raihan ?" gumam Divta menatap layar ponselnya yang masih menampakkan foto profil Daisya di akun WA pribadinya.
Setelah puas menatap foto sang adik, Divta beralih menghubungi Raina. Kemarin dia tidak sempat memberi kabar sebab dia terlalu di sibukkan dengan pekerjaan.
"Eh kok tidak aktif ya ?" decaknya bingung. Kemudian dia menghubungi Dealova yang dia minta untuk menemani Raina dan menginap selama dia pergi.
"Halo De, dimana Raina ? kenapa nomornya tidak aktif ?" tanyanya langsung ketika Dealova sudah menjawab teleponnya.
"Dia masih tidur, karena semalam dia tidak bisa tertidur." sahut Dealova di seberang sana. Sebenarnya gadis itu sangat ingin sekali menceritakan perihal kedatangan Yudha. Tapi dia takut hal itu malah akan membuat Divta panik dan khawatir lalu memutuskan untuk pulang dan mengabaikan pekerjaannya.
Seketika raut wajah Divta lesu. Padahal semalam dia ingin menelpon, tapi takut Raina sudah tidur. Itu sebabnya dia menunggu sampai waktu pagi. Dan ketika waktu sudah pagi, Raina malah tidur karena semalam tidak bisa tidur.
"Ya Tuhan, aku kangen sekali dengan Raina." dia tertunduk lesu. Semangatnya untuk bekerja seolah hilang terbawa angin. Rasa rindu benar-benar menyiksa dirinya.
"Atau mau aku bangunkan saja ?" tanya Dealova.
"Eh jangan jangan. Sudah biarkan saja dia istirahat. Lagipula nanti malam aku akan pulang." ucap Divta mencegah Dealova mengganggu waktu istirahat Raina.
"Ya sudah kalau begitu, aku tutup dulu ya telponnya."
"Iya." jawab Divta langsung menghempaskan ponselnya ke tempat tidur, begitupun dengan tubuhnya.
"Haaaah aku sangat merindukan mu sayang ku......" dia meraih guling dan memeluknya dengan begitu erat sambil membayangkan bahwa itu adalah Raina.
.
.
.
Epilog
Dealova menatap Raina yang baru saja terlelap. Semalaman gadis itu tidak bisa tidur karena masih merasakan takut mengingat Yudha yang hampir menculiknya.
"Raina, sungguh aku nyaman bisa berteman dengan mu. Cepatlah sembuh. Aku akan membantu mencarikan donor mata untuk mu." ucapnya dengan tulus sambil mengusap punggung tangan Raina.
Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗