
Tiga hari berlalu sejak Divta keluar dari rumah sakit. Tiga hari juga Raina melayani Divta dalam rupanya yang asli. Dia dengan sabar menuruti apa yang Divta minta. Dia benar-benar berperan sebagai suster cantik untuk pasiennya yang super duper manja, menurutnya. Sejak saat pertama kali dia memangku kepala Divta, kini dia mulai terbiasa memijat pemuda itu dengan posisi yang sama. Serangan panik yang biasanya datang tanpa diminta, perlahan menghilang. Hanya saja, kemarin dia sempat tak sadarkan diri lagi ketika Divta memeluknya karena dia hampir terjatuh.
Pagi ini, Raina terlihat sedang mencuci piring. Sejak dia menjadi Amanda, dia lah yang mengerjakan semua pekerjaan Rumania karena ART itu sedang ada urusan keluarga. Padahal itu hanya akal-akalan Divta saja agar pemuda itu bisa berduaan tanpa ada yang mengganggu.
“Selamat pagi Amanda.” Divta meraih rambut Raina dan mencium aroma harum dari shampoo yang gadis itu gunakan.
“Aaaah !” teriak Raina terkejut. Menyebabkan piring yang berada di tangannya terhempas ke lantai sehingga piring yang terbuat dari porcelain itu pecah. Jantung Raina yang semula tenang pun kini berdetak tiga kali lebih cepat. Dia bergegas meminta maaf atas kecerobohannya. Kemudian dia duduk berjongkok untuk membersihkan pecahan-pecahan yang berserakan dilantai.
“Hei jangan !!” pekik Divta berusaha mencegah Raina memunguti serpihan piring itu sebab dia khawatir jari Raina akan terluka. Namun seruannya terbuang sia-sia. Apa yang dia khawatirkan pun terjadi. Serpihan porcelain yang baru saja di sentuh Raina, tanpa sengaja melukai jari gadis itu. Dia pun merintih kesakitan. Tapi rasa sakit itu berganti dengan keterkejutan yang luar biasa tatkala Divta menarik tangannya dan bergegas memasukkannya ke dalam mulut kemudian mellumatnya.
Raina membulatkan mata dengan sempurna. Tubuhnya lagi-lagi menegang dan tak dapat dia gerakkan. Ingin sekali rasanya dia menampar wajah Divta. Tapi entah kenapa dia tidak bisa. Karena setiap kali Divta melakukan kontak fisik dengannya, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terasa kaku. Semakin dia berusaha menggerakkan, maka semakin kaku pula tubuhnya. Hingga akhirnya dia kembali tak sadarkan diri.
“Amanda !!” teriak Divta meraih tubuh Raina yang hampir terhuyung ke belakang. Beruntung dia sangat sigap. Jika saja dia terlambat beberapa detik saja, Raina pasti akan terjatuh dan dapat dipastikan punggung gadis itu akan terkena serpihan piring yang masih berserakan.
“Kenapa dia selalu pingsan setiap aku sentuh sih ?!” desisnya merasa bingung. Kemudian pemuda itu segera membopong Raina dan membawanya ke kamar yang ditempati oleh asistennya itu.
Setelah memastikan Raina berbaring dengan nyaman, Divta lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Dia ingin menghubungi Dino dan menanyakan tentang apa yang terjadi dengan Raina.
“Halo, ke apartemen ku sekarang.” ucap Divta saat setelah Dino mengangkat teleponnya. Tanpa menunggu jawaban dari dokter muda tersebut, Divta langsung memutus sambungan telepon dan kembali ke kamar Raina.
10 menit kemudian
Suara bell berbunyi. Divta pun melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu.
“Kenapa lama sekali sih! kalau tidak sanggup lagi menjadi dokter mending jadi jadi tukang rongsok saja !” sentak Divta dengan nada yang teramat ketus. Membuat Dino yang baru datang itu merengut kesal.
“Asal kau tau saja ya. Saat kau menelpon aku baru saja akan melakukan kencan buta. Dan aku langsung membatalkannya hanya demi bocah manja seperti mu !” protes Dino kesal. Dia merasa sangat tidak di hargai sebagai seorang dokter. Padahal dia selalu melakukan tugasnya dengan sangat kompeten. Dan kini pertama kalinya dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hanya agar bisa cepat sampai ke apartemen. Tapi sesampainya di tempat, dia malah mendapat semprotan pedas dari Divta.
Divta tak menggubris perkataan Dino. Dia sudah tidak sabar ingin tau apa penyebab Raina yang selalu berakhir tak sadarkan diri setiap kali dia memeluknya.
"Aku tidak butuh alasan klasik mu. Cepat periksa dia !" sentaknya mendorong Dino masuk ke kamar Raina.
Dino mendengus kasar. Dia melangkahkan kaki ke arah dimana Raina terbaring tak sadarkan diri. Kemudian dia duduk di tepi tempat tidur dan sejenak mengamati wajah Raina yang terlihat baik-baik saja. Namun, saat dia sedikit menundukkan kepalanya tiba-tiba saja kerah kemeja bagian belakangnya di tarik oleh Divta hingga dia hampir terhuyung ke belakang.
“Hei apa-apaan kau ini, hah ?” sentaknya menoleh pada Divta yang sedang menatapnya dengan tatapan mematikan.
“Aku tau dia cantik. Tapi bukan berarti aku mau berbuat yang tidak-tidak padanya. Aku hanya sedang mengamati wajahnya yang menurut ku tidak menunjukkan bahwa dia sakit.” jawab Dino menepis tangan Divta dari kerah kemejanya yang berwarna abu-abu gelap itu.
“Sebelum pingsan, apa ada hal yang membuatnya shock ?” tanyanya kemudian.
Divta memicingkan matanya sambil mengingat-ingat. Hal apa yang membuatnya tiba-tiba tak sadarkan diri.
“Apa kau memeluknya lagi ?” imbuh Dino melempar pertanyaan yang membuat Divta menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum kikuk.
Melihat dari tingkah laku pemuda itu, Dino dapat menyimpulkan bahwa Raina mengalami panic attack yang artinya adalah serangan perasaan takut yang terjadi secara mendadak dan tiba-tiba. Kondisi ini biasanya muncul tanpa alasan yang tidak jelas. Serangan panik ini dapat menyerang kapan saja, bahkan ketika sedang tidur.
Penderita serangan panik sering merasa seperti terkena serangan jantung atau akan mati mendadak. Bahkan orang yang mengalami serangan panik bisa mengira dirinya sedang sekarat karena merasa mengalami serangan jantung.
Umumnya serangan panik hanya akan terjadi 1–2 kali dalam hidup seseorang. Meski demikian, beberapa orang dapat mengalami serangan panik berulang. Serangan panik yang terjadi berulang-ulang dan terus-menerus menandakan adanya kondisi lain, yaitu gangguan panik (panic disorder). Dan yang di alami Raina sudah masuk dalam kategori tersebut.
Divta yang mendengar penuturan Dino, pun dibuat terhenyak karenanya. Raina yang selama ini terlihat baik-baik saja ternyata memiliki gangguan psikologis yang sangat jarang dimiliki oleh kebanyakan orang. Rasa simpatinya pun bertambah, dan rasa sayangnya pun semakin menggunung terhadap asisten jadi-jadiannya itu.
“Kira-kira, hal apa yang membuat seseorang terkena gangguan panik ?” tanyanya.
“Mungkin, dulu dia memiliki sebuah trauma yang mendalam dan membekas, serta sulit untuk di lupakan.” jawab Dino.
“Trauma apa ?” tanya Divta lagi.
“Melihat dari penyebab dia terkena panic disorder yaitu karena pelukan dari lawan jenis, menurutku dulunya dia pernah mengalami hal yang tidak berkenan di hatinya. Seperti pellecehan misalnya. Tapi itu hanya menurutku saja, ya. Tugas mu adalah mencari tau sendiri.” tutur Dino sambil beranjak dari tempat tidur. Kemudian dia berpamitan karena merasa tugasnya telah selesai.
Setelah mengantar Dino keluar, Divta kembali ke kamar untuk menemani Raina. Dia lalu menyambar kursi meja rias dan menariknya mendekat ke tempat tidur untuk dia duduki.
“Amanda, sebenarnya hal apa yang membuat mu mengalami hal seperti ini ?” gumamnya seraya menggenggam tangan Raina dan diletakkan di pipinya.
“Separah itukah sampai menerima pelukan saja bisa membuat mu pingsan begini.” imbuhnya sedih. Dia pun bertekad untuk mengorek informasi tentang Raina. Tak peduli meski itu adalah hal pahit sekalipun. Dia akan tetap mencari tahu penyebab Raina mengalami panic disorder yang membuat dirinya tak bisa melakukan kontak fisik dengan gadis kesayangannya. Dan apapun hasilnya, dia berjanji untuk tetap menyayangi dan menjaga Raina.
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗