Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Daisya dan Raihan



Suara dentuman musik yang dimainkan oleh DJ membuat semua pengunjung bergoyang dengan hebohnya. Baik pria maupun wanita terlihat begitu asyik dan tidak mempedulikan dengan siapa mereka berjoget. Bahkan wanita-wanita yang sudah mabuk, tidak menyadari jika tubuhnya di gerayangi oleh pria yang mungkin tak mereka kenal.


Di sudut ruangan tersebut, terlihat dua orang lelaki dan perempuan sedang duduk di temani dua gelas minuman bersoda. Mereka adalah Daisya dan Raihan.


Ya, hari ini adalah hari pertama Raihan masuk kerja setelah hampir satu bulan dia absen karena sakit pasca kecelakaan yang menyebabkan tulang kakinya cidera. Sementara Daisya, gadis itu sangat penasaran bagaimana Raihan bekerja, jadi dia memaksa Raihan untuk ikut.


"Rai, kenapa kamu kerja di tempat seperti ini ?" tanya Daisya yang sangat ingin tahu tempat kerja Raihan. Gadis itu terlihat sedikit terganggu dengan alunan musik yang memekakkan telinga hingga dadanya seperti terguncang saking kerasnya. Bahkan dia menutupi hidungnya menggunakan telapak tangannya dari bau alkohol yang begitu menyengat dan membuatnya mual.


"Sya, kan aku sudah bilang kalau aku kerja di bar. Kamu nya saja yang ngotot ingin ikut." jawab Raihan yang masih duduk sambil menunggu waktu shift berganti.


"Iya tapi aku tidak menyangka kalau ternyata bar seperti ini." celetuk Daisya polos. Meskipun dia sekolah di luar negeri, tapi dia tidak pernah neko-neko. Dia tipe orang yang pemilih jika berhubungan dengan pertemanan. Itu sebabnya dia baru tau kalau bar adalah tempat yang penuh dengan maksiat dan membuatnya begitu tidak nyaman.


"Bar ya memang seperti, Sya. Musik yang sangat keras, bau alkohol, banyak wanita malam dan pria hidung belang." Raihan membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah masker kesehatan berwarna biru.


"Ini pakailah, supaya kamu tidak mual nanti." ucapnya sambil memberikan masker tersebut pada Daisya.


"Terimakasih." Daisya menerima masker dan langsung mengenakannya.


"Kamu betah kerja disini ?" imbuhnya bertanya dengan picingan mata yang begitu dalam, menandakan bahwa ia merasa risih.


Raihan tersenyum kecut.


"Mau tidak mau ya aku harus betah, Sya. Ini sumber mata pencaharian ku. Walaupun kakak selalu memberiku uang, tidak ada salahnya kan kalau aku bekerja? hasilnya pun ku tabung untuk masa depan ku dan juga kakak ku." sejenak Raihan menjeda kalimatnya untuk m menarik nafas.


"Aku ingin membahagiakannya karena dia satu-satunya orang yang paling berharga untukku." lanjutnya seraya tersenyum getir.


Di balik masker yang Daisya kenakan, dia mengulas senyum saat mendengar apa yang Raihan lontarkan. Dia merasa begitu kagum melihat semangat Raihan yang sangat ingin sekali membahagiakan keluarga satu-satunya itu. Sepertinya, dia mulai menyukai Raihan.


"Apa suatu nanti kamu tidak ingin menikah ?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari pemuda itu.


"Tentu saja aku ingin menikah." jawab Raihan dengan santai. Dia meraih gelas berisi air soda kemudian meneguknya.


"Apa istrimu tidak termasuk orang yang berharga ?"


"Tentu saja berharga."


"Lalu kenapa kamu bilang kalau kakak mu satu-satunya orang yang berharga ?"


Raihan menatap Daisya seolah baru menyadari sesuatu.


"Iya ya ? kalau begitu, kak Raina dan istri ku nanti adalah orang yang sangat berharga. Aku akan menjaga dan mencintai mereka dengan sangat baik." dia memperbaiki kalimatnya, yang lagi lagi membuat Daisya tersenyum penuh rasa kagum.


"Apa kamu sudah punya seseorang yang ingin kamu jadikan istri ?" tanya Daisya yang entah kenapa tatapan kedua matanya itu dipenuhi dengan harapan.


Raihan menggelengkan kepalanya pelan, membuat Daisya merasa lega.


"Aku belum mau memikirkan hal itu. Aku ingin lebih dulu menyelesaikan pendidikan. Aku ingin melihat kakak ku mendapat seseorang yang tepat. Lalu aku ingin melihat kakak ku menikah, dan memastikan hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Baru setelah itu aku mencari kekasih." jawabnya.


"Lima menit lagi ganti shift, sebaiknya kamu pulang saja ya. Tidak baik kalau kamu berada disini. Apalagi tidak ada yang menjaga kamu." imbuh Raihan.


Daisya menunduk lemas. Rasanya tidak rela kalau dia harus pergi meninggalkan Raihan karena takut pemuda itu akan di goda oleh wanita-wanita malam. Ahh dia tidak bisa membayangkannya.


"Apa aku boleh membantu kamu bekerja ?" tanyanya meminta izin.


"Hei, ngomong apa kamu ini ? tempat seperti ini sangat tidak baik untuk mu. Ayo aku antar ke depan." Raihan menarik tangan Daisya dan beranjak dari kursi. Kemudian membawa gadis itu pergi menuju area dimana mobil Daisya terparkir tadi.


Daisya berjalan mengikuti langkah kaki Raihan seraya menatap tangannya yang di genggam oleh pemuda itu. Rasa tidak rela pun semakin mencuat ke permukaan hatinya. Dia ingin terus bersama dengan Raihan. Tapi bibirnya seolah terkunci dan tidak bisa berkata untuk menolak pulang.


Ketika mereka sampai di area parkir, pun Daisya langsung memeluk Raihan dari belakang.


"Aku masih mau disini. Aku ingin menemani kamu kerja, dan tolong biarkan aku tinggal di rumah mu sampai waktu libur semester ku habis." kejar Daisya menenggelamkan wajahnya di punggung pemuda yang tubuhnya hampir 30cm lebih tinggi darinya.


Ya, sesuai dengan perjanjian. Daisya akan pergi dari rumah Raihan setelah pemuda itu sembuh. Tapi lagi lagi dia tidak rela untuk meninggalkan Raihan. Dia sudah merasa sangat nyaman berada di dekat Raihan. Dan ingin selalu bersamanya.


"Duh, bagaimana ini ?" gumam Raihan serba salah. Kalau hanya tinggal sampai gadis itu masuk kuliah, mungkin dia tidak keberatan, tapi kalau mengizinkan Daisya untuk menemaninya bekerja, itu sangat tidak mungkin. Karena akan ada banyak bahaya yang mengancam.


Tapi... sebentar sebentar. Ini aku lagi di peluk ? sama Daisya ? aku mimpi tidak sih ?


Raihan mencubit lengannya, dan kemudian mengaduh sakit. Itu artinya dia tidak sedang bermimpi. Tapi kenapa Daisya memeluknya ? begitu pikirnya. Kemudian dia melepas kedua tangan Daisya yang melingkar di perutnya dan berbalik menghadap gadis itu seraya memegang kedua bahu Daisya.


"Dengarkan aku. Di sini bukan tempat yang baik untuk mu. Aku sebagai laki-laki saja kadang merasa takut. Jadi sebaiknya sekarang kamu pulang dan tunggu aku di rumah, oke." ucapnya penuh pengertian. Dia melihat rasa ketidakpuasan di wajah Daisya. Dia pun mencubit kedua pipi gadis itu, berharap bisa merubah moodnya.


"Kalau kamu mau tinggal lebih lama bersama ku, aku tidak menolak. Tapi kalau kamu bersikeras ingin menemani aku bekerja, silahkan." ucapan Raihan seketika membuat Daisya tersenyum penuh semangat.


"Terimaka..."


"Tapi aku tidak akan mengizinkan kamu untuk tinggal bersama ku lagi." tukas Raihan menyela ucapan Daisya yang sukses membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang saja." tutur Daisya lesu.


"Tapi pulangnya jangan lama-lama ya." lanjutnya mendongakkan wajahnya menatap Raihan dengan tatapan penuh harap.


Raihan terkekeh melihatnya. Dia mendekatkan tubuhnya pada Daisya kemudian memeluknya dengan satu tangan sambil mengusap pucuk kepala gadis itu.


"Kamu ini lucu sekali sih. Sudah sana pulang. Teman ku pasti sudah menunggu." dia melepas pelukan.


"Hati-hati ya." lanjutnya sambil lalu. Tak lupa juga dia melambaikan tangannya pada gadis itu dan berlari menuju ke bar karena sudah waktunya dia bekerja.


"Rai, bisa tidak kamu jangan buat aku baper ?" gumam Daisya menatap punggung Raihan yang perlahan lenyap dari pandangannya.


Sssst ada yang baper 🤭


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗8