
Raina Amanda, teman-temannya biasa menyapanya dengan sebutan Rain yang artinya hujan. Ya, dia memang sangat menyukai hujan, dan kata orangtuanya dia lahir ketika hujan sedang turun, itulah mengapa dia di beri nama Raina. Umurnya 21 tahun, dia lulusan sarjana di salah satu universitas negeri terbaik di Jakarta, sebenarnya dia kuliah jurusan sekretaris, tapi saat ini dia bekerja sebagai seorang editor film.
Ya, itulah Raina yang rela bekerja apa saja demi kelangsungan hidup. Yang harus kalian tau, kemampuan editingnya bukan dari hasil otodidak ya, melainkan karena warisan dari sang ayah yang merupakan seorang editor handal di tempat dia bekerja saat ini, lebih tepatnya sekarang Raina menggantikan posisi sang ayah.
Raina punya seorang adik laki-laki bernama Raihan Ananda yang masih berusia 19, dia masih kuliah semester 4, punya wajah tampan dan menawan. Dia juga cerdas, dan karena kecerdasannya itulah dia bisa mendapat beasiswa untuk kuliah di universitas negeri dimana dulu Raina mengenyang pendidikan.
Raina dan Raihan adalah anak yatim piatu, orangtua mereka meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu, dan sejak saat itu Reina harus bekerja keras banting tulang untuk menghidupi dirinya dan juga adiknya.
"Kak ayo cepatlah !! sudah siang nih." teriak Raihan tidak sabar. Dia sedang duduk di atas motor bebek yang sudah sedari tadi dia hidupkan untuk memanaskan mesin, namun karena menunggu Reina yang tak kunjung datang membuatnya terpaksa mematikan mesin.
"Iyaaa, bawel !!" sahut Raina berteriak.
Dia menuruni tangga dengan tergesa-gesa sebab hari ini dia bangun kesiangan akibat menonton drachin dari episode 1 sampai dengan episode 10, menyebabkan dia tertidur di waktu hampir pagi yakni pukul 4 dan harus bangun lagi di pukul 6.
"Lama sekali sih." decak Raihan kesal, kemudian dia kembali menyalakan mesin motor, sementara Raina bergegas naik di jok belakang serta tak lupa menggunakan helm.
Setiap Senin sampai dengan Jum'at, Raina pergi ke kantor dengan di antar oleh Raihan karena mereka hanya memiliki satu kendaraan saja. Setelah mengantar Raina, Reihan pergi kuliah, dan di hari Minggu barulah Reina bisa mengendarai motor sendiri karena jadwal off day sang adik.
Selama di perjalanan, Raina tak henti-hentinya mengocehi Raihan yang menurutnya terlalu lambat mengendarai motor, padahal kondisi jalanan sedang macet dan itulah yang membuat motor sulit untuk melaju dengan cepat meskipun menyalip ke kanan atau ke kiri.
"Sudahlah lewat trotoar saja." seru Raina menyentak pelan punggung Reihan untuk memburu pemuda itu agar memilih jalan pintas.
Ya, Raina memang tipe orang yang suka meremehkan waktu, dan juga suka memburu waktu. Motto hidupnya adalah,
Kalau bisa di kerjakan besok, kenapa harus hari ini ? kalau bisa di kerjakan nanti kenapa harus sekarang ?
Itulah Raina, selalu meremehkan waktu padahal berakhir seperti ini, yakni terburu-buru.
"Haish, sudah lagi lah kak. Kalau kau tidak sabar lebih baik kau turun saja dan berjalan kaki sana." sahut Raihan kesal.
Pemuda itu memanglah memiliki sifat yang hampir sama dengan sang kakak, Raina yang usianya sudah dewasa tapi wataknya masih seperti remaja yang labil, cerewet tapi baik, kudet tapi mudah bergaul, mudah kesal tapi mudah memaafkan, dia juga memiliki sifat yang menyebalkan namun ceria.
Sementara Raihan, dia lelaki baik dan dewasa, selalu menasehati sang kakak saat sedang keliru dan khilaf. Dia paling tidak bisa melihat Raina sedih, dia selalu membenci sesuatu yang Raina benci, dan dia juga pendendam, walau begitu Raihan adalah tipe orang yang penurut, terutama pada kakaknya.
"Kau mau jadi adik durhaka, hah ?!" sentak Raina penuh penekanan.
Raihan yang mendengar itu tak mampu berkutik lagi, hanya terdengar suara decakan dari bibirnya yang merah dan seksi. Suara lelaki itu selalu tertohok di tenggorokan setiap kali Raina berkata,
Kau mau jadi adik durhaka ?
Ya, kalimat itulah yang menjadi andalan Raina untuk menekan sang adik agar menuruti permintaannya.
Akhirnya, Raihan pun mengindahkan perintah Raina untuk melintasi jalan trotoar yang secara kebetulan tidak ada polisi yang berjaga serta tidak ada pejalan kaki yang melintas di sana. Raihan tidak ingin menjadi adik durhaka, karena biar bagaimanapun Raina adalah keluarga satu-satunya yang dia miliki. Jadi, jika dia tidak berbakti pada Raina lalu kepada siapa lagi dia bersandar ?
Setelah kurang lebih 25 menit, akhirnya motor yang di kendarai Raihan sampai di depan sebuah gedung yang megah dan menjulang tinggi serta bertuliskan ENTV di bagian atasnya.
"Hati-hati ya, ingat untuk tidak pacaran sebelum kau lulus kuliah, dan ingatlah bahwa kakak bekerja keras demi masa depan mu jadi jangan mengecewakan kakak."
Raihan mengucapkan kalimat yang setiap hari di ucapkan oleh Raina, penekanannya sama, intonasinya sama, bahkan durasi dan gaya bicaranya pun sama. Dia ingat betul ucapan sang kakak setiap kali baru turun dari motor.
"Anak pintar." sahut Raina sambil mengusap lembut pipi Raihan. Perempuan itu sangat sangat menyayangi adiknya, dia rela bekerja siang dan malam demi bisa mencukupi kebutuhan kuliah sang adik, meskipun Raihan mendapat beasiswa tapi tetap saja jika ada keperluan seperti mencetak tugas, membeli buku dan kebutuhan lain Raina lah yang harus memenuhinya, sebab dia tidak mengizinkan adiknya untuk bekerja sebelum lulus kuliah.
"Ya sudah kakak masuk dulu ya." imbuh Raina dan hanya di jawab Raihan dengan anggukan kepala diiringi senyuman manis nan hangat sehangat mentari pagi yang menyinari bumi.
Kemudian Raina berlari tergesa-gesa untuk menuju kantor karena waktu hanya tersisa 2 menit lagi sebelum batas waktu absen berakhir.
"Tunggu aku !!" teriak Raina ketika pintu lift hampir tertutup, dia mempercepat laju larinya dan akhirnya dia berhasil masuk ke dalam ruangan kecil yang bisa mengantarnya ke lantai 15 dimana ada ruangan khusus tempat para kru editor bekerja.
"Kau ini selalu saja terlambat." celetuk seorang lelaki, dia menggunakan seragam yang sama seperti Raina, berwarna hitam list merah.
Raina menyunggingkan senyuman kuda yang menampakkan dua gigi kelincinya, serta lesung pipi yang terlihat begitu manis. Dia menepuk pelan lengan lelaki itu,
"Dion, kau adalah satu-satunya orang yang paling mengenal ku disini. Untuk apa kau berkata seperti itu setiap hari ? aku bosan mendengarnya." jawabnya diiringi tawa kecil.
Dion adalah laki-laki berusia 31 tahun, dia adalah orang terdekat Raina, yang paling mengerti Raina dan selalu ada setiap kali Raina membutuhkan bantuan.
Saat Dion ingin membalas ucapan Raina, tiba-tiba suara dentingan dari pintu lift terdengar menandakan bahwa mereka sudah sampai tujuan, kemudian Raina dan Dion berpamitan pada karyawan lain sebelum mereka keluar dari dalam ruangan kecil itu.
"Rain, pak Alka memanggil mu." ucap salah seorang rekan kerja Raina yang bernama Virgie. Virgie juga salah satu orang terdekat Raina, usianya 29 tahun dan masih single yang diam-diam menyukai Raina.
"Haish." desis Raina kesal, setiap pagi pasti bosnya itu selalu memanggilnya dan mengeluhkan hal-hal yang seharusnya di keluhkan, terkadang juga suka membicarakan sesuatu yang unfaedah.
Dengan malas dia melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Alka berada, dia menekan handle pintu dan segera membukanya,
"Rain hadir pak." suaranya terdengar begitu lemas tak bertenaga, bahkan mode pura-pura sakit perut kini dia aktifkan.
Alka memutar kursi yang sebelumnya menghadap jendela kini menghadap Raina, dia pun mengerutkan dahinya tatkala melihat karyawannya yang bandel itu,
"Sudahlah Rain, tidak perlu pura -pura seperti orang yang sudah 1 Minggu tidak makan. Aku memanggilmu kesini hanya ingin meminta mu untuk memberikan video tentang gosip dan skandal si artis yang baru naik daun itu." ucapnya dengan memutar bola matanya jengah.
Seketika raut wajah Raina kembali bersemangat, dia bahkan memberi hormat pada Alka dan bergegas keluar dari ruangan tersebut untuk menjalankan perintah yang di berikan pada atasannya itu.
"Ck, apa-apaan gadis itu." decak Alka.
Alka adalah seorang Editor in chief atau pemimpin redaksi merupakan posisi teratas dari sebuah media. Dia sangat bertanggung jawab dengan produk final dari konten yang dibuat oleh para staf.
Dia yang mengatur gaya tulisan, bahasa, arahan editorial, aturan untuk publikasi, dan juga memastikan bahwa isu-isu yang diangkat merupakan isu terkini dan relevan dengan branding media.
Tidak hanya itu, dia juga terlibat dalam budgeting dan juga strategic planning.
"Raina, tolong cepat selesaikan video klip dari Agnez Mao karena besok akan tayang." titah seorang lelaki berusia kisaran 30-an bernama Malik, dia menjabat sebagai redaktur pelaksana yang bertugas mengatur jalannya sebuah publikasi di media. Dia sendiri memberikan laporannya kepada editor in chief.
Sebagian besar pekerjaan redaktur pelaksana adalah merekrut dan juga mengawasi pekerjaan editor atau redaktur di bawahnya.
Selain itu, mereka juga memberikan ide kreatif, membuat pembagian tugas artikel, menangani masalah, dan menjaga pekerjaan para staf agar tetap dalam treknya.
Malik memang terbilang sangat suka memerintah, khususnya pada Raina. Karena eh karena, sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja agar bisa berbincang dengan Raina, si editor cantik dan manis di kantornya.
"Baik pak, setelah ini akan langsung saya kerjakan." sahut Raina kemudian dia permisi untuk pergi ke ruangan Alka setelah sebelumnya mengambil kaset berisikan video yang di minta oleh atasannya tersebut.
Raina masuk dan segera memberikan apa Alka minta, setelah itu dia keluar dari ruangan yang benar-benar membuatnya sesak nafas.
Raina pun kembali duduk di kursinya dan mulai menyalakan komputer untuk segera mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan. Dia membuka software editing video dan mulai mengedit video klip yang akan ditayangkan besok. Sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama bagi Raina untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Namun kembali lagi ke moto hidupnya yakni
kalau bisa dikerjakan nanti kenapa harus sekarang. Jadi dia memutuskan untuk mengedit film yang menjadi project-nya sekaligus taruhannya pada Dion, mereka bertaruh barang siapa yang lebih dulu menyelesaikan tugas tersebut maka yang kalah akan mentraktir pemenangnya.
Raina nampak serius ketika menjentikkan jari jarinya di atas keyboard berwarna hitam pekat itu, serta mouse yang dia geser ke kanan dan ke kiri, keatas dan kebawah untuk menyesuaikan hasil editing-nya dengan sesempurna mungkin.
Setelah 1 jam berlalu akhirnya Raina berhasil menyelesaikan editing videonya.
"Oke tinggal menambahkan logo perusahaan." gumamnya senang karena dia berfikir bahwa dia telah memenangkan taruhannya.
"Pak, film yang di bintangi oleh AZ dan HK sudah selesai saya edit beberapa episode." ucapnya sambil memberikan sebuah kaset.
Alka menganggukkan kepalanya, kemampuan Raina memang patut di acungi 4 jempol, meskipun dia tipe orang yang suka mengulur waktu tetapi dia selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya sebelum tepat waktu.
"Baiklah, kamu boleh keluar sekarang." ucapnya sambil menerima kaset yang diberikan oleh bawahannya yang bandel namun bertalenta itu.
Sungguh, Raina adalah karyawan kesayangannya.
**
☞︎︎︎ Layaknya roda kehidupan yang terus berputar, terkadang kita sering merasa masalah yang kita hadapi berat dan membuat kita berpikir bahwa masalah tersebut tidak akan berlalu. Namun percayalah, semua hal di dunia ini tidak ada yang permanen dan suatu saat akan berlalu termasuk masalah kita.
Malam ini terasa begitu melelahkan bagi Raina, pasalnya dia harus menyelesaikan semua bahan mentah yang di berikan oleh Malik secara mendadak. Dia meregangkan otot-otot pinggangnya yang terasa kaku karena sepanjang hari dia hanya duduk saja, dan beranjak ketika akan pergi makan atau ke toilet.
Setelah mematikan komputer dan merapikan mejanya, dia lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari post production atau ruang khusus editing video itu.
"Hai aku duluan yah." ucapnya berpamitan pada para rekan kerjanya yang menginap di sana sambil melambaikan tangan.
"Yo yo hati-hati." sahut para karyawan yang juga berprofesi sama seperti Raina.
Raina melangkahkan kakinya ke arah lift, dia menekan tombol menuju ke lantai 1. Saat pintu lift akan tertutup tiba-tiba saja kembali terbuka dan menampakkan tubuh tinggi tegap dan kekar, yang tak lain ialah Dion.
"Kenapa kau tidak menungguku ?" decak lelaki tersebut seraya memasuki lift kemudian menekan tombol ke arah basement.
"Hehe aku kira kau sudah pulang." jawab Raina.
"Ya sudah, sebagai hukumannya kau harus pulang bersama ku." ucap Dion menatap pantulan wajah Raina dari dinding lift.
"Tidak perlu, Raihan sudah menungguku di depan." tolak Raina membuat Dion menghembuskan nafas kasar.
Sesampainya di lantai 1 Raina segera keluar dari lift setelah sebelumnya dia mengucapkan selamat malam pada Dion. Perempuan itu sebenarnya sangat menghargai niat baik Dion hanya saja dia tidak ingin menyia-nyiakan adiknya yang sudah jauh-jauh datang untuk menjemputnya.
"Kenapa kakak lembur terus ?" tanya Raihan ketika Raina sudah duduk di belakangnya.
Pemuda itu menyalakan mesin motornya dan bersiap pergi dari tempat kerja kakaknya tersebut.
"Bukankah kau di suruh beli buku ekonomi ? ini masih tanggal tua, itu sebabnya kakak lembur supaya bisa dapat bonus untuk membeli buku mu." jawab Raina sambil mengenakan helm bergaris hitam kuning dan bergambar lebah.
"Tidak perlu lagi kak, kata dosen tidak usah beli buku, suruh pinjam di perpustakaan saja." ucap Raihan.
"Kalau meminjam buku di perpustakaan kan harus di kembalikan."
"Kan boleh di perpanjang kak."
Oh iya ya, aku lupa. Ya sudahlah, sudah terlanjur. Sebaiknya yang ini aku simpan saja untuk berjaga-jaga kalau kedepannya Raihan membutuhkan uang mendadak.
ucap Raina dalam hatinya.
Maaf kak aku berbohong, sebenarnya buku itu tidak ada di perpustakaan, tapi aku sudah mendapat pekerjaan sekarang, jadi aku bisa membeli buku itu saat aku sudah gajian nanti.
batin Raihan merasa merasa bersalah karena telah membohongi sang kakak perihal buku, terlebih lagi soal pekerjaan yang sebenarnya sangat dilarang oleh Raina, tapi dia melakukannya karena dia tidak tega melihat Raina hampir lembur setiap hari hanya untuk mencari uang lebih demi bisa memenuhi kebutuhan kuliahnya.
15 menit kemudian
Sesampainya di rumah Raina segera masuk ke kamarnya, sementara Raihan pergi ke dapur guna menyiapkan makan malam untuk sang kakak yang sudah lelah bekerja sedari pagi hingga menjelang tengah malam.
"Kak, meskipun kamu cerewet tapi aku sangat menyayangimu, karena kamu lah satu-satunya harta berharga yang aku punya. Aku janji akan membahagiakan mu nanti." gumam Raihan sambil menghangatkan lauk pauk yang tadi dia masak.
Di kamar, Raina segera menanggalkan pakaiannya dan melempar pakaian kotor tersebut kedalam keranjang, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Haaah, beberapa bulan lagi umurku akan bertambah jadi 26 tahun, tapi sampai saat ini aku masih saja sendiri." ucap Raina berkeluh kesah sambil menyandarkan kedua tangannya di dinding dan membiarkan guyuran air hangat dari shower membasahi seluruh tubuhnya.
Ya, saat ini dia berstatus single sejak terakhir kali dia memutuskan hubungan dengan kekasihnya dua tahun yang lalu. Sejak kedua orangtuanya meninggal, Raina memilih untuk fokus mengais rezeki demi kebutuhan hidup dan melanjutkan kuliah sang adik, hingga tanpa sadar usianya sudah tidak lagi remaja.
"Haaaah" hembusan nafas kasar itu lolos dari bibir mungilnya, dia menekan tombol dispenser sabun ke tangannya, kemudian dia basuh ke seluruh tubuhnya.
"Kalau saja dulu aku tidak mengakhiri hubungan ku dengan Arvan, pasti sekarang aku tidak perlu pusing memikirkan jodoh, haha, tapi itu salahnya, sudah jelas aku tidak mau berciuman tapi dia memaksaku, untung saja bibirku masih perawan." gerutunya kesal namun sambil mentertawakan diri sendiri.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Raina keluar dengan menggunakan bathrobe berwarna putih serta handuk kecil yang melingkar di atas kepala untuk menyeka rambutnya yang basah.
Suara ketukan pintu dari luar membuat Raina mengurungkan niatnya untuk melepas bathrobe dan berganti pakaian, dia lebih memilih untuk membuka pintu terlebih dahulu karena yang datang pasti adalah Raihan, adiknya.
"Iya ada apa ?" tanyanya ketika pintu sudah dibukanya.
"Nasi goreng keju spesial untuk kakak ku tercinta." ucap Raihan sembari menyodorkan sepiring nasi goreng keju yang di bentuk sedemikian rupa sehingga terlihat menarik.
Raina pun terharu melihatnya, dia meraih piring tersebut kemudian menarik tengkuk Raihan dan mencium pipi pemuda itu dengan lembut,
"Thank you so much adik kecil ku." jawabnya.
Meski terkadang adiknya itu sangat cerewet melebihi dirinya tetapi Raihan tetaplah laki-laki yang paling dia sayang di dunia.
"I'm not a little kid anymore." sungut Raihan, namun sedetik kemudian dia tersenyum dan mengecup kilas dahi Raina.
"Selamat makan, segeralah tidur setelah selesai makan dan jangan nonton draChin lagi." tuturnya dengan nada yang tegas dan penuh penekanan.
"Iya sayang nya kakak, ya sudah kau juga langsung istirahat saja ya." jawab Raina sambil mengacak rambut Raihan.
**
Raina menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidur usai menghabiskan makan malamnya, dia sangat bersyukur memiliki Raihan yang begitu sayang dan patuh padanya, meskipun terkadang membangkang tapi yaaa dia menyadari bahwa itu bersumber dari dirinya sendiri yang terlampau egois.
Tak terasa malam semakin larut, membuat Raina yang sedang menonton film di hampiri rasa kantuk yang luar biasa, akhirnya dia memutuskan untuk tidur setelah sebelumnya dia mematikan televisi.
Sementara di kamar lain, Raihan nampak sedang merapihkan diri, bersiap untuk pergi bekerja.
"Aku yakin kakak pasti sudah tidur." gumamnya sambil meraih ransel yang menggantung di hanging door belakang pintu kamarnya.
Dengan berjalan mengendap-endap, dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Setelah berhasil dia pun segera mengunci pintu dari luar. Dia tau pekerjaannya sangat tidak pantas untuknya, tapi dia rela melakukannya demi bisa meringankan beban sang kakak.
Dengan sangat hati-hati dia mengeluarkan motor dari dari dalam garasi, kemudian dia mendorongnya hingga jauh dari rumah agar saat dia menyalakan mesin, suara motornya tidak terjangkau sampai ke rumahnya.
"Kak, aku berangkat." gumamnya sembari menatap jendela kamar Raina yang nampak gelap, kemudian dia mulai melajukan motornya untuk pergi ke tempatnya bekerja.
**
☞︎︎︎ Tak perlu menjadi kaya untuk menambah keharmonisan di dalam keluarga. Berikanlah apa yang bisa diberikan untuk keluarga, walau hanya sekadar kumpul bersama, bercanda bersama, dan melihat wajah-wajah ceria dari keluarga kita.
Say hello to my beloved readers, tolong kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ untuk novel ini ya biar Author semangat nulis cerita. Jangan lupa tinggalkan like 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa.. terimakasih 🤗