
"Rai, tolong kenalkan aku pada teman mu itu ya. Aku sempat melihatnya saat di perpustakaan kemarin."
Ucapan Tio membuat segala aktivitas Raihan terhenti. Sejenak pemuda itu menatap Tio dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tidak bisa."
"Loh, kenapa ? kata mu dia bukan pacar mu. Itu artinya aku bebas mendekatinya, kan ? aku sudah suka padanya sejak pertama kali bertemu. Sepertinya dia benar-berbesar tipe ku, Rai."
Tio mencoba untuk terus membujuk Raihan agar mau mengenalkannya pada gadis yang ia suka, yakni Daisya.
"Sudah ku bilang tidak bisa, ya tidak bisa."
Raihan kembali melanjutkan aktivitas menulis rangkuman terkait hasil presentasinya kemarin bersama Daisya karena akan segera di kumpulkan hari ini juga.
"Apa kau berniat mendekatinya juga ?"
Tio menatap Raihan curiga.
"Tidak."
"Kau suka padanya ?"
"Tidak."
"Ya kalau begitu kenapa aku tidak boleh mendekatinya ? kau egois sekali. Kau kan bilang sendiri kalau kau tidak menyukainya, juga tidak berniat mendekatinya atau menjadikannya pacar mu, tapi kenapa kau melarang ku untuk mendekatinya. Memangnya kau itu siapanya Daisya ?" Decak Tio kesal.
Daisya yang ingin menemui Raihan untuk membantu membuat rangkuman, tidak sengaja mendengar ucapan Tio yang ternyata membahas tentang dirinya.
Jadi dia tidak menyukai ku ? lalu apa arti perhatian yang selama ini dia berikan ? apa dia bersikap seperti itu pada semua teman perempuannya ? hiks.. kenapa kau jahat sekali, Rai.
Rasa nyeri mulai menyeruak di lubuk hatinya. Cairan bening pun kini nampak menggenang di pelupuk matanya yang memerah. Ternyata, seperti ini sakitnya cinta sepihak. Sakit yang tidak berdarah, yang membuat penderitanya terlihat begitu menyedihkan. Namun, rasa sakit itu Daisya tahan. Daisya mencoba untuk tersenyum dan seolah tak terjadi apa-apa.
"Hai .." sapa Daisya dengan senyumnya yang merekah. Ia duduk di bangku samping Tio lalu meletakkan buku-bukunya di meja di hadapannya.
"Oh, hi juga, sya." sapa Tio membalas senyuman Daisya dengan tatapan menyukai.
"Eh kau mengenal ku ?" tanya Daisya mengakrabkan diri dengan teman Raihan.
"Tentu saja. Aku tidak menyangka kau akan menyapa ku dan duduk di samping. Merupakan suatu kehormatan."
Tio terlihat sangat antusias ketika mengobrol dengan Daisya. Sementara Raihan, lagi-lagi segala aktivitasnya terhenti, bahkan nafasnya.
Melihat gadis itu akrab dengan Tio, membuat Raihan kesal. Tangan kirinya mengepal hingga urat urat di punggung tangannya tersebut menyembul. Namun hebatnya, ekspresi wajah pemuda itu tak menunjukkan kekesalannya.
Ah, tiba-tiba saja telinga Raihan terasa panas mendengar celotehan Daisya dan Tio yang seakan mengabaikan dirinya. Dengan kasar ia menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas, lalu ia beranjak berdiri.
"Rai kau mau kemana ?" tanya Daisya bingung.
"Pulang." jawab Raihan, singkat padat dan jelas. Kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Daisya dan Tio.
"Eh kau mau kemana, Sya ?" tanya Tio tatkala Daisya ikut beranjak.
"Tentu saja mau menyusul Raihan. Kalau dia pulang, aku juga harus pulang. Bye !" Daisya pergi meninggalkan Tio dan tak memperdulikan pemuda itu meski terus memanggil namanya.
Langkah kaki Raihan yang lebar, membuat Daisya kesulitan mengejarnya. Di tambah lagi adik dari Raina itu berjalan begitu cepat seperti sedang berlari.
"Aaawh." teriaknya yang sudah tentu mengejutkan Raihan.
"Daisya !!"
Raihan segera menghampiri Daisya dan bergegas menolongnya.
"Bagaimana kau bisa jatuh begini sih ?!" decaknya pura-pura kesal, padahal dalam hatinya ia sangat khawatir. Namun karena ia masih kesal, terlontarlah kalimat yang malah membuat Daisya menangis.
Daisya yang merasa tak pedulikan oleh Raihan, pun memilih untuk berdiri menahan sakit di kedua lutut serta bibirnya karena tak sengaja tergigit akibat tersungkur tadi. Buku-bukunya yang berantakan ia tinggalkan begitu saja tanpa mempedulikannya.
"Daisya !" seru Raihan memanggil, namun pemuda itu sudah sangat mengecewakannya sehingga ia tak menggubris seruan Raihan yang menyuruhnya untuk berhenti.
"Cewek itu kenapa sih ?" dengus Raihan sambil merapikan buku-buku milik Daisya. Menurutnya, sifat Daisya tak seperti kakaknya, Raina yang walaupun banyak bicara tapi tak kekanak-kanakan. Benar-benar menyebalkan, begitu gumamnya tanpa bersuara.
Usai merapikan buku, Raihan segera melangkahkan kakinya menyusul Daisya. Sebagai cowok yang bertanggung jawab, sudah pasti ia harus mengantar gadis itu kan ? karena tadi mereka pergi bersama, maka pulang pun harus bersama, begitulah pikirannya warasnya berkata.
"Tapi... kemana dia ? bukankah dia jalannya seperti siput ? tapi kenapa baru sebentar saja sudah tidak terlihat ?" gumam Raihan mengedarkan pandangannya mencari gadis yang memakai dress hitam di bawah lutut dan tas aelempang warna peach senada dengan heels-nya.
"Astaga..." decak Raihan sambil merogoh ponsel dari dalam saku celana. Mencoba untuk menghubungi Daisya karena rasa khawatir semakin menyergap dirinya.
Suara dering ponsel Daisya terdengar sangat dekat. Raihan pun berjalan kearah sumber suara tersebut.
"Kenapa kau sembunyi di sini ? kau mau main petak umpet pada ku ?" tanya Raihan yang melihat ada seseorang bersembunyi di balik pohon.
"Ck sial ! aku lupa mengaktifkan silent mode di ponsel ku." umpat Daisya merutuki kebodohannya. Percuma saja ia menghindar, toh akhirnya ketahuan juga.
"Iya. Karena masa kecil ku kurang bahagia." cetus Daisya melenggang tanpa menoleh pada Raihan.
"Ssssh." desisnya merasa ngilu di lutut dan bibirnya.
Raihan tersenyum mengejek, ia lalu menghampiri Daisya dan duduk berjongkok dihadapan gadis itu.
"Kau ngapain ?" tanya Daisya bingung.
"Sini aku gendong. Kedua lutut mu kan terluka. Aku akan membawa mu ke ruang kesehatan." jawab Raihan.
Sudut bibir Daisya terangkat dan mengulum senyum merekah. Sepertinya tindakan adik dari Raina itu membuat Daisya lupa akan rasa kecewa dan sakit hati yang baru beberapa menit lalu ia alami. Semangat yang kembali membara membuat Daisya langsung berhambur memeluk leher Raihan.
"Ayo cepat, kaki dan bibir ku sakit sekali." ia merengek butuh perhatian.
Raihan menggelengkan kepalanya sambil mendengus.
"Kenapa kau tidak memegang kaki ku ? kalau aku jatuh bagaimana ?" ucap Daisya ketika Raihan tak seperti sedang menggendongnya.
"Kau lihat tidak, buku siapa yang sedang aku pegang sekarang ?" saut Raihan ketus.
"Oh." Daisya menyengir kuda.
"Lingkarkan saja kaki mu di perutku."
Dasar menyebalkan. Setiap hari selalu ada saja tingkahnya yang membuat ku kerepotan.