
Divta mengerjapkan mata tatkala lehernya terasa pegal karena tidur dengan posisi kepala mendongak. Dia menegakkan tubuhnya sambil meregangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku. Pandangan matanya lalu mengarah pada seorang lelaki yang sedang terlelap di depannya.
"Bukannya bangunan aku, malah enak-enakan tidur." gerutu Divta, kemudian dia melirik jam digital yang terletak di atas meja sudut sofa yang menunjukkan pukul 6 pagi. Karena waktu masuk kantor masih 2 jam lagi, pun Divta memilih untuk merebahkan lagi tubuhnya sambil memegang ponsel yang sebelumnya dia letakkan di sampingnya.
"Rai bangun." dia memanggil Raina tanpa menoleh karena dia sedang asik membalas pesan chat dari teman-temannya. Dia menekuk sebelah kakinya serta sebelah tangannya dia jadikan tumpuan kepala.
"Raihan !" seru Divta ketika dia tidak mendapat sahutan dari si empunya nama.
Divta mendengus kasar, dia meraih bantal kecil yang ada di sebelahnya dan melemparkan bantal tersebut ke arah Raina.
"Hei bangun !!" seru Divta, suaranya begitu menggelegar hingga ke seluruh ruangan hingga mengejutkan Raina yang tanpa sengaja terlelap.
"Saya tuan." Raina terkesiap menatap Divta yang sedang memelototi dirinya, kemudian dia menundukkan kepalanya karena malu melihat tubuh Divta yang hampir tellanjang.
"Kenapa kau malah tidur ?" tanya Divta sambil kembali memainkan ponselnya untuk membalas pesan yang baru saja masuk.
"Maaf tuan, karena tadi anda memanggil saya di pagi buta jadi saya mengantuk dan tidak sengaja tertidur." jawab Raina apa adanya.
"Kan sudah ku bilang, kau tinggal lah disini karena aku akan selalu meminta mu untuk memijat kepala ku agar aku bisa tidur." ucap Divta dengan tegas dan penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.
Raina memicingkan sebelah matanya, merasa bingung dengan penuturan Divta yang minta di pijat supaya bisa tidur.
"Memangnya anda tidak bisa tidur kalau kepala anda belum di pijat ?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.
"Ya." sahut Divta singkat.
"Kenapa ?"
"Ck, apa kau pernah dengar ? orang yang banyak tanya bisa menyebabkan kematian dini ?" celetuk Divta seketika membuat Raina bungkam. Lelaki itu paling tidak suka kalau ada orang yang banyak tanya seperti Raina. Dia berharap cukup kali ini saja Raina melakukan kesalahan, karena kalau sampai ada kali kedua maka pasti dia akan memecatnya.
"Aku tidak mau tau, mulai malam ini kau harus tinggal di sini."
Divta beranjak berdiri dari sofa malas dan menggaruk kepalanya yang sedikit gatal.
"Siapkan sarapan untuk ku." seru Divta sambil berlalu ke kamarnya.
"Bagaimana ini, masa iya aku harus tinggal satu atap dengan pria asing ? aku takut terjadi apa-apa nanti." gumam Raina beranjak dari sofa.
"Ah tapi kan dia mengenali ku sebagai lelaki, tidak mungkin lah dia berbuat macam-macam. Apalagi dia punya banyak kekasih. Haha ya sudahlah lagipula kamar kami terpisah. Sore nanti aku akan minta pengertian pada Raihan supaya dia mengizinkan aku untuk tinggal disini." imbuhnya bermonolog sendiri, kemudian dia berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan sang Baginda raja.
Raina mengoles dua roti gandum dengan selai coklat serta membuat dua gelas susu rasa putih untuk Divta dan juga dirinya.
"Sebentar-sebentar, apa iya aku harus mengantar sarapan ke kamarnya ?" Raina sedikit ragu untuk melangkahkan kakinya menuju ke kamar Divta, masalahnya dia seorang gadis perawan, sementara Divta adalah bujangan yang di ragukan statusnya apakah masih perjaka atau sudah anu.
"Ah sebaiknya aku ketuk saja, lalu aku bilang kalau sarapannya sudah siap. Ya, begitu saja." ucap Raina bermonolog sendiri, kemudian dia berjalan ke arah pintu yang di bagian depannya tertulis Divta's room.
"Tuan, sarapannya sudah siap." serunya setelah beberapa kali mengetuk pintu.
"Masuk !!" teriak Divta dari dalam.
Lagi-lagi Raina terkesiap mendengar titah dari Baginda raja Divta.
"Oh my, bagaimana ini ? kalau aku tidak menuruti perintahnya aku takut gaji ku akan di potong 10%" gumam Raina mengingat peraturan yang dia baca sebelumnya bahwa, jika dia tidak menuruti apa yang Divta minta maka gajinya akan di potong sebanyak 10%.
Raina menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan,
"You can do it !!" akhirnya Raina memberanikan diri untuk mendorong handle pintu dan perlahan membukanya.
Raina bernafas lega tatkala dia tidak menemukan Divta di dalam, dia berfikir lelaki itu sedang berada di kamar mandi. Setelah meletakkan nampan di atas meja nakas, Raina buru-buru keluar dari kamar lelaki tersebut, tapi sial Divta memanggilnya.
"Hei, mana baju kerja ku ?" seru Divta dengan suaranya yang cool, dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk berwarna putih yang melilit di pinggulnya serta handuk kecil dengan warna senada yang menggantung di lehernya.
Raina mengerucutkan bibirnya kesal, lalu dia berbalik badan dan menunduk hormat, raut wajahnya pun kembali datar dan segera menyiapkan seragam kerja untuk bosnya.
Sementara Divta, dia terlihat duduk santai di tepi tempat tidur sambil memperhatikan cara kerja Raina.
"Lumayan sigap juga, tidak salah kalau Doni menerimanya sebagai asisten ku. Kedepannya aku akan menaikkan gaji kalau kinerjanya sesuai dengan yang aku inginkan." gumam Divta dalam hatinya.
"Silahkan tuan." Raina meletakkan satu setel kemeja putih, dasi merah, jas serta celana dasar berwarna hitam.
"Siapa yang menyuruhmu pergi, keringkan dulu rambut ku." cetus Divta mencegah Raina yang hendak keluar dari kamarnya.
Riana mendengus kecil.
"Sabar Rain, sabaaaar." ucapnya dalam hari sambil mengelus dada.
Sebenarnya aku ini asistennya atau istrinya ? kenapa dia tidak menikah saja sih, dasar Dita.
batin Raina mengumpat Divta.
Dengan malas dia menyeka rambut lelaki itu.
"Hei !! aku minta keringkan rambut ku, bukan wajah ku !" sentak Divta menolehkan kepalanya kemudian memelototi Raina.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja." jawab Raina tanpa rasa bersalah, kemudian dia kembali menyeka rambut Divta dengan pelan dan hati-hati, sebab dia takut akan di pelototi lagi oleh Baginda raja Divta.
Raihan, ini semua kakak lakukan agar kau jadi orang, tolong jangan sia-siakan kerja keras kakak yang saat ini bekerja sebagai babu.
batin Raina menangis sendu.
"Mana celana dalam ku ?" tanya Divta ketika tak mendapati jero'annya di antara baju-baju yang tadi Raina ambilkan.
Kau punya kaki tuan, kenapa kau terus memerintah ku ?
hati Raina menjerit, sungguh dia merasa sangat geram dengan Divta yang menurutnya sangat manja itu, fisiknya begitu sempurna tapi entah kenapa Divta sangat malas hanya untuk sekedar mengambil pakaian.
Raina meletakkan handuk kecil yang dia gunakan untuk menyeka rambut Divta ke dalam keranjang kotor, setelah itu dia menuju ke walk in closet untuk mengambilkan celana dalam untuk Rajanya itu.
Anggap saja kau mengambilkan celana kolor untuk Raihan. Sabar sabar, demi masa depan.
"Sudah, kau boleh keluar. Aku mau ganti baju." perintah Divta setelah Raina meletakkan celananya di atas tempat tidur.
__
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗