
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Kini tibalah hari dimana Raina dan Divta akan melangsungkan pernikahan.
Terlihat Raina duduk di depan meja rias. Menatap pantulan wajahnya di cermin yang sedang di make over oleh MUA. Sudut bibirnya pun tak henti-henti mengulas senyuman. Polesan make up yang menambah kesan cantik pada wajahnya, serta bridal crown yang menghiasi kepala sedemikian rupa indah, membuat dirinya begitu bahagia.
Raina pun bertanya-tanya dalam hati, apakah Divta akan terpesona dengan penampilannya saat ini? seperti para pengantin pria kebanyakan. Atau malah, Divta akan menunjukkan ekspresi yang biasa saja? Ah, aku jadi tidak sabar. Begitu pikirnya.
"Nona terlihat sangat cantik." ujar seorang penata rias yang telah selesai mendandani dirinya.
Raina tersenyum simpul, mendapat pujian seperti itu membuat hatinya semakin berbunga-bunga. Sungguh dia tidak menyangka bahwa hari ini dia akan menikah dengan seorang Divta yang tak lain ialah bosnya sendiri. Bos yang ia kenal dengan tabiatnya yang cuek, dan aneh. Tapi meskipun begitu, faktanya Divta mampu membuatnya jatuh cinta.
"Terima kasih." jawabnya yang juga diiringi dengan ulasan senyum.
Sementara itu di depan pintu kamar di mana Raina berada, Divta tengah mondar-mandir saking ia merasa gugup. Divta sudah tidak sabar ingin membuka pintu kamar dan melihat pengantinnya. Dia memasukkan kedua tangannya di saku celana sambil berkomat-kamit tanpa suara, membuat orang yang melihatnya terkekeh geli.
"Apa kau lihat-lihat ?!" decaknya ketika seseorang memandanginya dengan tatapan aneh.
"Ah, maaf tuan. Saya permisi."
"Wajar kan kalau aku gugup? sebentar lagi aku akan jadi suami dari gadisku. Aku hanya sedang berfikir, apakah nanti aku akan lancar saat mengucapkan janji atau tidak."
Kilahnya berbicara sendiri. Padahal yang ia lakukan saat ini adalah karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu Raina, setelah melalui masa pingitan selama 1 minggu. Yang menyebabkan dia tidak boleh menemui Raina dan terpaksa harus memendam rasa rindunya sampai hari pernikahan tiba.
#Pingit atau pingitan adalah salah satu tradisi dalam proses pernikahan adat Jawa, di mana calon pengantin perempuan dilarang ke luar rumah atau bertemu calon pengantin laki-laki selama waktu yang ditentukan. Biasanya, keduanya tidak boleh bertemu sampai acara pernikahan tiba.
Haaah..
Divta menghela nafas dalam dan menghembuskan kasar. Semalaman suntuk dia tidak bisa tertidur karena harus berlatih, juga menghapalkan apa yang nanti akan dia ucapkan di depan penghulu. Sekaligus, mencari step by step cara memuaskan istri di malam pertama melalui situs internet.
"Aah aku sudah tidak sabar."
Suara ponsel berdering.
Dengan segera Divta merogoh dan mengambil benda persegi itu dari dalam saku celananya.
"Ck, jadi benar mereka tidak bisa datang ?!" sungut Divta kesal melihat siapa yang menelponnya.
"Sahabat macam apa kalian !" decak Divta semakin kesal karena kedua sahabatnya Nero dan Kairo tidak bisa datang ke acara pernikahannya.
Rasa kesal yang bercampur aduk dengan gugup membuat Divta mematikan ponsel. Mungkin nanti baru dia akan menghubungi mereka.
Suara pintu terbuka membuat Divta seketika terdiam. Dia berdiri tegak tepat di depan pintu kamar yang perlahan memperlihatkan sesosok gadis cantik yang memiliki tinggi hanya sebatas dadanya. Dan ketika sosok itu muncul, mulut Divta menganga lebar. Kedua matanya terpana melihat kecantikan gadis itu.
You look so beautiful in white.
Itu adalah sebait lagu yang di populerkan oleh Westlife. Tanpa sadar Divta melantunkan lagu tersebut sambil matanya terus menatap Raina.
Pipi yang biasanya merah hanya saat usai berciuman, kini nampak merona dengan polesan make up. Bibir yang biasanya berwarna pink, kini nampak flawless dengan sentuhan lipstick berwarna peach.
Divta melangkah mendekat, hingga jarak yang tersisa hanya tinggal beberapa cm saja. Tangannya terulur menyentuh pipi Raina, membuat si empunya memejamkan mata untuk sejenak menikmati usapan lembut dari ibu jari pemuda itu.
"Bagaimana tuan? apakah anda puas dengan kerja keras kami?" tanya salah satu MUA yang sejak tadi menahan senyum melihat ekspresi Divta yang terpesona dengan Raina.
Sontak saja Divta terkejut dan langsung mengurai tangannya dari wajah Raina. Dia pun tersadar dari keterpanaannya terhadap Raina yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya.
Ya Tuhan, hampir saja aku menciumnya.
gumam Divta tersenyum malu.
...***...
Di salah satu meja VIP, terlihat Darius dan Dealova tengah berbincang bersama. Keduanya nampak serasi dengan dress code yang sama. Orang yang melihat tentu akan mengira bahwa mereka pasangan kekasih. Padahal, mereka hanya berhubungan sebatas antara kakak dan adik.
Di sisi lain, pemilik dari hotel tempat dilaksanakannya akad dan resepsi yakni tn. Andromeda, terlihat tengah asyik mengobrol dengan sang ibu, Deasy.
"Lihatlah mereka datang." Andro begitu antusias ketika Divta dan Raina datang, pun dengan Deasy. Wajah wanita tua itu memancarkan rona kebahagiaan yang sama seperti saat menikahkan Andro dengan mendiang menantunya dulu.
"Ayo kita ke sana, bu." ajak Andro beranjak dari bangku dan menuntun Deasy menuju ke meja penghulu. Di susul dengan Darius dan juga Dealova serta Raihan dan Daisya yang sedari tadi asik mengobrol sambil minum soda.
Ketika semua keluarga sudah berkumpul, pembawa acara mulai mengucapkan susunan acara yang akan dilangsungkan. Di mulai dari pembukaan dan juga sambutan. Kemudian, pembacaan ayat suci yang di lantunkan oleh Raihan selaku adik kandung Raina. Setelah itu, khutbah nikah yang dilakukan oleh penghulu. Khutbah nikah ini berfungsi sebagai pembekalan bagi kedua mempelai, sekaligus pengingat tentang pentingnya menjaga keutuhan dalam pernikahan.
Kini, tibalah saat yang di nanti-nantikan yakni ijab kobul.
Ketika penghulu sudah memulai, dan Divta sudah mengucapkan kalimat 'saya terima nikahnya', tiba-tiba saja seseorang datang hingga mengejutkan semua orang.
"Berhenti !!"
Sontak saja semua menoleh ke sumber suara. Dimana ada seorang pria dewasa tengah berdiri tak jauh dari area ijab kabul.
"Aku mohon jangan lanjutkan, Rain. Jangan sampai kau menyesal karena telah menikahi lelaki yang telah menyebabkan ayah dan ibu mu meninggal !!"
Kalimat itu sukses membuat seluruh mata tertuju pada Divta. Sedangkan orang yang di tatap, justru merasa bingung. Kapan dia membunuh kedua orang tua Raina? bahkan bertemu saja tidak pernah. Apa yang terjadi sebenarnya.
"Apa tujuan mu bicara seperti itu? Jangan bicara sembarangan." cetus Raina membuang muka ke arah Divta.
"Mana mungkin Divta menyebabkan ayah ibuku meninggal. Pergilah dari sini !" sambungnya lagi. Dia berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan seseorang yang tak lain ialah Yudha.
Raina paham betul bagaimana watak mantan kekasihnya itu. Yudha pasti akan menghalalkan segala cara agar apa yang diinginkannya tercapai. Jadi, dia memilih untuk tidak mempercayai omong kosong Yudha.
"Memang bukan dia." sejenak Yudha menghentikan penuturannya. Lalu pandangannya mengarah pada sosok pria gagah yang duduk di dekat Divta, yakni Andro.
"Tapi ayahnya !" imbuh Yudha penuh penekanan dan dengan intonasi yang tinggi sembari tangannya menunjuk Andro.
Raut wajah Andro kini terlihat pucat pasi. Jantungnya berdegup tiga kali lebih cepat dari biasanya. Siapa yang pemuda itu maksud? menyebabkan meninggal? atau jangan-jangan?
Ah, batinnya berkecamuk, kacau tak karuan. Rasa bersalah pun kini menggerayangi hati dan pikirannya. Sama halnya dengan Deasy. Walau tak dapat memastikan, tetapi apa yang di tuduhkan padanya memang pernah terjadi.
Suara bisikan-bisikan tetangga mulai terdengar. Para tamu undangan berasumsi bahwa apa yang dikatakan Yudha adalah kebenaran yang mungkin selama ini di tutup-tutupi. Sebab tak ada bantahan maupun sanggahan dari yang bersangkutan. Banyak dari para tamu yang hadir itu menganggap bahwa insiden kecelakaan yang di alami oleh kedua orang tua Raina ada sangkut-pautnya dengan Andro. Pasalnya, mendiang Rico (ayah Raina) pernah bekerja sebagai editor handal di kantor Divta.
Raina yang mendengar calon mertuanya di tuduh, pun semakin jengkel dengan Yudha.
Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri pemuda itu.
Plak !!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Yudha.
"Sudah ku bilang. PERGI !!!" bentak Raina sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
"Jangan mengacaukan acara ku !"
Raina tak kuasa menahan kekesalannya hingga butiran bening menggenang dan mengalir dari balik pelupuk matanya. Dadanya mulai terasa sesak sebab menahan emosi berlebih.
"Rain, dengarkan aku dulu." Yudha berusaha keras menjelaskannya, namun Raina mendorongnya keluar.
...***...
Terimakasih untuk kalian yang masih setia menunggu. ( ˘ ³˘)♥