
Yudha meninju ke udara. Rasanya dia ingin sekali mencincang Divta hingga halus. Sisi lain dalam dirinya telah bangkit setelah mendengar informasi bahwa Raina telah mengalami kebutaan. Lantas saja saat itu pandangan Raina kosong seolah tak melihat keberadaannya. Ternyata memang benar bahwa kedua mata gadis kesayangannya itu tidak menangkap keberadaannya.
"Bang*** kau Divta !! beraninya kau menyakiti kekasih ku sampai dia buta seperti itu !!" teriaknya seraya menyentak kaca yang menggantung di dinding.
"Aku memang bukan tandingan mu, Div. Tapi aku punya senjata yang ampuh untuk membuat mu bertekuk lutut di hadapan ku." nafasnya begitu memburu dan matanya menyulutkan api kemarahan yang membara.
Yudha menyambar jaket kulit berwarna hitam miliknya yang menggantung di hanging wall kemudian memakainya. Malam ini dia ingin memanfaatkan kedekatannya dengan Deasy untuk mengancam Divta.
Di waktu yang bersamaan, Divta berjalan dengan menenteng beberapa paper bag berisi oleh-oleh untuk Raina, Dealova dan juga Rumania. Sudut bibirnya tak henti mengulas senyum sejak dia turun dari taksi tadi, membuat karyawan apartemen gagal fokus.
Divta menekan bel pintu dan menunggu seseorang membukakan pintu di dalam, meski sebenarnya dia bisa membukanya sendiri.
Pintu terbuka, dan menampakkan tubuh gemuk Rumania yang langsung memberi salam pada majikannya.
"Selamat sore tuan." sapa seraya menggeser tubuhnya dan mempersilahkan Divta masuk.
Setelah mendapat sapaan Rumania, Divta melangkah masuk ke kamar Raina. Namun sebelum itu, dia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Terlihat Raina dan Dealova sedang asik bercanda.
"Aku pulang !!" seru Divta kemudian membuka pintu lebar-lebar dengan wajahnya yang semeringah.
Raina yang mengetahui Divta sudah pulang, pun berdecak senang. Dia turun dari tempat tidur dan berjalan pelan mencoba menghampiri Divta. Namun, kekasihnya itu lebih dulu datang dan membawanya ke dalam pelukan.
"Aku sangat merindukan mu." ucap Raina membenamkan wajahnya di dada Divta.
Setelah melepas rindu dengan pelukan, Divta kebawa Raina kembali ke tempat tidur dan duduk di tepi. Dia memberikan dua buah paper bag untuk Dealova, dan tiga paper bag untuk Raina.
"Kenapa aku hanya dua ? sedangkan Raina tiga." protes Dealova pura pura iri. Padahal baginya, mau di bawakan oleh-oleh ataupun tidak, itu bukan masalah besar.
"Kau sudah besar. Jadi tidak usah banyak-banyak." celetuk Divta kemudian mereka tertawa bersama.
Saat di rasa tugas Dealova sudah selesai, gadis itu memilih untuk pulang. Sebab sudah 2 hari dia menginap di apartemen Divta. Dia takut orangtuanya akan murka karena terlalu lama meninggalkan rumah.
"Terimakasih sudah menjaga Raina." ucap Divta dengan tulus.
"Iya sama-sama. Aku senang bisa berteman dengan dia. Sudahlah, aku ikhlaskan dirimu untuk dia. Asal kau jangan pernah membuat dia menangis ya. Atau akan ku potong jari-jari mu nanti." ancam Dealova membuat Divta bergidik ngeri. Selepas itu, dia pun pergi.
"Apa yang kamu bawakan untuk ku ?" tanya Raina.
Divta tersenyum, kemudian dia membuka salah satu paper bag yang lainnya pegang.
"Sebuah gaun untuk mu. Aku yakin kau pasti akan terlihat sangat cantik jika menggunakan gaun ini."
Raina tersenyum simpul.
"Terima kasih sayang." ucapnya dengan tulus.
Divta tertegun. Apakah tadi dia tidak salah dengar, Raina memanggilnya sayang ?
"Kamu barusan bilang apa ?" tanyanya mencoba memastikan.
"Maaf tidak ada pengulangan kata." celetuk Raina sambil terkekeh.
Divta mengerucutkan bibirnya, pura-pura merajuk dengan sikap Raina. Tapi sebenarnya dia sangat senang karena sekarang kekasihnya itu mau memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Sebentar-sebentar ada yang menelponku." ujar Divta tatkala ponselnya berdering. Dia bergegas merogoh benda pipi tersebut dari dalam saku jasnya.
"Ada apa ?"
"Saya sudah mendapatkan donor mata untuk Nona Raina, tuan." jawab seseorang di seberang sana yang bernama Kenan, orang suruhan Divta.
"Benarkah ?!" pekik Divta terkejut sekaligus tercengang.
"Iya tuan."
Sangking senangnya, Divta menghempaskan ponselnya ke atas tempat tidur dan dengan gercep dia memeluk Raina. Dia tidak mampu berkata apa-apa selain tertawa bahagia. Yang sudah pasti sikapnya itu membuat Raina bingung.
Divta melepas pelukan dan beralih memegang kedua bahu Raina.
"Kau akan segera bisa melihat lagi." dia kembali memeluk Raina.
Rasa bahagia itu pun menyeruak dan memenuhi rongga dada Raina. Hingga tanpa sadar cairan bening menggenang di kedua pelupuk matanya. Akhirnya sebentar lagi dia akan bisa melihat. Sungguh dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Raihan. Karena selama dia sakit, dia selalu menolak panggilan dari adiknya tersebut. Dia takut sang adik akan mengajaknya bertemu. Dalam kondisi yang seperti ini, bisa dipastikan Raihan akan menyalakan Divta. Serta tidak mengizinkannya untuk berpacaran dengan pemuda itu.
**
Waktu terus berjalan. Hingga tanpa sadar tibalah saat di mana Raina akan menjalani operasi. Semua orang terdekat Divta menunggu di depan ruang operasi, kecuali Daisya. Karena gadis itu tidak mengetahui apapun tentang Raina, bahkan tidak mengenal Raina.
"Siapa yang mendonorkan mata untuk Raina ?" tanya Andro.
Divta mengerutkan dahi. Dia lupa untuk bertanya pada Kenan siapa yang mendonorkan mata untuk Raina.
"Mungkin nanti aku akan bertanya pada Kenan, pa." jawab Divta.
"Apa yang pendonor minta sebagai imbalan ?" tanya Andro lagi.
"Ah, aku juga tidak tau, pa. Aku akan telpon Kenan." Divta segera merogoh ponselnya untuk menghubungi orang suruhannya itu.
Setelah telpon tersambung, dia langsung bertanya pada intinya tentang siapa yang mendonorkan mata dan apa yang di minta untuk imbalan.
"Maaf saya tidak tau, tuan. Tiba-tiba saja orang itu menelpon ku dan ingin mendonorkan matanya. Saat aku tanya apa yang dia minta sebagai hadiah, dia hanya menjawab, aku ikhlas. Begitu tuan." sahut Kenan.
Divta mengangguk menanggapi ucapan Kenan meskipun yang beri tanggapan tidak melihatnya.
"Ya sudah terimakasih." dia lalu memutus sambungan telepon.
"Kenan tidak tau siapa yang mendonorkan, pa. Biar nanti saja setelah selesai operasi, aku akan mengucapkan terimakasih kepada orang itu secara langsung." ucapnya pada Andro.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya operasi selesai. Raina segera di pindahkan ke ruangan pemilihan berbarengan dengan si pendonor. Divta dan yang lainnya sangat bersyukur karena operasi berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
"Apa saya boleh menjenguk Raina, dok ?" tanya Divta saat dokter baru saja keluar.
"Tunggu pasien sadar dulu, ya pak. Baru setelah itu anda bisa menjenguknya." jawab dokter dan Divta mengangguk mengerti.
"Syukurlah, sebentar lagi Raina akan bisa melihat lagi." ucap Deasy.
"Iya Bu, aku juga sangat bersyukur." sahut Andro.
"Yus, kenapa kau diam saja ?" tegur Deasy pada Darius yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Tidak apa-apa, nek." balas Darius tersenyum getir.
Aku hanya senang, nek. Tapi aku tidak tau bagaimana cara mengungkapnya. Aku tidak pantas untuk itu sebab Raina bukan milikku.
"Kak, sambil menunggu Raina sadar, temani aku makan yuk." ajak Dealova seraya merangkul lengan Darius.
Tanpa berfikir panjang, Darius langsung menyetujui ajakan Dealova dan menemani gadis itu makan. Karena kebetulan dia belum sempat sarapan tadi.
"Baiklah, ayo." jawabnya.
"Nek, Pah. kami pergi dulu ya." imbuh Darius meminta izin kuasa Deasy dan juga Andro. Dia juga tak lupa menawarkan Divta sesuatu.
"Ya, take care of Dealova." sahut Andro tersenyum penuh bahagia.
Kak, kau lebih cocok jika bersama Dea. Dia gadis yang baik dan cantik. Aku harap, kau mau membuka hati untuknya. Dan ikhlaskan Raina bersama ku.
Divta menyunggingkan senyum tatkala dia melihat kedekatan antara Darius dan Dealova.
^_^