
Raina mengejapkan matanya saat ada tangan yang membelai wajahnya dengan lembut. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum yang cerah. Tanpa membuka kelopaknya, ia berusaha meraih tangan seseorang yang dipikirnya adalah Divta. Tapi, seketika ia melotot tajam saat merasakan kedua tangannya terikat. Dan alangkah terkejutnya dia saat seseorang yang saat ini berada di atas tubuhnya bukanlah Divta, melainkan Yudha.
"Apa yang kau lakukan !!" teriak Raina ketakutan. Seketika wajahnya nampak pucat pasi. Jantungnya berdebar begitu kencang dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori di dahinya.
"Kau sudah bangun, sayang ?" Yudha mengusap lembut dahi Raina yang lembab karena peluh.
"Jangan sentuh aku ! pergi !" sentak Raina histeris. Cairan bening yang sedari awal menggenang kini sudah tak terbendung lagi sehingga lolos begitu saja melalui kedua ekor matanya. Gemetar ketakutan yang di rasakan membuat serangan panik yang hampir sembuh itu kembali menyerangnya. Nafasnya memburu dan debaran jantungnya semakin tak beraturan. Memori belasan tahun silam yang baru baru ini terlupakan, kini kembali terbesit. Bayang bayang ketika dia dileceh kan pun melayang melayang di otaknya.
"Tenang sayang. Aku tidak akan menyakitimu. Justru aku melakukan ini karena aku ingin menepati janjiku padamu."
"Tidaaaaaak !!" teriakan Raina yang begitu keras sangat memekakkan telinga Yudha bahkan hingga berdenging. Dan serangan panik yang Raina alami menyebabkan wanita itu tak sadarkan diri.
"Rain, Rain ! bangun sayang !" Yudha menepuk-nepuk pipi Raina berharap akan bangun. Namun usahanya sia sia karena Raina tak memberi respon sedikitpun. "Maafkan aku, Rain. Maafkan atas kesalahan ku padamu, baik itu dulu maupun sekarang." Yudha memeluk Raina begitu erat dan membenamkan wajahnya di dada wanita itu. Kemudian ia mendongakkan lagi kepalanya. Sudut bibirnya menyeringai ketika melihat leher jenjang Raina.
"Sekali lagi, maafkan aku sayang. Aku harus melakukan ini demi agar bisa memiliki mu."
Yudha menciumi leher Raina dan meninggalkan banyak bekas merah di sana. "Merasakan mu, membuatku ingin lebih." bisiknya di telinga Raina. Dan ia pun melanjutkannya.
......***......
"Brengssek !!" umpat Divta memukul stir mobil saat menuju ke rumah seseorang. Setelah Randi mendapatkan informasi tentang siapa pemilik mobil yang menculik Raina, emosi Divta semakin membara. Bagaimana mungkin sosok itu tak terlintas di otaknya ? padahal seseorang itu pernah hampir menggagalkan pernikahannya.
Kau akan tamat di tangan ku, Yudha. Divta mengepal tangan menahan amarahnya.
Divta segera mempercepat laju mobilnya karena ia takut Yudha melakukan hal yang tidak senonoh pada Raina, mengingat pemuda itu sangat ingin merebut Raina darinya.
"Pelan pelan, nak." tegur Randi saat Divta menerobos traffic light.
Tak butuh waktu lama, setelah menempuh perjalanan selama hampir sepuluh menit, akhirnya Divta sampai di sebuah rumah dua lantai yang cukup besar. "Ayo cepat Paman." Divta turun dengan tergesa-gesa dan menutup pintu mobil dengan kasar. Di depan, mereka di hadang oleh seorang pria yang di duga adalah penjaga rumah Yudha. Namun, Divta tak menghiraukannya dan tinggallah Randi yang mau tak mau harus menjelaskan maksud dan tujuannya mendatangi rumah Yudha.
"Baik pak, kalau begitu silahkan masuk." ucap penjaga dengan sopan. Sebagai warga yang taat hukum, tentu ia tidak akan melarang polisi yang akan menjalankan tugas yakni menangkap pelaku kejahatan walaupun itu bosnya sendiri.
Divta berlari menelusuri setiap kamar yang ada. Setelah dipastikan tidak ada orang di lantai 1, Divta pun segera menaiki tangga. Di sana, ia mendapati satu pintu yang di duga di dalamnya ada Raina. Dengan tanpa menunda lagi, ia pun membuka pintu kamar tersebut.
Seketika matanya melotot saat melihat Yudha sedang menjamah tubuh sang istri.
"Brengssek kau Yudha !!" teriaknya begitu murka, membuat Yudha terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu.
"Div...
"Mati kau di tangan ku !" Divta meraih kemeja Yudha hingga menariknya hingga pemuda itu terjerembab ke lantai. Tanpa berbelas kasih, Divta melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah Yudha. Emosinya yang sedari tadi ia tahan pun segera ia lampiaskan pada wajah rupawan yang kini berada di bawahnya.
Setelah memastikan Yudha tak berdaya, Divta segera menutupi tubuh Raina dengan selimut karena ia mendengar suara langkah kaki menuju ke kamar itu. "Sayang, maafkan aku yang tidak bisa menjaga mu." Divta melepas ikatan tali yang melilit kedua pergelangan tangan Raina. Kemudian ia mengangkat setengah tubuh Raina, dan menumpahkan semua ketakutannya dengan memeluk sang istri. Menyesal, itulah yang saat ini melingkupi ruang hatinya. Ia sungguh sangat menyesal telah mengizinkan Raina pergi tanpa dirinya.
"Divta awas !" Randi yang baru saja masuk ke dalam, di buat shock dengan pernyataan Yudha yang ingin menghantam kepala Divta menggunakan tongkat baseball.
Bukk !!
Seketika Divta terjatuh menimpa tubuh Raina.
"Divta !!!!"