
Divta beranjak bangun ketika mendengar suara bel berbunyi. Pandangan matanya yang masih buram, pun ia usap-usap menggunakan punggung tangan.
"Siapa sih pagi-pagi begini bertamu ? mengganggu saja." umpat Divta malas. Dan dengan rasa malasnya itu, dia turun dari tempat tidur, meraih jubah tidurnya dan keluar dari kamar guna membuka pintu.
Di depan apartemennya, dia mendapati seorang lelaki asing berwajah tampan dan lugu, tengah berdiri menghadapnya.
"Anda siapa ?" tanyanya kesal.
"Apakah benar Raina tinggal disini ?" sepertinya seseorang itu tak berniat jawab pertanyaan Divta.
Divta mendesis. Kekesalannya semakin bertambah karena ketidaksukaannya terhadap respon pria asing itu. Ditanya malah balik bertanya, begitu ia membatin. Karena malas meladeni orang tak beretika seperti itu, Divta memilih untuk menutup pintu dengan kasar dan mengabaikan pria di luar. Tak lupa juga ia mematikan saluran kabel bel apartemen agar tidak berbunyi ketika di tekan.
"Siapa ?"
Suara Raina mengejutkan Divta hingga pria itu tersentak.
"Kau ini, mengagetkan saja." Divta menghampiri Raina dan berhambur memeluknya.
"Orang asing. Aku tanya siapa, Malah dia bertanya yang lain. Oh iya, kamu sudah selesai red day kan?"
Seketika Raina melepas pelukan.
"Yang benar saja. Ini kan baru 2 hari. Bahkan siklus haid itu normalnya 7 sampai 8 hari." jawab Raina berbalik hendak masuk ke kamar. Ia tadi terbangun karena mendengar suara pintu yang tertutup begitu kasar sehingga mau tak mau ia keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Aku sudah tidak tahan." Divta meraih tubuh Raina dan memeluknya lagi dari belakang.
"Ah.. geli." desah Raina saat tangan Divta masuk ke dalam baju tidurnya dan mengusap perutnya.
"Aku tidak tahan, sayang..."
"Tung- gulah 5 hari lagi. Aku.. juga kan perlu belajar tentang apa saja yang harus aku lakukan." Raina menahan tangan Divta yang hendak berpetualang, namun kini Divta meletakkan dagunya di pundak kirinya.
"Tidak perlu. Biar aku saja yang mengajarimu." Divta menahan tangan Raina yang berusaha mencegahnya dan ia pun berhasil bertualang di sana.
"Lihatlah, padahal sebesar ini. Tapi bagaimana mungkin kau berhasil menutupinya sampai tak nampak hanya dengan menggunakan korset. Kau pintar sekali menipu, sayang." Kalimat itu sukses membuat Raina merasa gugup sekaligus malu. Gugup karena sentuhan Divta, dan malu karena kelakuannya dulu saat menyamar menjadi Raihan.
"Kau pasti berdebar ya ? hihihi bahkan sebelum kita pacaran aku pernah memegangnya juga walau tidak disengaja. Jadi... ayo kita..."
Suara ketukan pintu membuat Divta dan Raina menoleh ke belakang, atau lebih tepatnya ke arah pintu. Tangan Divta yang sudah menerkam pun terpaksa dihentikan. Mulutnya mengumpat kasar pada orang yang mengetuk pintu.
Divta lantas meraih tongkat baseball yang terletak di keranjang di sudut dinding dekat dapur, untuk berjaga-jaga jika yang di luar adalah orang sama, maka ia akan memukul kepala pria itu menggunakan tongkat tersebut.
"Divta, kau mau apa ?" Raina terlihat panik dan langsung mengejar. Dia berdiri tepat dihadapan Divta lalu merentangkan kedua tangannya untuk mencegah Divta melakukan hal yang tidak diinginkan.
"Kalau sampai pria asing tadi yang mengetuk pintu, aku akan memukul kepalanya dengan tongkat baseball ku ini." jawabnya ketus namun berusaha lembut di hadapan Raina.
"Tidak boleh. Kau jangan menyakiti orang lain, kau mau masuk penjara dan membiarkan aku hidup sendiri, iya ?" ucap Riana mencegah dengan kedua mata yang melotot tajam.
"Eh." Divta terhenyak saat menyadari sesuatu, dan nampaknya ia gagal fokus karena hal tersebut. Tongkat baseball yang ia genggam dan dipukul ringan ke tangan kirinya seketika ia jatuhkan. Beruntung tongkat tersebut tak menjatuhi kakinya ataupun kaki Raina. Lantas apa yang membuat fokus Divta gagal ?
"Kau mau menggoda ku, ya ?" tanyanya seraya tersenyum penuh maksud. Kekesalannya seketika mereda saat kedua matanya mendapati kancing baju tidur Raina terbuka di bagian atas.
Raina yang menyadari kemana arah pandangan Divta, pun menyentak lengan pria itu.
Divta tertawa, dan sejenak melupakan seseorang yang sedang menunggu di luar. Saat ketika suara ketukan pintu kembali terdengar, saat itu juga tawa Divta terhenti.
"Sialaaaaan !!" umpat Divta geram. Ia kembali mengambil tongkat baseball yang tadi ia jatuhkan dan buru-buru membuka pintu. Sementara Raina segera membenahi kancing bajunya.
"Siapa yang telah berani mengganggu malam indah ku, hah ?!" seru Divta sambil membuka pintu.
"Kau lagi, kan ? kau mau ku pukul pakai tongkat ini, hah ?" imbuhnya seraya melambungkan tongkat kayu itu, bersiap untuk memukul, namun dengan cepat di cegah oleh Raina.
"Stoooop !!" teriak gadis itu berlari dan memeluk Divta dari belakang. "Sudah aku bilang jangan menyakiti orang." sambung Raina mengeratkan pelukannya. Dari balik punggung kekar Divta, ia mengintip siapa gerangan orang yang telah membuat Divta murka.
"Kau ?!" Raina terkejut melihatnya.
"Kak Rain, aku merindukanmu." pemuda itu berusaha meraih tangan Raina karena ingin sekali memeluknya namun tangannya di tepis oleh Divta.
"Lancang sekali, kau ? tidak lihat ada suaminya di depan mu ?!" bentak Divta tidak terima istrinya didatangi pria lain, bahkan mengatakan rindu di hadapannya. Malah ingin memeluk tubuh sang istri juga. Kurang ajar sekali, begitu pikirnya.
"Adam, ke- kenapa kau kesini ? dan.. dari mana kau tau kalau aku tinggal disini ?" tanya Raina tergagap akibat rasa keterkejutannya dengan kehadiran Adam yang tiba-tiba.
Ya, pemuda itu bernama Adam dan masih berusia 23 tahun. Lelaki yang sangat mengenal Raina. Bukan saudara, juga bukan mantan kekasih, melainkan seseorang yang telah diselamatkan hidupnya oleh Raina. Selama ini Adam menunggu Raina menerima pernyataan cintanya. Tetapi, apa yang Adam dapatkan ? Raina malah menikah dengan pria kaya yang mapan, bahkan berita pernikahannya masuk TV. Sontak saja Adam mencari-cari informasi dimana Raina tinggal. Dan setelah tau dimana lokasinya, pun Adam langsung meluncur tanpa memikirkan harga dirinya.
"Tentu saja karena aku ingin menagih janji kakak. Saat terakhir kali aku menghubungi, kakak langsung mematikan telpon dariku. Besoknya aku mencoba hubungi kakak lagi tapi nomor kakak tidak aktif."
Pupil mata Adam mengecil, menandakan jika dirinya merasa sedih dengan sikap Raina yang seolah menghindarinya. Padahal, Adam selalu menunggu Raina menepati janji untuk menerima cintanya.
"Sayang, dia siapa ? kenapa dia memanggil mu kakak ? apa dia adik mu yang lain ?" tanya Divta seraya matanya terus tertuju pada Adam.
"Aku bukan adiknya. Tapi aku calon suaminya !"
Divta mendelik. Tatapannya begitu tajam seperti pedang yang siap menghunus tepat ke jantung Adam. Emosinya benar-benar tak tertahankan lagi. Divta pun mendorong dada Adam menggunakan tongkat baseball hingga pemuda itu terhuyung ke belakang. Kemudian Divta menutup pintu dengan kasar tanpa menguncinya sebab ketika pintu di tutup dari dalam, maka akan terkunci secara otomatis.
"Jelaskan padaku siapa dia ? kenapa dia bilang kalau dia calon suami mu ?!" seru Divta terbawa emosi hingga suaranya meninggi bahkan di hadapan Raina.
Raina yang dibentak, tak berani berkata-kata. Memang salahnya jika sebelum menikah ia tak menjelaskan tentang Adam yang menunggu dirinya. Kini, ia hanya bisa diam sambil menundukkan kepala.
"Kau tau kan kalau aku pencemburu berat. Kenapa kau membiarkan dia datang kemari !" lanjut Divta lalu meraup wajahnya kesal.
Terdengar isak tangis dari Raina. Gadis itu sungguh tidak tahu menahu tentang Adam yang akan datang ke apartemen mereka. Tapi, apakah pantas Divta meneriakinya seperti itu ? ini bukan kesalahannya, kan ? karena dia sudah berusaha menghindari Adam dengan mengganti nomor ponsel.
Sebelum kemarahan Divta semakin menjadi, ia lalu memeluk Divta dan membenamkan wajahnya di dada suaminya tersebut.
"Maaf, tapi sungguh aku tak punya hubungan apa-apa dengan dia." jelasnya dengan diiringi tangis yang menyedihkan.
Divta menarik nafas dalam. Menyesal dia telah cemburu buta sampai membentak dan menyebabkan sang istri menangis. Memanglah rasa cemburu itu bisa menyebabkan seseorang hilang akal. Divta lalu mencium pucuk kepalanya Raina dan memeluknya erat.
"Maaf. Tidak seharusnya aku membentak mu. Aku mohon maafkan aku. Aku hanya cemburu saja tadi."
...***...
Hohoho cemburunya aa' Divta bikin aku merinding. ༎ຶ‿༎ຶ