Beautiful Assistant

Beautiful Assistant
Terkurung di kamar mandi



Divta mengendarai mobilnya dengan perasaan kesal dan marah.


Hatinya benar-benar merasa dongkol setelah keluar dari cafe tadi.


Moodnya sudah berantakan gara-gara Arumi. Jika saja Nero tidak mengundang wanita itu, pasti saat ini dia masih berada di cafe dan menghabiskan waktu sore bersama sahabatnya.


Dia lalu memutuskan untuk kembali ke apartemen. Dia yakin, gadisnya itu pasti bisa membuat moodnya naik drastis.


“Haaaah membayangkannya saja sudah membuat ku gila karena senyum senyum sendiri.” gumamnya.


Selama di perjalanan, Divta tak henti-hentinya bersenandung ria. Raina memanglah obat lelah dan kesalnya.


Belum ketemu saja sudah membuat hatinya merasa sangat bahagia. Apalagi jika sudah ada di depan mata ?


“Sayang, aku jadi tidak sabar ingin menikahi mu.”


Setelah 15 menit, akhirnya Divta sampai di apartemen. Dia melangkahkan kakinya dengan begitu semangat karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Raina.


Dia membuka pintu melalui sidik jarinya dan menutupnya dengan pelan.


Divta mengedarkan pandangan ke ruang TV dan dapur, namun tak mendapati Raina disana. Kemudian dia berjalan menuju ke kamar Raina, dan di lihatnya gadis itu sedang terlelap.


“Manis sekali.” ucapnya lirih tak bersuara.


Divta menghampiri gadis itu dan perlahan duduk di tepi tempat tidur.


Mengusap dahi Raina dan mendaratkan kecupan singkat disana.


Divta mengalihkannya pandangannya ke arah nakas dimana ponsel Raina di letakkan. Lampu notifikasi nampak berkedip menandakan adanya sebuah pemberitahuan. Dia meraih benda pipih tersebut. Dan demi mutiara yang ada di dalam kerang, ponsel itu tidak terkunci.


Seketika senyumnya mengembang karena dengan begitu dia bisa mengecek ponsel sang kekasih. Dia ingin tahu, dengan nama apa Raina menyimpan kontaknya.


“Eh apa ini ?” gumamnya sambil mengerutkan dahinya ketika dia melihat adanya sebuah pesan berisi foto.


Awalnya dia ragu untuk membukanya. Tapi rasa penasaran membuatnya lancang, sehingga dia memberanikan diri untuk melihat foto apa yang dikirimkan oleh nomor tak di kenal itu.


Sontak saja kedua matanya terbelalak ketika sudah membuka foto tersebut. Foto dimana dia dan Arumi sedang berpelukan.


“Ini.. bukankah saat di cafe tadi ?” buku-buku tangannnya mengepal dengan begitu kuat. Rahangnya mengeras dan tatapan matanya menggelap.


Dia pun bergegas menghapus foto tersebut dan memblokir nomor si pengirim. Tapi sebelum itu, dia telah mencatatnya untuk mencari tahu, siapa gerangan orang yang telah berani mencari masalah dengannya. Jika dalang di balik insiden tadi adalah Arumi sendiri, bisa di pastikan kalau dia akan membalasnya ribuan kali lipat.


“Apa yang kamu lakukan disini ?”


Divta tersentak kaget karena mendengar suara Raina yang tiba-tiba saja terbangun.


Dia segera meletakkan kembali ponsel Raina ke tempat semula dan bertingkah layaknya tidak terjadi apa-apa.


“Tidak ada sayang. Kamu sudah bangun, hm ?” dia mendekatkan wajahnya hendak mengecup pipi Raina, namun gadis itu menempelkan telapak tangan di bibirnya sehingga dia gagal mencium sang kekasih.


“Pelit sekali sih.” desisnya seraya mengerucutkan bibir.


“Bisa tidak, jangan cium cium terus.” Raina beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri.


“Aduh !” pekiknya sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba saja terasa sangat nyeri.


Sontak saja Divta panik dan memeluk bahu Raina yang hampir saja terhuyung,


“Sayang, kamu kenapa ?” dia membawa Raina untuk duduk di tepi tempat tidur.


“Perut ku sakit sekali.” Raina meringis dan merintih kesakitan sampai dia membungkuk sebab tak kuat menahan sakit.


Divta merasa semakin panik. Dia menarik loker dari meja nakas berharap dia bisa menemukan sesuatu yang bisa meredakan sakit di perut Raina.


Dilihatnya ada sebuah botol roll on kecil yang diyakini adalah minyak angin.


“Semoga ini bisa membuatmu merasa lebih baik.” dia merangkul pundak Raina dan sedikit menegakkan tubuh gadis itu. Lalu dia menelusupkan telapak tangganya yang sudah di olesi minyak angin ke perut Raina.


“Apa yang mau kamu lakukan !” sentak Raina menahan tangan Divta yang sudah mendarat di atas perutnya.


“Aku hanya ingin mengusap minyak angin saja sayang. Aku tidak akan berbuat macam-macam.” jawab Divta mengulas senyum dan mencium singkat pipi Raina.


“Tenanglah, aku harap ini bisa meredakan rasa sakit yang kamu rasakan.” imbuhnya seraya mengusap pelan perut Raina.


Pandangan mata mereka saling terkunci dengan jarak yang begitu dekat.


Bahkan keduanya bisa merasakan deru nafas masing-masing dan bisa mendengar detak jantung yang berpacu tiga kali lebih cepat dari biasanya.


“Bagaimana ? apa sudah reda sakitnya ?” ingin sekali Divta melontarkan pertanyaan itu. Tapi dia memilih untuk diam dan terus mengusap lembut perut Raina sambil menikmati wajah cantik gadis itu.


Aku ingin menciumnyaaaaa.


Batinnya berteriak dan mendorong wajahnya untuk lebih dekat lagi. Kemudian dia memiringkan kepalanya hendak menunaikan keinginannya.


“Bolehkah aku mencium mu ?” tanyanya dengan berbisik ketika jarak antara bibirnya dengan bibir Raina tersisa kurang lebih hanya tinggal 2 cm.


Sekelebat bayangan masa lalu tiba-tiba saja menghampirinya Raina. Raut wajah gadis itu seketika berubah ketakutan. Dia lalu mendorong Divta dengan kuat.


“Pergi dari hadapan ku !!!” teriaknya. Dia beranjak dari tempat tidur dan berlari menuju ke kamar mandi serta tak lupa mengunci pintu. Dia kembali berteriak meminta tolong seolah dirinya sedang berada dalam bahaya.


“Sayang ! buka pintunya, ini aku Divta !” seru Divta sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. Dia turut merasa ketakutan mendengar suara teriakan sang kekasih.


“Pergi, aaaah pergi dari hadapan ku, pergi !!” Raina menangis histeris dan melempar benda apapun yang dapat di raihnya ke arah pintu sambil terus berteriak kata ‘pergi’.


Hingga terdengar suara pecahan kaca yang di barengi hilangnya suara tangisan Raina.


“Sayang !!” pekik Divta.


Pemuda itu berusaha keras mendobrak pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga.


“Sial, kenapa susah sekali sih !” umpat Divta menarik rambutnya frustasi. Dia benar-benar merasa takut terjadi sesuatu yang buruk pada Raina. Saking takutnya, dia sampai menitikan airmata yang seumur hidupnya baru dua kali dia alami.


Suara bell pintu terdengar. Divta bergegas keluar dengan harapan orang yang datang bisa membantunya mendobrak pintu dan mengeluarkan Raina dari dalamkamar mandi. Tapi sayang kenyataan tak sesuai dengan ekspetasi. Ternyata yang datang adalah Arumi.


“Untuk apa kau datang kesini !” kalimat itu bukanlah sebuah pertanyaan. Lebih tepatnya mengarah pada sebuah penolakan.


“Hei, kenapa meninggalkan ku !” seru Nero yang tiba-tiba saja muncul dari sisi kiri.


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Tanpa basa basi lagi Divta mendorong Arumi yang menghalangi pintu dan segera menarik Nero masuk untuk mengajaknya bersama-sama mendobrak pintu.


“Apa-apaan ini ?” Nero menahan dirinya.


“Cepat bantu aku. Kekasih ku terkurung di kamar mandi dalam keadaan pingsan.” teriak Divta yang tidak sanggup menahan airmatanya, sehingga dia menangis di hadapan Nero dan Arumi.


“Kalau begitu ayo cepat.” seru Nero. Kemudian mereka menuju ke kamar Raina.


Seluruh tenaga pun mereka kerahkan untuk menendang pintu yang terbuat dari kayu itu. Setelah tiga kali tendangan akhirnya pintu tersebut terbuka, dan menampakkan tubuh Raina yang terbaring di lantai, lebih tepatnya di atas serpihan kaca yang pecah dan menyebabkan tubuh gadis itu di penuhi luka.


“Sayang !!!” pekik Divta menangis melihat kondisi Raina yang menyedihkan. Dia pun bergegas mengangkat tubuh Raina dan membawanya keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Arumi dan Nero disana.


“Itu pacar barunya ? ya Tuhan, kasihan sekali.” tanya Nero yang merasa iba melihat kondisi Raina.


“Cih, aku berharap dia mati saat di perjalanan.” desis Arumi menyumpahi Raina.


Crazy update yang di janjikan sudah Xia lunasi ya, semoga tetap suka dengan novel ini. Kalau ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar. Love you..


Jangan lupa klik 👍 sebelum ke part selanjutnya yaa, terimakasih 🤗