Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Susu



Divta yang saat ini sedang lapar pun memilih untuk menyantap makanannya terlebih dahulu. Jika nanti sudah selesai, barulah dia akan menghampiri Raina. Sebab kalau perutnya dalam kondisi lapar, dia tidak bisa berfikir dengan jernih. Yang di takutkan malah dia berkata sesuatu yang salah dan berakhir semakin runyam.


Dengan santainya Divta menyuap nasi goreng buatan Raina. Dia amat sangat menikmati makanan sederhana tersebut. Rasanya pun patut di acungi jempol. Sungguh nikmat.


"Haah sayangnya hanya satu porsi saja." keluhnya ketika nasi goreng tersebut hanya tersisa 2 sendok lagi.


Setelah menghabiskannya, dia pun meneguk air hangat yang juga sudah di sediakan oleh Raina.


"Ahh mantap haha." dia beranjak dari meja makan sambil membawa piring serta gelas kotornya kemudian dia letakkan ke dalam kitchen sink.


"Membujuk dulu atau mandi dulu ya ?" gumamnya bingung saat dia sudah berada di depan pintu kamar Raina.


"Ah sebaiknya aku mandi dulu. Kata orang, perempuan itu menyukai lelaki yang wangi." imbuhnya lalu bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Sedangkan Raina, dia terlihat sedang tengkurap di atas tempat tidur sambil menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


"Dasar menyebalkan. Aku sudah menunggunya dari tadi. Tapi kenapa dia belum juga datang dan bertanya kenapa aku kesal ?!!" teriak Raina masih di atas bantal sehingga suaranya tidak terlalu jelas terdengar.


"Menyebalkan...." dia merengek kini tidur terlentang seraya memeluk boneka panda yang besarnya melebihi dirinya. Bibirnya mengerucut panjang dan raut wajahnya nampak begitu sedih. Entah kenapa hari ini dia sangat kesal dan marah ketika mencium aroma parfum perempuan lain di tubuh Divta.


"Ah, lebih baik aku menelpon Raihan. Sudah satu Minggu ini aku tidak mendengar suaranya. Aku jadi kangen." dia meraih ponselnya dan menghubungi Raihan.


"Kenapa tidak di angkat ?" gumamnya bingung karena sudah tiga kali Raihan tidak mengangkat teleponnya.


"Tidak mungkin dia sudah tidur." Raina mencoba menghubungi Raihan lagi. Namun hasilnya masih tetap sama yakni tidak ada jawaban.


Raina menoleh ke arah jam yang menunjukkan pukul 9 lewat 30 menit. Biasanya sang adik akan tidur saat sudah jam 11 malam.


"Rai kemana sih ?" desisnya mulai khawatir. Dia pun beranjak dari tempat tidur. Dia ingin pulang dan mengecek keadaan Raihan, sebab dia takut terjadi sesuatu dengan sang adik.


"Sayang, kamu mau kemana ?" tanya Divta yang baru saja masuk. Pemuda itu kini sudah terlihat segar dan wangi. Penampilannya pun sudah seperti biasanya yang hanya menggunakan kolor ketika hendak tidur. Dia pun menghampiri Raina yang sedang berhias diri.


"Aku mau pulang." jawab Raina tanpa menoleh sambil mengoleskan lipstik di bibirnya.


Divta terbelalak kaget. Dengan buru-buru dia merampas lipstik Raina hingga riasan gadis itu berantakan.


"Kenapa begitu saja marah? memangnya salah ku apa sayang ? ayo kita bicarakan baik-baik." ucapnya panik.


Raina mencebikkan sebelah sudut bibirnya,


"Kamu kenapa sih ? lihat lipstiknya jadi mencoret pipi ku, kan ?" Raina meraih tissue basah dan mengusapkannya di pipi yang terkena coretan lipstik.


Divta lalu meraih tubuh Raina dan memeluknya.


"Kalau aku salah, maafkan aku. Tapi jangan asal pergi begini dong." rengeknya.


Raina mendengus kasar. Apa sih yang ada di dalam pikiran Divta sehingga pemuda itu meminta maaf sambil merengek begitu ? eh sebentar.


"Lepaskan aku." dia mendorong tubuh Divta.


"Tidak mau. Aku tidak akan melepaskan mu kalau kamu belum memaafkan aku." jawab Divta kekeuh.


"Aku mau pulang karena Raihan tidak mengangkat telepon ku. Aku khawatir dengannya." cecar Raina tidak sabar.


Divta bergegas melepas pelukannya,


"Kenapa tidak bilang dari tadi. Kamu tenang saja ya. Raihan baik-baik saja kok karena tadi aku bertemu dengan di b.."


Astaga, hampir saja aku kelepasan.


"Bertemu dimana ?" tanya Raina penasaran.


"Di jalan, tadi aku lihat dia sedang berbelanja di minimarket. Mungkin belanja untuk keperluannya." jawab Divta yang seketika membuat Raina tenang dan menghela nafas lega.


"Baiklah kalau begitu." Raina kembali ke tempat tidurnya.


"Sayang, kenapa cuek begitu? kenapa aku di abaikan ?" tanya Divta mengikuti Raina dan duduk di tepi tempat tidur.


"Pikir saja sendiri." jawab Raina ketus. Dia memiringkan tubuh dan memunggungi Divta. Rasa kesalnya muncul lagi saat dia mengingat aroma parfum wanita.


"Sayang, jangan begini dong. Coba katakan salah ku apa ?" Divta mengguncang bahu Raina. Namun gadis itu terlihat acuh. Dia pun tak kehabisan akal. Tidak peduli Raina marah atau tidak, yang penting dia sudah berusaha.


"Lepas ih." Raina berusaha menepis tangan Divta yang melingkar di perutnya.


"Tidak mau !!" Divta menenggelamkan wajahnya di punggung Raina.


"Bilang dulu apa salah ku sampai kamu mengabaikan aku ?" lanjutnya kemudian.


Raina menghela nafas yang terasa begitu berat. Selain kesal, dia juga sedang menahan diri agar emosionalnya tidak melampaui batas yang di sebabkan oleh Divta memeluknya.


"Lepaskan aku."


Gaswat !! sepertinya dia mulai panik. Suaranya terdengar sangat berat dan nafasnya juga tersengal.


Divta segera menarik tangannya dan bergegas duduk. Begitupun dengan Raina.


"Habis ketemu siapa kamu tadi ?" tanya Raina beralih menyandarkan tubuhnya di headboard.


"Aku hanya meeting sayang, untuk melaksanakan kerjasama." jawab Divta jujur.


"Lalu kenapa ada bau parfum wanita saat kamu datang ?!!!" sentak Raina sambil melototi Divta yang nampak terkejut.


"Maaf, jujur aku tidak berbuat macam-macam. Tadi klien ku memang bersikap kurang ajar pada ku. Tapi aku langsung mendorongnya sampai dua terjatuh dan ..."


"Bohong ! mana mungkin wanita berbuat macam-macam pada lelaki !" protes Raina tidak percaya. Seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan wanita yang menggoda laki-laki.


Divta mencubit kedua telinganya dengan wajah lesu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya, sayang. Sungguh aku tidak bohong."


Raina menatap kedua mata Divta dan mencari apakah ada kebohongan di sana ? tapi kenapa tatapan mata pemuda itu malah seperti orang yang sedang kelaparan ? atau jangan-jangan Divta belum makan ? tapi bukankah tadi dia sudah memegang piring berisi nasi goreng buatannya ?


"Kamu lapar ?" akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibir kecil Raina.


Divta mengangguk lesu,


"Iya sayang. Aku lapar dan ingin memakan mu." batinnya menjerit pilu.


Tuh kan benar dia belum makan.


Raina yang pada dasarnya memiliki sifat penyayang, pun seketika melupakan kekesalannya. Lagipula, Divta sudah menjelaskannya. Terlepas itu benar atau tidak, yang penting Divta sudah berusaha membuatnya tenang.


"Ya sudah ayo aku temani kamu makan." Raina hendak beranjak dari tempat tidur untuk mengajak Divta ke dapur. Namun, tiba-tiba saja pemuda itu malah memeluknya.


"Lapar ku sudah hilang. Aku ingin tidur saja. Jadi tolong pijat kepala ku." rengek Divta.


Raina mendengus kasar. Dia menepis tangan Divta dan melanjutkan niatnya untuk menemani Divta makan. Tetapi hal tak terduga terjadi. Kekasihnya itu malah membopongnya dan membawanya ke tempat tidur bahkan menyandarkan tubuhnya ke headboard. Kemudian Divta meletakkan kepala di atas kedua pahanya sambil memeluk perutnya.


"Sudah ku bilang pijat saja kepala ku." ucap Divta lalu menenggelamkan wajahnya di perut Raina.


"Iya tapi jangan memeluk ku seperti ini. Kamu sudah bukan bayi lagi." Raina mencoba menjauhkan kepala Divta dari perutnya.


"Ahh !! kenapa mengigit ku !" sentaknya terkejut tatkala Divta menggigit perutnya.


"Kamu berisik sekali 'susu'." Divta terkekeh geli dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Apa maksud mu susu susu begitu ?!" ujar Raina ketus.


"Ya, mulai saat ini aku akan memanggilmu dengan sebutan 'susu' haha." Divta tertawa puas. Rasanya dia senang sekali bisa menggoda Raina. Kemudian dia menggelitik pinggang Raina, dan akhirnya mereka pun terlibat dalam acara gelitikan di iringi tawa yang terbahak-bahak.


"Divta !!!!!"


Alas ! siapa tuh yang teriak manggil nama Divta ??? 🤔


But no matter who, don't forget to press 👍🏻 before we move on to the next part. Thank you 🤗


^^^Sincerity^^^


^^^Suli Xia^^^