Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Ingin cepat-cepat pulang



Divta sungguh tidak rela meninggalkan Raina bersama Rumania (ART) di apartemen.


Tapi dia tidak bisa lepas tanggung jawab di kantor. Dia harus bekerja. Jika berlama-lama mengambil cuti, dia takut sang ayah akan murka terhadapnya. Kalau sudah murka, pasti sang nenek akan menarik telinganya hingga putus.


"Kai, tolong kau atur ulang jadwal pertemuan yang sempat tertunda Minggu lalu. Usahakan agar secepatnya selesai karena aku tidak ingin terlalu lama meninggalkan Raina." tutur Divta memberi perintah pada Kairo.


Ya, dia memilih sahabatnya untuk menjadi asistennya dan menggantikan Raina yang masih dalam masa pemulihan.


"Carikan juga donor mata untuk Raina secepatnya." imbuh Divta.


Kairo mengangguk mengerti,


"Siap bos, hamba siap menjalankan perintah." jawabnya.


"Aku tidak sedang bercanda !" Divta menyentak kepala Kairo dengan selembaran kertas yang dia gulung.


"Aduh, aku juga menjawabnya tidak sambil bercanda." protes Kairo mengusap kepalanya yang tidak sakit seraya mengerucutkan bibirnya.


"Lebay !" cetus Divta mengejek Kairo.


**


Waktu terasa berjalan begitu lama. Itulah yang Divta rasakan. Padahal, dia sudah mengadakan 2x pertemuan, sudah melakukan kunjungan di setiap divisi, dan juga sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Tapi kenapa sekarang masih belum waktunya pulang ? parahnya lagi, ini masih jam 2 siang. Oh my, aku ingin cepat pulang, begitu kata hatinya yang merasa sangat gusar.


Kairo mengetuk pintu dan segera masuk. Dia terlihat membawa dua cangkir berisi kopi yang baru saja dia buat. Kemudian dia memberi Divta satu cangkir kopi tersebut.


"Silahkan, pak." ucapnya.


Divta mendesis kesal,


"Sudah ku bilang berkali-kali kalau kita hanya berdua, tidak perlu bicara formal begitu." ucapnya dengan nada ketus dan wajah yang masam, namun Kairo hanya mengedikan kedua bahunya acuh dan memilih untuk tidak menanggapi celotehan Divta yang memintanya agar tidak bicara formal. Sungguh dia tidak bisa seperti itu. Karena meskipun Divta adalah sahabatnya, tetap saja dia harus menghormatinya karena sekarang mereka sedang berada di area kantor.


"Kai, aku pulang duluan, ya." Divta menyandarkan tubuhnya yang terlihat lesu di sandaran sofa. Dia sangat ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengan Raina. Entah kenapa hari ini dia begitu merindukan gadisnya.


Kairo menggelengkan kepalanya,


"Aku baru bekerja selama seminggu. Jangan sembarangan pulang begitu saja." dia meraih cangkir kopi lalu menghembuskan udara beberapa kali kemudian menyeruputnya.


"Oh iya, aku sudah mengatur ulang jadwal meeting mu yang tertunda. Besok kita akan berangkat ke kota B, selama dua hari." lanjutnya sambil meletakkan kembali cangkir ke atas meja. Kairo memang tipe orang yang berbicara langsung pada intinya. Dia tidak suka menggantungkan kalimatnya atau perkataannya. Karena dia juga kesal dengan tipe orang yang sok misterius atau berbelit-belit. Misalnya, seseorang mengirimkan pesan:


P


P


P


Tidak ada salam, ataupun sapaan. Sumpah, dia selalu mengabaikan orang yang seperti itu. Bisa tidak sih, kalau mengirim pesan itu langsung katakan saja apa maunya, tidak perlu p p p begitu, dasar menyebalkan !


curhat.co.id


Divta mendengus kasar, dua hari ? 6 jam saja sudah terasa seperti setahun. Apalagi dua hari ?


"Haaaah, aku tidak bisa membayangkan berada di tempat yang jauh dari sayang ku." rengek Divta menengadahkan wajahnya lalu menutup mata menggunakan lengan kanannya.


"Cih, manja sekali." desis Kairo merasa geli melihat tingkah Divta yang memang sedari dulu manja. Wajar saja sih, karena Divta memang kurang kasih sayang. Dulu sewaktu kecil, Divta di rawat oleh Deasy karena ibunya sakit parah. Ah, tidak tidak, bahkan sedari bayi Daisya juga di rawat oleh nenek, tapi gadis itu tidak manja seperti Divta tuh, sanggah Kairo dari sisi lain dirinya dalam hati.


"Dia sedang sakit, tapi aku harus meninggalkannya selama dua hari." imbuh Divta lalu membungkukkan tubuhnya dan meraih cangkir kopi lalu meminumnya.


"Aaah panas panas." Divta menjulurkan lidahnya yang terasa panas akibat meminum kopi. Dia cepat-cepat meletakkan cangkir kopi ke atas meja dan meraih mineral kemasan dan langsung meminumnya hingga habis.


Kairo tertawa terpingkal-pingkal melihat kekonyolan Divta. Jelas-jelas kopi itu masih panas, tapi dia dengan santainya menyeruput kopi tersebut tanpa meniupnya terlebih dahulu, atau setidaknya tunggu sampai menjadi hangat.


Dia lalu beranjak dari sofa dan menyambar jasnya yang menggantung di kursi kebesarannya.


"Aku pulang." cetusnya yang menjadikan Kairo sebagai kambing hitam atas kesalahannya sendiri.


"Hei, jangan bercanda ! aku tidak mau di tinggal sendiri." teriak Kairo beranjak dari sofa dan meraih tangan Divta.


Dia pun menarik tangan sahabatnya dan kembali duduk, namun karena Divta kurang seimbang, alhasil Divta terjatuh dan menindih tubuh Kairo yang duduk di atas sofa.


"Awas." usir Divta.


"Lah, harusnya aku yang bilang begitu. Kau menindih tubuhku, kalau sampai ada yang melihat kita begini, pasti akan salah paham." ucap Kairo memrotes.


"Ah, masa. Salah paham bagaimana ?" tanya Divta menggoda.


"Apa yang kalian lakukan !" teriak seseorang yang tiba-tiba saja masuk tanpa permisi, membuat Divta dan Kairo tersentak kaget.


Divta segera beranjak dari tubuh Kairo dan berdiri merapihkan jasnya, begitu pun dengan Kairo. Divta berdehem untuk menetralkan rasa malunya.


"Kenapa paman datang tanpa mengetuk pintu dulu ?" tanya Divta lalu duduk di sebelah Kairo.


Orang yang disebut paman oleh Divta, pun melangkah masuk dan berkacak pinggang. Menatap kedua pemuda yang terduduk di sofa dengan raut wajah kikuk secara bergantian.


"Apa kalian g a y ?" ucapnya menuduh.


"Enak saja !" pekik Divta dan Kairo kompak sambil melambaikan kedua tangan untuk menepis tuduhan yang dialamatkan kepada mereka.


"Paman jangan salah paham. Divta tadi tersandung, makanya dia menindih ku." sanggah Kairo memberi penjelasan.


"Apa kalian berusaha menutupinya dari paman mu yang gagah dan tampan ini ?"


"Wahai paman Thomas yang tampan dan rupawan, tolong jangan sembarangan bicara."


saut Divta tidak terima.


"Sudahlah, aku mau pulang dulu. Aku sudah sangat merindukan pacar ku." lanjut Divta sambil beranjak dari sofa lalu meninggalkan Kairo dan Thomas.


Ya, Thomas adalah paman Divta, atau adik dari Andromeda. Dia menjabat sebagai manager keuangan di perusahaan Divta. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, tetapi dia masih memiliki paras yang tampan. Yaah keturunan Sultan memang beda, tidak ada yang memiliki wajah jelek.


"Benar tidak ada yang terjadi ?" tanya Thomas pada Kairo untuk memastikan lagi bahwa keponakannya itu tidak nyeleneh dan masih normal.


Kairo mengangguk mantap. Setelah kesalahpahaman terselesaikan, mereka pun berbincang bersama dan saling bertukar pengalaman. Sikap Thomas yang hangat membuat Kairo merasa betah berlama-lama mengobrol dengan pria berusia 37 tahun itu.


DiRa's drama


"Sayang, lihatlah lidah ku terluka Ini terasa panas dan perih." Divta menjulurkan lidahnya yang memandang terasa perih akibat meminum kopi panas.


"Aku tidak bisa melihatnya." jawab Raina.


Ah iya juga.


Divta meraih tangan Raina dan di letakkan di kedua pipinya,


"Coba sembuhkan aku dulu." rengeknya.


Raina tersenyum, dia menarik wajah Divta agar lebih dekat dengannya. Ibu jarinya mengusap bibir Divta yang terbuka, dan memberikan kecupan hangat di sana.


Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗 kalau ada yang mau kasih votes, Xia seneng banget loh. Jadi ada motivasi gitu buat crazy update 😜