
Raihan yang masih di papah oleh Daisya hanya bisa menundukkan wajahnya sambil menatap wajah Daisya. Perbedaan tinggi badan yang cukup signifikan membuatnya sedikit sulit untuk bisa melihat wajah gadis yang baru saja membuatnya terpukau. Bukan karena kekayaan, tetapi karena ketangguhan dan sikap dewasa yang dimilikinya.
“Hei, kenapa kamu tidak menjawab ku ?!” sentak Daisya mendongakkan kepalanya menatap Raihan yang juga menatapnya. Cukup lama pandangan mereka saling terkunci. Hingga suara panggilan panggilan dari seseorang menyadarkan keduanya.
“Rai, pacar mu ? ciyee cantik sekali sih.” puji teman sekelas Raihan bernama Vico. Dia cukup dekat pada pemuda itu. Karena tidak mau mengganggu sweet moment temannya itu, pun dia langsung berlari mengabaikan Raihan yang terus memanggilnya.
“Maafkan teman ku ya.” ucap Raihan merasa tidak enak hati karena Daisya di sebut sebagai pacarnya. Dia berfikir, pasti Daisya kesal karena temannya berkata seperti itu. Apalagi dengan dirinya yang hanya anak yatim piatu dan tak memiliki apa-apa.
“Dan maafkan atas sikap Grachella tadi. Aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba dia menamparmu.” imbuh Raihan melirihkan suaranya. Dia sungguh sangat menyesali perbuatan Grachella terhadap gadis yang sudah tinggal bersamanya selama satu minggu itu.
Daisya menghela nafas dalam. Kemudian dia menuntun Raihan ke arah perpustakaan yang nampak sepi karena waktu masih begitu pagi. Dia memilih untuk duduk di sudut ruangan agar tidak ada seorang pun yang menggangunya ketika berbicara dengan Raihan.
“Kenapa kamu meminta maaf tentang apa yang gadis bar bar itu lakukan pada ku ? apa karena dia pacar mu ?” tanyanya. Dia mencondongkan tubuhnya sambil kedua tangannya bertumpu di atas meja agar lebih memudahkan dirinya menatap Raihan yang berada di hadapannya.
“Bu..kan, dia cuma teman sekelas ku saja. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya.” jawabnya sedikit merasa gugup. Seumur hidupnya, baru kali ini dia dekat-dekat dengan seorang wanita kecuali ibu dan kakaknya. Jadi wajar saja dia selalu merasa gugup dan salah tingkah setiap kali dia dekat dengan Daisya. Terlebih lagi, wajah gadis itu sangat cantik seperti sang kakak.
“Berarti dia cuma mengaku-ngaku saja ? cih, memalukan.” cibir Daisya tertawa mengejek. Kalau saja tadi tidak ada dosen yang datang, mungkin dia sudah mempermalukan Grachella di muka umum.
Di waktu yang bersamaan, Divta dan Raina baru saja masuk ke ruangan kantor tempat biasa mereka bekerja. Raina sedari tadi hanya diam dan tidak berani mengajak Divta berbicara karena pemuda itu terlihat sedang kesal. Dia berjalan mendahului Divta dan langsung mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya.
Dan hal itu pun membuat Divta mengerutkan dahinya. Bagaimana tidak ? padahal dirinya sedang kesal karena menahan cemburu. Bukannya di rayu dan di sayang-sayang, malah di diamkan. Dia mendengus kasar dan memilih untuk duduk di sofa. Menyandarkan tubuhnya dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangannya. Serta kedua tangannya dia rentangkan di sandaran sofa.
“Haaaah resiko punya pacar cantik ya gitu. Harus menahan sakitnya cemburu karena pacarnya di sukai banyak lelaki lain. Atau aku karungi saja ya pacar ku itu biar tidak ada yang lihat.” dia bermonolog dengan ciri khas seperti orang yang tengah mengeluh.
Raina yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Dia yang sedang membuka laptop dan bersiap bekerja pun tidak menanggapi celotehan Divta. Membuat si big boss itu menggerutu kesal.
“Dasar wanita tidak pekaaaaaaa.” teriak Divta meringkuk di sofa seperti orang kedinginan. Dia benar-benar merajuk karena di abaikan oleh Raina. Padahal dia sangat berharap gadis itu datang memeluknya dan mengecup bibir untuk menenangkannya. Atau setidaknya cium pipi lah, kan lumayan. Ini malah boro-boro, begitu sungutnya.
Sudut bibir Raina terangkat sebelah. Dia merasa sedikit geli melihat tingkah Divta. Semakin hari, pemuda itu semakin menunjukkan watak aslinya. Manja, pencemburu, dan kekanak-kanakan.
Saat awal pertemuannya, dia pikir Divta adalah orang yang sombong dan galak. Tapi ternyata di balik wajahnya yang tampan dan menawan tapi jutek itu, terdapat sifat layaknya anak-anak yang butuh belaian kasih sayang ibunya.
“Sudahlah jangan seperti anak kecil begitu.” cetusnya tidak peduli yang malah membuat Divta semakin merajuk.
Divta beranjak dari sofa menghampiri Raina dan duduk di atas meja. Tepatnya di hadapan gadis manis namun cuek itu.
“Jangan mainkan rambut ku. Atau akan kusut nanti.” sungut Raina melirik rambutnya melalui ekor matanya. Dia paling tidak suka jika ada lelaki yang memegang rambutnya kecuali Raihan dan ayahnya. Sebab dulu dia punya hal yang tidak mengenakan tentang hal itu.
Divta menghempaskan rambut Raina namun pelan. Dia merasa frustasi dengan sikap Raina yang selalu saja cuek terhadapnya. Sabar.. sabar, nanti juga akan luluh, begitu pikirnya. Dia akan selalu bersabar untuk menghadapi gadisnya itu. Harusnya dia bangga memiliki Raina yang sangat polos. Itu artinya dia adalah lelaki pertama bagi Raina.
Eh sebentar sebentar, tapi bukankah dulu Raina pernah mengalami kekerasan sek sual ? apa itu berarti dia bukan yang pertama ?
Ah aku tidak peduli, dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Bahkan kupu-kupu pernah menjadi sesuatu yang menjijikan sebelum dia menjadi sesuatu yang mengagumkan, begitulah kata hatinya.
“Aku mau susu.” pinta Divta seraya mengerucutkan bibirnya manja.
Raina mengerutkan dahi. Bukankah biasanya Divta akan meminta kopi ? lalu kenapa sekarang minta susu ?
“Kenapa susu ?” tanyanya heran. Saking herannya dia sampai memiringkan kepalanya sambil menatap Divta.
“Iya. Mulai hari ini aku mau minum susu setiap pagi. Biar lebih semangat saat bekerja.” jawab Divta sambil menyunggingkan kedua sudut bibirnya yang tipis dan manis itu.
Tanpa menjawab, Raina bergegas berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pantry untuk membuatkan susu. Memang sudah tugasnya sebagai seorang asisten. Selain membantu pekerjaan, membuat kopi / susu juga termasuk. Jangankan membuat susu, bahkan menina-bobok’kan Divta juga termasuk dari pekerjaannya. Cih, dasar bayi besar, gerutunya.
“Hei, kamu mau kemana ?” seru Divta menarik lengan Raina yang ingin keluar dari ruangannya.
“Bukankah tadi kamu mau susu ? aku mau membuatkannya untuk mu.” jawab Raina dengan wajahnya yang polos.
Divta menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian dia memegang kedua pundak Raina yang langsung dilirik dengan sinis oleh si empunya.
“Bukan susu itu. Tapi aku mau minum susu mu.” tutur Divta sambil tersenyum manis nan menggoda.
Eh susu yang mana tuh ? 😂
Xia update Senin-Sabtu ya kak. Akhir pekan ingin liburan. 😂
Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗