
Divta baru saja menyelesaikan ritual mandinya, dan dia keluar dengan hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya, sementara tangannya asik menyeka rambutnya yang basah dengan handuk lain yang menggantung di leher.
"Ck kenapa Raihan belum menyiapkan baju ku !" sentaknya kesal. Dia melangkah kakinya keluar menuju kamar Raina. Tanpa permisi dia membuka pintu kamar tersebut.
"Aaaaah." pekik Raina terkejut saat melihat Divta tiba-tiba datang dan masuk begitu memberi salam.
Divta mengerutkan dahi seraya mencebikkan bibirnya,
"Kau ini laki-laki tapi kenapa setiap teriak suara mu seperti perempuan ? jangan-jangan kau ..." ucapan Divta terhenti, dia menelisik Raina dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Banci ?" imbuh Divta.
Raina yang sebelumnya tegang pun kini mulai bernafas lega, dia berfikir Divta mencurigainya sebagai seorang wanita, tapi ternyata banci. Eh sebentar sebentar, banci ?
Raina membulatkan mata sempurna, raut wajah yang tadinya gugup kini berubah sangar.
"Apa maksud tuan mengatai saya banci ? saya ini lelaki tulen, ting ting dan 100% murni." bantah Raina tidak terima.
"Lalu kenapa suara teriakan mu seperti perempuan ?" tanya Divta masih dengan rasa curiga.
"Dulu saat saya masih di dalam kandungan, ibu saja berharap memiliki anak perempuan, tapi setelah lahir ternyata seorang laki-laki. Itu sebabnya ketika teriak suara saya seperti perempuan." sahut Raina berkilah. Sungguh dia ingin sekali memukul kepalanya dengan palu guna mengutuk kebodohannya yang lagi lagi berteriak.
"Oh, tapi memang kau itu seperti perempuan sih. Jika kumis mu kau cukur dan kau memakai wig rambut panjang, siapa yang mengenali mu kalau sebenarnya kau adalah seorang laki-laki." sejenak Divta menghentikan ucapannya.
"Kenapa kau menutupi tubuh mu ? memangnya apa yang spesial ?" imbuh Divta.
Kedua mata Raina kembali membulat dan wajahnya semakin terlihat gugup. Dia lupa kalau dia baru saja menanggalkan pakaian dan juga korsetnya karena dia ingin membersihkan diri. Beruntung dia sigap menarik kemeja untuk menutupi tubuhnya ketika pintu kamarnya terbuka.
"Tentu saja karena saya malu." jawab Raina berusaha keras menutupi ke rasa gugupnya.
"Cih, kita sama-sama lelaki asal kau tau. Apa yang kau punya aku juga punya, bentuknya pun sama dan mungkin hanya ukurannya saja yang berbeda. Berlebihan sekali. Cepat ke kamar ku, siapkan pakaian untuk ku." Divta berbalik badan dan segera keluar dari kamar Raina.
Terdengar suara hembusan nafas lega dari Raina. Dia buru-buru berlari menuju pintu untuk segera menutup dan menguncinya.
"Sial !! bagaimana mungkin aku bisa lupa mengunci pintu ? Untung saja aku gercep menutupi dada ku, kalau tidak dia pasti akan melihat harta ku, dan untung saja dia tidak melihat korset ku." ucapnya sambil menatap korset yang terletak di atas tempat tidurnya.
Dia pun meraih korset berwarna hitam itu dan kembali mengenakannya. Waktu mandinya pun terpaksa di tunda karena dia harus menyiapkan baju untuk big baby Divta.
"Menyebalkan." gerutu Raina kesal.
Satu jam kemudian, telah siap untuk pergi ke tempat yang telah di janjikan oleh Divta, namun tiba-tiba saja Daisy datang.
"Kakak, Raihan. Aku membawakan kalian makanan. Ayo makanlah dulu." seru Daisy ketika pintu telah di buka, dia mengangkat kedua tangannya yang sedang menenteng dua buah rantang susun dan diduga berisi makanan.
"Rai, sepertinya kita harus menunda kepergian kita, adik ku sudah datang dan membawakan kita makan. Maafkan aku, aku janji besok kita akan pergi ke tempat para wanita-wanita cantik itu agar kita bisa minum susu segar yang langsung dari sumbernya." ucap Divta penuh penyesalan, dia merasa sangat bersalah karena telah berjanji pada Raina namun malah dia sendiri yang membatalkannya.
Di balik rasa penyesalan Divta, tersimpan rasa lega di hati Raina. Dia sangat sangat bersyukur atas kehadiran Daisy yang membuat Divta mengurungkan niat untuk mengajaknya pergi memerah susu sesama jenisnya. Sungguh dia akan berterimakasih pada Daisy nanti.
"Tidak apa-apa tuan, lagi pula saya lebih suka susu yang sudah di kemas." jawab Raina dengan senyuman penuh rasa syukur.
Doeng
"Sialan !!" umpat Raina kesal.
"Apa yang sialan ?" tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang lelaki yang baru saja datang dan mengagetkan Raina, lelaki itu tak lain ialah Darius. Dia menatap Raina dengan tatapan curiga sekaligus mengintimidasi.
"Siku saya kepentok pintu tuan, permisi." jawab Raina asal lalu meninggalkan Darius yang di penuhi tanda tanya.
"Kepentok pintu ? apa sebegitu sakitnya sampai harus mengumpat ?" gumam Darius.
Di meja makan, Daisy terlihat sedang memisahkan susunan rantang, hingga muncullah berbagai jenis makanan yang membuat Divta dan Raina mengerutkan dahinya dalam-dalam.
"Makanan apa ini ?" tanya mereka bersamaan. Mereka memandang makanan itu dengan sedikit rasa jijik. Bagaimana tidak, warna dari masing-masing makanan itu terlihat coklat kehitaman atau lebih tepatnya gosong.
"Hei kalian jangan meremehkan aku, tanya saja sama kak Dayus, masakan yang ku buat sangatlah enak meski bentuk dan warnanya tidak meyakinkan." bibir Daisy mengerucut kesal melihat ekspresi Divta dan Raina yang memandang jijik pada masakan yang sudah susah payah dia buat.
"Ya, masakan Daidai memang terlihat buruk, tapi aku yakin rasanya sangat enak. Aku sudah mencicipinya." sahut Darius yang baru saja bergabung di meja makan.
Daisy tersenyum bangga mendapat pujian dari Darius, kemudian dia meraih piring dan mengambilkan nasi serta sayur buatannya untuk Raina.
"Ini spesial untukmu sebagai tanda permintaan maaf karena aku sudah menuduh mu dan tidak sengaja mencium mu." ucapnya lembut di akhir kalimat. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap Raina yang memilik sifat dingin dan kaku itu.
Raina melirik piring berisi nasi dan sayur tersebut, sebenarnya dia enggan menerimanya, namun karena mendapat tatapan mematikan dari Divta dan Darius, dengan berat hati dia pun meraih piring yang di berikan oleh Daisy.
"Terimakasih." jawabnya tanpa ekspresi.
"Terimakasih kembali." sahut Daisy merangkul lengan Raina dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki (jadi-jadian) tersebut.
Beberapa detik kemudian, dia meraih sendok dan mulai menyuapi Raina.
"Ayo buka mulutmu." ucapnya seraya tersenyum manis.
Sialan, mimpi apa aku semalam bisa terkena sial hingga berkali-kali dalam seharian ini.
gerutu Raina penuh umpatan-umpatan tak berfaedah.
"Maaf nona, saya bisa makan sendiri." cetus Raina mulai kesal. Namun bukannya berhenti, Daisy malah semakin gencar ingin menyuapi Raina. Gadis itu tidak peduli meskipun mendapat tatapan horor dari Raina, karena yang terpenting baginya adalah keinginannya harus terpenuhi.
Raina mulai meradang, rasanya dia ingin sekali menepis kasar tangan Daisy yang masih memegang sendok berisi makanan tersebut.
"Sudahlah Rai, adikku hanya ingin menyuapimu saja. Kau jangan berlebihan seperti itu." celetuk Divta yang nampak mendukung Daisy.
"Iya Rai, buka mulutmu." timpal Darius tersenyum menyeringai.
Double shit. Sepertinya mereka berdua bersekongkol untuk meracuniku. Lihat saja nanti, tunggu pembalasan ku. Menyebalkan !! shit shit shit.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗