Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Bukti



Matahari nampak begitu cerah. Secerah senyuman Divta yang sedang menunggu Raina terbangun dari tidurnya. Dia terlihat tengah berdiri tepat di sudut dinding dimana wajah Raina menghadap. Di sampingnya, ada sebuah buket uang berukuran sangat besar yang akan dia persembahkan bagi sang istri.


Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Raina yang ke 26. Itu sebabnya ia menyiapkan buket tersebut dari sejak setelah subuh tadi.


Setelah beberapa menit, terlihat Raina mengejapkan mata. Perlahan kelopak yang sebelumnya tertutup itu kini terbuka dan samar-samar ia melihat sesosok pria tengah berdiri tepat di depan matanya. Senyumnya mengembang. Dan semakin mengembang saat menyadari ada sesuatu yang besar di samping pemuda itu.


"Sayang ?" dengan hati yang berbunga-bunga Raina menegakkan setengah tubuhnya. Sedetik kemudian ia turun dan berlari menghambur pada Divta yang dengan senang hati menyambut Raina dengan membentangkan tangannya membawa Raina ke dalam peluknya.


Raina membenamkan wajahnya di dada Divta dan memeluk pria itu sangat erat. Rasa haru dan bahagianya tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana tidak ? seumur hidup, baru kali ini Raina menerima hadiah begitu besar dari seseorang berupa buket uang sultan yang jumlahnya jutaan rupiah. Namun bukan nominal yang menyebabkan Raina seperti itu, melainkan karena sikap romantis Divta lah yang membuat Raina merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Percayalah, jika kebahagiaan berwujud seperti kembang api, mungkin Raina sudah meledakkan seisi rumah itu (too much).


"Selamat ulangtahun sayangnya aku." Divta mengucapkan kalimat itu dengan tulus, disertai usapan lembut di rambut dan ciuman juga senantiasa menghujani pucuk kepala Raina. Namun, dahinya langsung berkerut saat ia mendengar Raina terisak.


"Hei kenapa kau menangis ?" Divta mengurai pelukannya dan buru-buru menyeka pipi Raina yang basah menggunakan ibu jarinya dengan lembut. "Kenapa menangis, sayang ? kau tidak suka dengan hadiah yang ku berikan ?" tanya Divta khawatir sekaligus bingung melihat reaksi Raina yang ternyata di luar dugaan. Biasanya, wanita akan tersenyum bahagia jika di beri hadiah di hari ulangtahunnya, tapi kenapa Raina malah menangis ? begitu pikirnya.


"Sayang ?" Divta menangkup dua sisi wajah Raina dan didongakkan ke atas agar memudahkan dirinya menatap wajah Raina. "Maafkan aku. Aku hanya berusaha membuat kejutan di hari ulangtahun mu." ucapnya lagi dengan tatapan bersalah.


Raina makin menangis mendengarnya. Bahkan tangisnya kali ini bersuara, membuat Divta terkejut dan terheran heran.


"Sayang sudah ya jangan menangis. Kalau kau memang tidak suka, aku akan membuang buket ini saja, ya. Sebentar." Divta bergegas mengangkat buket uang tersebut dan berniat membuangnya.


"Ini bukan hari ulangtahun ku !!!" seru Raina merajuk kesal.


Pergerakan Divta seketika terhenti. Tubuhnya tak bergerak sedikitpun seperti telah membeku usai mendengar ucapan Raina. Apa ? bukan hari ulangtahun nya ? lalu kapan ? aku ingat sekali bahwa dia lahir di tanggal 12 bulan 7.


"Ahaha kamu pasti bercanda kan, sayang ?" Divta meletakkan kembali buket yang sebelumnya sudah ia angkat. "Candaan mu tidak lucu, sayang. Sudah sana gosok gigimu dan cuci wajahmu. Aku akan mengambil pematik dulu untuk menyalakan lilinya." ucapnya sambil memegang kedua bahu Raina.


"Katanya sayang. Katanya cinta. Tapi masa hari ulangtahun istri saja tidak tau." sungut Raina menyilang dua tangannya di atas perut seraya membuang muka. Dia pikir, buket uang itu adalah hadiah perayaan satu minggu pernikahan mereka. Ternyata salah.


"Mana mungkin aku lupa, sayang. Ini kan tanggal 12 Juli yang jelas jelas adalah hari ulangtahun mu."


"Aku lahir tanggal 7 Desember."


"Hah ? maksudmu tanggal 7 bulan 12, bukan tanggal 12 bulan 7 ?" tanya Divta memastikan.


"Sudahlah. Dasar suami menyebalkan." cetus Raina berjalan cepat menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa haru dan bahagianya kini berganti kekesalan yang begitu parah. Sebagai seorang suami harusnya Divta tahu kapan hari lahir istrinya, gerutu Raina membanting pintu kamar mandi.


Sementara Divta, dia terlihat sedang merutuki kebodohannya yang keliru dalam mengingat tanggal lahir Raina. "Ah sial !" umpatnya meninju ke udara.


"Kenapa aku tidak memastikannya dulu dengan melihat kartu identitasnya. Kalau sudah begini bagaimana aku bisa mengajaknya making love." dia mendengus kasar dan melangkah dengan lemas menuju ke lemari untuk menyiapkan pakaian Raina. Berharap perhatiannya ini bisa meluluhkan hati sang istri yang sedang merajuk. Karena ia tidak ingin gagal menjalani malam pertama yang sudah ia nantikan dari sejak malam pernikahan.


...***...


Beberapa saat kemudian, Raina sudah selesai dengan ritual mandi paginya. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono berwarna putih yang menutupi tubuhnya sampai lutut. Pemandangan itu tentu tak luput dari perhatian Divta yang sedari tadi menunggu Raina sambil duduk di tepi tempat tidur.


"Sayang, aku sudah menyiapkan baju mu." Divta beranjak dari tempat tidur dan membawakan baju yang tadi sudah ia siapkan. "Ini pakailah. Aku memilih kan baju terbaik untukmu." imbuhnya lagi seraya mengulurkan tangan memberikan baju pilihannya. Akan tetapi Raina mengabaikannya dan berlalu begitu saja menuju lemari untuk mengambil sendiri pakaiannya.


Hal itu tentu membuat Divta murung. Tubuhnya terasa semakin lemas tak bertenaga. Di abaikan oleh Raina sungguh membuatnya sakit.


Akhirnya, Divta kembali ke tempat tidur dan menarik selimut guna menutupi seluruh tubuhnya.


Melihat tindakan Divta, Raina mengerutkan keningnya. Merasa bingung dengan apa yang saat ini ada di depan matanya.


Aku yang kesal tapi kenapa dia yang merajuk ? dasar manja. Gumamnya tanpa suara.


Raina memutar bola matanya malas. Seperti anak kecil saja, begitu pikirnya. Ia pun melanjutkan niatnya memilih baju. Setelah itu ia kembali masuk ke kamar mandi untuk mengenakannya.


"Kenapa dia tidak membujuk ku dan malah masuk lagi ke kamar mandi ?" gumam Divta yang mulai merasa gerah. "Biasanya kan kalau aku merajuk dia akan memeluk dan menenangkan aku." lanjutnya seraya membuka sedikit selimut untuk menghirup udara.


Cukup lama Divta menunggu. Karena nafasnya sudah mulai sesak, akhirnya ia menyibak selimut dan terduduk. Divta mengedarkan pandangannya mencari Raina, namun gadis itu tak nampak.


"Apa dia masih di kamar mandi ? tapi tadi aku dengar dia sudah keluar." ucapnya pada diri sendiri.


"Mencari ku ?"


"Astaga !" Divta terlonjak kaget sambil memegangi dadanya saat mendengar suara Raina, yang ternyata gadis itu sedang berdiri di dekat gorden. Warna baju yang senada dengan penutup jendela tersebut benar-benar membuat Raina tersamarkan di mata Divta.


"Sayang...." rengek Divta manja. "Maafkan aku." ujarnya dengan tatapan memelas.


Raina yang memang memiliki tabiat iba, pun merasa tidak tega melihat Divta sedih seperti itu. Akhirnya ia mengulas senyum sebagai tanda bahwa ia sudah memaafkan Divta.


Langkah kaki kecil Raina menuntunnya menuju ke tempat tidur. Ia merangkak naik dan duduk bersila di hadapan Divta yang masih menekuk wajahnya. "Iya aku maafkan. Sudah jangan menunjukkan raut seperti itu lagi. Karena sangat tidak cocok dengan umur mu sekarang." Raina terkekeh gemas.


"Biar saja." Divta merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepala di atas pangkuan Raina setelah sebelumnya meminta gadis itu untuk meluruskan kaki. Dengan gerakan cepat, Divta menenggelamkan wajahnya di perut sang istri dan memeluk pinggang wanita yang telah ia nikahi itu.


"Hei, apa yang kau lakukan ?! aaahh geli !" Raina berusaha mendorong kepala Divta yang diam diam masuk ke dalam baju dan menciumi perutnya. Namun usahanya gagal, karena semakin kuat ia mendorong, semakin kuat pula ciuman Divta. Akhirnya dia hanya bisa pasrah.


Merasa tak ada penolakan lagi dari Raina, ciuman Divta berpindah sedikit ke atas dan semakin ke atas dengan posisi kepalanya masih berada di dalam baju Raina.


"Hei kenapa cium di situ ! Aaah..." Raina menyesali keputusannya yang tidak menerima baju pilihan Divta dan malah memilih baju yang longgar sehingga Divta bisa dengan leluasa menelusupkan kepala ke dalam bajunya.


"Divta, hentikan." Raina mendesah merasakan geli sekaligus sakit di tubuhnya karena ulah Divta.


Aku akan menciptakan gaya baru untuk pemanasan. Dia tersenyum puas sambil terus melakukannya.


"Kau sering memanggilku bayi besar, bukan ?" tanya Divta sejenak menghentikan aktivitasnya tanpa berniat keluar dari dalam baju Raina.


"Emm, itu karena setiap kali kau mau tidur, kau selalu ...


"Baiklah mulai hari ini aku akan menjadi bayi besar untukmu."


"Aaaah jangan di gigit !!!"


"Ini yang biasa di lakukan bayi." jawab Divta dengan santai.


Suara ponsel Raina berdering, menandakan adanya sebuah pesan masuk. Di sela sela Divta melancarkan aksinya, Raina meraih ponsel yang berada tak jauh dari jangkauan tangannya.


"Pelan sedikit !" Raina menyentak lengan Divta yang lagi lagi menggigitnya.


Divta meloloskan kepalanya dari dalam baju Raina. "Sayang, di saat seperti ini kau sempat sempatnya memegang ponsel." sungut Divta kesal karena merasa di abaikan oleh Raina. "Harusnya kau mendesah kenikmatan. Apa pemanasan ku kurang memuaskan ?"


Rain yang hendak membuka pesan, pun mencebikan bibir. "Pemanasan apa ? kan kau selalu melakukan ini sejak kita menikah." Raina kembali fokus pada ponselnya.


Divta mendengus kasar. Memang benar apa yang di katakan Raina. Ini bukan kali pertama ia berperan menjadi bayi besar. Tapi hari ini kan berbeda. Masa haid gadis itu sudah selesai. Jadi setelahnya pasti akan terjadi hal hal yang seharusnya memang terjadi. "Sayang, lihat aku." Divta memegang pergelangan tangan Raina yang sedang memainkan ponsel.


"Kenapa ?" Fokus Raina teralihkan. Ia menatap wajah Divta yang nampak merah dan sedikit berkeringat.


"Aku sudah tidak tahan."


"Tapi-


"Aku tau red day mu sudah selesai. Ayo..." Divta mengambil ponsel Raina dan ia letakkan di atas nakas. Divta mendorong pelan tubuh Raina dan merebahkannya. "Aku tidak tahan kalau harus menunggu nanti malam. Ini adalah hari terakhir kita cuti. Jadi, aku mau melakukannya saat ini juga. Supaya nanti sore dan nanti malam kita bisa melakukannya lagi."


"Apa ?!" kedua mata Raina membulat sempurna mendengar rengekan Divta. "Kau pikir aku-


"Sssst !" Divta membekap mulut Raina dengan lembut. "Setelah merasakannya, kau pasti akan ketagihan dan memintanya lagi dan lagi."


...##Sensor##...


"Terimakasih sayang." Divta mengecup kening Raina untuk mengakhiri kegiatannya. Ia menjatuhkan dirinya di samping Raina yang terlihat jelas sangat kelelahan, dan ia pun memeluknya.


"Kenapa rasanya sesakit ini ?" Raina mengeluhkan kondisinya yang sangat memprihatikan. Selain sakit, kulit putihnya juga di penuhi tanda merah bahkan sampai ke lutut akibat dari ulah Divta. "Aku sudah seperti macan tutul." imbuhnya lagi dengan pandangan menyapu seluruh tubuhnya.


Divta tertawa mendengar celotehan Raina. Ketika melakukan, yang ada di otaknya hanya bagaimana agar sang istri merasakan kenikmatan di bawah ringkuhannya, tanpa berfikir akan seperti apa tubuh Raina setelahnya. Dan usahanya tak sia-sia. Selama kegiatan berlangsung, dapat di lihat dengan jelas ekspresi wajah Raina yang sangat menikmati permainannya. "Tidak apa-apa sayang. Itu adalah bukti rasa cinta ku padamu. Dan lihatlah, aku juga sama seperti mu. Bahkan kamu lebih buas tadi." ucapnya dengan nada menggoda.


"Jangan menggoda ku. Kan kau sendiri yang memintanya." Raina menutupi wajahnya yang bersemu dengan dua telapak tangan. Mengingat kejadian beberapa menit lalu membuatnya tak berani menatap wajah Divta.


"Aku cuma minta satu kali di leher, tapi kau membuatnya sampai sebanyak ini." ledek Divta merasa gemas melihat Raina yang salah tingkah.


Divta merasa sangat beruntung menikahi Raina. Selain cantik, Raina juga cerdas, senantiasa menjaga kehormatan, tidak manja dan kuat. Kuat dalam artian tahan banting (di ranjang juga, sih). Malah berbanding terbalik dengan dirinya yang justru terkesan manja pada Raina. Meski begitu, Divta tetap menjalani kewajibannya sebagai suami yang menjaga dan melindungi istrinya.


"Sudah ah, aku mau mandi." Raina beranjak dari tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sayang tunggu, aku ikut !" seru Divta menyusul.


...***...


Yudha mengerang kesal dan langsung membanting ponselnya saat tau Raina membuka isi pesannya namun tak membalasnya. "Aaaaargh !!" Yudha menarik rambutnya kuat, merasa frustasi karena usahanya telah gagal. Padahal dia mengirim pesan tentang kecelakaan yang menimpa orang tua Raina, tapi kenapa gadis itu tak merespon? apakah Raina sudah cinta mati pada Divta sehingga tak memperdulikannya ? atau jangan-jangan Divta sudah mencuci otak Raina ?


Pikiran Yudha berkecamuk memikirkan kemungkinan kemungkinan yang ada.


"Apa aku harus menyerah ? apa aku harus merelakan mu, Rain ?" Yudha duduk di sofa dengan menumpu kedua sikunya di lutut dan menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Segalanya sudah ia lakukan demi bisa merebut Raina, tapi selalu gagal. Tak ada satupun yang mau mendukungnya, membela ataupun mengerti dirinya. Jangankan teman, bahkan orangtuanya juga melarangnya untuk mendekati Raina yang jelas jelas sudah menikah.


"Tidak. Itu tidak akan terjadi. Sekarang juga aku akan menemui Raina dan memberikan bukti ini padanya. Aku yakin dia pasti akan menceraikan Divta setelah tau bahwa mertuanya lah yang menyebabkan orangtuanya meninggal.


"Tapi bagaimana jika Raina mengabaikan aku ? sudah membuka pesan ku saja dia masih tidak peduli." Yudha membuang nafas kasar.


...***...


.


.


.


.


.


MENYERAH LAH WAHAI YUDHA !!