Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Bekas ciuman



Raina mengerutkan dahinya karena merasa tersindir perihal kejadian beberapa hari lalu.


Kemudian Divta menengadahkan wajahnya,


"Ya, mulai saat ini aku akan memanggilmu dengan sebutan 'susu ku sayang' haha." Divta tertawa puas. Rasanya dia senang sekali bisa menggoda Raina. Lalu dia menggelitik pinggang Raina. Meski awalnya gadis itu nampak kesal, tapi tetap saja dia tidak kuat menahan geli dan akhirnya mereka pun terlibat dalam acara gelitikan di iringi tawa terbahak-bahak.


"Divta !!!!!"


Panggilan menyeru itu sukses membuat Divta dan Raina yang sedang asik bercanda, pun seketika menoleh ke arah pintu.


"Eh ?" pekik Raina terkejut saat melihat siapa yang datang. Sesosok wanita tua yang terlihat berkacak pinggang dengan raut wajah marah.


"Awas !" bisiknya penuh peringatan pada Divta yang berada di atasnya.


"Tidak mungkin aku minggir. Kamu lihat kan kalau aku cuma pakai kolor ?" balas Divta yang juga berbisik.


"Apa yang kalian lakukan ?" seru wanita tua tersebut.


Divta menarik selimut untuk menutupi dirinya dan juga Raina.


"Ne-nenek, jangan salah paham dulu. Aku dan Raina tidak ..."


"Diam !!"


Ya, wanita tua itu adalah nenek dari Divta yang bernama Deasy. Niat hati mengunjungi cucu karena ingin melepas rindu, tetapi dia malah di kejutkan oleh pemandangan dimana Divta yang hanya memakai kolor sedang menindih seorang gadis.


Deasy melangkah dengan tongkat kayu yang berada di tangan kanannya. Dia menghampiri sang cucu yang ternyata sedang berbuat mesum di belakangnya itu.


"Siapa kau ?!" tanyanya pada Raina.


"Nek, jangan membuatnya takut. Sungguh kami tidak melakukan apapun Nek. Kami cuma bercanda saja."ucap Divta mendekap tubuh Raina sebab gadis itu terlihat gugup.


Deasy yang baru menyadari itu seketika terkekeh. Wajah yang sebelumnya sangar kini berubah layaknya ibu peri. Niatnya hanya bercanda, tapi malah di anggap serius oleh Raina.


Dessy lalu duduk di tepi tempat tidur dan mengusap kepala Raina.


"Nak, maafkan nenek ya. Nenek tidak bermaksud membuat mu takut." ucapnya pelan dan penuh pengertian. Sebenarnya dia hanya ingin mengerjai cucunya, tapi dia tidak menyangka kalau tindakannya malah membuat gadis itu ketakutan.


"Kemari, nak." Deasy merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Raina.


Raina yang masih merasa takut, pun menatap Divta.


"Nenek orang yang baik. Nenek hanya ingin memelukmu saja." bisiknya di telinga Raina.


Raina beranjak duduk dan menuruti apa yang Divta katakan. Dia lalu memberanikan diri untuk memeluk Deasy meski jantungnya masih berdegup dengan begitu kencang.


"Apakah ini cucu menantuku ?" kata Deasy mengusap punggung Raina sambil menatap Divta.


Divta mengangguk senang. Dia berfikir sang nenek akan marah dan menentang hubungannya dengan Raina. Apalagi kesan pertama melihat dirinya dan Raina sedang dalam posisi sangat intim. Membuat siapapun yang melihatnya, pasti akan salah paham. Tapi syukurlah kalau nenek menyukai Raina, begitu pikirnya.


"Iya, nek. Aku berharap nenek merestui hubungan ku dengan Raina." jawabnya.


Sudut bibir Deasy yang telah keriput, terlihat mengulas senyumannya yang menenangkan.


Sepertinya dia gadis yang baik. Aku yakin dia bisa menjadi istri yang baik juga untuk cucuku. Daripada si wanita bar bar dan murahan si Arumi, itu.


Deasy mengumpat dalam hati. Dia lalu melepas pelukannya dan beralih meraup kedua sisi wajah Raina.


"Memangnya kau mau menikah dengan cucuku yang manjanya tidak ketulungan itu, hm ?" tanyanya sambil menatap Divta dengan tatapan mengejek.


"Nenek, jangan seperti itu dong. Aku ini cucu mu. Harusnya kau memuji ku di hadapan calon cucu menantu mu." protes Divta tidak terima di sebut sebagai anak manja. Walaupun dia tidak bisa memungkirinya, tetapi jika di sindir, yaaaaa tetap saja dia merasa malu.


"Jadi bagaimana, apa kau mau ?" Deasy bertanya lagi pada Raina dan mengabaikan Divta yang tengah merajuk.


"Maaf nek, tapi aku ..."


"Neneeeeeek ... Raina punya ku." Divta melingkarkan kedua tangannya di perut Raina dan memeluknya dari belakang.


"Tidak ada yang boleh memilikinya selain aku." imbuhnya merengek.


Deasy tersenyum dan lagi dia mengusap lembut pipi Raina seraya mengangguk pelan.


"Nenek ingin menginap disini dan tidur bersama calon cucu menantu ku. Jadi kau keluar sana." ucapnya mengusir Divta. Awalnya pemuda itu menolak karena takut Raina akan di pengaruhi agar lebih memilih Darius. Tapi setelah Raina memberi pengertian, akhirnya Divta menurut untuk keluar kamar meskipun hatinya tidak rela.


Kini tinggallah Deasy dan Raina.


"Namamu siapa nak ?"


"Nama saya Raina Amanda, nek. Anda bisa memanggil saya Raina."


"Nak, bolehkah nenek bertanya sesuatu padamu ?" tanya Deasy dengan wajah serius.


"Iya nek. Tentu saja boleh." jawab Raina sedikit gugup.


"Apa kamu mencintai Divta ?"


Raina terlihat ragu. Sebenarnya dia juga tidak tau apakah dia mencintai Divta atau tidak. Pasalnya dia belum pernah sedekat dan seakrab itu dengan lelaki asing. Dia juga belum tau bagaimana rasanya mencintai lelaki selain adik dan ayahnya.


"Apa kalian sudah melakukan ..." Deasy menyatukan jari-jari kedua tangan dan kemudian dia adu satu sama lain layaknya bibir yang sedang berciuman.


Seketika wajah Raina bersemu merah. Dia menundukkan kepalanya serta jemari tangannya memilin sebab menahan malu atas apa yang di tanyakan oleh Deasy.


Sepertinya cucuku sangat pandai merayu sampai membuat gadis polos ini tersipu malu.


"Apa kalian sudah melakukan anu ?" tanya Deasy lagi.


"A- anu apa nek ?" Raina terlihat bingung.


"Itu nak. Hmm buat dede bayi." jawab Deasy kemudian berbisik yang langsung membuat Raina terlonjak bahkan kedua matanya terbelalak kaget. Jangankan untuk buat dede bayi, di cium saja dirinya masih sering terkejut dan tegang.


Raina menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Kami cuma sebatas pelukan saja nek. Tapi kadang, Divta suka mencuri kesempatan untuk mencium saya."


Seketika Deasy tertawa khas seorang wanita tua. Di usianya yang sudah lanjut ternyata masih bisa mengobrol tentang hal hal yang menyangkut masalah pribadi dengan seorang gadis polos seperti Raina.


"Cucu ku itu memang sangat nakal. Lihatlah, bahkan dia meninggalkan jejak ciumannya di leher mu."


Gubrak !!


Suara pintu terbuka tiba-tiba mengejutkan dua perempuan yang sedang asyik bercanda itu. Dan seseorang yang membuka pintu secara kasar itu tak lain ialah Divta.


Ya, sedari awal dia tidak ke kamarnya. Melainkan duduk berjongkok di depan pintu kamar Raina untuk mencuri dengar apa yang sang nenek dan kekasihnya bicarakan.


"Sayang, kamu jangan percaya sama apa yang di katakan nenek. Itu bukan bekas ciuman ku, tapi bekas gigitan nyamuk." Divta buru-buru menghampiri Raina. Kemudian dia membopong gadis itu dan membawanya ke kamarnya.


"Hei turunkan aku !!" pekik Raina terkejut seraya memberontak.


"Sudah diam. Tidak akan baik kalau kamu ngobrol terus dengan nenek." jawab Divta mengabaikan Raina dan Deasy yang terus memanggilnya.


"Cih, dasar anak jaman sekarang." desis Deasy sambil tertawa kecil melihat tingkah Divta. Dia sangat yakin jika yang ada di leher Raina itu adalah bekas ciuman. Hanya saja mungkin Divta memanipulasinya. Atau mungkin saking polosnya Raina sehingga gadis itu tidak menyadari bahwa lehernya telah di jadikan kanvas untuk karya seni lidah sang cucu.


Si Divta anak nakal. Suka mencuri ciuman. Ayo lekas di hukum. Jangan di beri ampun.


Gimana ya reaksi Raina saat tau kalau yang di lehernya itu bukan bekas gigitan nyamuk, melainkan bekas ciuman pacarnya 😂


Gimana pun reaksinya, tetap jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗