Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Membawakan makanan



Malam yang sunyi terasa begitu mencekam. Desiran angin kencang membuat dahan pohon bergoyang ke sana dan kemari lantaran hembusannya yang tak seperti biasanya. Suara gesekan dari ranting dan dedaunan pun membuat sebagian orang merasa ketakutan. Seperti Raina. Rasa takut itu terbawa hingga ke alam bawah sadarnya.


"Pergi !! Aaaaaah." dia menutup kedua telinga menggunakan telapak tangannya. Matanya masih terpejam namun raut wajahnya menyiratkan adanya rasa takut yang luar biasa. Suara gaduh yang dia ciptakan membuat Divta yang kebetulan lewat di depan kamar Raina pun bergegas masuk.


"Amanda !" mata Divta mendelik sempurna. Dia berlari menghampiri Raina dan berusaha memeluknya.


"Manda, kau kenapa ? ada apa dengan mu ?" Divta begitu panik melihat Raina yang memberontak bahkan mendorong tubuhnya. Kekuatan gadis itu ternyata sangat kuat hingga tubuhnya terhempas. Namun dia bangkit lagi dan berusaha membangunkan Raina dari mimpi buruk.


"Manda, bangun sayang. Aku disini." dia menahan kedua tangan Raina. Dan seketika gadis itu membuka matanya.


"Raihan !!" pekik Raina saat melihat Divta yang di anggapnya adalah Raihan sang adik. Kemudian dia berhambur memeluk Divta dengan begitu erat. Tubuhnya bergetar hebat dan air mata pun membanjiri kedua pipinya.


"Kakak takut Rai, orang itu datang menemui kakak." imbuhnya sambil menangis. Suara tangisan terdengar begitu pilu hingga menyayat hati Divta.


"Raihan ? kakak ?" gumam Divta dalam hati. Apakah Raihan itu nama adiknya ? jadi Reihan itu nama samaran juga ? begitu pikirannya menyimpulkan bahwa Raina mengambil nama Raihan untuk menyamar menjadi asistennya.


"Kakak tidak sanggup hidup lagi Rai, kakak tidak mau hidup dalam ketakutan seperti ini." Raina semakin mengeratkan pelukannya tanpa dia sadari bahwa lelaki yang di kiranya adalah Raihan, ternyata Divta. Gadis itu nampak nyaman berada di pelukan Divta. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Divta yang tak tertutup sehelai kain pun.


Divta yang mendengar penuturan Raina seketika terhenyak kaget. Dan untuk menghindari rasa keterkejutan Raina ketika menyadari bahwa dia bukanlah Raihan, dia memilih mengusap punggung serta belakang kepala Raina untuk memberikan kenyamanan dan berharap agar gadis itu merasa tenang. Kemudian dia membawa Raina untuk kembali merebahkan tubuh mereka. Dia menjadikan lengannya yang kekar itu sebagai bantal bagi Raina sambil sebelah tangannya terus mengusap kepala Raina dan sesekali mengecupnya.


"Tidurlah, ada aku disini yang akan menjaga mu." bisiknya di telinga Raina.


Perlahan, suara isak tangis Raina menghilang. Deru nafasnya pun mulai tenang. Hanya sesekali dia terseguk akibat menangis tadi. Sepertinya gadis malang itu sudah tidur. Sejenak Divta menundukkan wajahnya untuk melihat Raina, dan benar saja. Gadis itu kembali terlelap dalam pelukannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu di masa lalu ?" gumamnya merasa iba.


Divta kembali mengusap punggung Raina.


"Eh ? D-dia tidak memakai bra ?" tubuhnya mulai menegang. Hingga tanpa sadar tangannya menelusup ke dalam kaos milik Raina dan meraba kulit punggung gadis itu.


"Hentikan Divta !" dengan sudah payah dia menarik tangannya. Namun, mulut dan tangannya tidak sinkron.


😈 : Lanjutkan saja Divta, ini kesempatan mu. Mumpung dia masih tidur.


👼 : Jangan Divta, dia sedang dalam kondisi yang tidak baik. Bukankah kau berjanji untuk selalu menjaga dan tidak akan menodainya.


😈 : Persetan dengan menjaga. Lagipula kau hanya merabanya saja. Kau juga bisa meremasnya bukan ? ayo lakukan.


👼 : Ingat Divta, dia baru saja mimpi buruk. Dia mengalami gangguan panik itu karena dulunya dia punya ingatan tentang hal itu.


Divta memilih untuk mengabaikan perdebatan antara devil and Angel. Sementara tangannya masih berada di balik punggung Raina dan mengusapnya dengan begitu lembut.


"Raina, kamu ... kenapa selalu membuat ku ingin melakukannya." gumamnya mendesah pelan.


Dia sedikit mendorong tubuh Raina hingga kini terlentang. Kemudian dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Menelusupkan tangannya ke baju Raina dan mengusap lembut perut gadis itu. Kemudian naik, naik ke puncak gunung. Saat dia akan sampai, tiba-tiba suara dering ponsel membuatnya tersentak dan seketika dia terbangun.


"Argh sial !" umpat Divta kesal. Kemudian dia beranjak bangun dari tempat tidur dan meraih ponselnya yang berada di meja kecil dekat lemari. Terlihat nama Dayus di sana sedang menelponnya.


"Menggangu saja." umpatnya lagi.


Dia pun mengangkat panggilan tersebut, lalu menekan icon pengeras suara dan meletakkan kembali ponselnya ke meja sementara dia menyisir rambutnya yang berantakan.


"Hei bocah, kenapa kau lama sekali mengangkat telepon ku !" suara Darius terdengar begitu nyaring dan menggema di ruangan tersebut.


"Berisik !" sahut Divta ketus. Dia memang paling malas meladeni kakaknya yang super cerewet seperti adiknya itu.


"Dasar kurang ajar ! cepat buka pintunya." sahut Darius yang ternyata sudah berada di depan pintu sedari 5 menit yang lalu.


Seusai menyisir rambut, Divta melangkah keluar untuk membukakan pintu. Ponselnya di biarkan aktif dan mengabaikan sang kakak yang mengoceh sendiri.


"Hei, dasar tidak ada akhlak !" cetus Darius saat setelah pintu di buka. Dia pun masuk dengan menerobos tubuh Divta yang berada di ambang pintu. Dia memanggil-manggil nama Amanda sebab berdasarkan informasi yang dia dapatkan dari Dino bahwa gadis itu berada di sana.


"Hei, ini bukan di hutan." seru Divta menyindir Darius. Dia terlihat begitu kesal melihat tingkah pemuda itu yang seenaknya saja di apartemennya. Terlebih lagi, mencari Raina. Cih, aku takkan rela, begitu pikirnya.


Suara pintu kamar Raina terbuka mengalihkan pandangan kedua pemuda tampan tersebut.


"Raina."


"Amanda." pekik Divta dan Darius bersamaan.


Divta bergegas menghampiri Raina.


"Kamu sudah bangun ?" tanyanya sambil tersenyum manis. Membuat Raina tersipu malu dan hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan yang Divta lontarkan.


"Amanda, aku membawakan mu makanan." Darius menggeser tubuh Divta dan menyodorkan sebuah paper bag pada Raina. Dia tau Divta lebih dulu menyukai Raina, tapi dia tidak peduli. Karena perasaan suka adalah haknya juga.


Raina terlihat kikuk dengan sikap yang Darius tunjukkan. Pasalnya, dia baru tiga kali bertemu dengan pemuda itu. Dua kalinya pun di hari yang sama. Dan hari ini tiba-tiba saja Darius membawakannya makanan. Seumur hidupnya, dia tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh mantan pacarnya dulu. Jadi, agak aneh rasanya jika dia menerima pemberian dari laki-laki yang tak ada hubungan apa-apa dengannya. Terlebih lagi Darius adalah kakak dari Divta yang baru kemarin menyatakan cinta padanya.


"Ini, terimalah." ucap Darius tatkala Raina hanya bengong saja dan tak menerima pemberiannya.


Dengan rasa ragu, Raina mengangkat tangannya hendak menerima paper bag tersebut. Namun, sudah lebih dulu di rebut oleh Divta.


"Wah, enak sekali. Ayo kita makan disana." Divta merangkul pundak Raina dan membawanya ke meja makan.


Bocil sialan ! beraninya dia merebut kesempatanku. Dasar adik durhaka.


umpat Darius mengepal tangan kanannya. Rasanya ingin sekali dia meninju wajah Divta. Tapi, rasa sayangnya terhadap sang adik sangatlah besar sehingga keinginan untuk meninju itu hilang terbawa angin.


Jangan lupa tinggalkan 👍🏻 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗