
Raina terlihat begitu panik. Dia duduk dan berusaha menarik tangan Divta karena dia ingin melihat leher pemuda itu. Seingatnya dia tidak menggigit, tapi kenapa Divta mendesah kesakitan ?
"Coba singkirkan tangan mu. Aku ingin lihat." ucapnya.
Divta buru-buru bangun, tidak mungkin dia menunjukkan lehernya pada Raina. Tiba-tiba saja dia merasa takut gadis itu akan marah.
"Tidak, leher ku hanya pegal saja. Kamu tidur lah dulu, aku mau ke kamar mandi." dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju ke kamar mandi. Tapi disisi sangka jika Raina mengikutinya. Dan saat Divta hendak menutup pintu, di saat itulah bekas ciuman di lehernya oleh Raina.
Raina terhenyak hingga langkah kakinya mundur dua langkah.
"Jadi kau membohongi ku ?" tanyanya sambil menatap Divta tak percaya. Dia tidak menyangka jika berkas merah yang di kiranya adalah bekas gigitan nyamuk, ternyata di akibatkan oleh ciuman dari Divta.
Sekelebat ingatannya ketika pertama kali mendapati benar merah itu adalah saat pertama kali juga dia meminum anggur bersama Divta. Saat itu, bekas merah tidak hanya ada di lehernya, tetapi juga ada di dadanya. Itu berarti, tubuhnya telah di jamah oleh Divta. Seketika tubuhnya lemas, seolah tenaganya terkuras hingga dia terduduk di lantai.
"Sayang !!" pekik Divta terkejut. Dia mencoba untuk membantu Raina bangun, tapi tangannya langsung di tepis sampai dia terdorong ke belakang.
"Jangan sentuh aku !!" sentak Raina.
"Sayang, kamu jangan salah paham dulu, aku ..."
"Salah paham apa ?! kau tidak hanya mencium leher ku tapi juga dada ku, kan ?!" teriak Raina tak kuasa menahan air matanya yang telah menggenang sedari dia menepis tangan Divta.
"Saat itu kita sedang mabuk sayang jadi aku ..."
"Jadi saat itu kau memberi ku minuman yang membuat ku mabuk, iya ? dengan begitu kau bisa sepuasnya menjamah tubuhku ? otak mu dimana, hah ? kenapa kau tega melakukan itu pada ku ? apa salah ku padamu ?!!" teriak Raina sambil menghentakkan kepalan tangannya di dada Divta. Dia benar-benar kecewa dan sangat menyesal telah mempercayai Divta. Dia pikir, pemuda itu bisa menjaganya seperti Raihan. Tapi nyatanya dia salah. Dia bodoh dan sangat bodoh.
"Sayang, dengarkan dulu penjelasan ku. Aku tidak bermaksud untuk ..."
"DIAM !!" seru Raina melotot seraya menunjuk wajah Divta.
"Jangan bicara lagi pada ku ! Aku menyesal pernah mengenal mu."
Divta tersentak kaget mendengarnya. Dia lalu memeluk Raina dengan begitu erat sehingga gadis itu tidak bisa memberontak dari pelukannya.
"Sayang, saat itu aku belum mengetahui jati dirimu yang sebenarnya. Aku juga tidak tau kalau kamu tidak suka minuman beralkohol. Yang aku tau kamu adalah seorang laki-laki yang menyukai anggur." kejarnya dengan begitu cepat, dan tak memberi kesempatan bagi Raina untuk menyela ucapannya.
Raina sejenak terdiam,
"Apa kamu tidak sedang menipu ku ?" tanyanya.
Divta melepas pelukan dan menggenggam tangan Raina.
"Tidak sayang, aku mengatakan yang sejujurnya." Divta mengajak gadis itu ke tempat tidur kemudian duduk di tepi.
"Dengarkan aku. Aku tidak pernah berbohong padamu, sayang. Semua yang ku katakan adalah kenyataan." lanjutnya.
"Tapi kenapa saat itu kamu menciumi leher dan dada ku ?" tanya Raina lagi dengan air mata yang kembali membanjiri wajahnya.
Divta menepuk dahi. Baru saja dia menjelaskan panjang kali lebar. Dan sekarang Raina bertanya lagi ?
"Susu ku sayang, kan aku sudah bilang. Saat itu kita sedang mabuk. Aku tidak tau apa yang ku lakukan. Di mata ku, aku melihat kamu adalah seorang perempuan cantik yang membuat gairah ku bangkit. Itu sebabnya aku menciumi kamu." jawabnya sambil memegang kedua bahu Raina.
Raina masih terlihat bingung. Di dalam otaknya dia sedang berfikir, apa kalau orang mabuk itu bisa melihat sesuatu yang di sembunyikan ? contohnya, penyamaran ?
Divta yang melihat ekspresi bingung Raina, pun menghela nafas dalam.
"Begini su-"
"Stop panggil aku susu !" tukas Raina menyela ucapan Divta yang hendak menyebutnya dengan sebutan 'susu'.
"Tidak bisa. Susu adalah panggilan sayang ku untuk mu. Ah, ini sudah malam. Ayo sebaiknya kita tidur." Divta merangkak naik ke tempat tidur dan bersiap untuk beristirahat.
Raina ikut merangkak naik. Tapi bukan untuk tidur, melainkan karena tiba-tiba dia teringat saat pagi setelah dia dan Divta mabuk. Dia pun meraih bantal dan menyentak tubuh Divta menggunakan bantal tersebut.
"Asal kamu tau ya, aku harus menahan panas dan keringat yang membanjiri tubuhku karena memakai syal untuk menutupi bekas ciuman mu." teriaknya kesal.
Divta tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Dia juga teringat saat tau asistennya ternyata seorang perempuan.
"Hei susu, sudah puas belum ?" Divta menahan bantal yang berada di tangan Raina. Kemudian dia beranjak duduk.
"Kamu boleh balas dendam kalau mau." dia mencondongkan lehernya ke arah Raina.
Raina menatap leher Divta dan berfikir jika dia menciumnya, apakah Divta akan merasakan panas seperti dirinya saat di cium oleh pemuda itu ?
"Ayo, cium..." Divta semakin mendekatkan tubuhnya dengan Raina.
"Aaargh ! kenapa menggigit ku ?!" pekik Divta memegang lehernya yang terasa sangat nyeri.
"Eh, apa sakit sekali ?" tanya Raina mulai panik.
Divta melihat telapak tangan yang dia gunakan untuk menyentuh leher yang baru saja di gigit oleh Raina, dan terlihat di telapak tangannya itu terdapat darah yang keluar dari lehernya.
"Astaga !!" pekik Raina terkejut.
"Maaf..." dia menundukkan kepala. Suaranya terdengar begitu sendu hingga tanpa terasa air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
Divta yang menyadari jika Raina ingin menangis, pun meraup sisi wajah Raina dan mengusap sebelah pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya.
"Sayang, aku tidak apa-apa kok. Ini hanya luka kecil. Aku akan baik-baik saja." ucapnya penuh pengertian berharap Raina tidak lagi bersedih.
Raina menengadahkan wajahnya, tanpa pikir panjang dia langsung berhambur memeluk leher Divta hingga pemuda itu terhempas dan dia menindih tubuhnya.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku hanya ingin memberi pelajaran untuk mu tapi malah membuat kamu terluka." ucapnya. Dia tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak menangis sehingga air matanya seketika tumpah di bahu Divta.
Divta tersenyum haru. Ini adalah kali pertama Raina berinisiatif memeluknya dalam keadaan sadar setelah kemarin dalam keadaan mabuk. Ternyata sakit memberinya berkah, batinnya berteriak penuh semangat.
Dia lalu mendekap erat tubuh Raina dan mengecup lembut telinga gadis itu.
"Aku mohon jangan marah." lanjut Raina mengeratkan pelukannya.
"Tidak sayang. Aku tidak akan marah, asalkan kamu merawat luka ku sampai sembuh." jawab Divta.
Raina mengangkat setengah tubuhnya beralih menatap wajah tampan Divta yang sedang tersenyum padanya.
Aku tidak terserang gangguan panik lagi ? padahal aku sedang memeluknya. Atau jangan-jangan dia punya ilmu khusus bisa menyembuhkan orang yang terkena gangguan mental seperti ku?
"Kenapa aku deg-degan ?" tanya Raina yang tiba-tiba saja jantungnya berdegup sangat kencang.
Divta terkekeh geli melihat kepolosan Raina.
"Itu artinya kamu mencintai aku." jawabnya.
"Lalu kenapa aku tidak pingsan ? padahal kamu memeluk ku." tanya Raina lagi.
"Benarkah ?" Divta menjawab dengan pertanyaan. Tangannya menyingkap kaos Raina dengan sangat hati-hati bahkan si empunya tidak menyadarinya.
Raina mengangguk mantap. Beberapa hari terakhir dia memang masih sering tegang saat Divta menyentuhnya. Tapi tidak untuk saat ini. Justru yang di rasakanya sekarang adalah sebuah kenyamanan.
Sejenak pandangan mereka saling terkunci. Raina memberikan tatapan penuh cinta sementara Divta menatap Raina dengan tatapan mendamba.
"Cium aku sayang." gumam Divta dalam hatinya.
Dan seolah Raina mendengar kata hati kekasihnya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Divta. Saat bibir mereka hanya tersisa beberapa centimeter saja, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Membuat gadis itu seketika tersadar.
Namun Divta yang sudah tidak sabar, pun menarik tengkuk Raina dan segera melahapnya.
"Balas ciuman mu." ucapnya.
"Bagaimana caranya ?" tanya Raina.
Divta tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu menggulingkan tubuh Raina hingga kini dia berada di atas dan setengah menindihnya.
Raina sempat terkejut dengan apa yang Divta lakukan. Dia hendak memrotes, tetapi belaian lembut Divta di pipinya, seketika membuatnya begitu nyaman.
"Gerakan saja bibir dan lidah mu. Dan ikuti aku." jawab Divta. Slowly but sure, dia mulai mengajari Raina, cara untuk berciuman yang baik dan benar.
"Kenapa berhenti ?"
"Ehh ?!!"
Widiw, ada yang masih pengen tuh ? siapa ya ? 😂
Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗
Epilog
"Apa setelah malam ini aku akan segera menggendong cicit ?" gumam Deasy menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan saat melihat Divta menindih tubuh Raina.